NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34. Akhir Yang Teragis "Jendral Iblis Valac"

"Jaga bicaramu, Valac!!." Tegas Kurza, matanya menyipit, auranya mulai menajam.

"Kenapa? Apa kau takut membayangkan bagaimana Ratu Iris memohon? Kau tahu, dia wanita yang sangat kuat. Bahkan saat aku merantai kedua tangannya, dia tidak menangis. Tapi saat aku menyeret Khaya di depannya..." Valac terus menceritakan tentang Iris. Valac menjilat bibirnya dengan ekspresi puas yang menjijikkan.

"Wajah angkuh Iris hancur seketika. Aku membiarkan anak buahku mencabut kuku kecil Khaya satu demi satu di depan matanya. Suara jeritan Khaya itu... ah, itu adalah melodi terindah yang pernah kudengar di istana ini. Khaya memanggil namamu, Kurza. Dia mengira penjaganya yang 'hebat' akan mendobrak pintu dan menyelamatkannya." Valac melangkah maju, memprovokasi Kurza lebih dalam.

"Dan Iris? Setelah Khaya pingsan karena rasa sakit, aku sendiri yang memastikan ratumu merasakan setiap inci dari kebencianku. Aku menghancurkan kebanggaannya, inci demi inci, hingga yang tersisa hanya raga yang kosong. Mereka hancur karena mereka percaya kau akan datang. Tapi nyatanya? Kau tidak ada. Kau gagal sebagai pelindung."

‎Saat kata-kata Valac tentang jeritan Khaya dan penderitaan Iris terucap, suasana di aula itu seolah-olah membeku dalam kehampaan yang mutlak. Awalnya, wajah Kurza yang pucat menjadi kaku seperti patung pualam. Tidak ada teriakan, tidak ada bantahan. Namun, pupil matanya yang mengecil bergetar hebat—sebuah tanda bahwa badai emosi sedang menghantam jiwanya.

Saat Valac menceritakan detail kuku Khaya yang dicabut, rahang Kurza mengatup begitu keras hingga suara gemertak giginya terdengar jelas di tengah kesunyian. Urat-urat halus mulai muncul di pelipis dan lehernya, berdenyut seiring dengan amarah yang memompa darah vampirnya secara liar.

Matanya yang semula tajam perlahan mulai meredup, namun bukan karena sedih, melainkan karena kegelapan yang murni mulai mengambil alih. Setetes air mata darah mengalir di pipinya—bukan sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai sumpah kematian bagi siapa pun yang ada di depannya.

Cahaya di matanya tiba-tiba padam, berubah menjadi lubang hitam yang seolah ingin menelan seluruh cahaya di aula. Sudut bibirnya sedikit berkedut, membentuk seringai dingin yang mengerikan—senyum seorang pelindung yang baru saja kehilangan segalanya. Tepat saat itu, suhu di ruangan merosot tajam hingga embun beku mulai menutupi lantai. Rambut hitamnya mulai berubah warna dari pangkal ke ujung, memutih secara instan seolah-olah dia telah melewati ribuan tahun penderitaan dalam satu detik.

"Cukup, Valac. Aku sudah mendengar cukup banyak untuk memastikan bahwa kematianmu tidak akan terjadi dalam waktu singkat." Gumam Kurza, suaranya kini bukan lagi suara manusia atau vampir, melainkan bisikan dari kedalaman neraka.

Tekanan udara di sekitar Kurza menjadi begitu berat hingga lantai marmer di bawah kakinya amblas. Aura hitam pekat di campur merah mulai meledak dari tubuhnya, menelan semua cahaya, meninggalkan hanya kilauan rambut putih dan mata emasnya yang menyala di tengah kegelapan kabut .

Miyuki yang berada di luar aula merasakan energi dari Kurza. Namun kali ini ia percaya jika Kurza mampu mengendalikan amarahnya dan melanjutkan tugasnya untuk membebaskan Raja Zion.

Kekuatan Kurza meningkat, gelombang energi yang kluar dari tubuh Kurza mulai meretakan dinding - dinding aula istana yang megah. Valac, yang tadinya begitu perkasa, kini terlihat tertekan merasakan kekuatan Kurza. Kesalahan besar Valac membangkitkan amarah Kurza

"Mati kau, Vampir terkutuk!" Valac meraung, mengayunkan pedang raksasanya dengan kekuatan penuh. Bilah pedang itu membelah udara, menghantam tepat di leher Kurza. Namun, bukannya suara daging yang terbelah, yang terdengar justru bunyi "trang!" yang memekakkan telinga.

Pedang Valac berhenti total, tertahan hanya oleh kulit leher Kurza yang kini sekeras berlian hitam. Kurza bahkan tidak bergeming. Ia hanya melirik pedang itu dengan mata yang kini merah, lalu dengan satu sentuhan jari, bilah pedang raksasa itu hancur berkeping - keping. "Praaangggg"

"Kau bicara tentang mencabut kuku, bukan?" suara Kurza bergema, datar tanpa emosi.

"Srat!"

Tanpa ada gerakan yang terlihat jelas, lengan kanan Valac yang memegang gagang pedang tiba-tiba terlepas dari bahunya. Darah hitam menyembur deras.

Valac berteriak kesakitan, tapi Kurza langsung mencekik lehernya, membungkam teriakan itu.

"Ini untuk setiap inci rasa sakit Iris," bisik Kurza. Kurza menggunakan kuku jarinya yang dialiri kabut hitam untuk menguliti zirah baja Valac seolah-olah itu hanya kertas. Satu per satu, persendian Valac dipatahkan dengan suara "krak... Krak" yang mengerikan.

Kurza tidak terburu-buru; ia memotong tendon kaki Valac, membuat jenderal besar itu jatuh berlutut di hadapannya. Valac mencoba mengeluarkan api neraka dari mulutnya, namun Kurza hanya meniup api itu hingga padam dengan hawa dingin yang keluar dari tubuhnya.

Kurza kemudian meraih rahang Valac. "Kau bilang Khaya memanggil namaku?" Kurza mendekatkan wajahnya yang berambut putih ke telinga Valac. "Sekarang, panggillah Rajamu, karena aku ingin mendengar apakah dia akan menjawabmu di tempat ini."

Dengan gerakan yang sangat lambat dan menyiksa, Kurza mulai menusuk - nusuk punggung Valac. Ia tidak membunuhnya. Aula itu kini hanya dipenuhi oleh suara rintihan tertahan Valac yang sudah hampir kehilangan kesadaran karena syok.

Zhit, yang menonton dari kejauhan, kencing di celana. Ia melihat pahlawannya, Jenderal Valac, kini hanya berupa gumpalan daging yang tak berbentuk di bawah kaki sang Vampir berambut putih.

"Jangan mati dulu, Valac. Aku belum mulai menghitung penderitaanmu."

Bisik Kurza lirih, menatap sisa tubuh Valac yang masih bernapas lemah.

‎Kurza sama sekali tidak berniat mengakhiri penderitaan Valac dengan cepat. Baginya, setiap detik yang dilewati Valac harus menjadi cerminan dari setiap detik penderitaan yang dialami Iris dan Khaya.

Kurza menginjak dada Valac yang sudah hancur, menekan tulang rusuknya hingga satu per satu menusuk paru-parunya sendiri. Dengan gerakan yang sangat metodis, Kurza menggunakan kekuatan kabut hitamnya untuk mencegah Valac jatuh pingsan. Setiap kali rasa sakit itu hampir membuat kesadaran Valac hilang, energi hitam Kurza akan menyetrum saraf-saraf sang iblis memaksanya tetap terjaga untuk merasakan setiap inci kehancurannya.

"Kau ingin mendengar suara jeritan, Valac?" Kurza bertanya dengan nada rendah yang mengerikan. Kurza meraih salah satu jemari Valac yang tersisa. Dia tidak memotongnya, melainkan menggunakan kekuatan tekanannya untuk menghancurkan tulang jemari itu menjadi bubuk di dalam dagingnya.

"Kreekk... Kreeekk.. Kreeekk" Satu jari, lalu jari berikutnya, hingga seluruh telapak tangan Valac berubah menjadi gumpalan daging yang remuk.

Tidak puas dengan raga, Kurza mulai menyentuh inti jiwa Valac. Kabut hitam yang menyelimuti aula mulai merayap masuk ke dalam luka-luka terbuka di tubuh Valac. Iblis raksasa itu mulai menggelepar hebat; matanya membelalak hingga urat darahnya pecah, karena kabut itu mulai memakan jiwanya dari dalam secara perlahan—seperti ribuan serangga yang menggerogoti saraf.

"Ini untuk air mata Iris," ucap Kurza sambil mencabut taring-taring Valac secara paksa menggunakan tangannya sendiri.

"Dan ini... untuk ketakutan Khaya." Kurza menusukkan tangannya ke dalam perut Valac, bukan untuk membunuhnya, melainkan untuk mencengkeram tulang belakangnya. Dengan perlahan, sangat perlahan, ia mulai menarik ruas-ruas tulang itu satu per satu sementara Valac masih bernapas.

Darah hitam kini telah membanjiri lantai aula, membentuk kolam besar yang mencerminkan wajah Kurza yang tanpa emosi. Kehancuran Valac, sang Jenderal yang tadinya sombong, kini sudah tidak terlihat seperti makhluk hidup lagi. Ia hanya bisa mengeluarkan suara serak yang memohon kematian—sebuah kemewahan yang tidak akan diberikan Kurza dalam waktu dekat.

Di sudut ruangan, Zhit menyaksikan seluruh kejadian itu dengan mata yang kehilangan harapan; ia menyadari bahwa manusia paling kejam sekalipun tidak akan bisa menandingi murka sang Vampir.

Kurza kemudian membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di lubang telinga Valac yang sudah hancur. "Jika aku bisa membawamu kembali dari kematian hanya untuk membantaimu lagi, akan kulakukan itu hingga selamanya."

‎Kurza berdiri tegak, amarahnya yang dingin telah mencapai puncaknya. Ia tidak ingin lagi mencium bau busuk keberadaan iblis itu di istananya. Kurza mengangkat tangan kanannya yang terbungkus kabut hitam.

Tiba-tiba, dari sela-sela jarinya, muncul percikan api berwarna ungu kehitaman—api neraka yang jauh lebih murni dan panas daripada api mana pun.

"Pergilah ke ketiadaan," bisik Kurza dingin. Ia melepaskan api itu ke tubuh Valac. Begitu api menyentuh kulit sang Jenderal, tidak ada suara ledakan besar, yang ada hanyalah suara desisan yang mengerikan. Api itu melahap daging, tulang, dan zirah baja Valac dengan kecepatan yang tidak wajar.

Valac mencoba menjerit untuk terakhir kalinya, namun suaranya langsung hilang tertelan kobaran api yang membakar hingga ke tingkat jiwa. Hanya dalam beberapa detik, sosok Jenderal yang ditakuti itu lenyap. Tidak ada darah yang tersisa, tidak ada tulang yang tertinggal. Yang ada hanyalah tumpukan debu abu-abu yang halus di lantai marmer.

Kurza mengayunkan tangannya, menciptakan angin kecil yang menerbangkan debu itu hingga hilang tak bersisa, seolah-olah Valac memang tidak pernah ada dalam sejarah dunia ini.

Aula kini menjadi sunyi senyap. Kabut hitam masih menyelimuti ruangan, dan rambut putih Kurza bersinar redup di tengah kegelapan. Matanya yang merah perlahan bergeser, mengunci pandangannya pada satu-satunya makhluk yang masih bernapas di sana.

Zhit. Sang penghianat manusia itu terduduk lemas di samping singgasana yang kini terasa seperti kursi eksekusi. Mahkota yang ia rebut dengan paksa terjatuh dan berdenting di lantai, menggelinding tepat ke arah kaki Kurza.

Apa yang akan dilakukan Kurza terhadap Zhit?

Bersambung. . .

1
T28J
keren kak 👍
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: oke. nanti gw mampir.
total 3 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!