Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
023~
Setelah semua orang berkumpul, mereka berjalan kaki bersama-sama menuju Museum yang tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap. Sesampainya di museum, petugas meminta agar barang-barang selain tas dan alat tulis untuk diletakkan ditempat penitipan yang disediakan.
Sebelum masuk ke dalam museum, guru pemandu kembali mengumpulkan semua peserta dan memperkenalkan seorang guide.
"Ini Tuan Shi Fu, guide kita nanti selama kegiatan berlangsung. Kepada para wali murid semua, harap nanti membantu anak-anak. Selain belajar mengenal peninggalan sejarah, anak-anak juga memiliki tugas yakni memilih satu monumen untuk di deskripsikan dan dikumpulkan saat kembali ke sekolah. Pilih satu monumen lalu potret. Kami meminta kerjasama semua peserta untuk tidak membuat kegaduhan sekecil apapun selama kegiatan, tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, harap mendengarkan dan menyimak penyampaian guide saat menjelaskan sejarahnya."
"Baik." seru semua orang kompak, kecuali Lin Xia Mei yang hanya menatap malas museum di depannya.
Mata Lin Xia Mei dan guru pemandu tidak sengaja bertemu, langsung saja Lin Xia Mei menyunggingkan bibir dan memutar mata, tentu hal ini membuat guru pemandu semakin kesal pada Lin Xia Mei.
Semua orang masuk dengan tertib, rasa kagum membalut hati semua orang saat melihat peninggalan berharga di dalam ruangan tersebut. Mereka mulai mencatat, memotret dan ada juga yang merekam penjelasan guide karena malas mencatat.
Lin Xia Mei mundur dari kelompok dan melihat lukisan kaisar perempuan yang pernah memimpin negaranya dimasa lalu, ia berdecak kagum saat memandangi lukisan pemimpin perempuan yang anggun namun tetap memancarkan aura seorang pemimpin.
"Keren." gumamnya pelan.
"Nyonya Lin, mengapa anda mengabaikan panduan saya?" tanya Guru pemandu
Lin Xia Mei menoleh sekilas lalu kembali memandangi lukisan didepannya.
"Saya sedang bicara dengan anda, Nyonya Lin."
"Aku tahu, aku tidak tuli." sahut Lin Xia Mei santai.
"Kalau begitu silahkan kembali, jangan berpencar seperti ini. Sebaiknya anda fokus pada kegiatan." ujar guru pemandu yang masih bisa mengontrol amarahnya.
"Aku bukan muridmu, itu kan tugas anak muridmu, bukan tugasku." sahut Lin Xia Mei.
"Nyonya Lin, bukankah sudah mendengar arahan saya tadi? Wali murid membantu anak-anaknya."
Lin Xia Mei membuang napas dengan malas kemudian menunjuk suatu arah, pandangan Guru pemandu mengikuti arah jari telunjuk Lin Xia Mei, terlihat beberapa Ayah selaku wali murid sedang berbisik pelan sesekali tertawa kecil.
"Kau hanya menegurku, bukankah mereka juga sama? Lagipula mendampingi Wei Ji Xiang itu tugasnya Wei Zhu Chen, bukan tugasku."
"Nyonya Lin memang pandai bersilat lidah, tidak mau kalah dan angkuh. Bagaimana ada seorang Ibu memiliki pemikiran seperti anda ini, Nyonya Lin?"
"Aku angkuh tapi tidak bodoh,"
Guru Pemandu mulai kehilangan kesabaran melawan Lin Xia Mei yang tetap berbicara dengan santai.
"Jika kau sangat ingin profesional dalam tugas, silahkan kau kembali ke kelompok dan bantu tugas anak-anak, jangan mengatur diriku."
Habis sudah kesabaran untuk Lin Xia Mei, guru pemandu langsung membuang muka dan meninggalkan Lin Xia Mei, tentu Lin Xia Mei menyeringai atas kemenangannya.
Salah satu wali murid lainnya menghampiri Lin Xia Mei.
"Nyonya Lin, aku lihat tadi guru pemandu sedang marah. Apa dia membuat masalah lagi denganmu?" tanya Xie Rou, salah satu wali murid.
"Apa pedulimu?"
"Maaf Nyonya Lin, aku tidak bermaksud menyinggung, hanya bertanya saja."
Lin Xia Mei memasang ekspresi datar.
"Aku tidak butuh peduli darimu, Nyonya Xie." tegas Lin Xia Mei, ia berjalan meninggalkan Xie Rou yang sudah kesal.
Bip. Bao muncul lalu menampilkan layar transparan.
"Selamat inang, 10 poin diterima." ucap Bao.
Layar Transparan menampilkan keseluruhan poin yang diterima sudah 60 poin, Lin Xia Mei menggaruk pelan tengkuknya.
"Bao, hanya 10 poin yang masuk, aku tidak tertarik melihat jumlah poin yang imut itu."
Bao tertawa kecil dan terbang memutari Lin Xia Mei.
"Ibu." panggil Wei Ji Xiang dengan suara pelan.
"Lihat, Ji Xiang dan Ayah sudah memutuskan akan memilih pedang sejarah ini untuk tugasnya." ujar Wei Ji Xiang sambil menunjukkan layar hp berisi potret pedang bersejarah yang ia pilih.
"Terserah saja, Ji Xiang. Aku tidak ingin berurusan dengan tugas receh ini." kata Lin Xia Mei dengan malas.
Wei Ji Xiang tersenyum lalu kembali ke sisi Ayahnya.
"Ayah, meski hanya sebentar tapi Ibu tadi mau melirik pada foto ini." bisik Wei Ji Xiang.
Wei Zhu Chen tersenyum lalu mengelus kepala Wei Ji Xiang.
Mata Lin Xia Mei terus memperhatikan masing-masing orang, ia mencari orang yang belum membenci atau kesal padanya. Senyumnya sedikit merekah saat matanya menangkap sesosok perempuan yang tadi pagi ikut berpihak padanya.
"Maafkan aku ya, aku butuh bantuanmu." batin Lin Xia Mei.
Mereka melanjutkan langkah menuju ruangan selanjutnya, disini monumen yang bersejarah semakin kental sejarahnya, ada garis penghalang disekitarnya, jadi semua orang tidak boleh terlalu dekat dengan benda yang dijaga.
Lin Xia Mei sengaja berdekatan dengan Shi Yue, wali murid yang tadi pagi berpihak padanya saat berdebat dengan guru pemandu, Lin Xia Mei bergerak mundur dan berdiri tepat dibelakang Shi Yue.
Tampak Shi Yue sangat tertarik dengan benda bersejarah yang satu ini, ia sengaja berdiri paling depan. Lin Xia Mei Menarik napas dalam-dalam lalu mendorong penopang tumit heels Shi Yue, sontak saja Shi Yue kehilangan keseimbangan, tubuhnya terjatuh diatas tali pembatas dan ujung tangannya menyenggol ujung meja tempat dipajangnya benda berharga tersebut, beruntung tidak ada yang terjatuh.
Beberapa petugas yang berpatroli di sekitar langsung datang menghampiri dan memelototi Shi Yue.
Guide segera meminta maaf pada petugas, begitupun guru pemandu dan Shi Yue. Lin Xia Mei menatap Shi Yue dan tersenyum tipis, Shi Yue menyadari tatapan dan senyuman Lin Xia Mei.
"Maafkan saya, sungguh saya tidak sengaja. Ada yang sengaja mendorong kaki saya." ujar Shi Yue.
Shi Yue menatap Lin Xia Mei, rasa kecewa dan amarah memenuhi hatinya.
"Nyonya Shi, aku percaya padamu." ujar salah satu wali murid.
"Ya, aku juga. Nyonya Shi Yue itu orang yang sangat berhati-hati. Mustahil Nyonya Shi begitu ceroboh." wali murid lainnya membela.
"Saya tadi melihat Nyonya Lin tersenyum saat saya jatuh!" Shi Yue menunjuk Lin Xia Mei.
"Atas dasar apa kau menuduhku?"
"Harap Nyonya Shi berhati-hati dalam berkata, jangan asal menuduh istriku." Wei Zhu Chen membela.
"Tapi Nyonya Lin tadi ada dibelakang Nyonya Shi."
"Betul, aku merasakan kakiku juga terdorong ke depan. Artinya yang mendorongku adalah orang yang berdiri dibelakangku." ujar Shi Yue.