NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Napas Seraphina tersentak keluar dengan kasar, seperti seseorang yang baru saja muncul dari dalam air setelah hampir tenggelam. Dadanya naik turun cepat tanpa ritme yang jelas, paru-parunya terasa perih karena dipaksa bekerja terlalu keras dalam waktu singkat. Tenggorokannya kering, dan setiap tarikan udara terasa tajam, membuatnya tanpa sadar mencengkeram seprai di bawahnya dengan kuat.

Gelap menyelimuti pandangannya selama beberapa detik, sunyi memenuhi ruang di sekitarnya, tetapi keheningan itu terasa berbeda. Tidak menekan seperti sebelumnya, tidak menelan segalanya, melainkan hanya diam tanpa ancaman yang nyata. Seraphina membuka mata lebar-lebar, mencoba menangkap apa yang ada di sekelilingnya dengan sisa kesadarannya yang masih kacau.

Langit-langit putih menyambut pandangannya, datar dan bersih tanpa pantulan cahaya berkilau. Tidak ada lampu kristal yang menggantung, tidak ada meja panjang dengan hidangan mewah, tidak ada bayangan tiga sosok yang berdiri diam mengawasinya. Ia terdiam, napasnya masih belum stabil, tetapi pikirannya mulai bergerak, mencoba mengejar apa yang baru saja ia alami.

Ingatan terakhirnya begitu jelas, terlalu nyata untuk dianggap sebagai mimpi biasa. Lantai dingin, tubuhnya yang gemetar, tatapan mereka yang kosong, serta kata-kata yang masih terasa menggema di telinganya. Semua itu terasa begitu dekat, seolah baru saja terjadi beberapa detik lalu.

Seraphina menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kaku. Ia perlahan mengangkat tubuhnya, bersandar pada sandaran tempat tidur, mencoba memastikan bahwa dirinya benar-benar bisa bergerak. Tangannya masih gemetar, meski ia berusaha menahannya.

“Apa…” suaranya serak, hampir tidak terdengar. “Apa ini…”

Ia menoleh ke sekeliling, matanya bergerak cepat menelusuri setiap sudut ruangan. Kamar itu terasa familiar, bukan sekadar dikenal, tetapi seperti tempat yang pernah ia tempati cukup lama.

Dinding berwarna krem lembut terlihat bersih tanpa perubahan, tirai panjang jatuh rapi di sisi jendela, dan meja kecil di dekat tempat tidur berdiri di posisi yang sama seperti yang ia ingat. Lampu di atas meja itu bahkan masih memiliki bentuk yang sama, detail yang terlalu spesifik untuk sekadar kebetulan.

Ini bukan kamar di rumah utama.

Bukan kamar yang ia tempati sebelum semuanya terjadi.

Ini adalah kamar lamanya.

Seraphina membeku, tubuhnya kembali menegang tanpa ia sadari. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena rasa sakit, tetapi karena kebingungan yang mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.

“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.

Ia segera menurunkan kaki dari tempat tidur, telapak kakinya menyentuh lantai dengan hati-hati. Sensasi dingin itu langsung terasa, nyata dan jelas, membuatnya semakin sulit untuk menganggap semua ini sebagai ilusi.

Ia berdiri perlahan, langkahnya ragu-ragu, seolah takut bahwa semua ini akan menghilang jika ia bergerak terlalu cepat. Setiap langkah terasa berat, bukan karena tubuhnya lemah, tetapi karena pikirannya menolak menerima kenyataan yang ada.

Seraphina berjalan menuju cermin besar di sudut kamar, langkahnya semakin melambat saat jarak itu semakin dekat. Ia berhenti tepat di depannya, matanya langsung tertuju pada bayangan yang muncul.

Dan dunia seolah berhenti.

Wajah itu adalah dirinya, tidak ada keraguan tentang itu. Namun bukan dirinya yang terakhir ia lihat sebelum semuanya berakhir.

Kulitnya tampak lebih halus, tanpa garis halus yang sempat mulai muncul. Matanya terlihat lebih jernih, tidak menyimpan kelelahan yang selama ini ia rasakan. Rambutnya jatuh rapi seperti beberapa tahun lalu, sebelum tekanan mulai mengubah segalanya.

Seraphina mengangkat tangan perlahan, menyentuh pipinya sendiri. Sentuhan itu hangat, nyata, tidak seperti sesuatu yang hanya ada dalam mimpi.

“Ini…” suaranya bergetar. “Ini tidak mungkin…”

Ia mundur satu langkah, hampir kehilangan keseimbangan karena pikirannya yang semakin kacau. Jika ini mimpi, maka terlalu nyata. Jika ini kenyataan, maka tidak masuk akal.

Ia menoleh cepat, mencari sesuatu yang bisa membuktikan bahwa semua ini hanya ilusi. Matanya jatuh pada meja kecil di dekat tempat tidur, tepat pada sebuah kalender yang berdiri di atasnya.

Seraphina berjalan cepat ke arah itu, tangannya sedikit gemetar saat meraihnya. Ia menatap angka-angka yang tertera di sana dengan saksama.

Tanggal.

Bulan.

Tahun.

Napasnya berhenti sejenak.

Itu adalah waktu yang sudah ia lewati.

Beberapa tahun sebelum malam itu terjadi.

Sebelum racun itu masuk ke tubuhnya.

Sebelum pengkhianatan itu terbuka.

Tangannya melemah, hampir menjatuhkan kalender itu dari genggamannya.

“Tidak…” bisiknya pelan.

Ia menggeleng, mencoba menolak apa yang ada di hadapannya, tetapi angka-angka itu tidak berubah. Tetap sama, tetap menunjukkan waktu yang seharusnya sudah menjadi masa lalu.

Seraphina mundur perlahan hingga punggungnya menyentuh tepi meja. Kakinya kehilangan kekuatan, membuatnya terduduk tanpa benar-benar menyadari kapan tubuhnya menyerah.

Tangannya menutup mulut, mencoba menahan sesuatu yang naik ke tenggorokannya. Napasnya kembali tidak stabil, pikirannya dipenuhi oleh ingatan yang kembali menghantam tanpa ampun.

Darius.

Lysandra.

Kael.

Kata-kata mereka, tatapan mereka, dan bagaimana semuanya berakhir.

Tubuhnya mulai gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena trauma yang masih terlalu segar. Ia menunduk, bahunya bergetar pelan, sementara air mata mulai jatuh satu per satu.

“Aku…” suaranya patah. “Aku mati…”

Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa ragu.

Karena ia yakin.

Ia merasakan semuanya dengan jelas.

Rasa sakit itu.

Detak jantungnya yang berhenti.

Kesadarannya yang hilang.

Semua itu bukan mimpi.

Lalu kenapa ia ada di sini.

Seraphina menggenggam ujung gaunnya dengan kuat, mencoba menahan dirinya agar tidak benar-benar hancur di tempat itu. Ia ingin menangis lebih keras, ingin berteriak, ingin menolak semuanya, tetapi tidak ada jawaban yang datang.

Hanya keheningan kamar yang membungkus dirinya.

Beberapa saat berlalu tanpa ia sadari. Napasnya perlahan mulai stabil, meski masih terasa berat di dada. Tangisnya mereda, menyisakan rasa sesak yang belum sepenuhnya hilang.

Seraphina mengangkat kepalanya perlahan. Matanya masih basah, tetapi di dalamnya, sesuatu mulai berubah.

Pikirannya kembali pada apa yang baru saja ia lihat.

Tanggal itu.

Cermin itu.

Semua bukti yang tidak bisa ia abaikan.

Ini bukan mimpi.

Ini bukan ilusi.

Ia benar-benar kembali.

Kesadaran itu datang perlahan, namun begitu sampai, ia tidak bisa lagi menolaknya. Seraphina menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya.

Udara terasa berbeda, lebih ringan, lebih bebas, namun juga membawa beban yang tidak bisa ia abaikan. Kenangan itu tidak hilang, pengkhianatan itu tetap ada, rasa sakit itu masih terasa jelas.

Ia menunduk sejenak, lalu mengangkat kepalanya kembali. Tatapannya kini berbeda dari sebelumnya.

Tidak lagi penuh kebingungan.

Tidak lagi hanya dipenuhi ketakutan.

Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dingin dan lebih tajam.

Seraphina berdiri perlahan, kali ini tanpa ragu. Langkahnya menuju cermin kembali, tetapi dengan sikap yang sudah berubah.

Ia menatap bayangannya dengan lebih dalam. Wanita muda itu berdiri di hadapannya, belum mengetahui apa yang akan terjadi.

Namun Seraphina tahu.

Ia tahu semuanya.

Tentang apa yang akan datang.

Tentang siapa yang akan mengkhianatinya.

Tentang bagaimana semuanya akan berakhir jika ia tetap diam.

Jemarinya perlahan menyentuh permukaan cermin. Matanya menyipit sedikit, tidak ada lagi air mata yang jatuh.

Yang tersisa hanyalah sisa emosi yang mulai membeku menjadi sesuatu yang lebih kuat.

Ia terdiam cukup lama, menatap dirinya sendiri, mengingat, menimbang, dan akhirnya menerima kenyataan yang tidak bisa diubah.

Seraphina menarik napas dalam sekali lagi, lalu mengembuskannya perlahan. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum hangat, bukan senyum bahagia.

Melainkan sesuatu yang lebih tenang.

Lebih berbahaya.

Ia tidak lagi wanita yang sama.

Ia bukan lagi seseorang yang akan mempercayai tanpa berpikir.

Bukan lagi seseorang yang menutup mata terhadap tanda-tanda kecil.

Bukan lagi korban.

Tatapannya mengeras, senyum tipis itu tetap ada, dan dengan suara pelan, hampir seperti janji yang hanya ia dengar sendiri, ia berkata,

“Kali ini… aku tidak akan mengulangi kebodohanku demi mereka.”

1
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!