ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.1: Kilas Balik - Mata Emas Sang Raja dan Rahasia di Balik Tahta
(Tiga hari sebelum insiden jatuhnya Naga Api Neraka, tepat setelah kembalinya kelompok dari Gurun Pasir Hitam).
Kerajaan Valeria berdiri di atas fondasi batu putih yang usianya telah mencapai ribuan tahun. Di pusat kota, menjulang lebih tinggi dari bangunan Guild Petualang, adalah Istana Matahari—pusat pemerintahan absolut benua barat. Namun, sebelum langkah sang Algojo menapak ke atas marmer suci istana tersebut, takdir telah merajut jalannya melalui sebuah pertemuan rahasia di lantai teratas gedung Guild.
Hari itu, udara di Kerajaan Valeria terasa cukup sejuk. Rino dan Richard baru saja resmi diterima sebagai bayangan yang mengekor di belakang Ajil. Zirah merah Rino masih mengkilap tanpa bekas lelehan api naga, dan tombak es Richard masih utuh memancarkan hawa dingin yang elegan. Mereka berdua berdiri tegap bagai patung penjaga di depan sebuah pintu kayu ek solid berukir lambang pedang bersilang, di lantai empat Guild Petualang yang dilarang dimasuki oleh sembarang orang.
Di dalam ruangan tersebut, suasana terasa sangat sunyi dan kaku.
Ruangan pribadi Master Guild Leon adalah sebuah perpustakaan mini yang dipenuhi oleh aroma perkamen tua, tinta cumi-cumi raksasa, dan lilin lebah yang menyala redup. Rak-rak kayu mahoni setinggi langit-langit menyimpan ribuan grimoire sihir kuno. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja bundar dari batu obsidian, di mana sebuah peta holografik lima benua Planet Ridokan berpendar biru redup.
Ajil duduk bersandar di kursi berlapis kulit Gryphon. Setelan Malam Abadi miliknya menyerap cahaya lilin, membuat wajahnya yang bersudut tajam tampak semakin keras dan tak tersentuh. Sepasang mata hitamnya yang kelam menatap lurus ke arah Leon yang sedang berdiri menuangkan Anggur Amber Pegunungan ke dalam dua gelas kristal.
Erina duduk di sandaran tangan kursi Ajil.
Sang High Elf itu menumpangkan kakinya dengan anggun, zirah sutra mithrilnya bergemerisik pelan. Ia menatap Leon dengan tatapan menilai yang sinis, seolah manusia bergelar Master Guild Kelas SS itu tak lebih dari seorang pelayan kedai di matanya.
"Aku tidak datang kemari untuk minum anggur, Leon," ucap Ajil datar, suaranya membelah keheningan ruangan dengan nada bariton yang berat. "Dua hari yang lalu, saat kau menaikkanku menjadi Kelas S, kau berjanji akan memberiku akses penuh ke arsip Guild. Aku mencari informasi spesifik. Enam Prasasti Dimensi. Di mana letak prasasti pertama?".
Leon menghentikan gerakannya. Ia meletakkan gelas kristal itu di atas meja tanpa meminumnya. Jenderal perang veteran itu menarik napas panjang, wajahnya yang biasanya tegas kini menyiratkan sebuah beban rahasia yang teramat berat.
"Aku telah membongkar seluruh arsip rahasia kelas S di perpustakaan bawah tanah, Ajil," jawab Leon, menatap mata pria berjaket hitam itu dengan serius. "Catatan tentang Prasasti Dimensi adalah sebuah tabu. Benda itu dikabarkan memiliki kekuatan untuk merobek batas ruang dan waktu, serta mengendalikan fondasi kehidupan dan kematian yang diatur oleh Dewa Andora. Guild Petualang, sebesar apa pun jaringannya, tidak memiliki otoritas untuk menyimpan informasi berskala dewa seperti itu."
Mata Ajil menyipit. Hawa dingin perlahan merembes dari pori-pori kulitnya, membuat suhu ruangan turun beberapa derajat. "Jadi, kau mengatakan bahwa janjimu adalah omong kosong?"
[SISTEM: Peringatan. Fluktuasi emosi Pengguna meningkat. Aura Gravitasi Jiwa berpotensi aktif.]
Merasakan tekanan mana yang menyesakkan dada, Leon buru-buru mengangkat tangannya. "Tunggu, Ajil. Aku tidak mengatakan bahwa kita menemui jalan buntu. Guild memang tidak menyimpannya, tapi aku tahu siapa yang mengetahuinya. Dan karena itulah aku memanggilmu ke ruangan ini secara rahasia."
Erina mendengus pelan, membelai rambut perak kebiruannya dengan jemari lentiknya. "Manusia selalu suka berbelit-belit. Jika kau tahu siapa yang menyembunyikannya, sebutkan saja namanya. Ajil akan membelah tengkoraknya, dan kita bisa mengakhiri percakapan membosankan ini.".
"Orang yang harus kalian temui bukanlah seseorang yang bisa kalian tebas begitu saja, Nona Erina," balas Leon dengan nada penuh peringatan. "Dia adalah penguasa mutlak daratan ini. Raja Steven dari Valeria."
Ajil terdiam. Wajahnya tidak menunjukkan riak keterkejutan sedikit pun. Raja, kaisar, atau dewa sekalipun, baginya hanyalah tumpukan batu sandungan yang harus dilewati untuk kembali memeluk Arzan dan Dara.
"Bawa aku padanya," perintah Ajil singkat.
Leon mengangguk. "Raja Steven telah menunggumu. Beliau sudah mengetahui keberadaanmu bahkan sebelum kau menginjakkan kaki di kota ini. Beliau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh manusia fana lainnya.".
Setengah jam kemudian, kelompok kecil itu telah keluar dari gedung Guild. Ajil, Erina, Rino, dan Richard berjalan beriringan di belakang Leon, membelah keramaian kota menuju Distrik Mahkota—area eksklusif tempat Istana Matahari berdiri.
Perjalanan melintasi distrik atas ini memberikan kontras yang sangat tajam dengan jalanan berdebu di pasar bawah. Jalanan di sini dilapisi oleh pualam putih yang disapu bersih setiap jam. Di sisi kiri dan kanan, terdapat taman-taman gantung yang dipenuhi Bunga Mawar Roh yang kelopaknya memancarkan cahaya merah rubi. Air mancur berbentuk malaikat menyemburkan air suci dari mata air pegunungan yang rasanya semanis madu. Warga yang berlalu-lalang di sini adalah para bangsawan yang mengenakan gaun sutra berlapis emas dan jubah beludru tebal.
Rino dan Richard, meskipun mereka adalah elit Kelas A+, terlihat sangat canggung. Mereka terus memperbaiki letak zirah mereka dan menundukkan pandangan. Memasuki wilayah istana adalah sesuatu yang jarang mereka lakukan, mengingat mereka hanyalah ksatria bayaran di mata para bangsawan.
"T-Tuan Ajil," bisik Rino dari belakang, suaranya sedikit bergetar karena gugup. "Istana Matahari dijaga oleh Ksatria Templar Emas, pasukan khusus Raja yang rata-rata berada di Level 120 ke atas. Mereka sangat ketat soal tata krama dan etiket. Kita harus berlutut saat Raja Steven memasuki ruangan."
Langkah Ajil tidak melambat sedikit pun.
Mata kelamnya menatap gerbang raksasa berlapis emas murni di ujung jalan.
"Kehormatan dan etiket yang dipaksakan hanyalah rantai emas yang mengikat jiwa para pengecut," ucap Ajil dengan suara bariton yang tenang namun menggema di antara pilar-pilar jalanan, menembus gendang telinga Rino dan Richard. "Aku tidak pernah berlutut pada dunia yang merampas hidupku. Jika raja ini membutuhkan penghormatan, ia harus membuktikannya dengan kebijaksanaan, bukan dengan sepotong logam di atas kepalanya. Berjalanlah dengan kepala tegak, Rino. Kalian adalah bayanganku, dan bayanganku tidak pernah merangkak di depan siapa pun.".
Mendengar kata-kata mutiara yang sangat tajam itu, tulang punggung Rino dan Richard seolah dialiri oleh arus listrik yang menegakkan postur mereka seketika. Rasa gugup mereka menguap, digantikan oleh rasa bangga yang meledak-ledak. Mereka adalah bagian dari Algojo Dimensi.
Erina tersenyum penuh kemenangan, melirik Rino dengan ujung matanya. "Dengarkan pemimpinmu, Manusia Besar. Raja kalian hanyalah manusia fana yang umurnya tak lebih panjang dari seekor penyu di hutan kelahiranku.".
Mereka tiba di gerbang istana. Delapan orang Ksatria Templar Emas berdiri dengan tombak raksasa yang menyilang memblokir jalan. Zirah emas mereka menyilaukan mata, memancarkan aura sihir pertahanan tingkat dewa.
[SISTEM: Menganalisis Penjaga Istana.]
[Level rata-rata: 125. Kelas: S (Templar Suci). Status: Waspada.]
"Berhenti di sana, Master Leon!" seru komandan penjaga dengan suara lantang dari balik helm emasnya. Matanya menatap tajam ke arah Ajil dan Erina. "Sesuai titah Baginda Raja, kami telah menantikan kedatangan Pahlawan Kelas S yang baru. Namun, senjata tidak diizinkan masuk ke dalam Ruang Singgasana. Serahkan pedang dan busur kalian.".
Erina mendengus kasar. Udara di sekitarnya seketika mendingin. "Kau berani meminta seorang High Elf melucuti senjatanya, Penjaga Pintu? Tanganku ini bisa memutar kepalamu hingga menghadap ke belakang tanpa perlu menyentuh busurku."
"Nona Erina, tolong," Leon menengahi dengan cepat, berkeringat dingin melihat potensi pertumpahan darah di depan gerbang istana. "Ini adalah protokol keamanan mutlak."
Ajil tidak merespons. Ia bahkan tidak berhenti berjalan. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, memberikan sebuah jentikan jari yang sangat pelan ke arah udara kosong.
TRANG!
Dua tombak emas raksasa yang menyilang memblokir jalan itu tiba-tiba membeku, lalu retak, dan hancur berkeping-keping akibat tekanan Aura Gravitasi Jiwa yang difokuskan hanya pada titik sentuh senjata tersebut, tanpa melukai para penjaganya sama sekali.
Kedelapan Ksatria Templar itu terperanjat mundur, tangan mereka bergetar hebat memegang sisa gagang tombak yang telah hancur. Mereka bahkan tidak melihat pria berjaket hitam itu merapalkan sihir!
"Senjataku tidak ada di tanganku. Senjataku ada di dalam jiwaku," desis Ajil datar, menatap langsung ke mata komandan penjaga dari balik helmnya. "Jika rajamu takut pada logam, dia tidak pantas duduk di atas tahta. Buka pintunya.".
Leon menelan ludah paksa, sementara Rino dan Richard menahan napas karena kagum yang luar biasa. Komandan penjaga itu, yang menyadari bahwa pria di depannya ini memancarkan aura kematian absolut, akhirnya memberi isyarat dengan tangan bergetar agar gerbang ganda setinggi lima belas meter itu dibuka.
Mereka melangkah masuk ke dalam Istana Matahari. Kemegahan arsitektur di dalamnya membuat Rino dan Richard menganga. Lantainya terbuat dari kaca kristal yang di bawahnya mengalir air sungai bawah tanah yang jernih, membiaskan cahaya matahari menjadi ribuan pelangi kecil. Pila-pilar raksasa yang menyangga atap melengkung itu dihiasi oleh ukiran naga, malaikat, dan pahlawan masa lalu yang dilapisi emas murni.
Namun, tanpa disadari oleh kelompok tersebut, di balik salah satu pilar marmer besar di lorong gelap yang menghubungkan sayap kiri istana, sesosok bayangan botak tengah mengintip.
Boros, panglima perang dari kelompok Crimson Lion. Ia sedang berada di istana untuk menyerahkan upeti bulanan dari pasar gelap kepada salah satu menteri korup. Mata Boros yang memiliki bekas luka sayatan menyipit penuh kedengkian. Ia melihat rival abadinya, Rino, berjalan tegak tanpa senjata mengikuti pria berjaket hitam yang sangat ia benci.
"Mengapa gerombolan sampah itu diizinkan masuk ke Ruang Singgasana menemui Raja Steven tanpa dilucuti?" batin Boros, menggertakkan giginya hingga berderit. Ia mengeluarkan sebuah kristal kecil berwarna hitam dari sakunya—Kristal Penyadap Bayangan. "Master Leon pasti merencanakan sesuatu dengan pria arogan itu. Aku harus tahu apa yang mereka bicarakan." Boros melepaskan seekor lalat sihir tak kasat mata dari kristalnya, membiarkan lalat itu terbang diam-diam menempel di ujung jubah Leon.
Di dalam Ruang Singgasana, suasananya sangat luas namun terasa intim. Tidak ada puluhan menteri atau penjaga yang berbaris. Hanya ada sebuah singgasana raksasa yang terbuat dari bongkahan utuh Batu Matahari, sebuah meteorit yang memancarkan cahaya keemasan hangat.
Di atas singgasana itu, duduklah Raja Steven.
Ia bukanlah pria tua yang gemuk dan serakah seperti raja-raja dalam dongeng manusia. Raja Steven adalah pria paruh baya yang sangat bugar, mengenakan jubah beludru putih dengan sulaman benang emas. Rambut peraknya disisir rapi ke belakang. Namun, yang paling mencolok dari sang raja adalah sepasang matanya. Matanya tidak memiliki pupil berwarna normal, melainkan berpendar dengan cahaya emas yang sangat terang dan murni.
[SISTEM: Menganalisis Entitas Otoritas Tertinggi.]
[Nama: Steven Valerian]
[Ras: Manusia (Wadah Berkah Ilahi)]
[Level: ??? (Tertutup oleh Tabir Dewa)]
[Status Khusus: Pemegang 'Mata Dewa' dari Dewi Lumira.]
Raja Steven berdiri dari singgasananya saat kelompok Ajil mendekat. Alih-alih menunggu mereka berlutut, sang raja justru berjalan menuruni undakan karpet merah, meletakkan tangan kanannya di dada kirinya, dan membungkukkan badannya sedikit ke arah Ajil.
"Selamat datang di sisa-sisa duniaku yang fana, Sang Anomali dari dimensi seberang," sapa Raja Steven, suaranya memiliki resonansi yang menenangkan, mirip dengan suara Dewi Lumira yang Ajil dengar di Kuil Alura.
Rino, Richard, dan bahkan Leon terbelalak kaget. Seorang raja... menunduk menghormati seorang petualang?!
Ajil tidak mengubah ekspresinya. Matanya yang kelam menatap mata emas sang raja. "Kau tahu siapa aku."
"Aku tidak mengetahui namamu sampai Master Leon melaporkannya," Steven tersenyum bijak, wajahnya menyiratkan kelelahan yang sangat dalam, seolah ia telah memikul rahasia semesta selama berabad-abad. "Namun, aku telah melihat kedatanganmu dalam mimpiku selama sepuluh tahun terakhir. Mata emas ini... ini adalah kutukan dan berkah dari Dewi Lumira. Melalui mata ini, aku bisa melihat riak takdir dan benang-benang kehidupan yang terputus.".
Raja Steven melangkah lebih dekat, menatap wajah Ajil dengan empati yang sangat murni. "Aku melihat sebuah benang yang terputus di dunia yang sangat jauh. Dunia yang penuh dengan gedung-gedung logam yang menyentuh awan, dan kendaraan yang bergerak tanpa sihir. Aku melihat seorang pria yang kehilangan belahan jiwanya, hancur di atas jalanan yang dingin... lalu ditarik ke dunia ini oleh rasa bersalah Sang Dewi."
Rahang Ajil mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Ingatan tentang kematiannya, tentang darah di atas aspal dan layar ponselnya yang retak, kembali menamparnya. Petir ungu mulai memercik liar di sela-sela jarinya, membakar karpet merah istana.
[SISTEM: Peringatan Kritis. Kestabilan emosi Pengguna menurun drastis. Mode Amukan berpotensi aktif.]
"Jaga mulutmu, Raja," desis Ajil, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan, berubah menjadi geraman monster yang mengancam akan merobek leher pria di depannya. "Jangan pernah mengorek luka yang tidak kau pahami. Katakan padaku di mana Prasasti Dimensi itu berada, atau aku akan meratakan istanamu ini hingga menjadi debu."
Leon segera mencabut setengah pedang cahayanya, bersiap melindungi sang raja. "Ajil! Kendalikan dirimu!"
Namun Raja Steven mengangkat tangannya dengan tenang, sama sekali tidak merasa terancam oleh aura kematian Ajil. Sang raja memahami bahwa pria di depannya ini bukanlah orang jahat, melainkan seekor singa terluka yang meronta dalam perangkap keputusasaan.
"Aku tidak bermaksud menyinggung lukamu, Ajil. Aku mengatakan ini agar kau tahu, bahwa aku adalah sekutumu," ucap Steven lembut. Ia memutar tubuhnya, berjalan kembali menaiki undakan menuju singgasananya. Ia menyentuh sebuah lambang matahari di dinding di belakang tahtanya. "Kau mencari enam Prasasti Dimensi. Kunci untuk merajut kembali benang kehidupanmu dan kembali ke keluargamu. Kau harus tahu, prasasti-prasasti itu bukanlah sekadar batu sihir biasa. Mereka adalah pilar penopang dunia Ridokan. Mengumpulkan mereka berarti mencabut pasak yang menahan dunia ini dari kehancuran.".
Raja Steven memutar lambang matahari itu. Suara gemuruh pelan terdengar, dan sebuah meja bundar dari kristal muncul dari lantai. Di atas meja itu, terdapat sebuah peta holografik tiga dimensi dari Kerajaan Valeria.
"Namun, invasi Kaisar Iblis dari Benua Hitam sudah di ambang pintu. Dunia ini pada akhirnya akan hancur jika tidak ada campur tangan dari kekuatan yang melampaui logika dunia kita. Dewi Lumira memilihmu sebagai pedang pemusnah itu," lanjut sang raja. Titik merah terang menyala di peta holografik tersebut, tepat di perbatasan timur wilayah Valeria, di dalam sebuah hutan lebat yang ditutupi oleh kabut tebal.
"Ini adalah lokasi Prasasti Dimensi yang pertama," Steven menunjuk titik merah tersebut. "Berada di dalam wilayah kerajaanku sendiri. Tepatnya di Menara Ilusi di tengah Hutan Embun Darah."
Mata Ajil mengunci titik merah tersebut. "Aku akan pergi sekarang. Siapa yang menjaganya? Berapa levelnya?"
"Prasasti itu tidak dijaga oleh monster, Ajil," Raja Steven menatap pria itu dengan serius. "Ia dijaga oleh seseorang yang sangat dekat dengan kerajaan ini. Namanya adalah Erika. Sang Penyihir Penjaga.".
Erina, yang sedari tadi menyimak dalam diam, mengerutkan dahi indahnya. "Erika? Aku pernah mendengar rumor itu di benua elf. Seorang manusia setengah elf (Half-Elf) yang umurnya telah mencapai lima ratus tahun. Dikatakan bahwa kecantikannya mampu membuat bunga layu kembali mekar, dan sihir ilusinya bisa mengurung dewa sekalipun ke dalam mimpi yang tak berujung."
"Rumor itu benar," Steven mengangguk pelan. "Erika bukanlah musuhmu, Ajil. Dia adalah sahabat lamaku, dan pelindung rahasia Kerajaan Valeria. Ratusan tahun lalu, prasasti itu dititipkan padanya oleh dewa untuk dijaga dari jangkauan ras iblis. Dia tidak akan menyerahkannya begitu saja padamu, meskipun aku yang memerintahkannya."
"Jika dia menghalangi, aku akan membunuhnya," jawab Ajil dingin, tanpa sedikit pun ragu.
"Itulah yang kutakutkan," Steven menghela napas berat. "Kekuatan mentahmu mungkin bisa menghancurkan tubuh fisiknya. Tapi sihir Erika tidak menyerang tubuh. Sihirnya menyerang jiwa. Ia menggunakan kelemahan terbesar, penyesalan terdalam, dan kerinduan paling menyakitkan dari musuhnya untuk menciptakan ilusi yang absolut. Banyak pahlawan Kelas S yang masuk ke menaranya dan berakhir gila, membunuh diri mereka sendiri karena tidak sanggup membedakan mana yang nyata dan mana yang ilusi.".
Mendengar penjelasan itu, Rino dan Richard saling bertukar pandang dengan cemas. Mereka tahu, kelemahan terbesar Ajil bukanlah senjata tajam atau api naga, melainkan masa lalunya yang tragis.
Raja Steven memerintahkan pelayan istana untuk membawa masuk kereta dorong emas. Di atasnya, tersaji hidangan penutup kerajaan: Burung Pegar Emas Panggang yang disajikan dengan Truffle Bintang dan sebotol Anggur Merah Usia Seratus Tahun yang aromanya semerbak menenangkan jiwa.
"Makanlah sebelum kalian pergi, Pahlawan. Ini mungkin perjalanan terberat yang akan menguji kewarasan kalian," Steven mempersilakan mereka.
Ajil tidak menyentuh hidangan mewah itu. Tatapannya tertuju pada pintu keluar istana. Pikirannya sudah berada di Hutan Embun Darah. Ia tidak peduli seberapa kuat ilusi penyihir setengah elf itu. Tidak ada mimpi buruk di dunia Ridokan yang bisa menyamai mimpi buruk terbangun setiap pagi dan menyadari bahwa ia telah kehilangan separuh jiwanya di bumi.
Di luar ruangan, lalat sihir tak kasat mata di jubah Leon terus mentransmisikan percakapan itu.
Di lorong gelap istana, Boros menyeringai lebar hingga bekas luka di wajahnya tertarik mengerikan. Ia mematikan Kristal Penyadap Bayangan di tangannya.
"Prasasti Dimensi... Kunci yang memiliki kekuatan dewa... Disembunyikan oleh penyihir Erika di Hutan Embun Darah," kekeh Boros dengan mata membelalak penuh keserakahan yang buas. "Galahad dan para bangsawan idiot itu hanya sibuk mengurusi ego mereka melawan pria berjaket hitam ini. Jika aku, Boros, bisa menyelinap dan mencuri prasasti itu saat sihir penyihir sedang beradu dengan monster itu... Crimson Lion tidak hanya akan menguasai Valeria, tapi seluruh benua barat!".
Boros memutar tubuhnya, berlari diam-diam meninggalkan istana untuk mengumpulkan pasukan bayangannya. Ia tidak sadar, bahwa keputusannya untuk mengikuti jejak Sang Algojo Dimensi adalah tiket langsung menuju pintu neraka yang paling dasar.