Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Tersembunyi & Ancaman Maut
Suasana di balik persembunyian itu terasa mencekam, namun ketiga orang yang bersembunyi di sana tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan sama sekali. Ziva tetap menjaga kewaspadaan, matanya tak lepas mengamati setiap gerak-gerik para penyergap yang kini semakin mendominasi seluruh area kampus. Namun, pandangannya sesekali tertuju pada Zio yang berdiri di sampingnya, dan perasaan curiga yang perlahan tumbuh di hatinya semakin membesar.
Ia melihat bagaimana saudaranya itu bergerak dengan gerakan yang terlatih, tangannya terampil mengoperasikan peralatan kecil yang ia bawa, dan tatapannya yang tenang namun penuh ketegasan sama sekali tidak mirip dengan sifat Zio yang ia kenal selama ini.
Tanpa berkata apa-apa, Zio membuka sebuah laptop tipis yang ia bawa di dalam ranselnya, lalu menekan beberapa tombol dengan cepat dan tepat. Layar kecil itu menyala, menampilkan barisan kode-kode rumit yang bergerak seolah memiliki nyawa sendiri. Dalam hitungan detik, tampilan di layar berubah menjadi gambar-gambar langsung dari berbagai kamera pengawas yang tersebar di seluruh penjuru kampus—koridor, halaman, gedung kelas, hingga pintu gerbang utama. Semua aktivitas yang terjadi di luar sana terlihat jelas di depan mata mereka, seolah mereka sedang menonton pertunjukan di layar lebar.
Di layar itu terlihat ratusan anggota Organisasi Cakrawala yang bergerak dengan disiplin militer, mengatur posisi mereka, dan memeriksa setiap sudut ruangan. Suara bisikan mereka terdengar jelas lewat suara yang terhubung langsung ke perangkat Zio.
"Bos... apa lagi yang harus kita lakukan sekarang? Semua orang sudah terkumpul sesuai perintah," tanya salah satu anggota yang berdiri di depan seorang pemimpin yang terlihat berwibawa di tengah kerumunan.
Pria yang menjadi pemimpin itu menatap sekelilingnya dengan tatapan kejam, lalu mengeluarkan perintah yang membuat udara di sekitarnya terasa semakin dingin dan mencekam.
"Pasang beberapa alat peledak di titik-titik strategis. Letakkan di bawah lantai, di ruang listrik, dan di gudang peralatan. Setelah semuanya siap, ledakkan seluruh bangunan ini satu per satu. Kita tidak perlu menyimpan apa-apa, biarkan semua yang ada di sini hancur menjadi abu. Dengan cara ini, keluarga-keluarga besar yang memiliki anak-anak di sini akan merasa kehilangan segalanya, dan kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan dengan mudah," perintahnya dengan suara berat dan penuh kekuasaan.
Mendengar perintah yang mengerikan itu, Ziva merasakan darahnya mendidih. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang membara. Ia tahu betul betapa berbahayanya perintah itu. Jika rencana itu berhasil, tidak hanya nyawa ratusan orang yang melayang, tapi juga nama baik dan kekayaan keluarga-keluarga besar yang menjadi sasaran.
Namun, saat Zio menekan beberapa tombol lagi di laptopnya, Ziva semakin merasa ada yang aneh. Ia melihat bagaimana saudaranya itu mengirimkan sejumlah sinyal radio dengan kode-kode rahasia yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu. Sinyal itu dikirimkan tidak hanya ke satu tempat, melainkan ke beberapa alamat yang berbeda—ke markas kepolisian kota, ke markas keamanan negara, dan juga ke nomor-nomor telepon pribadi milik ayah, ibu, dan seluruh anggota keluarga mereka.
Ziva mengerutkan kening, curiga yang tadinya samar kini berubah menjadi keyakinan yang kuat.
"Kenapa Zio mengirim pesan ke keluarga kita? Apa yang sebenarnya dia rencanakan? Dan mengapa dia menggunakan kode-kode yang tidak pernah dia ajari aku selama ini?" tanya Ziva dalam hati, matanya tak berkedip mengamati setiap gerakan saudaranya itu.
Sementara itu, di sisi lain, Zea yang selama ini terlihat polos dan manja tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dalam tas sekolahnya. Ziva yang melihat hal itu langsung tercengang hingga mulutnya sedikit terbuka.
Dari dalam tas yang terlihat biasa saja, Zea mengeluarkan sebuah senjata api laras panjang yang dirakit dengan sangat rapi, bagian-bagiannya terlihat terbuat dari bahan-bahan yang canggih dan hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang memiliki akses khusus. Gadis itu memegangnya dengan tangan yang mantap, posisinya tegap dan tepat, seolah-olah ia sudah terbiasa menggunakan senjata itu sejak kecil. Ia memeriksa bagian-bagiannya dengan gerakan yang terlatih, lalu mengamati situasi di luar dengan tatapan yang tajam dan dingin, sama sekali tidak mirip dengan Zea yang selama ini ia kenal.
Ziva menatap adiknya itu dengan pandangan yang penuh keheranan dan kekaguman sekaligus. Ia menoleh ke arah Zio yang masih sibuk mengatur perangkatnya, lalu kembali menatap Zea yang kini berdiri siap siaga dengan senjata di tangannya.
"Ada apa dengan keluargaku ini?" batin Ziva berulang kali, pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan yang tak terjawab. "Selama ini aku pikir mereka hanyalah anak-anak biasa yang membutuhkan perlindungan. Tapi kenapa semuanya terlihat... berbeda? Kenapa mereka memiliki keahlian-keahlian yang tidak dimiliki oleh orang biasa? Apakah aku yang tidak tahu tentang mereka, atau mereka yang menyembunyikan sesuatu dariku?"
Ziva sendiri tidak diam saja. Ia merogoh saku bajunya, mengeluarkan sebuah perangkat kecil yang bentuknya seperti jam tangan biasa, namun memiliki fungsi yang jauh lebih berbahaya. Ia menekan tombol-tombol tersembunyi di perangkat itu, mengirimkan sinyal darurat atau sinyal SOS ke seluruh anggota pasukannya yang tersebar di berbagai tempat. Sinyal itu dikirimkan dengan kode-kode rahasia yang hanya mereka berdua ketahui, dan dalam waktu singkat, pasukan yang ia miliki akan segera tiba di tempat ini untuk membantu.
Namun, meski sudah mengirimkan sinyal peringatan, Ziva tetap merasa bingung dan penasaran. Ia tidak bisa membayangkan bahwa ketiga saudarinya yang selama ini ia sayangi dan lindungi memiliki identitas lain yang sama sekali tidak ia ketahui.
Zio yang selesai mengirimkan semua sinyal itu menutup laptopnya dengan gerakan yang tenang, lalu menoleh ke arah Ziva dan Zea. Wajahnya yang biasanya ceria kini berubah menjadi wajah yang serius dan berwibawa, sama sekali tidak ada tanda-tanda anak muda yang sedang bersekolah.
"Ziva, Zea, semuanya sudah teratur. Pasukan kita akan segera tiba, dan kepolisian sudah dalam perjalanan menuju sini. Tapi kita tidak bisa hanya menunggu mereka datang. Kita harus bertindak sekarang juga sebelum mereka meledakkan bom-bom yang sudah dipasang," ucap Ziva dengan suara yang tegas dan jelas.
Zea mengangguk setuju, senjata di tangannya dipegang dengan lebih mantap. "Kak, aku sudah mengamati jalur-jalur pergerakan mereka. Ada dua titik masuk dan dua titik keluar yang mereka gunakan. Kita bisa memecah mereka menjadi dua kelompok, satu kelompok menahan mereka dari depan, dan satu kelompok lagi memutus jalur mundur mereka."
Ziva menatap kedua saudarinya itu, matanya kini mulai memahami sesuatu. Ia menyadari bahwa selama ini mereka semua memiliki peran masing-masing, dan setiap orang dalam keluarga mereka memiliki keahlian dan tanggung jawab yang besar. Ia yang biasanya menjadi pemimpin dan pelindung, ternyata memiliki saudaranya yang juga mampu bertindak dan mengatur strategi dengan baik.
Ziva menarik napas panjang, menenangkan dirinya yang masih bingung dengan rahasia yang baru saja ia ketahui. Ia merasa senang mengetahui bahwa ia memiliki saudaranya yang bisa diandalkan, dan ia juga merasa bangga melihat bagaimana mereka semua bisa bersatu dalam menghadapi bahaya.
"Baiklah, mari kita bertindak. Kita tunjukkan pada mereka bahwa keluarga Sterling bukanlah kelompok yang bisa diserang sembarangan. Kita akan mengalahkan mereka, dan kita akan memastikan bahwa Organisasi Cakrawala tidak akan pernah bisa bangkit kembali lagi," kata Zio dengan suara yang penuh semangat dan tekad yang kuat.
Kedua bersaudara itu bersiap-siap untuk keluar dari tempat persembunyian mereka, siap menghadapi pertempuran yang akan datang. Meskipun baru saja mengetahui rahasia identitas keluarganya, Ziva masih ingin menyembunyikan jati dirinya.
Di luar sana, para anggota Organisasi Cakrawala masih sibuk menyelesaikan persiapan mereka, tidak menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi bukan lagi sekadar orang biasa, melainkan sekelompok orang yang memiliki kekuatan, keahlian, dan tekad yang sama kuatnya dengan mereka. Pertempuran yang akan datang tidak hanya akan menentukan nasib kampus itu, tapi juga nasib seluruh kota, dan nasib keluarga yang selama ini mereka lindungi dengan sepenuh hati.