Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Sesampainya di mall.
“Tobi, kalau mau pulang, pulang aja nggak apa-apa. Tapi kalau misalkan mau nemenin gue juga boleh sih, buat bawa-bawain barang.”
“Ya udah, gue parkir motor dulu ya. Atau lu mau bareng gue parkir motornya?”
“Boleh aja sih kalau mau bareng. Ya udah, yuk kita bareng aja, biar gue juga tahu parkiran di mana. Soalnya kan otak lu suka pelupa, kadang-kadang udah taruh barang aja bisa lupa.”
“Emang lu kadang kalau bicara suka nyes banget ya. Tapi bener juga kata lu, gue suka pelupa. Parah sih otak gue.”
Akhirnya Alia menemani Tobi untuk mencari parkiran. Sampai di parkiran, mereka kebetulan pas berhadapan dengan pintu lobi mall.
“Pinter juga lu, Tobi. Nyari parkiran yang pas dengan pintu mall, jadi kita nggak pusing-pusing nyari motor lu yang butut ini.”
“Butut-butut gini juga udah nemenin lu ya kalau pergi ke mall. Dasar lu cewek dari planet mana sih? Gue kasih tahu juga nih, emak bapak lu pasti pusing punya anak kayak lu.”
“Ya anak emak bapak gua lah. Kalau bukan anak emak bapak gua, anak siapa? Masa gua anak lu.”
Tobi hanya menggeleng kepala mendengar perkataan Alia. Memang Tobi nggak bisa marah kepada Alia.
Selain rasa cintanya yang besar kepada Alia, terkadang Tobi juga sadar dirinya sedikit bodoh karena mencintai orang yang tidak pernah mencintainya balik. Tapi Tobi juga tahu, walaupun tidak bisa terbalas cintanya, setidaknya dia masih bisa bersama orang yang dicintai. Walau bukan sebagai pasangan, ia tetap bersyukur bisa dekat dengan Alia.
“Ya udah, ayo jalan. Dari tadi diam doang. Lu nggak kepanasan apa? Gue aja udah kepanasan di depan lobi.”
“Iya, bentar. Gue mau naruh barang dulu. Udah tahu gue cewek, cewek itu kan ribet. Kalau nggak naruh barang, nanti bisa hilang-hilangan.”
“Berarti lu sama kayak gue dong, pelupa juga. Sok-sokan bilang gue pelupa, tapi lu juga pelupa. Dasar nenek.”
“Kalau gue nenek, lu apa? Kakek?”
Keduanya tertawa. Akhirnya mereka masuk ke mall bersama. Setelah masuk, Alia menatap sekeliling dan merasa sangat bahagia.
“Kenapa sih lu kayak kampung banget? Nggak pernah ke mall ya?”
“Kalau gue bilang, pasti lu nggak percaya. Gue jarang ke mall sih, makanya seneng banget kalau ke mall.”
“Parah. Tinggal di Gowa, lu sampai nggak pernah keluar dari markas lu sendiri. Buset, segitu cintanya sama markas sampai-sampai nggak pernah lihat mall segede gaban begini.”
“Udah deh, lu mah nggak paham maksud gue. Ya paham mah cuma… ah sudahlah. Percuma kalau gue kasih tahu, juga nggak bakal lu ngerti. Capek gue sama lu.”
Alia merasa kesal dengan perkataan Tobi, sampai akhirnya ia meninggalkan Tobi sendirian di lobi.
“Dasar cewek ribet banget. Mau dimengerti aja susah. Kenapa sih cewek tuh susah banget dimengerti? Padahal harusnya gampang. Ya untung ibu gue nggak ribet. Sayang gue sama ibu gue.”
Akhirnya Tobi tetap menemani Alia, walau dari jarak jauh. Tobi merasa senang bisa pergi berdua dengan Alia. Perasaan itu tidak bisa tergantikan oleh apa pun. Walau tahu dirinya tak bisa bersama Alia, setidaknya ia sudah menjadi teman terbaik di hidup Alia.
Sampai di toko buku.
“Tobi, menurutmu buku yang ini lengkap atau yang ini lebih lengkap?”
“Mana gue tahu lu suka buku yang mana. Kalau lu suka buku yang pertama, ya ambil aja. Kalau lu suka buku yang kedua, ambil aja yang kedua.”
“Susah banget deh nanya lu. Kayak nanya wanita. Padahal gue sendiri wanita, tapi lu yang pria susah banget ditanya. Kayaknya gue salah nanya deh kalau sama lu.”
“Ya abis lu nanyanya aneh. Itu buku kan beda. Gimana bisa lu samain? Ya pasti lebih lengkap dua-duanya, kecuali judulnya sama. Kalau beda, ya pasti ada perbedaan lah. Kadang lu kocak juga.”
Alia baru sadar kalau perkataan Tobi benar, tapi ia tetap merasa dua buku itu pasti punya perbedaan.
“Tapi gue yakin buku ini pasti ada perbedaannya, walaupun sampulnya berbeda.”
“Terserah. Udah, gue mau cari komik aja. Bye. Nanti kalau udah selesai cari buku, baru lu cari gue. Gue ke section komik dulu.”
Akhirnya Tobi meninggalkan Alia. Saat asyik mencari-cari buku, tanpa sadar Alia melihat pria yang mirip sekali dengan Arnold. Ia mendekati pria itu dan mencoba menyentuhnya. Tapi setelah dilihat dari dekat, ternyata pria itu bukan Arnold, melainkan orang lain.
“Maaf ya, Kak. Saya salah orang. Saya kira Kakak orang yang saya kenal.”
Pacar pria itu langsung menatap sinis.
“Maaf ya, Mbak. Saya udah gangguin pacarnya. Saya minta maaf banget.”
Alia dimarahi pacar pria tersebut, karena awalnya pacarnya mengira cowok itu selingkuh dengan Alia. Suasana jadi ricuh.
Tobi, yang mendengar keributan, segera mendekat. Ia kaget melihat ternyata Alia yang menjadi pusat perhatian.
“Maafin pacar saya ya, Mbak. Soalnya dia lagi nggak enak badan, jadi agak linglung. Saya minta maaf, ya. Saya mewakili pacar saya untuk minta maaf.”
“Kalau udah tahu pacarnya lagi sakit, jangan diajak, Mas. Kan jadinya salah paham kayak gini. Saya jadi nggak enak. Terkesan saya yang jahat, padahal pacar Mas yang kayak pelakor.”
“Iya, Kak. Maaf ya sekali lagi. Pokoknya saya akan jaga pacar saya biar tetap baik-baik.”
Akhirnya pasangan itu pergi. Tobi melihat Alia yang menangis sesenggukan. Awalnya Tobi ingin menanyai dengan baik, tapi ia tahu Alia sedang tidak baik-baik saja. Tobi memilih tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mendekap Alia erat.
“Yang sabar ya, Al. Gue akan selalu di samping lu kok. Tenang aja.”
“Makasih ya, Tob. Gue merasa aman saat ada lu di samping gue.”
Saat mendengar itu, hati Tobi berbunga. Ada perasaan senang yang tak bisa diungkapkan.
Alia pun bingung dengan perasaannya. Kenapa ia merasa bahagia saat berada di pelukan Tobi? Apa Tobi juga merasakan hal yang sama? Tapi di sisi lain, Alia malu untuk jujur. Ia takut perasaan itu hanya bertepuk sebelah tangan.
Ia mencoba bersikap biasa saja, meski sulit menahannya. Sampai akhirnya, Tobi melepaskan pelukan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Ya udah, yuk. Mau ke mana lagi? Jadi beli buku apa tadi?”
“Buku ini aja sih. Tapi nggak apa-apa, gue aja yang bayar. Gue nggak mau ngerepotin lu kok, tenang aja.”
“Kok gitu? Mana ada ngerepotin. Nggak ngerepotin kok, aman aja.”
Sampai di kasir, Tobi membayar semua buku yang dipegang Alia. Alia merasa bingung dan nggak enak, karena Tobi sudah begitu baik padanya.
“Tobi, kalau lu butuh apa-apa, hubungin gue ya. Gue pasti bakal bantuin lu kok.”
“Bicara apaan sih? Santai aja. Udah kayak sama siapa aja. Lagian mau bantuin apa?”
Alia tersenyum. Ia senang memiliki Tobi di hidupnya. Walau mungkin Tobi tidak bisa membalas perasaan Alia, tapi bisa bersama Tobi seperti sekarang sudah cukup.
Sampai di rumah Alia.
“Udah sampai rumah lu. Tidur aja sana. Enak ya boncengan sama gue. Maaf ya, baru mampu motor, belum mampu mobil. Doain aja, oke, suatu saat bisa punya mobil.”
“Pasti dong. Kalau udah punya mobil, orang pertama yang naik mobil lu gue ya. Gua nggak mau tahu. Awas aja kalau bukan gue.”
Tobi hanya tersenyum. Tanpa sadar, ia mengusap kepala Alia. Alia kaget saat Tobi melakukan itu.