"Lebih baik, kau mati saja!"
Ucapan Bram membuat Cassandra membeku. Dia tidak menyangka sang suami dapat mengeluarkan pernyataan yang menyakiti hatinya. Memang kesalahannya memaksakan kehendak dalam perjodohan mereka hingga keduanya terjebak dalam pernikahan ini. Akan tetapi, dia pikir dapat meraih cinta Bramastya.
Namun, semua hanya khayalan dari Cassandra Bram tidak pernah menginginkannya, dia hanya menyukai Raina.
Hingga, keinginan Bram menjadi kenyataan. Cassandra mengalami kecelakaan hingga dinyatakan meninggal dunia.
"Tidak! Kalian bohong! Dia tidak mungkin mati!"
Apakah yang terjadi selanjutnya? Akankah Bram mendapatkan kesempatan kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Yune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kecewa
Bram menarik napas dalam-dalam saat Raina duduk di kursi sebelahnya, wajahnya pucat dengan mata sembab akibat terlalu banyak menangis. Ruangan rumah sakit itu terasa sesak, padahal pendingin ruangan bekerja maksimal. Seorang dokter wanita paruh baya dengan kacamata tebal menatap berkas medis yang baru saja diperiksa.
"Sayangnya, Pak Bram, dengan kondisi kehamilan Ibu Raina yang cukup lemah, kami tidak menyarankan tes DNA saat ini. Risiko keguguran terlalu tinggi. Tes hanya bisa dilakukan setelah bayi lahir," jelas dokter itu pelan, mencoba bersikap seprofesional mungkin.
Bram menghela napas berat. Tangannya terkepal di atas pangkuan, menahan frustrasi yang nyaris meluap. Ia sudah menduga hal ini, tapi tetap saja mendengarnya secara langsung membuat dadanya terasa sesak.
Kandungan Raina baru memasuki delapan Minggu, itu berarti memang tepat ketika Bram tidak sadar berasa bersama Raina. Bram berharap kalau ucapan Raina adalah sebuah kebohongan ketika mengatakan sedang hamil. Pada kenyataannya, hal itu hanya angan belaka.
Raina memegang tangan Bram dengan wajah memelas. "Bram... kita bisa menikah dulu, kan? Setelah bayi lahir, kita buktikan semuanya," pintanya dengan suara gemetar, seolah-olah benar-benar ketakutan ditinggalkan.
Bram menepis tangan Raina dengan halus namun tegas. Tatapannya kosong. "Aku tidak akan menikahimu, Raina. Aku tidak pernah berhubungan denganmu sampai sejauh itu. Kamu tahu itu."
"Tapi aku mengandung anakmu! Anak ini butuh status. Tolong, Bram," pinta Raina hampir berteriak, membuat beberapa orang di ruang tunggu melirik ke arah mereka.
Bram menatapnya dingin. "Aku tidak percaya," katanya pendek, lalu berdiri. "Kamu boleh melahirkan anakmu, aku akan melakukan tes DNA setelahnya. Kalau benar itu anakku, aku akan bertanggung jawab. Tapi kalau tidak..." Ia menghentikan kalimatnya, menahan diri agar tidak mengeluarkan kata-kata yang lebih kejam.
"Satu lagi yang harus kau ingat, walau itu adalah anakku. Aku tidak akan menikahimu. Hanya Cassie istriku satu-satunya," ujar Bram.
"Kamu jahat, Bram. Kamu memberikan aku harapan, tetapi kamu membuangku begitu saja," balas Raina.
Raina menangis tersedu, tetapi Bram tidak lagi peduli. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia meninggalkan ruangan itu, melangkah cepat menuju lobi rumah sakit. Langkahnya berat, tapi hatinya sudah mantap. Ia harus kembali ke Indonesia, ke Jakarta, ke Cassie. Ia harus memperbaiki semuanya sebelum benar-benar kehilangan perempuan itu untuk selamanya.
Perjalanan ke Jakarta terasa lebih panjang daripada biasanya. Bram duduk di kursinya di pesawat, memandangi langit biru di luar jendela. Ia memikirkan segala hal yang harus ia hadapi. Gunawan Nugroho jelas bukan orang yang bisa diajak bicara santai. Lelaki itu keras, apalagi soal anak perempuannya.
Tapi Bram siap.
Dia akan bertahan, berjuang, dan tidak akan menyerah seperti dulu.
Begitu pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Bram segera mencari taksi dan melesat ke rumah keluarga Nugroho. Bram seolah lupa dia dapat meminta seseorang untuk menjemputnya atau sekadar mengantarkan mobilnya. Di sepanjang perjalanan, ia menggenggam ponselnya erat-erat, berkali-kali hampir menghubungi Cassie, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tahu, semuanya harus dihadapi langsung, bukan lewat telepon.
Setibanya di depan gerbang besar rumah keluarga Nugroho, Bram turun dari taksi, membayar, lalu berdiri di depan pagar, menatap ke dalam. Rumah itu masih sama seperti terakhir kali ia ke sana, megah, kokoh, sekaligus penuh tekanan.
Ia memencet bel.
Tidak lama kemudian, salah satu penjaga rumah keluar. Lelaki itu mengenali Bram, namun ragu membuka pagar.
“Saya ingin bertemu Cassie,” kata Bram dengan suara tegas.
“Maaf, Tuan Bram... Tuan Gunawan sudah memberikan perintah tegas. Tidak boleh ada tamu, apalagi Anda.”
“Aku akan menunggu di sini,” ucap Bram keras kepala. “Sampai Cassie sendiri yang bilang dia tidak mau menemuiku.”
Penjaga itu terlihat tidak nyaman, tetapi sebelum sempat memutuskan, suara keras terdengar dari dalam rumah.
“Ada apa ribut-ribut di luar?” Suara berat Gunawan menggema.
Bram langsung menegakkan tubuh, memandang tegas pria paruh baya itu berjalan keluar ke halaman, diikuti Clarissa di belakangnya.
Tatapan Gunawan langsung membara ketika melihat siapa tamunya. Ia berjalan mendekat dengan langkah besar, tanpa ragu sedikit pun.
“Bram,” serunya dengan nada tajam. “Apa yang kau lakukan di sini? Setelah semua yang kau lakukan pada anakku, kau masih berani menampakkan muka?"
Bram menahan diri untuk tidak mundur. Ia tahu, ini akan terjadi.
“Saya ingin bertemu Cassie, Pa,” kata Bram, suaranya serak tapi tegas. “Saya ingin menjelaskan semuanya.”
Gunawan tertawa sinis. “Menjelaskan? Apa lagi yang perlu dijelaskan? Kau mempermainkannya, kau menghancurkannya, dan sekarang kau mau apa? Minta dia kembali ke pelukanmu?”
Clarissa menarik lengan suaminya pelan, mencoba menenangkan. Tapi Gunawan mengabaikannya. Dia tidak akan membiarkan Bram menemui putrinya.
“Menantu tidak tahu diri! Setelah semua luka yang kau berikan, kau pikir kami akan membiarkanmu mendekatinya lagi?” bentaknya.
Bram mengatupkan rahangnya. "Saya tidak berniat membuat Cassie terluka. Saya datang untuk memperbaiki semuanya. Saya mencintainya."
Gunawan mendekat, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajah Bram. “Kalau kau benar mencintainya, kau akan menjauh dari hidupnya. Bahkan, kau menghamili wanita lain, di saat istrimu sedang hamil.
Clarissa menyentuh tangan suaminya, lebih kuat kali ini. "Mas, tenang. Biarkan Cassie yang memutuskan."
Gunawan menggeleng keras. “Tidak! Aku tidak akan membiarkan anakku kembali terjebak oleh pria ini! Tidak akan pernah!”
Bram mengepalkan tangannya. Tapi sebelum suasana makin memanas, suara pelan terdengar dari atas balkon rumah.
"Papa, aku ingin bicara dengan Bram."
Semua kepala mendongak. Gunawan menatap tajam putri bungsunya. Putri yang memohon untuk menikah dengan pria yang nyatanya membuatnya terluka begitu dalam,
Cassie berdiri di sana, mengenakan gaun santai warna pastel. Wajahnya pucat, matanya tampak bengkak seperti habis menangis, tapi pandangannya penuh tekad.
"Biarkan aku bicara dengannya," lanjut Cassie dengan suara bergetar.
Gunawan tampak ragu, namun Clarissa mengangguk pelan. "Mas, izinkan mereka bicara."
Dengan desahan berat, Gunawan melangkah mundur.
Bram hanya berdiri kaku saat Cassie berjalan menuruni anak tangga, setiap langkahnya terasa berat. Saat akhirnya mereka berdiri berhadapan, hanya ada diam di antara mereka untuk beberapa saat.
Akhirnya, Cassie membuka suara. "Ada yang mau kamu jelaskan?"
Bram menatap mata Cassie dalam-dalam. "Aku tidak pernah tidur dengan Raina. Aku tahu, dulu aku pernah mengatakan aku sangat mencintainya. Tapi aku tidak pernah melewati batas itu."
Cassie memandangnya, ekspresinya sulit dibaca. "Lalu... anak itu?"
Bram menggeleng tegas. "Aku sudah minta dia melakukan tes DNA. Tapi dokter bilang, dengan kondisinya, tes baru bisa dilakukan setelah bayi lahir. Aku janji, kalau benar anak itu anakku, aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Tapi kalau bukan... aku akan membuktikan kalau aku tidak mengkhianatimu. Bertanggung jawab pun aku tidak akan pernah menikahinya."
Cassie menunduk, memeluk dirinya sendiri. Ternyata, dia harus kembali menelan kekecewaan.
"Aku tidak tahu, Bram..." bisiknya. "Aku lelah, mungkin memang lebih baik kita masing-masing intropeksi diri."
Bram mendekat, dengan hati-hati, tidak berani menyentuhnya. "Aku mohon, Cassie. Berikan aku kesempatan, aku tidak ingin kehilanganmu."
Sejenak, hanya ada keheningan.
Lalu perlahan, Cassie mengangkat wajahnya, menatap Bram yang memohon padanya.
"Kalau begitu, aku minta satu hal padamu," ucap Cassie.
***
Bersambung....
Terima kasih telah membaca...
Dan juga keluarga Adrian kenapa tdk menggunakan kekuasaannya untuk menghadapi Rania yg licik?? dan membiarkan Bram menyelesaikannya sendiri?? 🤔😇😇
Untuk mendapatkan hati & kepercayaannya lagi sangat sulitkan?? banyak hal yg harus kau perjuangan kan?
Apalagi kamu harus menghadapi Rania perempuan licik yg berhati ular, yang selama ini selalu kau banggakan dalam menyakiti hati cassie isteri sahmu,??
Semoga saja kau bisa mendapatkan bukti kelicikan Rania ??
dan juga kamu bisa menggapai hati Cassie 😢🤔😇😇
🙏👍❤🌹🤭
😭🙏🌹❤👍