Sarah, seorang gadis cantik berusia delapan belas tahun yang kini masih menduduki bangku kelas 12 SMK harus rela menerima tawaran untuk mengandung benih dari seorang CEO yang sudah lama menikah namun tidak memiliki anak.
Awalnya Sarah menolak namun waktu semakin berjalan sang ayah ahrus segera di Opresi dan ia membutuhkan biaya yang cukup besar.
....
Penasaran kan? Ayo ikuti terus kisah dari setiap bab novel "Rahim Bayaran"
Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 23
"Dia sudah pulang."Jawab Aksa pelan.
"Oh."Ucap Sarah singkat.
"Kau kenapa?"Tanya Aksa merasa aneh melihat raut wajah Sarah.
"Tidak ada,aku hanya bertanya."Jawab Sarah sambil sambil hendak membalikkan badan nya membelakangi Aksa.
Aksa yang menyadari Sarah sedang cemburu pun menahan nya.
"Sarah apa kau cemburu?"Tanya Aksa menatap mata Sarah.
"Aku? Cemburu? Bagaimana mungkin? Mas bukan kah aku hanya di nikahi untuk melahirkan satu anak untuk mu? Tentu nya aku tidak boleh cemburu."Ucap Sarah.
"Benarkah kau tidak cemburu? Lalu mengapa kau ingin membelakangi aku?"Tanya Aksa memegang kedua pipi Sarah.
"Lepas kan aku mas, aku tidak suka di pegang-pegang."Ucap Sarah jengkel dengan perilaku Aksa.
"Mengapa begitu? Seharusnya kau suka karena kau bisa menatap wajah ku yang tampan ini agar anak ku bisa mirip seperti ku."Ucap Aksa memaksa Sarah untuk menatap wajahnya.
"Hentikan mas,ini sangat konyol aku tidak suka menatap wajah jelek mu itu, membuat ku mual saja."Ucap Sarah memejamkan mata nya.
"Apa kau bilang? Aku jelek? Seumur hidup ku, baru sekali, aku menemukan wanita yang mengatakan jika aku ini jelek, Sarah apa mata mu sudah bermasalah?"Ucap Aksa mencoba membuat Sarah membuka mata nya.
Namun Sarah tidak juga membuka mata nya dan hal itu membuat Aksa kesal.
Cuph ... (Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir mungil milik Sarah)
Sontak Sarah membuka matanya bahkan sangat besar memelototi Aksa.
Ciuman itu pun lama-lama menjadi ******* yang hangat, entah kenapa Sarah menjadi larut dalam kenyamanan itu.
Lima menit kemudian Sarah memukul pelan lengan Aksa karena ia merasa sudah tidak bisa bernafas.
Aksa yang menyadari itu pun melepaskan tautan itu.
"Apa sudah merasa lebih baik?"Tanya Aksa sambil tersenyum.
"Baik apa nya, kau hampir membuat aku mati karena tidak bisa bernafas."Jawab Sarah yang berbohong.
Jujur saja, Sarah mengangumi ketampanan Aksa, apa lagi saat tertawa dia benar-benar terlihat sangat tampan dan manis.
"Andai aku bisa menjadi istri mu selamanya mas."Batin Sarah yang jauh di lubuk hati nya mulai menaruh perasaan cinta kepada Aksa.
"Sarah, coba tebak, apa anak ini perempuan atau laki-laki?"Tanya Aksa sambil memegang perut Sarah.
"Emmm, aku rasa dia laki-laki."Ucap Sarah kepada Aksa.
"Benar kah? Tapi aku merasakan jika dia perempuan."Ucap Aksa lagi.
"Hmmm, lihat saja nanti setelah dia lahir."Ucap Sarah kepada Aksa.
"Apa kah itu masih lama?"Tanya Aksa terlihat tidak sabar.
"Masih mas, itu masih lama."Ucap Sarah memegang tangan Aksa yang berada di perut nya.
"Apa tidak bisa lebih cepat?"Tanya Aksa mulai tidak masuk akal.
"Mas apa kau pikir ini bisa di percepat atau di perlambat kan? Mengada-ada saja."Ucap Sarah mulai kesal.
"Aku hanya bercanda mengapa harus semarah itu?"Tanya Aksa lagi.
"Tidak aku tidak marah hanya saja aku kesal."Jawab Sarah.
....
Lima bulan kemudian.
Setelah hari itu Sarah dan Aksa semakin dekat dan kedua nya saling menyimpan perasaan mereka masing-masing,sejak kehamilan Sarah mulai membesar Aksa pun lebih sering menemani Sarah di banding kan dengan Liza, dan Liza juga sudah mulai biasa-biasa saja saat Aksa bersama dengan Sarah karena ia menjadi bebas untuk kemanapun dan tidak ada yang akan melarang nya.
Pagi itu di mansion.
"Liza kau mau ke mana pagi-pagi sekali?"Tanya Aksa kepada Liza yang terlihat rapi sekali.
"Aku ada urusan penting mas,jadi aku harus pergi."Ucap Liza kepada Aksa.
"Urusan penting apa yang kau lakukan sehingga harus pergi sepagi ini?"Tanya Aksa marah.
"Mas, aku ini bosen di rumah, dan hari ini teman-teman ku mengajak aku untuk camping bersama mereka,apa itu salah?"Ucap Liza menatap Aksa.
"Tunggu, camping? Seperti nya menarik? Bagaimana jika aku ikut?"Tanya Aksa kepada Liza.
"Ikut? Mas, bukan kah pekerjaan di kantor mu sedang padat? Mengapa kau tiba-tiba ingin ikut camping bersama ku?"Tanya Liza mulai tidak nyaman karena Aksa yang ingin ikut.
"Seminggu lalu memang begitu padat pekerjaan dan meeting, tapi aku sudah menyelesaikan nya dan sekarang aku bisa sedikit bebas untuk libur."Jawab Aksa sambil tersenyum.
"Tapi mas,di sana hanya ada perempuan-perempuan, dan tidak ada yang membawa suami."Jawab Liza memanyun kan bibir nya.
"Begitu ya? Baik lah kau pergi saja, lain kali kita bisa camping bersama, berdua atau dengan mama juga."Ucap Aksa sambil memegang pundak Liza.
"Benar kah? Baik mas, kapan-kapan kita pergi berdua saja ya,dan sekarang aku pergi dulu bersama teman-teman ku."Ucap Liza yang kemudian berjalan keluar dari kamar itu.
Bersambung ....