"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 (Penjelasan dan kepastian)
Pagi hari di kediaman Menteng dimulai dengan ketenangan yang semu. Setelah malam yang panjang dan penuh keintiman, Alisha terbangun di dalam pelukan hangat Mike. Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama ketika ponsel pintar di atas nakas bergetar tanpa henti. Layar menampilkan nama "Ibu". Begitu tombol hijau digeser, suara cemas dan bergetar dari Sarah langsung memenuhi rungu Alisha. Ibunya tidak bisa tidur semalaman setelah melihat tayangan berita nasional mengenai skandal pemalsuan dokumen medis Mike serta kontrak pernikahan masa lalu pria itu. Sarah meminta Alisha untuk segera menemuinya di rumah paviliun mereka untuk memberikan penjelasan yang sejujurnya.
Mike, yang terbangun karena pergerakan Alisha, sempat menahan istrinya untuk pergi sendirian. Ia ingin mendampingi Alisha menghadapi mertuanya. Namun, Alisha dengan lembut menolak. Ia meyakinkan Mike bahwa ini adalah pembicaraan antar-ibu dan anak perempuan yang harus diselesaikan dari hati ke hati. Akhirnya, dengan pengawalan ketat dari tim keamanan yang diperintahkan Mike, Alisha bertolak menuju paviliun asri di pinggiran Jakarta tempat ibunya tinggal.
Begitu langkah kaki Alisha melewati pintu depan paviliun, ia langsung disambut oleh raut wajah Sarah yang tampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Di atas meja ruang tamu, sebuah tablet digital masih menampilkan cuplikan video konferensi pers kemarin sore.
"Alisha..." Sarah langsung memeluk putrinya erat, menyalurkan segala rasa cemas yang menghimpit dadanya sejak kemarin. "Jelaskan pada Ibu, Nak. Apa yang sebenarnya terjadi? Ibu melihat di berita... Mike menipu keluarganya, menipu publik dengan rumor mandul itu. Dan ada kontrak pernikahan dengan wanita bernama Anita? Ibu sangat takut kamu hanya dijadikan tameng atau alat politik bisnis olehnya."
Alisha menuntun ibunya untuk duduk di sofa panjang, menggenggam kedua tangan wanita yang telah melahirkannya itu dengan penuh kehangatan. "Ibu, tenang dulu. Tarik napas dalam-dalam. Alisha di sini, sehat, aman, dan tidak ada yang menyakiti Alisha."
"Bagaimana Ibu bisa tenang, Alisha? Dunia orang kaya itu penuh dengan kelicikan," suara Sarah mulai terisak. "Ibu takut kamu terikat dalam pernikahan yang salah karena ingin membalas budi atas biaya pengobatan Ibu."
Alisha tersenyum teduh, tatapannya memancarkan kejujuran yang mutlak. "Ibu, dengarkan Alisha baik-baik. Semua yang Ibu lihat di berita tentang pemalsuan dokumen itu memang benar dilakukan oleh Mike. Tapi, alasan di balik semua kelicikan itu... adalah untuk melindungi aku dan Ibu."
Sarah mengernyitkan dahi, menghapus air matanya dengan tisu. "Melindungimu? Bagaimana bisa?"
Alisha menarik napas panjang, lalu mulai menceritakan seluruh kebenaran yang selama ini tersimpan rapat. Ia menceritakan bagaimana Mike telah memperhatikannya dari kejauhan sejak empat tahun lalu, saat ia masih berstatus sebagai mahasiswi biasa. Alisha menjelaskan bagaimana paman-paman Mike di dewan direksi selalu mengincar kelemahan Mike dan siap menyingkirkan siapa pun wanita biasa yang berani mendekatinya, persis seperti skenario tragis yang dulu menimpa mendiang ayah Mike.
"Mike sengaja membuat rumor dirinya mandul dan membayar Kak Anita untuk melakukan pernikahan kontrak selama empat tahun, semata-mata agar kursi di sampingnya tetap kosong," ungkap Alisha dengan mata yang berkaca-kaca haru. "Dia melakukan semua itu agar para konglomerat tidak menjodohkannya dengan putri mereka, dan agar paman-pamannya tidak mengendus keberadaanku. Dia menanti duniaku bersih dan posisinya di perusahaan aman sebelum akhirnya berani datang melamarku."
Sarah tertegun mendengarkan penuturan putrinya. Sebagai seorang wanita paruh baya yang juga pernah merasakan pahit manisnya kehidupan, ia bisa merasakan ketulusan dari cerita Alisha.
"Jadi... pernikahan kalian sekarang bukan karena paksaan?" tanya Sarah memastikan, suaranya melembut.
"Sama sekali tidak, Ibu," Alisha menggeleng mantap, rona merah samar muncul di pipinya saat mengingat momen-momen intim mereka di Menteng. "Mike sangat menghormatiku. Dia pria yang begitu sabar dan tulus. Kemarin di depan media, aku berdiri membantahnya bukan karena tertekan, tapi karena aku mencintainya dan ingin melindunginya seperti dia yang selalu melindungiku selama empat tahun ini dalam sunyi."
Melihat binar cinta yang begitu nyata di mata Alisha, Sarah akhirnya mengembuskan napas lega yang amat panjang. Segala beban kecemasan yang menggelayuti pundaknya seketika runtuh. Ia mengusap pipi Alisha dengan lembut. "Jika itu pilihan hatimu, dan jika pria itu memang seberharga itu... Ibu merestui kalian sepenuhnya, Nak. Jaga pernikahan kalian dengan baik di tengah badai dunia luar."
Di belahan kota Jakarta yang lain, sebuah restoran kaca bernuansa modern minimalis dengan pemandangan taman vertikal menjadi saksi dari babak baru hubungan dua orang lainnya. Alvin duduk di dekat jendela, sesekali melirik jam tangan Rolex miliknya sembari menanti kedatangan sang belahan jiwa.
Tak lama kemudian, pintu restoran terbuka dan sosok Anita melangkah masuk dengan anggun. Hari ini ia tidak mengenakan setelan blazer formal kantornya, melainkan sebuah gaun terusan berwarna pastel yang membuatnya tampak jauh lebih feminin dan menawan. Alvin seketika terpaku, matanya tidak bisa beralih seinci pun sampai Anita duduk di hadapannya.
"Sudah lama menunggu, Vin?" tanya Anita sembari meletakkan tas tangan kulitnya.
"Untuk wanitaku, menunggu seratus tahun pun aku bersedia," jawab Alvin dengan cengiran khasnya yang langsung dihadiahi cubitan kecil di lengannya oleh Anita yang salah tingkah.
Setelah memesan hidangan makan siang berupa *wagyu steak* dan pasta, Alvin mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih hangat dan intens. Ia memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertautan di atas meja.
"Anita, pembicaraan kita di depan Kakek Surya kemarin... aku benar-benar bersungguh-sungguh dengan setiap kata yang kuucapkan," buka Alvin, suaranya merendah, menyingkirkan kesan jenaka yang biasa ia tunjukkan saat bekerja bersama Mike.
Anita menghentikan gerakannya yang sedang merapikan serbet di pangkuannya. Ia menatap mata Alvin, mencari ketegasan di sana. "Aku tahu, Vin. Tapi... apakah kamu benar-benar tidak keberatan dengan statusku? Seluruh dunia luar saat ini tahu aku adalah mantan istri kontrak dari sahabatmu sendiri. Berita di media sosial masih sangat bising membicarakan namaku."
Alvin mengulurkan tangannya di atas meja, meraih jemari lentik Anita dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Anita, peduli setan dengan apa yang dikatakan dunia luar. Selama empat tahun ini, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana pengorbananmu untuk firma hukummu dan bagaimana profesionalnya dirimu menjaga batasan dengan Mike. Di mataku, kamu bukan mantan istri siapa pun. Kamu adalah Anita, wanita mandiri, tangguh, dan keras kepala yang sudah berhasil mencuri hatiku sejak hari pertama kita bertemu di ruang rapat legalitas empat tahun lalu."
Genggaman tangan Alvin terasa begitu hangat dan nyata, meruntuhkan sisa-sisa dinding pertahanan ego yang selama ini dibangun Anita untuk melindungi hatinya dari rasa kecewa.
"Aku ingin kita melangkah ke jenjang yang lebih serius, Anita," lanjut Alvin, tatapannya begitu mengunci. "Aku tidak ingin hubungan kita berjalan sembunyi-sembunyi atau hanya sebatas pendekatan tanpa arah. Aku ingin membawamu menemui orang tuaku di Surabaya bulan depan. Aku ingin mengenalkanmu sebagai calon istriku."
Anita tertegun, matanya seketika berkaca-kaca mendengar keseriusan Alvin yang begitu instan namun sarat akan kepastian. Pria ini tidak mengajaknya berpacaran atau membuang waktu dalam ketidakpastian; ia langsung menawarkan sebuah masa depan yang sah.
"Vin... kamu begitu yakin denganku?" bisik Anita parau.
"Sangat yakin. Lebih yakin daripada rumus analisis saham mana pun yang pernah kubuat untuk Mike," jawab Alvin dengan senyuman tulus yang begitu menenangkan. "Jadi, bagaimana? Apakah Ibu Pengacara yang terhormat ini bersedia mendampingi asisten CEO yang sibuk ini untuk membangun dinasti kecil kita sendiri?"
Anita menghapus setitik air mata bahagianya yang jatuh, lalu mengangguk mantap dengan senyuman tercerah yang pernah ia miliki. "Iya, Alvin. Aku bersedia. Mari kita temui orang tuamu bulan depan."
Makan siang di restoran itu pun berlanjut dengan penuh tawa dan kebahagiaan. Di tengah sisa-sisa badai pemberitaan yang perlahan mereda di luar sana, dua pasang kekasih di dalam lingkaran keluarga Raharja kini telah menemukan pelabuhan hati mereka masing-masing—sebuah lembaran baru yang bersih, siap ditulis dengan cerita cinta yang nyata tanpa ada lagi sekat kontrak atau rahasia yang membelenggu.