Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Menyelamatkanku atau Menculikku
Cahaya fajar yang pucat mulai menyelinap masuk melalui celah dinding kayu, memecah kegelapan yang semalam melindungi mereka. Alea terbangun lebih awal, mendapati lengannya masih terbelit erat di pinggang Zahran. Pria itu masih terlelap, napasnya teratur dan tenang, sebuah pemandangan yang terasa sangat surealis bagi Alea. Setelah tiga tahun dihantui oleh bayang-bayang pernikahan paksa dan tekanan korporat, tidur di samping Zahran dalam kondisi buron justru terasa seperti satu-satunya saat ia bisa bernapas dengan benar.
Namun, ketenangan itu terusik oleh suara mesin kendaraan yang samar di kejauhan. Zahran yang memiliki naluri tajam, seketika tersentak bangun. Dalam hitungan detik, tangannya sudah meraih senjata yang ia letakkan di bawah bantal.
"Ada mobil mendekat," bisik Zahran, suaranya parau namun penuh kesiagaan.
Ia segera bangkit, mengabaikan rasa kantuknya. Alea ikut terduduk, jantungnya berpacu kencang. Ia melihat Zahran mengintip melalui celah tirai kain yang tipis. Wajah pria itu menegang.
"Mereka lebih cepat dari perkiraanku." Ujar Zahran, tidak ada raut panik hanya gerakan Zahran lebih ke meningkatkan kewaspadaan.
Alea menghampiri Zahran, ikut mengintip dari balik tirai. Di kejauhan, di jalan setapak yang tertutup semak belukar, tampak sebuah SUV hitam dengan lampu sorot yang dimatikan, perlahan merayap mendekati rumah singgah itu. Itu adalah tim lapangan Pratama Logistics. Mereka menggunakan jalur tikus yang seharusnya tidak diketahui oleh siapa pun selain penduduk lokal.
"Bagaimana mereka bisa tahu lokasi ini?" tanya Alea, suaranya bergetar.
"Pasti ada alat pelacak yang tertanam di sesuatu yang tidak kusadari. Mungkin di pakaianmu, atau mungkin... mereka menggunakan sensor panas dari udara." Zahran menatap tajam ke arah mobil itu kemudian Zahran berbalik, wajahnya berubah dingin dan fokus.
"Alea, dengarkan aku. Kita tidak punya waktu untuk berdebat atau mencari tahu bagaimana mereka menemukan kita. Kita harus pergi sekarang." Ujar Zahran bicara dengan hati-hati.
Zahran dengan cepat mengemasi ransel mereka, membuang semua barang yang mungkin bisa dilacak, dan memastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Alea berdiri kaku, pikirannya berkecamuk. Ia menatap Zahran yang kini sedang memeriksa magasin senjatanya.
"Zahran," panggil Alea, suaranya tertahan di tenggorokan.
"Aku harus bertanya ini sekarang. Setelah semua yang kita lalui semalam, aku harus jujur. Apakah kamu melakukan semua ini... karena kamu mencintaiku, atau karena kamu ingin membalaskan dendammu pada Ayah dan Reynald melalui diriku? Apakah kamu sedang menyelamatkanku, atau hanya menjadikanku alat penculikan untuk menghancurkan mereka?" Entah kenapa disaat genting seperti ini Alea bertanya panjang lebar, bisa jadi isi kepalanya hilang dalam semalam.
Zahran berhenti bergerak. Ia menoleh perlahan ke arah Alea. Tatapannya bukan lagi tatapan hangat dari semalam, melainkan tatapan pria yang terpojok oleh pertanyaan paling mendasar dari hatinya sendiri.
"Kamu pikir aku akan mempertaruhkan nyawaku, membuang karierku, dan menjadi buronan hanya untuk membalaskan dendam bisnis?" tanya Zahran balik. Ia melangkah mendekati Alea, memangkas jarak di antara mereka hingga ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri di mata wanita itu.
"Jika aku ingin menghancurkan mereka, aku punya seribu cara legal dan ilegal yang tidak perlu melibatkanmu. Aku bisa menghancurkan saham mereka tanpa harus menculik pewarisnya." Ujar Zahran, rahangnya mengeras.
Zahran meraih bahu Alea, tangannya terasa kokoh dan hangat.
"Aku melakukan ini karena saat aku melihatmu di hotel itu, saat aku melihatmu berdiri di sana dengan gaun yang membuatmu tampak seperti tawanan di penjara emas, aku tidak bisa membiarkannya. Aku menyelamatkanmu, Alea. Karena aku tidak bisa membayangkan dunia di mana kamu menjadi milik pria lain."
Ternyata disaat seperti ini kedua insan itu masih sempat berdebat. Setelah perdebatan itu Alea terdiam. Keberanian di mata Zahran adalah jawaban yang ia cari. Ia tidak sedang diculik mungkin, ia sedang dibebaskan. Ia adalah tawanan yang baru saja menemukan kuncinya.
"Maafkan aku," bisik Alea, jemarinya menyentuh rahang Zahran.
"Aku hanya... aku masih belum bisa percaya bahwa seseorang bersedia mengorbankan dunianya hanya untukku." lanjut Alea.
"Duniaku adalah kamu, Al.." jawab Zahran tegas.
"Dunia luar sana hanyalah kumpulan gedung, saham, dan kebohongan. Sekarang, cepat ambil jaketmu. Kita akan keluar melalui pintu belakang, melewati aliran sungai kecil menuju sisi utara gunung. Mobil mereka akan berhenti di depan, dan kita akan punya waktu beberapa menit saat mereka masuk ke rumah kosong ini."
Zahran menarik tangan Alea, membawa wanita itu berlari menuju pintu belakang. Udara pagi yang dingin menyambut mereka, menusuk kulit, namun sensasi itu justru membuat Alea merasa hidup. Mereka berlari menembus semak-semak, suara langkah mereka diredam oleh tanah basah dan dedaunan kering.
Tepat saat mereka mencapai batas hutan, sebuah ledakan kecil terdengar dari arah rumah singgah. Tim Pratama Logistics telah mendobrak pintu.
"Jangan menoleh!" teriak Zahran, menarik tangan Alea semakin kuat.
Alea berlari sekuat tenaga. Napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti terbakar, namun ia tidak berhenti. Di depan sana, di balik rimbunnya pepohonan, ia melihat sebuah dunia yang belum terpetakan, sebuah pelarian yang penuh dengan ketidakpastian, namun juga penuh dengan kebebasan yang selama ini ia impikan.
Di tengah pelarian itu, Alea menoleh sekilas ke arah Zahran yang berlari di sampingnya. Pria itu tampak begitu tangguh, begitu fokus, dan begitu bertekad. Saat itu, Alea menyadari bahwa pertanyaannya tadi sudah terjawab. Tidak penting lagi apakah ini penculikan atau penyelamatan. Yang penting adalah mereka sedang berlari bersama, menjauh dari jeruji emas, menuju sesuatu yang lebih besar dari sekadar dendam bisnis: mereka sedang berlari menuju masa depan yang mereka pilih sendiri.
"Zahran!" teriak Alea di sela napasnya yang terengah.
Zahran menoleh, memberikan senyum tipis yang penuh percaya diri.
"Jangan takut! Selama aku masih bernapas, tidak ada yang bisa membawamu kembali ke sana!" Zahran berkata dengan wajah yang tidak bisa di artikan. Namun ada raut yang membuat Alea harus percaya pada mantan nya itu.
Dan dengan keyakinan itu, mereka terus berlari, menghilang ke dalam rimbunnya hutan, meninggalkan jejak masa lalu mereka untuk dikejar oleh orang-orang yang kini hanya bisa menatap punggung mereka dengan amarah yang sia-sia.