NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Labirin Nama yang Sama

Matahari siang menyengat ubun-ubun dengan begitu terik, namun seluruh permukaan kulit Hino terasa sedingin es. Langkah kakinya terasa luar biasa berat saat melewati gerbang besi tinggi rumah besar milik sang kontraktor daerah. Ia sempat menoleh ke arah kanan, memastikan bahwa truk double-cabin hitam kepunyaan Baskoro benar-benar sudah tidak ada di pekarangan luas tersebut. Namun, kesunyian rumah megah itu justru terasa jauh lebih mengintimidasi daripada suara bentakan kasar pemiliknya.

Hino mendorong pintu samping yang sengaja ditinggalkan tidak terkunci. Begitu melangkah masuk ke dalam aula tengah yang sepi, aroma wewangian karpet mahal langsung menyambut penciumannya, berbaur dengan rasa bersalah yang kini sudah berkarat di dalam dadanya.

Bu Hina sudah menunggu di balik pintu kamar tidur utama. Wanita berusia tiga puluh enam tahun itu tidak lagi mengenakan perhiasan emasnya yang berisik. Daster sutra tipisnya tampak agak longgar, dan wajah hedon lokal yang biasanya penuh cibiran itu kini terlihat sangat kuyu dengan lingkaran hitam yang pekat di bawah matanya. Di atas meja rias kaca, sebuah alat tes kehamilan plastik dengan dua garis merah menyala diletakkan begitu saja di samping draf berkas proyek suaminya.

"Kau terlambat sepuluh menit, Hino," desis Hina, suaranya parau dan bergetar hebat saat ia mengunci pintu kamar dari dalam dengan bunyi klik yang menggandakan kesunyian ruangan.

Hino berdiri terpaku di dekat pinggiran ranjang King-size berlapis sprei beledu. "Kau beneran hamil, Hina? Bagaimana bisa kau seyakin itu kalau itu... kalau itu benihku? Baskoro baru saja pulang dua hari lalu sebelum pergi lagi pagi ini!"

Hina berjalan mendekat, setiap langkahnya memancarkan keputusasaan seorang wanita yang sedang berada di ujung jurang kehancuran. Ia merenggut kerah jaket hitam Hino dengan kedua tangannya, memaksa tubuh pria yang lebih muda itu untuk membungkuk menghadap wajahnya yang dipenuhi ketakutan mutlak.

"Justru karena Baskoro menyentuhku setelah dia pulang dinas, bajingan!" jerit Hina dalam bisikan yang tertahan di tenggorokan. Air matanya luruh, merusak sisa riasan wajahnya yang tipis. "Siklus bulanku tidak pernah meleset seaneh ini. Rahimku baru bereaksi setelah malam di bawah pohon mangga itu, Hino! Aku tidak peduli dan aku tidak tahu ini anak siapa! Tapi yang aku tahu pasti, jika anak ini lahir dan wajahnya mirip dengan pelayan toko miskin sepertimu, Baskoro akan mencincang tubuh kita berdua tanpa sisa!"

Hino terengah, napasnya memburu saat merasakan kedekatan fisik Hina yang mulai gemetar hebat. Dominasi gelap yang ia rasakan dua minggu lalu kini berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi jerat maut yang mengunci seluruh jalan hidupnya.

Hina mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Hino dengan sorot gila yang bercampur antara kepanikan finansial dan candu fisik yang merusak batinnya. Ia menarik tubuh Hino ke atas kasur mahal milik suaminya, merobek kancing pakaian dasternya sendiri dengan gerakan yang histeris dan kaku.

"Dengar Hino, nama kita hampir sama! Aku Hina dan kamu Hino, cepat genjot aku?!" seru Hina dengan suara yang tertahan oleh isak tangis, membalikkan seluruh kata-kata ancaman Hino di masa lalu untuk mengunci mati posisi pria itu sebagai budak ranjangnya sore ini. "Lakukan lagi sampai rahim ini benar-benar tidak bisa lagi mengenali benih siapa yang ada di dalamnya! Pilih diam dan layani aku setiap kali gerbang itu kosong, atau kita hancur bersama di bawah parang Baskoro minggu depan!"

Hino tidak memiliki pilihan lagi. Di bawah bayangan ketakutan akan amukan Baskoro dan ancaman kemiskinan dari Irmi di rumah bawah, ia menjatuhkan berat tubuhnya di atas tubuh Hina, menenggelamkan diri ke dalam labirin dosa yang semakin pekat di dalam kamar tidur utama yang sunyi tersebut.

***

Satu jam kemudian, Hino berjalan keluar dari gerbang rumah besar dengan langkah yang sempoyongan. Pandangan matanya kabur oleh rasa lelah batin yang luar biasa menyiksa kepalanya. Begitu ia menyeberang jalan dan melangkah masuk ke koridor bawah rumah kontrakan, suasana di dalam ruangan tengah terasa sangat mencekam.

Erni sedang berdiri di dekat meja makan, menatap tajam ke arah pintu kamar belakang tempat Irmi mengurung diri sejak sore. Begitu melihat suaminya masuk dengan pakaian yang sedikit berantakan dan aroma parfum wanita lain yang samar, Erni langsung melangkah maju dengan daster barunya yang kusut.

"Dari mana saja kau, Mas?" tanya Erni, suaranya terdengar sangat tajam, menahan amarah yang sudah menumpuk sejak labrakan Irmi tadi sore. Ia mencengkeram lengan Hino dengan kuku-kukunya yang tajam, matanya menyipit penuh selidik yang mematikan. "Irmi baru saja memotong semua uang belanja kita dari kasir toko kedua. Sekarang katakan padaku, apa lagi yang kau sembunyikan di seberang jalan sana sebelum aku benar-benar mengotori rumah ini dengan darah?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!