"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketenangan setelah badai
Aira menatap kosong ke arah pintu aula tempat Sandra baru saja diseret keluar. Suara raungan dan tangis mantan asisten pribadi itu perlahan menjauh dan hilang di koridor, menyisakan keheningan yang luar biasa di dalam ruangan rapat. Semua karyawan yang tersisa hanya bisa menunduk dalam-dalam, merutuki kebodohan mereka sendiri karena telah ikut bersuara menghina sang Nyonya Besar.
Rayyan tidak memedulikan atmosfer mencekam di sekitarnya. Fokusnya kembali seratus persen kepada Aira. Pria itu berlutut kembali di hadapan istrinya, meraih kedua tangan Aira yang masih terasa dingin dan gemetar, lalu mengecupnya dengan penuh penyesalan.
"Kita pulang sekarang, Sayang. Tempat ini sudah bersih, tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu," bisik Rayyan, suaranya melembut drastis bagai malaikat pelindung.
Aira mengangguk pelan. Air matanya sudah berhenti, namun rasa syok masih menyisa di dadanya. "Iya, Rayyan. Bawa aku pergi dari sini..."
Tanpa aba-aba, Rayyan menyelipkan satu tangan besarnya di bawah tengkuk Aira dan tangan lainnya di bawah lipatan lutut istrinya. Dengan satu gerakan mudah, sang CEO mengangkat tubuh Aira ke dalam gendongan bridal style. Tindakan posesif dan protektif yang luar biasa itu dilakukan di depan seluruh karyawan yang tersisa, menegaskan sekali lagi betapa berharganya wanita itu di hidupnya.
Aira yang terkejut refleks mengalungkan kedua lengannya di leher kokoh Rayyan, menyembunyikan wajahnya yang merona di dada bidang suaminya. Haris dengan sigap berjalan di depan mereka, membukakan jalan menuju lift privat, sementara para pengawal membuat barisan barikade kokoh di sepanjang koridor.
Sepanjang perjalanan melintasi divisi audit hingga masuk ke dalam lift, tidak ada satu pun pasang mata yang berani menatap langsung ke arah mereka. Semua orang menunduk takzim, melepas kepergian sang penguasa dan ratunya.
Begitu pintu lift privat tertutup rapat, Rayyan tidak menurunkan Aira. Dia justru mengeratkan pelukannya, menyandarkan kepalanya di puncak kepala Aira sembari mengembuskan napas panjang.
"Maafkan aku, Aira. Aku benar-benar minta maaf karena membiarkanmu menghadapi ular-ular itu sendirian tadi pagi," ucap Rayyan penuh penyesalan, suaranya terdengar serak di dalam keheningan lift.
Aira mendongak, menatap rahang tegas suaminya yang masih mengeras menahan sisa amarah. Tangan mungilnya terangkat, mengusap pipi Rayyan dengan lembut. "Ini bukan salahmu, Rayyan. Kamu sudah datang di waktu yang tepat. Terima kasih karena selalu menjadi perisai untukku dan dedek bayi."
Mendengar ucapan tulus istrinya, ketegangan di tubuh Rayyan perlahan mencair. Dia menunduk, mengecup bibir Aira sekilas dengan penuh kasih sayang. Bersamaan dengan itu, lift berdenting halus, menandakan mereka telah sampai di basement privat tempat mobil sedan mewah mereka sudah menunggu untuk membawa mereka kembali ke istana rahasia yang aman.
Mobil sedan mewah yang membawa mereka melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Rayyan akhirnya menurunkan Aira dari pangkuannya dan mendudukkannya di kursi kulit yang empuk. Namun, tangannya tidak pernah lepas dari pinggang sang istri, mendekap tubuh ramping itu dengan begitu erat seolah takut Aira akan menghilang jika dia melonggarkan pegangannya.
"Bagaimana perutmu? Apa ada bagian yang terasa sakit atau kram?" tanya Rayyan penuh kecemasan, matanya meneliti setiap jengkal wajah Aira yang masih sedikit pucat.
Aira menggeleng perlahan, lalu menuntun tangan besar Rayyan untuk kembali menempel di atas perut buncitnya yang dibalut kemeja flanel. "Dedek bayinya baik-baik saja, Rayyan. Tadi dia sempat menendang agak kuat saat aku merasa takut, tapi sekarang dia sudah tenang. Dia tahu papanya sudah menjaga kami."
Mendengar penuturan itu, ketegangan yang sempat tersisa di pundak Rayyan runtuh sepenuhnya. Pria itu menyandarkan punggungnya, lalu mencium pelipis Aira dengan penuh rasa syukur. Keganasan yang dia tunjukkan di ruang rapat tadi seketika menguap, menyisakan sosok seorang suami dan ayah yang penuh cinta.
"Mulai besok, tidak ada lagi taksi, tidak ada lagi penyamaran, dan tidak ada lagi magang di divisi itu," ucap Rayyan dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah. "Kamu akan beristirahat di penthouse sampai hari persalinanmu tiba. Jika kamu merasa bosan, kamu bisa menemaniku di ruang kerja utamaku. Di bawah pengawasanku langsung."
Aira tersenyum kecil dan mengangguk patuh. Kejadian hari ini benar-benar membuka matanya bahwa menyembunyikan statusnya di lingkungan kerja yang kompetitif justru mengundang bahaya bagi kandungannya. "Iya, Rayyan. Aku menurut padamu."
Tidak butuh waktu lama bagi mobil mewah itu untuk sampai di basement privat apartemen mereka. Kali ini, Rayyan kembali menggendong Aira tanpa memedulikan protes kecil dari istrinya, membawanya melewati lift privat hingga masuk ke dalam kehangatan rumah mereka.
Bi Sumi yang melihat kepulangan mendadak majikannya di siang hari langsung menyambut mereka dengan wajah terkejut, namun dengan sigap langsung membukakan pintu kamar utama.
Rayyan merebahkan tubuh Aira di atas ranjang king size yang empuk dengan sangat hati-hati, lalu menyelimutinya hingga sebatas dada.
"Istirahatlah, Sayang. Aku akan menemanimu di sini sampai kamu tertidur," bisik Rayyan sembari mengusap rambut Aira yang terurai halus.
Di dalam kamar yang tenang dan aman itu, di bawah tatapan protektif dari suaminya, Aira akhirnya bisa memejamkan mata dengan tenang. Badai besar yang disiapkan Sandra telah berlalu, hancur berkeping-keping di tangan sang penguasa Wijaya Group yang kini siap membangun benteng yang jauh lebih kokoh demi melindungi keluarga kecil mereka.