seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.
"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 14
Lima orang penculik di dalam bangunan kosong itu saling pandang sejenak, lalu tawa mereka meledak bersamaan.
Suaranya menggema di antara dinding-dinding beton yang belum diplester.
"Guru honorer? Hahaha! Lu denger gak, Bro? Ada guru miskin nyasar ke sini mau jadi pahlawan!"
ejek pria bertubuh paling besar yang memegang besi pipa.
Dia melangkah maju, menyeret ujung besi di atas lantai semen, menciptakan suara decitan yang memilukan telinga.
"Pulang sana, Dek! Sebelum kapur tulis lu gue jejelin ke idung lu!"
Ayah Viola, Pak Herman, mendongakkan kepalanya yang lebam dengan susah payah.
Matanya membelalak melihat pemuda berjaket denim hitam yang berdiri tenang di ambang pintu.
"Nak... siapa pun kamu, cepat lari! Panggil polisi! Mereka ini komplotan berbahaya!" teriaknya parau.
Kevin tidak bergerak mundur satu senti pun. Dia justru melirik jam tangan digitalnya dengan santai.
"Lima orang."
"Berarti masing-masing dapet jatah dua belas detik. Keburu lah ya sebelum es teh manis di warkop mencair,"
gumam Kevin.
Ding!
[Sistem Mendeteksi Ancaman Fisik Ringan.]
[Rekomendasi Metode: Gaya Bertarung Praktis Tanpa Ampun. Manfaatkan properti 'Tubuh Baja Dewa'.]
Pria berbadan besar itu kehilangan kesabarannya.
Dia mengangkat besi pipa dengan kedua tangannya, lalu mengayunkannya dengan sekuat tenaga ke arah pelipis Kevin.
Ayah Viola langsung memejamkan mata, tidak tega melihat kepala pemuda itu pecah.
TAAAKKK!
Suara benturan logam keras terdengar nyaring.
Namun, bukannya Kevin yang tersungkur, besi pipa tebal itu justru membengkok membentuk sudut sembilan puluh derajat tepat setelah menghantam sisi kepala Kevin.
"Hah... Kok benjolnya motor yang dapet?"
Pria besar itu melongo menatap besi pipanya yang kini mirip pisang kepok, sementara Kevin hanya memiringkan kepalanya sedikit untuk merenggangkan otot leher.
"Ayunan lu kurang presisi, Bro."
"Nilai fisika mekanik lu pasti dapet merah pas SMA," kata Kevin datar.
Sebelum pria itu sempat melepaskan besi pipanya, tangan kanan Kevin melesat maju secepat patukan ular.
Dia mencengkeram pergelangan tangan pria besar itu, memutarnya hingga terdengar bunyi klek, lalu melepaskan satu pukulan straight murni ke arah ulu hati.
BUGH!
Pria berbobot hampir seratus kilogram itu langsung menekuk tubuhnya, matanya mendelik, dan dia ambruk ke lantai semen dengan suara deburan yang berat.
Pingsan dalam satu hantaman.
"Satu," hitung Kevin.
Empat penculik sisanya langsung pucat pasi. Bos penculik yang memegang dokumen surat pelepasan aset berteriak histeris,
"Hajar dia! Pake pisau! Pake apa aja, cepetan!"
Tiga anak buahnya serentak mencabut senjata tajam dari balik jaket mereka dan menerjang Kevin dari tiga arah berbeda.
Dua menggunakan pisau belati, satu menggunakan gergaji besi kecil.
Kevin mengaktifkan Refleks Dewa. Di matanya, ketiga penyerang itu bergerak seperti sedang menembus cairan kental yang sangat lambat.
Kevin menggeser kaki kirinya ke belakang, menghindari tikaman pisau pertama hanya dengan jarak seujung kuku.
Tangan kirinya menangkap lengan penyerang kedua, memanfaatkannya sebagai tameng untuk menahan tusukan dari penyerang ketiga.
JLEB!
"AAAKHH! Lu malah nusuk gue, Bego!"
jerit penyerang kedua saat pisau temannya sendiri menancap di lengan atasnya.
Kevin tidak menyia-nyiakan kekacauan tersebut.
Dia melepaskan satu tendangan berputar (spinning back kick) berdaya baja tepat di dada penyerang ketiga.
Hantaman itu begitu keras hingga tubuh si penyerang melayang mundur sejauh dua meter dan menghantam pilar beton hingga retak, sebelum akhirnya terkulai lemas.
BUGH! BRAK!
Dua penyerang sisanya yang terluka dan memegang gergaji besi langsung kehilangan nyali. Mereka menjatuhkan senjata mereka, berlutut di lantai dengan tangan terangkat.
"Ampun, Bang! Ampun! Kami cuma orang bayaran!"
Kevin tidak memedulikan mereka. Pandangannya kini tertuju pada bos penculik yang berdiri gemetaran di dekat kursi Pak Herman.
Pria itu mencoba mengeluarkan sebilah pisau lipat kecil dengan tangan yang gemetar hebat, berniat menjadikan Pak Herman sebagai sandera.
"Lu maju selangkah lagi, gue gorok nih orang tua!"
ancam si bos penculik dengan suara melengking panik.
Kevin menghentikan langkahnya, menatap bos penculik itu dengan pandangan dingin.
"Lu tahu apa kesalahan terbesar lu hari ini?"
tanya Kevin pelan, namun suaranya menekan udara di dalam ruangan menjadi sangat berat.
"A-Apa?!"
"Lu udah bikin anak perempuan orang tua itu nangis."
"Dan gue... paling benci liat cewek nangis gara-gara urusan tanah," jawab Kevin.
Sebelum si bos penculik sempat mencerna kalimat itu, Kevin memungut sepotong besi pipa yang bengkok di lantai,
lalu melemparkannya dengan teknik rotasi presisi dewa.
WUSH... TAK!
Ujung besi pipa itu menghantam tepat di dahi bos penculik dengan kekuatan yang terukur agar tidak membunuh, namun cukup untuk membuat kesadarannya hilang seketika.
Pria itu ambruk ke belakang, menabrak tumpukan batu bata kosong.
Suasana di dalam bangunan mangkrak itu mendadak hening, hanya menyisakan suara napas terengah-engah dari Pak Wijaya yang masih terikat di kursi.
Kevin berjalan mendekat, mengeluarkan pisau lipat yang tadi dijatuhkan salah satu penyerang, lalu memotong tali yang mengikat tubuh ayah Viola dengan cekatan.
"Bapak tidak apa-apa? Ada yang terluka parah tidak?" tanya Kevin,
kembali memasang mode ramah dan sopan.
Pak Herman menatap Kevin dengan pandangan yang dipenuhi rasa takjub, ngeri, sekaligus rasa terima kasih yang tak terhingga.
"S-Saya tidak apa-apa, Nak... Kamu... Kamu beneran guru honorer? Kekuatan apa yang tadi itu?"
Sebelum Kevin sempat menyusun alibi barunya, sebuah suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah luar bangunan.
Viola berlari masuk dengan wajah penuh kecemasan.
"Papa!" teriak Viola, langsung menghambur memeluk ayahnya yang baru saja berdiri.
"Viola? Kamu kok bisa di sini?" Pak Herman terkejut, memeluk erat anak gadisnya.
Viola melepaskan pelukannya, lalu menunjuk ke arah Kevin dengan mata yang berbinar-binar.
"Mas Kevin yang bawa aku ke sini, Pa. Mas Kevin yang melacak posisi Papa pakai motornya!"
Pak Herman menoleh ke arah Kevin, lalu beralih menatap kelima penculik yang terkapar mengenaskan di sekeliling ruangan. Pengusaha properti sukses di Depok itu menelan ludah.
Dia tahu persis, pemuda di depannya ini bukan sekadar guru honorer biasa. Dia adalah sosok naga tersembunyi yang punya pengaruh luar biasa di Kota Depok.