Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Badai dan Pengakuan yang Terlambat
Keheningan di dalam mobil limosin malam itu terasa berkali-kali lipat lebih pekat daripada saat mereka berangkat. Di kursi belakang, Aisha masih menyembunyikan wajahnya di bawah jaket tuksedo hitam milik Adrian. Bahunya sesekali masih terguncang oleh sisa-sisa tangis yang belum sepenuhnya reda. Trauma masa lalu yang direkayasa dan dihamparkan di depan publik oleh Farida serta Valerie menyisakan luka yang menganga di hatinya.
Adrian duduk di sampingnya, melepas dasi kupu-kupunya dengan sentakan kasar yang menggambarkan betapa sisa amarah masih membakar dadanya. Mata elangnya menatap lurus ke arah jalanan ibu kota yang basah. Tangan kanannya tidak pernah lepas dari pundak Aisha, mendekap wanita itu agar tetap merasa aman di dalam dunianya yang bising.
"Hendra," panggil Adrian, suaranya bariton dan bergetar menahan emosi.
"Iya, Tuan Adrian?" sahut Hendra dari kursi kemudi, matanya melirik dari kaca spion tengah.
"Pastikan tidak ada satu pun media yang lolos menayangkan kejadian malam ini. Jika besok pagi aku melihat ada artikel atau foto Aisha di internet, pecat seluruh tim hubungan masyarakat Arkan Group dan tuntut stasiun TV yang menayangkannya."
"Sudah diatasi, Tuan. Tim IT kita telah memblokir semua rekaman siaran langsung dari *ballroom* sejak Anda naik ke panggung. Semua draf berita malam ini wajib melewati sensor meja kerja saya sebelum terbit," jawab Hendra taktis.
Adrian mengangguk samar, lalu mengalihkan pandangannya pada wanita di dekapannya. Ia melonggarkan rangkulannya perlahan, membiarkan Aisha mendongak. Wajah anggun Aisha kini tampak berantakan; maskara yang sedikit luntur dan mata yang membengkak merah membuat hati Adrian berdenyut nyeri—sebuah rasa bersalah yang teramat sangat karena gagal menjadi perisai yang sempurna.
"Aisha... maafkan aku," ucap Adrian, suaranya melembut ke titik paling rendah, sesuatu yang belum pernah Hendra dengar selama bertahun-tahun bekerja dengan sang CEO. "Aku membawamu ke sana untuk melindungimu, tapi aku justru membiarkan ular-ular itu mematukmu."
Aisha mengusap air matanya dengan tisu yang diberikan Adrian, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Tuan Adrian... Anda tidak salah. Anda justru sudah melakukan terlalu banyak untuk wanita seperti saya. Anda membela saya di depan ibu Anda sendiri, di depan seluruh kolega Anda... Saya... saya tidak tahu bagaimana harus membalas semua ini."
Aisha menatap gaun satin birunya yang kini sedikit kusut. "Nyonya Farida benar. Kasta kita berbeda jauh. Kehadiran saya di sisi Anda hanya akan menjadi duri yang merusak nama baik yang sudah Anda bangun. Mungkin... setelah kontrak menyusui Den Kael selesai, saya dan Fatih memang harus pergi sejauh mungkin."
Mendengar kata "pergi", jantung Adrian mendadak seperti berhenti berdetak. Ada ketakutan hebat yang mendadak menyergap dadanya—ketakutan yang sama seperti saat ia kehilangan istrinya setahun yang lalu. Adrian mencengkeram kedua bahu Aisha, memaksa mata bulat jernih itu menatap lurus ke dalam mata elangnya.
"Jangan pernah mengucapkan kata pergi lagi, Aisha," tegas Adrian, suaranya bergetar egois namun sarat akan keputusasaan yang jujur. "Kontrak itu... lupakan tentang kontrak sialan itu. Aku tidak peduli lagi dengan kertas itu. Aku tidak menahanmu di sini hanya karena Kael butuh air susumu."
Adrian menjeda kalimatnya, menarik napas panjang seolah seluruh pasokan oksigen di dalam mobil mewah itu mendadak habis.
"Aku menahanmu karena aku membutuhkanmu, Aisha. Rumah ini... hatiku... mereka tidak lagi dingin sejak kamu datang membawakan kehangatan untuk anakku. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari sisiku."
Aisha terpaku di tempatnya duduk. Kata-kata dari Adrian malam itu bukan lagi sekadar perlindungan seorang majikan kepada pekerjanya, melainkan sebuah pengakuan jiwa dari seorang pria yang dinding esnya telah cair sepenuhnya.
---
Limosin hitam itu akhirnya memasuki gerbang mansion Arkan dan berhenti tepat di depan paviliun belakang. Adrian turun dan menggendong Aisha yang sudah kehabisan energi—baik fisik maupun mental—masuk ke dalam paviliun, mengabaikan tatapan haru dari Bi Asih yang sudah menunggu di depan pintu.
Setelah membaringkan Aisha di ranjang dan memastikan Fatih serta Kael tertidur lelap berdampingan di boks mereka, Adrian melangkah keluar dari paviliun dengan langkah tegap yang kembali dipenuhi oleh kilat pembalasan dendam.
Hendra sudah menunggu di teras paviliun di bawah rintik hujan yang tipis. "Ada instruksi lebih lanjut, Tuan?"
Adrian mengancingkan kembali jasnya, tatapan matanya sedingin es kutub utara. "Malam ini Ibu dan Valerie sudah menggunakan kartu mereka. Besok pagi, giliran kita yang bermain. Hendra, jalankan rencana nomor tiga."
"Rencana nomor tiga?" Hendra memastikan, matanya melebar sedikit. "Itu berarti... penarikan seluruh aset dan pemutusan hubungan kerja sama secara sepihak dengan Bank milik keluarga Valerie?"
"Ya," jawab Adrian tanpa keraguan sedikit pun. "Hancurkan bisnis keluarga mereka dalam waktu tiga puluh hari. Biarkan Valerie tahu apa akibatnya jika berani menyentuh apa yang menjadi milik seorang Adrian Arkan. Dan untuk Ibuku... batalkan hak aksesnya ke seluruh fasilitas finansial sekunder milik Arkan Group. Biarkan beliau menikmati masa pensiunnya di Paris tanpa bisa mencampuri satu jengkal pun urusan di Jakarta."
Adrian berbalik menatap pintu paviliun yang tertutup rapat, tempat wanita yang perlahan mulai mengisi takdir barunya sedang beristirahat. "Perang ini belum usai, Hendra. Tapi aku pastikan, Aisha tidak akan pernah menangis lagi karena ulah mereka."
---
Bersambung
Apakah Anda ingin melihat bagaimana reaksi Valerie saat bisnis keluarganya mulai dihancurkan oleh Adrian, serta bagaimana hubungan Aisha dan Adrian yang mulai melangkah ke arah yang lebih intim di bawah bayang-bayang status baru mereka?