Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 Kamu Itu Bukan Siapa-Siapa.
Musik di runway masih terus berjalan.
Lampu-lampu terang memantul di lantai mengilap. Tepuk tangan sesekali terdengar. Kamera berkilatan tanpa henti.
Di kursi VIP paling depan, Bella sibuk berdiri di atas kursinya sendiri. “Papa! Papa! Itu Tante Cintya lagi!”
Satriya mengangkat ponsel sambil tertawa kecil. “Iya, Papa lihat.”
“Cantik banget ya…”
“Hm.”
Dan seperti biasa, mereka terlalu menikmati dunia mereka sendiri sampai tidak sadar satu orang hilang dari tempat duduk belakang. Tidak ada yang bertanya 'Mama ke mana?'
Karena keberadaan Anjani memang sering terasa otomatis. Seolah perempuan itu akan selalu ada di titik yang seharusnya. Di saat dibutuhkan.
Sementara itu, backstage berubah seperti ruang operasi darurat. Semua orang mengelilingi Anjani. Tangan perempuan itu bergerak cepat di atas kain mahal bernilai ratusan juta. Jarum kecil menembus lapisan dalam dengan gerakan yang begitu terbiasa. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Beberapa staf mulai saling pandang.
“Dia siapa sebenarnya?”
“Nggak tahu…”
“Kok bisa ngerti konstruksi gaunnya?”
“Ini bahkan tim kita tadi nggak kepikiran…”
Anjani tidak mendengar semua itu. Atau mungkin memilih tidak peduli karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kepalanya terasa sunyi. Tidak ada suara mesin cuci, tidak ada jadwal memasak, tidak ada tangisan anak, tidak ada nada datar Satriya yang memintanya melakukan sesuatu. Yang ada hanya kain, jarum, dan insting lamanya yang perlahan bangun dari tidur panjang.
“Gunting kecil.”
Seseorang buru-buru memberikannya.
“Pin.”
Diberikan lagi.
Ren berdiri beberapa langkah darinya. Diam, tapi tatapannya belum lepas sedetik pun sejak tadi. Awalnya ia mengira perempuan itu hanya sok tahu. Tapi sekarang?
Gerakan tangan Anjani terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Bahkan beberapa staf senior mulai memperhatikan dengan wajah tegang. Karena mereka tahu…teknik yang dipakai perempuan itu bukan teknik sembarangan.
Anjani menggigit ujung benang, lalu mengangkat gaun tersebut. “Coba.”
Staf yang tadi hampir menangis buru-buru memeriksa gaun itu, lalu semua orang terdiam.
Sobekannya… hilang. Tidak benar-benar hilang tentu saja. Tapi tersamarkan sempurna di balik permainan layer dan payet baru. Bahkan terlihat lebih bagus dibanding desain awalnya.
Salah satu staf sampai refleks berucap pelan, “Luar biasa…”
Yang lain langsung mengangguk kecil tanpa sadar.
Ren berjalan mendekat. Matanya memperhatikan detail jahitan itu cukup lama, lalu berkata. “Siapa yang ngajarin kamu?”
Anjani mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya mata mereka bertemu penuh.
Dan sialnya, lelaki itu benar-benar menyeramkan kalau dilihat dekat. Tatapannya tajam. Rahangnya keras. Wajahnya tampan dengan cara yang membuat orang malas mendekat. Tipe lelaki yang kelihatannya tidak pernah meminta maaf dalam hidupnya.
“Belajar sendiri,” jawab Anjani singkat.
Ren menyipit sedikit. Dia tahu Anjani berbohong. Itu jelas bukan level belajar sendiri biasa. Namun sebelum ia sempat bicara lagi, suara seorang staf terdengar
“Miss Cintya siap!”
Suasana kembali sibuk. Model berikutnya mulai bersiap keluar runway. Dan gaun yang baru diperbaiki Anjani ternyata dipakai Cintya.
Ah. Lucu sekali. Perempuan yang diam-diam ingin memamerkan hidup gemilangnya pada Anjani, justru sedang mengenakan hasil tangan perempuan yang ia remehkan.
Cintya muncul tergesa dari sisi lain backstage. Terlihat cantik, anggun, sempurna seperti biasa. Namun langkahnya melambat saat melihat kerumunan di sekitar Anjani.
“Kak Anjani?” Ada sedikit keterkejutan di wajahnya. Tatapan Cintya turun pada gaun yang sudah kembali sempurna, lalu pada Ren. Seketika senyum perempuan itu terlihat agak kaku.
“Ada apa?” tanya Cintya.
Salah satu staf langsung menjawab penuh lega. “Untung ada beliau, Miss. Kalau nggak, gaunnya anda nggak bisa dipakai.”
Cintya menoleh cepat pada Anjani. Detik itu juga, sesuatu berubah kecil di matanya. Bukan marah, tapi lebih seperti tidak nyaman karena malam yang seharusnya menjadi panggungnya mendadak dicuri seseorang yang bahkan tidak ia anggap sebuah ancaman.
Namun Cintya terlalu pintar untuk tidak menunjukkannya terang-terangan. Ia tersenyum lembut lagi.
“Kak Anjani hebat banget…”
Anjani hanya mengangguk kecil. Wajahnya datar. Tanpa ia sadari itulah yang paling mengganggu Cintya diam-diam. Karena ia tidak terlihat sedang mencari pengakuan, tidak haus pujian, tidak berusaha bersinar. Seolah semua ini hanyalah refleks kecil dari seseorang yang pernah kehilangan dunianya.
“Miss, waktunya!”
Cintya akhirnya kembali fokus lalu berjalan menuju entrance runway. Sebelum pergi, perempuan itu sempat melirik Ren. Dan sayangnya, Cintya cukup mengenal lelaki itu untuk menyadari satu hal. Ren Aksara sedang tertarik pada sesuatu.
Anjani.
Sementara di sisi lain backstage, Ren masih memandangi Anjani. Terlalu lama, sampai salah satu staf memanggil penuh kehati-hatian, takut bos besarnya itu meledak.
“Pak Ren?”
“Hm.”
“Show-nya mulai lagi.”
Ren tetap tidak mengalihkan mata. Tatapannya turun pada tangan Anjani yang masih memegang jarum kecil. Jari-jari itu dipenuhi bekas tusukan halus yang samar.
Tangan pekerja. Bukan tangan sosialita. Bukan juga tangan perempuan yang hanya hidup dari uang suami.
Aneh sekali.
Perempuan seperti ini seharusnya tidak berada di kursi penonton belakang dengan pakaian sesederhana itu. Dan Ren paling benci hal-hal yang terasa tidak pada tempatnya.
Lampu utama akhirnya meredup perlahan. Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan besar itu saat seluruh model keluar untuk penutupan acara. Musik mengalun megah. Kamera berkilatan tanpa jeda.
Dan di tengah semua sorotan itu, Cintya benar-benar bersinar. Gaun gold yang tadi hampir gagal tampil kini justru menjadi salah satu outfit paling dipuji malam itu. Potongannya jatuh sempurna di tubuh Cintya, membuat langkahnya terlihat mahal, anggun, dan nyaris tanpa cela.
Bella sampai berdiri di atas kursinya sendiri. “Papa! Tante Cintya paling cantik! Kerenn!”
Satriya tertawa kecil masih sambil merekam runway. “Iya. Dia memang beda.”
Kalimat biasa, tapi nyatanya terasa seperti sesuatu yang menghantam dada Anjani pelan-pelan. Di kursi belakang sana, ia hanya duduk diam. Tangannya dingin. Matanya memandang panggung tanpa benar-benar fokus karena semakin terang Cintya bersinar, semakin Anjani sadar betapa redup dirinya sekarang.
Acara selesai hampir tengah malam.
Backstage kembali sibuk. Wartawan berlalu-lalang. Sponsor berdatangan. Beberapa model tertawa sambil menerima bunga.
Sementara itu, Cintya baru selesai sesi foto ketika melihat Ren berdiri di dekat area staff. Lelaki itu tampak dingin seperti biasa. Satu tangan masuk saku celana. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Tetap menyeramkan dan sulit didekati. Dan justru karena itulah perhatian Ren terasa mahal.
Cintya berjalan mendekat dengan senyum lembut andalannya. “Pak Ren…”
Ren melirik sekilas.
“Show tadi lancar banget ya.” Cintya tertawa kecil. “Aku sampai takut bikin kecewa.”
“Hm.” Ren hanya merespon pendek.
Cintya masih tersenyum. “Untung gaunnya masih bisa dipakai. Tadi aku benar-benar panik.”
“Untung ada orang yang ngerti kerja.”
Deg.
Senyum Cintya nyaris retak sepersekian detik karena jelas sekali pujian itu bukan untuk dirinya. Dan lebih menyebalkannya lagi tatapan Ren bahkan tidak benar-benar tertuju padanya. Lelaki itu justru melihat ke arah pintu keluar. Cintya mengikuti arah matanya.
Anjani.
Perempuan itu sedang berjalan pergi dengan pakaian sederhananya sembari membawa tas lama. Rambut sedikit berantakan. Tidak tampak seperti seseorang yang baru saja membuat seluruh backstage terselamatkan.
Dan yang paling mengganggu, Anjani pergi tanpa berusaha menarik perhatian siapa pun. Padahal biasanya perempuan-perempuan di industri ini rela melakukan apa saja demi mendapat tatapan Ren Aksara.
Cintya perlahan mengepalkan jemarinya. Oh. Jadi ini masalahnya.
“Ma!” Bella langsung memeluk tangan Anjani saat perempuan itu mendekat ke area parkir.
“Kita tadi nyariin Mama!”
Anjani hampir tertawa getir. Ia tidak yakin mereka benar-benar mencarinya. Dan ia sudah terlalu lelah untuk menampilkan sikap kecewanya.
Satriya berdiri di dekat mobil sambil memainkan kunci kendaraan. “Kamu dari mana?”
“Nggak ke mana-mana--” Belum selesai ia menjawab seseorang memotong.
“Kak Anjani.” Suara lembut itu datang lagi.
Cintya berjalan mendekat sambil tersenyum kecil, anggun, cantik. Bahkan saat lelah pun perempuan itu masih terlihat seperti tokoh utama dunia.
Bella langsung girang, memeluk Cintya. “Tante Cintya!”
Cintya membelai kepala Bella lembut sebelum memandang Anjani. “Aku boleh ngomong sebentar?”
Satriya otomatis memperhatikan.
“Kenapa?” tanya Anjani singkat.
Cintya terlihat ragu-ragu. Dan perempuan seperti dia memang berbahaya saat terlihat ragu karena orang-orang jadi merasa harus memihaknya.
“Nggak tahu ya… mungkin aku terlalu kepikiran.” Cintya tersenyum kecil canggung. “Aku cuma takut nanti jadi omongan staff.”
Satriya mulai mengernyit, tapi masih memilih diam mengamati.
“Omongan apa?”
“Ya itu…” Cintya tertawa pelan seolah merasa tidak enak. “Tadi Kak Anjani masuk backstage terus… cukup menarik perhatian.”
Menarik perhatian, bukan membantu, bukan menyelamatkan. Sekali lagi, menarik perhatian. Dan sialnya, kalimat itu jauh lebih kotor.
Anjani menatap Cintya datar. Sementara perempuan itu melanjutkan dengan nada selembut kapas.
“Aku ngerti kok mungkin Kak Anjani cuma excited lihat dunia fashion lagi. Apalagi dulu Kak Anjani memang suka desain.” Ia tersenyum tipis. “Cuma backstage tadi jadi agak ribut karena Pak Ren terus merhatiin Kak Anjani.”
Sunyi.
Satriya perlahan menoleh pada istrinya. Tatapannya berubah dengan tukikan tajam pada sepasang alisnya.
“Terus?” tanya Anjani dingin.
Cintya buru-buru menggeleng. “Eh tapi jangan salah paham dulu. Aku cuma takut staff mikir aneh-aneh. Pak Ren itu kan CEO besar, image perusahaan juga sensitif.”
Anjani nyaris tertawa. Hebat sekali.
Tidak ada satu kata kasar keluar dari bibir tipis Cintya. Namun setiap kalimatnya seperti sengaja disusun untuk membuat Anjani terlihat murahan, haus validasi, dan memalukan.
Bella bahkan ikut memandang ibunya aneh sekarang.
“Lagi pula, tidak sembarangan orang boleh masuk backstage," tambah Cintya lembut, tapi begitu terasa kalau itu kalimat menusuk.
Anjani belum sempat menjawab. Satriya lebih dulu bicara.
“Ngapain lancang?” Nada suaranya mulai keras.
Anjani menatapnya pelan. “Ada gaun rusak.”
“Dan itu urusan kamu?”
“Aku cuma bantu.”
Satriya tertawa sinis. “Bantu?” Rahangnya mengeras. “Atau cari perhatian?”
Anjani diam. Dadanya berdenyut perih.
Sementara Cintya buru-buru menyela dengan wajah panik palsu. “Satriya, jangan ngomong begitu. Kak Anjani pasti nggak ada niat buruk—”
“Tapi hasilnya sama aja.” Tatapan Satriya tetap pada Anjani. “Kamu sadar nggak sih posisi kamu apa?”
Anjani membeku. Dan kalimat berikutnya berhasil menghantam tepat ke harga dirinya.
“Kamu itu cuma ibu rumah tangga. Bukan model seperti Cintya.” Satriya melanjutkan dingin. “Bukan bagian dari industri mereka. Jadi kenapa harus ikut campur sampai jadi perhatian CEO segala?”
Anjani perlahan mengepal jemarinya.
Bukan karena marah, tapi karena malu. Malu sekali. Di depan perempuan yang diam-diam sedang merendahkannya… suaminya sendiri justru ikut menginjaknya lebih dalam.
“Aku nggak caper," sanggah Anjani.
“Oh ya?” Satriya mendekat sedikit. “Terus kenapa Pak Ren sampai merhatiin kamu?” Pertanyaannya terdengar seperti tuduhan murahan. Seolah mustahil ada lelaki hebat memperhatikan Anjani karena kemampuan.
Di mata Satriya…istrinya sudah lama berhenti punya sesuatu untuk dibanggakan.
Dan Cintya? Perempuan itu berdiri di sana dengan wajah bersalah paling sempurna sedunia. Padahal di balik sorot matanya, ia sedang menikmati kemenangan kecilnya pelan-pelan.
Bersambung~~