NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Keheningan kembali menyelimuti kamar rawat setelah kepergian keluarga.

Aroma obat-obatan yang tajam beradu dengan bunyi konstan dari bedside monitor.

Bryan berdiri tegap di dekat pintu selasar bagai bayangan yang mengawasi, sementara Adrian masih terpaku di sudut ruangan dengan kemeja bernoda darah Fatma yang mulai mengering dan menghitam.

Fatma perlahan memutar kepalanya. Pandangannya jatuh pada Adrian.

Tatapan Fatma tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan kekosongan yang dingin.

Syarat pertama dari sepuluh perjanjian mutlak harus dimulai detik ini juga, dari dalam kamar rumah sakit ini.

"Sekarang, Mas harus wudhu dan mandi besar," ucap Fatma dari atas ranjangnya, suaranya lirih namun penuh penekanan.

Adrian tersentak. Ia mendongak, menatap istrinya dengan dahi berkerut, tampak kebingungan dengan instruksi yang baru saja didengarnya.

"Mandi di bak besar?" tanya Adrian polos, suaranya terdengar ragu dan bodoh.

Mendengar pertanyaan itu, Bryan yang berdiri di dekat pintu bahkan tidak bisa menyembunyikan tatapan tak percayanya pada mantan bosnya.

Fatma memejamkan mata sejenak, merasakan nyeri yang mendadak menghantam dadanya—bukan karena luka fisik di punggungnya, melainkan karena kenyataan betapa jauhnya laki-laki yang menjadi suaminya ini dari agama.

"Astaghfirullah, Mas. Mandi besar nggak tahu?" bisik Fatma, menahan rasa sesak yang menggelayuti tenggorokannya.

Adrian menggelengkan kepalanya perlahan dengan wajah pias.

"Wudhu, aku juga nggak tahu..." ucapnya terbata-bata, menjauhkan pandangannya karena malu.

"A-aku lupa..."

"Lupa?" tanya Fatma, menuntut penjelasan.

"Aku, wudhu saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha saja," ucap Adrian jujur. Suaranya mencicit, runtuh sudah seluruh keangkuhannya sebagai pengusaha sukses yang selama ini mendongakkan kepala di depan semua orang.

Di hadapan Fatma, ia telanjang tanpa pemahaman agama sedikit pun.

"Astaghfirullah..."

Fatma mengelus dadanya yang terasa sangat sempit menggunakan tangan kanan yang tidak terinfus.

Air mata keprihatinan menggenang di pelupuk matanya.

Bagaimana mungkin seorang laki-laki muslim dewasa, yang dengan gagah berani mengucapkan ijab kabul di depan Abah, ternyata tidak tahu cara mensucikan diri dari hadas besar? Bagaimana mungkin ia bisa melalaikan penciptanya sedalam ini?

Adrian semakin menunduk, meremas jemarinya sendiri.

Penyesalannya kini bertambah satu tingkat lagi; bukan hanya menyesali kebiadaban fisiknya, tapi juga menyadari betapa miskin dan matinya jiwa yang selama ini ia bangga-banggakan.

Melihat keterpautan Adrian yang begitu jauh dari syariat agama, Fatma menarik napas panjang.

Ia tahu, tidak ada guna meratapi kebodohan suaminya saat ini.

Jalan penebusan dosa harus dimulai dari pondasi yang paling dasar, yaitu bersuci.

Fatma menoleh ke arah pintu pembatas. "Bryan, masuklah, aku minta tolong," panggil Fatma dengan suara parau.

Mendengar panggilan itu, Bryan segera membuka pintu kayu kamar rawat dan melangkah masuk dengan sopan.

Ia berdiri di dekat kaki ranjang, menjaga jarak aman demi menghormati privasi Fatma.

"Ada apa, Nyonya?" tanya Bryan sigap.

"Kamu sept muslim, Bryan?" tanya Fatma memastikan.

Bryan menganggukkan kepalanya tanpa ragu. "Iya, Nyonya. Saya seorang muslim."

"Bisa wudhu?" lanjut Fatma lagi.

"Tentu saja bisa, Nyonya. Memang kenapa?" Bryan mengernyitkan dahi, merasa agak heran dengan pertanyaan yang diajukan oleh putri seorang ulama besar itu.

Fatma tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya, melirik dingin ke arah Adrian yang masih bersimpuh lesu di sudut ruangan dengan wajah merah padam karena menahan malu yang teramat sangat.

Di depan mantan anak buah yang kemarin ia pecat dengan kesombongan penuh, Adrian kini harus menanggung aib atas ketidaktahuannya tentang agama.

"Tolong ajari Mas Adrian wudhu dan mandi besar," ucap Fatma, suaranya terdengar datar namun sarat akan ketegasan yang tak boleh dibantah.

Bryan tertegun sejenak. Ia menatap Adrian yang kini menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajah lebamnya di balik kedua telapak tangan.

Ada rasa tidak percaya di hati Bryan bahwa seorang pengusaha sukses kelas atas seperti Adrian ternyata buta akan hal mendasar seperti ini. Namun, demi menghormati Fatma, Bryan langsung menguasai keadaan.

"Baik, Nyonya. Saya mengerti," jawab Bryan patuh.

Bryan berjalan mendekati Adrian, lalu berdiri di hadapan mantan bosnya itu.

Tidak ada lagi gurat takut atau tunduk pada atasannya.

Kini, posisinya telah berbalik. "Mari, Pak Adrian. Ikut saya ke kamar mandi sekarang."

Bryan melangkah menuju lemari kecil di sudut kamar rawat, mengambil handuk bersih milik rumah sakit serta tas berisi pakaian ganti bersih yang sebelumnya sempat dibawa oleh Hakam dari rumah.

Setelah memastikan semuanya siap, Bryan kembali berdiri di dekat pintu kamar mandi, menunggu Adrian dengan sabar namun tegas.

Adrian bangkit dari lantai dengan tubuh yang masih gemetar. Langkahnya terasa sangat canggung.

Ia menerima uluran handuk dan baju ganti dari tangan Bryan. Namun, sesampainya di ambang pintu kamar mandi, Adrian mendadak menghentikan langkahnya.

Pria itu menoleh ke arah ranjang dengan wajah yang bimbang dan tampak sangat cemas.

"Fatma, ini aku mandi berdua?" tanya Adrian dengan suara mencicit, melirik Bryan yang berdiri tegap di sampingnya.

Pikiran kalut dan ketidaktahuannya membuat otaknya tidak bisa berpikir jernih.

Mendengar pertanyaan polos sekaligus bodoh dari suaminya, Fatma hanya bisa menghela napas panjang sembari memejamkan mata. Rasa penat di dadanya semakin membuncah.

"Mas, Bryan cuma mengajarimu dari luar, bukan mandi berdua," sahut Fatma dengan nada datar, tanpa minat untuk memandang wajah Adrian.

"Dia akan mendiktekan niat dan tata caranya. Kamu tinggal mempraktikannya di dalam."

Bryan yang berdiri di samping Adrian pun hanya bisa menggelengkan kepala pelan, menahan diri untuk tidak mendengus melihat ketidakberdayaan mantan atasannya itu.

"Mari masuk, Pak. Lepaskan baju Anda yang berlumuran darah itu. Kita mulai dari niat mandi wajib untuk mensucikan diri."

Wajah Adrian memerah padam menahan malu yang teramat sangat.

Tanpa bisa membantah lagi, ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang dingin.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Adrian yang terbiasa memerintah di dunia bisnis, kini harus tunduk dan mendengarkan instruksi demi instruksi tentang bagaimana cara membersihkan jiwa dan raganya dari balik pintu kayu yang tertutup rapat.

Dari balik pintu kamar mandi yang tertutup, lamat-lamat terdengar suara Bryan yang sedang mendiktekan niat mandi wajib dan tata cara membasuh air dari kepala hingga ke seluruh tubuh.

Suara gemercik air yang mengguyur tubuh Adrian mulai terdengar, menyelingi keheningan yang mencekam di dalam ruang perawatan tersebut.

Fatma yang terbaring lemah di atas ranjang kembali memalingkan wajahnya ke arah langit-langit kamar.

Air matanya menetes perlahan, membasahi bantal rumah sakit.

Dada bidangnya naik turun seiring dengan bibirnya yang tidak berhenti bergerak, melafalkan untaian zikir yang menjadi benteng pertahanan jiwanya yang koyak.

"Astaghfirullahaladzim... Astaghfirullahaladzim..."

Fatma terus beristigfar. Rasa sakit di punggungnya yang melepuh akibat cambukan ikat pinggang terasa begitu nyata, namun rasa sesak di dadanya jauh lebih menyiksa.

Bayangan kebiadaban Adrian malam itu—tatapan mata suaminya yang penuh dendam buta, cengkeraman kasarnya, dan bagaimana kehormatannya dirampas tanpa ampas—kembali berputar bagai kaset rusak.

Di tengah isak tangisnya yang tertahan agar tidak terdengar sampai ke luar, Fatma mempertemukan kedua telapak tangannya yang gemetar.

Ia membawa seluruh rasa perih itu ke hadapan Sang Pemilik Semesta dalam sebuah doa yang teramat lirih.

“Ya Allah. Ya Rahman, Ya Rahim...” bisik Fatma, suaranya tersendat oleh rasa sesak.

“Apakah hamba sedang diuji seperti istri Fir'aun, Asiyah? Apakah takdir hidup hamba harus bersanding dengan laki-laki yang begitu jauh dari-Mu, yang memperlakukan hamba seolah hamba tak memiliki harga diri sebagai manusia?”

Fatma mengingat kembali kisah keteguhan batin Ummul Mukminin Asiyah, wanita suci yang tetap mengesakan Allah di bawah siksaan keji suaminya, Fir'aun.

Ada rasa perih yang teramat dalam saat menyadari bahwa pernikahan yang ia impikan membawa berkah, justru bertukar menjadi ladang ujian yang hampir merenggut nyawanya.

“Jika ini adalah kafarat atas dosa-dosa hamba, maka kuatkan lah batin hamba, ya Allah. Kuatkan hamba untuk menuntunnya, atau berikan hamba petunjuk untuk melepaskannya jika masanya telah tiba...”

Suara gemercik air di kamar mandi perlahan mereda, menandakan proses pensucian fisik Adrian hampir selesai.

Namun, bagi Fatma, perjalanan untuk menyembuhkan luka batin dan trauma di jiwanya barulah seujung kuku dimulai.

1
ahs@
sakit jiwa,c adrian....
ahs@
Adrian stress... melampiaskan kekesalannya kepada fatma yang tidak tahu apa" .Liana sendiri yang selingkuh dengan Jamie..
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!