Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Suasana meja makan yang hangat dan tenang masih terasa menyelimuti ruangan, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu pelan, ditambah cahaya lampu gantung yang lembut membuat wajah kedua orang itu tampak semakin hangat. Aruna menyuap makanan pelan, sesekali melirik ke arah Zeffrano yang duduk di hadapannya, ada rasa berat yang perlahan mengganjal di hatinya.
Akhirnya, Aruna meletakkan sendoknya perlahan, lalu mengusap mulutnya dengan kain sebelum menatap lurus ke arah Zeffrano.
"Zeff… ada satu hal penting yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Aruna memecah keheningan.
Zeffrano segera menghentikan gerakannya, menatap Aruna.
"Apa itu? Katakan saja, apapun itu aku akan dengarkan dengan baik," jawabnya lembut, lalu bersandar sedikit ke belakang menunggu penjelasan wanita itu.
Aruna menghela napas pendek, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit berat.
"Mulai besok, aku tidak akan bisa lagi datang ke kantor Mahesa Group untuk bekerja bersamamu setiap hari," ucap Aruna perlahan.
Senyum di wajah Zeffrano seketika memudar, alisnya terangkat kaget.
"Kenapa? Ada apa? Apakah ada hal yang membuatmu tidak nyaman, atau ada orang yang masih berani mengganggumu?" tanyanya cepat, nada suaranya sedikit cemas, pikirannya langsung tertuju pada kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
Aruna segera menggeleng cepat, lalu tersenyum lembut sambil mengulurkan tangan menyentuh punggung tangan Zeffrano untuk menenangkannya.
"Bukan begitu, sama sekali bukan karena hal buruk, Zeff," jelasnya dengan nada lembut. "Kamu lupa? Aku masih mahasiswa tingkat akhir. Sekarang sudah masuk masa persiapan kelulusan, semua urusan kampus mulai padat sekali. Ada bimbingan skripsi, ujian akhir, sidang, sampai persiapan administrasi wisuda, semuanya harus aku selesaikan tepat waktu."
Dia menjeda sejenak, lalu menundukkan wajahnya sedikit dengan rasa bersalah.
"Selama satu bulan ini, aku terlalu banyak menghabiskan waktu di kantormu, sampai urusan kuliahku tertinggal. Kalau aku tidak fokus sepenuhnya mulai sekarang, aku takut tidak bisa lulus,"
Mendengar penjelasan itu, rasa cemas di wajah Zeffrano perlahan menghilang, digantikan oleh pengertian yang dalam. Dia mengangguk pelan, lalu membalas genggaman tangan Aruna dengan lembut.
"Aku paham. Lanjutkan pendidikanmu, soal Hendrawan dan Rafael, biar aku yang urus sisanya," ucap Zeffrano.
Suasana hening kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini tidak lagi terasa berat, melainkan penuh rasa saling pengertian. Mendengar ucapan itu, mata Aruna seketika berbinar, rasa bersalah yang tadi mengganjal di hatinya perlahan lenyap sepenuhnya.
"Ya sudah, aku akan pulang sekarang supaya kamu bisa istirahat. Besok pagi aku akan menjemput dan mengantarmu ke kampus," ucap Zeffrano lembut, sambil perlahan bangkit dari kursi makan.
Aruna pun ikut berdiri, melangkah mendekat dan menggenggam erat lengan pria itu.
"Terimakasih banyak, Zeff. Terimakasih sudah membantu dan melindungiku," bisik Aruna dengan suara yang sedikit bergetar karena haru.
Zeffrano tersenyum, lalu mengulurkan tangan mengusap lembut pipi halus Aruna, "Aku sudah berjanji, dan aku tidak akan menarik kata-kataku,"
"Istirahatlah yang nyenyak malam ini. Jangan pikirkan apapun. Semuanya sudah aman, semuanya sudah baik-baik saja," bisik Zeffrano tepat di telinga Aruna.
Aruna mengangguk pelan, lalu memeluk pinggang Zeffrano erat-erat selama beberapa detik, sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu dengan berat hati.
"Iya, aku akan tidur nyenyak. Kamu juga hati-hati di jalan, Zeff." pesan Aruna dengan nada perhatian.
Aruna mengantarnya sampai ke halaman depan, berdiri disana sampai melihat mobil hitam mewah itu meninggalkan halaman rumahnya, baru kemudian dia masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu dengan rapat.
-
-
-
Keesokan harinya, suasana kampus kembali ramai seperti biasa. Aruna baru saja melangkah keluar dari ruang bimbingan skripsi, membawa berkas tebal di tangannya, wajahnya terlihat tenang dan damai - sepenuhnya lega karena semua beban masa lalu akhirnya sudah selesai.
Baru saja dia berjalan menuju koridor utama, terdengar suara langkah kaki yang berlari cepat diikuti suara panggilan yang keras dan panik.
"ARUNA! ARUNA, TUNGGU SEBENTAR!"
Aruna berhenti melangkah, menoleh ke belakang. Mita berlari terengah-engah ke arahnya, wajahnya penuh kekhawatiran dan rasa penasaran yang besar.
"Mita? Ada apa? Kok kamu terburu-buru sekali?" tanya Aruna heran, lalu mengulurkan tangan menopang bahu Mita yang masih terengah-engah.
Mita mengatur napasnya sebentar, lalu segera menatap Aruna dengan mata yang membelalak kaget.
"Aruna! Aku mau tanya sesuatu, dan kamu harus jawab jujur sama aku! Apakah benar berita yang sedang menyebar luas sekarang ini? Katanya... katanya Rafael ditangkap polisi kemarin? Bahkan bosnya, Tuan Hendrawan, juga ikut ditahan, dan seluruh aset keluarga mereka dibekukan pengadilan!"
Pertanyaan itu langsung terdengar jelas di telinga Aruna. Dia diam sejenak, lalu mengangguk perlahan dengan wajah yang tetap tenang.
"Benar, Mita. Berita itu semuanya benar," jawab Aruna dengan nada datar dan wajar.
Mita langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya semakin membelalak tak percaya.
"Ya Tuhan... Benar-benar terjadi?! Tapi... tapi kenapa bisa begitu? Katanya kasus korupsi dan penipuan besar-besaran? Itu benar?!" seru Mita kaget, lalu tanpa pikir panjang dia segera menggenggam tangan Aruna erat-erat, wajahnya penuh rasa kasihan.
"Aruna... Kasihan sekali kamu! Pasti kamu sangat terkejut dan sedih sekali kan? Rafael itu kan pacarmu, kalian sudah menjalin hubungan dua tahun lamanya. Pasti hatimu hancur sekali mendengar berita itu. Kenapa kamu tidak cerita sama aku!"
Mita terus bicara dengan nada prihatin, sama sekali tidak menyadari kenyataan yang sesungguhnya.
"Aruna, aku tahu rasanya sakit sekali. Dua tahun hubungan, tiba-tiba pacarmu tertangkap kasus besar, bahkan jadi tersangka kriminal... Siapa yang tidak hancur hatinya. Tapi jangan khawatir ya, aku selalu ada di sampingmu. Jangan simpan kesedihan itu sendirian, ceritakan semuanya sama aku, menangislah kalau mau menangis. Aku tidak akan menghakimi kamu sama sekali," ucap Mita dengan nada lembut dan penuh perhatian, sungguh-sungguh merasa kasihan pada sahabatnya.
Aruna menatap wajah Mita yang penuh keprihatinan itu, lalu tersenyum tipis. Dia tidak marah, juga tidak kesal, dia hanya baru menyadari bahwa sampai sekarang, belum ada satu orang pun di kampus yang tahu fakta bahwa dia dan Rafael sudah putus, bahkan berpisah dengan cara yang paling menyakitkan.
Aruna menghela napas pelan, lalu mengelus punggung tangan Mita dengan lembut, memecah keheningan itu dengan suara yang tenang dan jelas.
"Mita... Terimakasih ya, kamu sungguh sahabat yang paling baik. Tapi ada satu hal yang belum aku ceritakan sama kamu," ucap Aruna perlahan.
Mita mengerutkan kening bingung. "Hal apa, Aruna?"
"Rafael dan aku... kita sudah putus. Kurang lebih satu bulan yang lalu," jawab Aruna dengan nada yang datar, tanpa ada rasa sedih, tanpa ada rasa sakit sedikitpun.
Mita seketika ternganga, mulutnya terbuka lebar, matanya membelalak tak percaya. Dia mundur selangkah, menatap Aruna dengan tatapan kaget.
"Apa? Putus? Sejak kapan?! Kenapa aku tidak tahu sama sekali?!" seru Mita keras, kaget bukan main.
"Sejak sebelum semua masalah ini muncul. Kita berpisah karena memang tidak cocok, dan... ada alasan lain yang cukup rumit," jelas Aruna singkat, tidak mau menceritakan semua kebohongan dan pengkhianatan yang dilakukan Rafael serta Tania kepadanya. "Daripada kita ngomongin hal yang tidak penting ini, lebih baik kamu temenin aku cari sesuatu yuk?"
"Cari apa?" tanya Mita penasaran.
"Aku mau cari dan beli cincin buat melamar seseorang," jawab Aruna tenang.
Mita terbelalak kaget, "APA?! CINCIN BUAT MELAMAR?!"
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣