Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Menuju Sirkuit Langkah Pertama ke Panggung Resmi
Pagi hari keberangkatan tiba dengan langit yang sangat cerah dan udara sejuk khas desa di awal musim kemarau. Sejak subuh halaman sudah ramai namun tertib. Truk kecil milik bengkel sudah siap diisi barang‑barang: motor utama, suku cadang cadangan, perkakas, alat kebersihan, serta perlengkapan tim. Faris mengenakan baju kerja yang rapi namun kuat, sepatu bot bersih, dan ikat kepala sederhana. Di saku selalu terselip rokok dan korek api—teman setianya saat berpikir tenang.
Bapak dan Ibu, serta Maya dan Miya, ikut naik ke kabin kendaraan. Guntur dan Ali duduk di bak bersama perlengkapan, menjaga agar semuanya aman selama perjalanan. Sebelum berangkat, Faris berhenti sejenak di tengah halaman, menatap rumah dan pekarangan luas itu—seolah mengambil kekuatan dari tanah yang kini sah milik keluarga. Ia mengucapkan doa pendek namun tulus, memohon perlindungan dan kelancaran.
Perjalanan menuju lokasi sirkuit di kawasan pinggiran kota Sidoarjo berjalan nyaman. Jalanan beraspal mulus, pemandangan di kiri‑kanan berganti antara hamparan sawah, kebun buah, dan pemukiman warga yang rapi. Selama perjalanan, Faris menjelaskan hal‑hal penting kepada kedua adiknya yang bertugas sebagai mekanik pendamping—gaya bicara tetap tenang, berirama, sering dijeda agar makin tertanam dalam ingatan.
Nanti saat sampai.jangan terpesona atau terintimidasi oleh kendaraan mewah atau perlengkapan mahal yang dipunya tim lain. ujarnya sambil menatap ke depan jalan, nilai tim tidak dilihat dari kilau barangnya saja.tapi dari ketenangan, kerapian kerja, dan ketepatan pikiran saat tekanan mulai terasa tinggi.”
Siap, Bang Kami akan tetap bekerja seperti biasa, sama seperti di bengkel sendiri, jawab Guntur mantap.
Sesampainya di gerbang kawasan sirkuit, suasana langsung terasa berbeda: lebih ramai, lebih bising, penuh warna, dan penuh aktivitas. Di sana berkumpul tim‑tim dari berbagai daerah—ada yang dari kota besar, ada pula dari daerah sekitar seperti mereka. Banyak motor bermerek baru, tampak sangat canggih, lengkap dengan seragam seragam tim yang seragam dan rapi. Beberapa orang sempat melirik sekilas ke arah kendaraan merah muda yang dibawa masuk—tampak berbeda dan agak tua modelnya jika dibandingkan kendaraan‑kendaraan modern di sekitarnya. Namun tatapan itu hanya sekilas, belum menyadari isi mesin dan ketangguhan di balik bodi yang tampak sederhana itu.
Setelah mendapatkan tempat parkir dan area kerja yang cukup luas namun sederhana di sudut lapangan, tim kecil dari Desa Ketajen segera mulai bekerja. Sambil membongkar perlengkapan, Faris terus mengawasi sekeliling dengan tenang namun waspada. Matanya sempat menangkap sosok yang tidak asing—Bima berdiri tak jauh dari sana bersama rombongannya, mengenakan seragam berwarna cerah dan tampak percaya diri berlebihan. Saat tatapan mereka bersentuhan, Bima tersenyum menyeringai seolah meremehkan kehadiran mereka. Namun Faris hanya mengangguk pelan tanpa marah atau terganggu—ia tahu reaksi terbaik adalah tetap bekerja dan membuktikan hasil di lintasan.
Biarkan saja ujarnya rendah pada diri sendiri dan adik‑adiknya, mereka boleh bicara atau memandang rendah sekarang tapi lintasanlah yang akan berbicara paling jujur nanti sore.
Selama jam‑jam persiapan di tempat, Faris dan timnya melakukan pengecekan terakhir: menyetel karburator sesuai kondisi udara dan suhu, memeriksa tekanan ban, kekencangan rantai, kelancaran rem, serta posisi tuas yang pas bagi postur tubuh pembalap. Semuanya dilakukan perlahan tapi pasti, tanpa terburu‑buru meski waktu makin mendekati jadwal uji coba.
Bapak dan Ibu duduk di bangku penonton yang agak jauh namun tetap terlihat jelas ke arah tempat kerja anak‑anaknya. Maya dan Miya sibuk membagikan air minum dan kain lap jika diperlukan, sekaligus menyampaikan pesan semangat dari orang tua.
Lihatlah betapa tenangnya dia.bisik Ibu kepada suaminya, seolah dia sudah tahu persis apa yang harus dilakukan.
Benar.jawab Bapak sambil tersenyum bangga, ketenangan itu lahir dari keyakinan bahwa setiap langkah sudah dilakukan dengan benar dan jujur.
Menjelang sore, jadwal sesi latihan resmi dimulai. Saat nama Tim Hidayat Bersaudara dipanggil, Faris melangkah tenang ke lintasan sambil memakai perlengkapan keselamatan lengkap—helm, sarung tangan, dan pakaian pelindung yang sederhana namun kuat. Sebelum naik ke sadel, ia menoleh sejenak ke arah keluarganya dan mengangkat tangan perlahan—tanda bahwa semuanya sudah siap.