NovelToon NovelToon
Cinta Sang Ratu Bayangan

Cinta Sang Ratu Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: vier08

Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.

Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.

Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.

"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.

Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGGALI IDENTITAS

"Tapi untuk saat ini, cuma kamu yang ada di sisiku saat semua orang ingin aku mati. Jadi, aku tidak punya pilihan selain percaya, kan?" ucap Arlon, menatap Elena dengan tatapan dalam nya.

Elena terdiam, ada rasa aneh yang menyelinap di hatinya mendengar ucapan tulus itu, tidak ingin terbawa perasaan yang lebih jauh, Elana segera berdiri untuk menutupi kecanggungannya.

"Sudahlah, jangan bicara drama," ucap Elena, mengalihkan pandangan nya.

"El...." panggil Pangeran Arlon.

"Apa lagi?" tanya Elena, melirik Pengeran Arlon.

"Sini duduk lagi," ucap Arlon, lembut.

Arlon duduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada pintu yang tertutup. Napasnya masih berat, dan keringat dingin membasahi seluruh kemejanya, pertunjukan di aula tadi benar-benar menguras sisa energinya, meskipun Elena terus memberikan kekuatan lewat sentuhan, mereka.

"Satu-satunya hal yang membuatku tenang adalah fakta bahwa kamu tidak meminum teh itu, El," bisik Arlon, dengan suara berat nya.

"Wanita itu... dia terang-terangan ingin meracuniku di depannya sendiri, dia benar-benar sudah kehilangan kesabaran," ucap Elena, mengingat kejadian tadi saat dia datang ke undangan minum teh dari Ratu.

"Bukan cuma kehilangan kesabaran, Elena. Dia mulai takut," ucap Arlon menatap Elena lekat-lekat.

"Dia melihat bagaimana kamu menatapnya, bagaimana kamu bergerak, wanita ular itu, dia mulai sadar kamu bukan sekadar gadis desa yang dia bawa kesini, untuk menjadi pengantin ku," lanjut Pangeran Arlon.

Elena terdiam, dia berjalan menuju meja dan mulai membersihkan belati kesayangan nya, kebiasaannya setiap kali dia merasa gelisah.

"Kalau dia mencari tahu tentang aku, dia hanya akan menemukan catatan di klan pembunuh bayaran rendahan. Tidak ada yang spesial," ucap Elena, tanpa mengalihkan pandangannya.

"Kamu yakin?" tanya Arlon bangkit dengan susah payah, mendekati Elena.

"Bahkan aku sendiri merasakannya, El, kamu tidak sesederhana itu, setiap kali kita bersentuhan, ada sesuatu di dalam darahku yang bereaksi, sesuatu yang rasanya jauh lebih kuat dari sekadar energi naga peninggalan ibundaku," ucap Pangeran Arlon, pelan.

Elena menghentikan gerakannya, dia tiba-tiba teringat sensasi panas di dadanya tadi saat mereka berdekatan di arena.

"Itu cuma imajinasimu, Arlon, kamu terlalu banyak minum cairan biru dari pria misterius itu," ucap Elena, datar.

"Mungkin," jawab Arlon pendek, namun matanya tidak lepas dari Elena.

"Tapi Selena punya jaringan mata-mata yang bisa menggali sampai ke liang kubur, jika ada satu saja celah dalam identitasmu, dia akan menemukannya," lanjut Pangeran Arlon, cukup khawatir .

Tiba-tiba, suara kepakan sayap burung terdengar di jendela, seekor burung gagak hitam kecil mendarat di sana, di kakinya terikat sebuah gulungan kecil berwarna merah darah.

Elena dengan sigap mengambilnya. Begitu dia membaca isinya, wajahnya berubah pucat.

"Ada apa?" tanya Arlon, suaranya berubah serius.

"Ini dari Ayah Angkat ku di klan pembunuh," bisik Elena.

"Dia bilang, ada seseorang yang menawarkan hadiah sangat besar untuk informasi tentang kelahiranku. Seseorang dari istana Belmont," lanjut Elena, dingin.

"Selena, dia bergerak lebih cepat dari yang kubayangkan," ucap Arlon mengepalkan tangannya kuat.

"Masalahnya adalah, Ayahku bilang, dia sendiri tidak tahu aku siapa, dia menemukanku di reruntuhan sebuah desa yang terbakar habis oleh Api Putih dua puluh tahun lalu. Desa yang seharusnya tidak pernah ada dalam peta," ucap Elena menatap Arlon dengan mata yang terlihat bingung,

 "Api Putih?" tanya Arlon tertegun.

"I-itu... itu legenda klan yang sudah punah, Elena, klan yang konon menjadi pasangan abadi para Naga sebelum mereka dikhianati," ucap Arlon, menatap Elena, dengan pandangan yang sulit di jelaskan.

Suasana di paviliun mendadak menjadi sangat dingin, meski di luar hujan sudah berhenti.

Elena merasakan dadanya kembali berdenyut panas, seolah-olah darahnya sedang mendidih mendengar kata-kata Arlon.

"Jangan katakan hal-hal yang tidak masuk akal," ucap Elena mencoba mengelak, tapi suaranya bergetar.

"Kenapa kamu takut, El?" tanya Arlon melangkah maju, meraih tangan Elena yang memegang gulungan surat itu.

"Dengarkan aku, kalau Selena berhasil menemukan siapa kamu sebelum kita siap, dia tidak akan hanya membunuhmu, tapi dia akan menjadikanmu alat, atau memusnahkan mu agar aku tidak pernah bisa bangkit sepenuhnya," lanjut Arlon, menggenggam tangan Elena, lembut.

Elena menatap tangan Arlon yang menggenggamnya, kali ini, dia tidak menarik tangannya, justru dia merasa butuh pegangan itu.

"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kalau identitasku benar-benar berbahaya, aku adalah ancaman buatmu," tanya Elena, khawatir.

Arlon menyeringai, sebuah seringai yang kali ini tidak mengandung ejekan, melainkan tekad yang kuat.

"Ancaman? Kamu adalah satu-satunya sekutuku," ucap Arlon, tersenyum miring.

"Jika dunia ini ingin memburu mu, maka sang Naga harus bangun lebih cepat untuk melindungi milik nya, kita harus mempercepat latihan fisik ku dan kendali energiku, kita tidak punya waktu sampai Festival Musim Semi," ucap Arlon, dengan mata berkilat tajam dan penuh tekad.

"Maksudmu?" tanya Elena, mengerutkan keningnya.

"Malam ini, jangan cuma peluk aku dari belakang," jawab Arlon menarik Elena mendekat hingga napas mereka beradu.

"Aku ingin kamu menyalurkan energi itu langsung ke jantungku, kita akan buka paksa segel naga ini, meskipun rasanya akan seperti terbakar hidup-hidup," lanjut Arlon, menatap dalam mata Elena.

Elena melihat kesungguhan di mata Arlon, dia tahu, babak baru dalam perang ini bukan lagi soal takhta, tapi soal melindungi.

"Baiklah," bisik Elena, tangannya perlahan naik ke tengkuk Arlon.

"Tapi kalau kamu mati karena tidak kuat menahan energiku, jangan salahkan aku di alam baka nanti," ucap Elena, mengelus rahang tegas Pangeran Arlon.

"Kalau aku mati, aku akan menyeretmu ikut denganku, karena di sana pun aku tetap butuh istri galak sepertimu," jawab Arlon terkekeh pelan di sela ketegangannya.

Elena terdiam, matanya menatap dalam ke netra Arlon yang berkilat penuh tekad, panggilan istri yang biasanya akan membuatnya melempar belati, tapi kali ini, ada getaran lain yang menyelinap di dadanya, sebuah rasa hangat yang asing.

"Duduklah," perintah Elena pelan.

Arlon menurut, dia duduk bersila di tengah lantai kayu yang berderit.

Elena berlutut tepat di hadapannya, jarak mereka begitu dekat hingga aroma keringat bercampur parfum Arlon yang tertinggal di baju Arlon tercium jelas.

"Ingat! Kalau kamu merasa panas, jangan dilawan, biarkan dia mengalir," ucap Elena serius, perlahan menempelkan kedua telapak tangannya tepat di dada Arlon, di mana jantung pria itu berdegup kencang di balik kemeja tipisnya.

Deg

Saat kulit mereka bersentuhan, Arlon tersentak, bukan karena sakit, tapi karena ledakan kehangatan yang mendadak menyerbu seluruh nadinya.

"Ugh..." Arlon mengerang, tangannya otomatis mencengkeram pergelangan tangan Elena untuk mencari tumpuan.

"El... ini... ini jauh lebih kuat dari biasanya," rintih Pangeran Arlon, lirih.

"Fokus, Arlon! Jangan biarkan energiku berhenti di satu tempat," bentak Elena kecil, meskipun dahi dan lehernya sendiri mulai dibanjiri keringat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!