🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22. Otak mesum dan pria panggilan?
Pukul 01.34 dini hari.
BRUK
Sekar terbangun dari tidurnya, kedua bola matanya berkedip. Ia memeriksa dirinya, apakah benar dirinya tidak pakai baju? Namun setelah semuanya di cek ternyata ia masih pakai baju semalam saat pergi ke alun-alun Tarogong, bahkan pashminanya masih terpakai dan berantakan.
Bukannya tadi udah gak pake kerudung?
Galang meraih buku tebal yang barusan terjatuh.
Pria tinggi itu menoleh ke arah ranjang dimana Sekar terlihat linglung.
"Kenapa bangun?" tanya Galang seraya meraih jam tangan dan melingkarkannya di pergelangan tangan kirinya.
"Tadi...anu A...aku..."
Galang memasukkan beberapa alat dan dokumen ke dalam tas kerjanya. Sekar memperhatikan suaminya, masih mengenakan pakaian yang sama. Kaus putih berlengan pendek dan celana bahan abu gelap. Rambutnya terlihat sedikit berantakan seolah baru bangun beberapa menit berlalu.
Bukannya tadi Galang sedang meminta jatah padanya? Bahkan Galang dan dirinya sempat bercumbu mesra di ruang tamu.
"Apa itu cuma mimpi?!" gumam Sekar seraya langsung duduk.
Galang melirik gadis itu yang kini terlihat shock sendiri.
Galang berdeham, "tadi sepulang dari alun-alun kamu tidur, udah aku bangunin tapi kamu gak bangun-bangun. Ya udah, aku terpaksa gendong kamu."
Sekar kali ini menoleh ke arah suaminya yang sudah menenteng tasnya.
"Jadi tadi cuma mimpi?" tanya Sekar dengan nada kecewa.
Alis Galang bertautan, heran melihat gumaman gadis itu. "Maksud kamu mimpi apa?"
Sekar kali ini sepenuhnya sadar, "A Galang mau kemana?"
"Rumah sakit?"
Galang mengangguk, "ada CITO."
Sekar menatap jam dinding. "Jam segini?"
"Ya. Sekarang kamu ngerti kan kenapa Rendi manggil aku pria panggilan?"
Sekar menatap suaminya sekali lagi.
"Aku berangkat, kamu tidur aja lagi."
Galang membuka pintu.
"Pulang jam berapa?"
"Tergantung, jangan tunggu aku."
"Jangan lupa kunci pintu lagi."
Galang tidak menjawab. Pintu kamar tertutup lagi.
Sedangkan Sekar, ia membanting bantal hingga jatuh ke lantai.
"Kyaaaaa!!!! Jadi tadi cuma mimpi? Sekar!!! Kamu ngapain mimpi kissing segala sih sama A Galang?!" serunya.
Galang yang masih di depan pintu diam sesaat, telinganya sangat aktif malam ini. Ia menelan ludahnya susah payah saat tahu mimpi apa yang barusan di alami istri kecilnya itu.
"Sekar!!! Kenapa otakmu jadi mesum begini?!!!!!!"
Galang menggelengkan kepalanya, "gadis aneh." gumamnya lalu kembali meneruskan langkahnya.
Sekar mendengar pintu di tutup.
Bola matanya membulat sempurna, "apa dia denger aku barusan?!" ujarnya seraya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Sekar menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur, menggerakkan kakinya bak tengah tantrum menangis, namun kali ini gadis itu tantrum karena malu. Ia memukul-mukul bantal.
"Maluuuuuu!!!!!" teriaknya di balik bantal.
.
.
Langit gelap kebiruan ketika Sekar selesai melipat mukenanya pelan-pelan.
Udara subuh masuk dari jendela ruang tengah yang sedikit terbuka, membawa hawa dingin khas Garut selepas malam panjang. Rumah itu masih sunyi. Hanya terdengar suara detik jam dinding dan sesekali kendaraan jauh di luar sana.
Rambut Sekar masih basah.
Beberapa helainya masih menempel di leher dan pipi karena ia baru saja mandi sebelum adzan subuh tadi. Wajah perempuan itu tampak segar meski matanya masih menyimpan rasa malu yang belum hilang sejak dini hari.
Ia bahkan tidak berani mengingat mimpinya lagi.
"Astaghfirullah..." gumamnya pelan sambil menepuk pipinya sendiri.
Bukankah memang harus mandi wajib?
Memikirkan itu saja membuat telinganya memanas lagi.
Sekar baru saja hendak masuk kamar ketika suara pintu utama terdengar dibuka dari luar.
Klik.
Lalu ucapan salam dengan suara rendah dan lelah terdengar.
"Assalamualaikum..."
Sekar refleks menegang.
A Galang pulang!
Entah kenapa jantungnya mendadak berdegup lebih cepat. Padahal biasanya ia biasa saja mendengar suara laki-laki itu pulang dari rumah sakit.
Tapi setelah kejadian dini hari tadi...
"Ya Allah," desahnya seraya memejamkan mata sebentar.
Sekar buru-buru meletakkan mukena di atas kursi lalu berusaha bersikap normal.
"Waalaikumsalam..."
Namun suaranya malah terdengar kecil dan salah tingkah sendiri.
Ia keluar dari kamar perlahan.
Daster panjang berwarna maroon yang dikenakannya bergerak lembut mengikuti langkahnya. Rambut hitamnya yang masih setengah basah terurai sederhana di belakang punggung.
Begitu sampai ruang tengah, langkahnya melambat.
Galang baru saja menutup pintu rumah lalu berjalan ke arah ruang tengah, pria itu terlihat sangat lelah.
Jas dokternya di sampirkan di lengan, rambutnya sedikit berantakan, sementara wajahnya tampak pucat karena semalaman berjaga operasi. Ada bekas letih jelas di matanya.
Namun ketika Galang menoleh, tatapannya langsung jatuh pada Sekar.
Diam beberapa detik.
Rambut gadis itu basah, wajah cantiknya ketara jelas habis wudhu. Bahkan sekarang Sekar sudah memakai daster rumahan. Dan entah kenapa, kalimat Sekar dini hari tadi otomatis terlintas lagi di kepala Galang.
"Kyaaaaa!!!! Jadi tadi cuma mimpi? Sekar!!! Kamu ngapain mimpi kissing segala sih sama A Galang?!"
Galang langsung mengalihkan pandangan begitu saja sambil mengusap tengkuk pelan.
Sekar yang tidak tahu apa-apa malah makin salah tingkah sendiri saat sadar Galang memperhatikannya.
"U-udah selesai operasinya?"
"Hm."
"Pasiennya gimana?"
"Selamat. Bayinya juga."
Sekar mengangguk kecil lega.
Suasana kembali mendadak canggung.
"Aku mau tidur sebentar."
Sekar langsung menoleh.
"Tolong bangunin jam enam."
"Hah? Kenapa cepat banget?"
"Ada visit pagi."
"Oh..."
Galang berjalan melewati sekar menuju kamar, lalu berhenti sebentar di dekat perempuan itu.
"Lain kali jangan nonton film aneh-aneh."
Kalimat itu sukses membuat Sekar kembali salah tingkah.
"I-iya...hah?!" gumam Sekar.
Galang menahan tawa. "Jangan asal buka laptopku, apalagi nonton itu. Itu khusus buat orang dewasa."
Kalimat itu berhasil membuat Sekar pias. rupanya ia ketahuan membuka salah satu file film koleksi Galang di laptop yang di tinggalkan Galang di rumah.
Sekar menelan ludahnya. "I-itu juga laptop punya A Galang, lagian kenapa juga A Galang koleksi film-film begituan. A-aku juga bukan anak kecil." Sungut Sekar membela diri.
Galang membalikkan tubuhnya, lalu berjalan mendekat dan mengikis tempat gadis itu. Saat Sekar terpojok, mereka diam. Galang menatapnya.
Sekar mengingat adengan ini di mimpinya semalam. Gadis itu menegang saat Galang merunduk dan berbisik.
"Film itu bukan punyaku, tapi punya Ardi."
Galang kembali menarik tubuhnya dan menatap ekspresi gadis di hadapannya. Entah kenapa Galang menyukai hal ini, bukan karena dia seorang pria dewasa yang sudah sah sebagai suami, namun ia suka melihat istri kecilnya jika terlihat terkejut, dan salah tingkah.
Sekar menelan ludahnya, bibir tipis itu mengerucut kesal.
"A-aku mau ngepel teras." Ujar Sekar pada akhirnya.
Galang mundur, membiarkan gadis itu pergi dengan kedua pipi merahnya.
Entah sejak kapan ia menyukai hal-hal seperti ini.
Apa mungkin hatinya sudah terbuka?
Galang menatap punggung kecil itu menjauh darinya, lalu tersenyum kecil sebelum akhirnya ia berjalan ke kamar untuk tidur sebentar.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Halo, apa kabar????
Jangan lupa komen, like, vote, dan subscribe 🫶
Bersambung...