NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMPAT YANG DISEBUT RUMAH

Pagar yang terbuat dari susunan bata yang dicat putih, gerbang masuk yang terbuat dari besi hitam. Didalam pagar yang menjulang tinggi itu, terdapat rumah bertipe 60. Rumah tersebut berwarna putih dengan atap yang berwarna hijau. Meski bertipe 60, rumah tersebut terlihat lebih besar dari seharusnya. Itu karena adanya penambahan ruang dari bangunan dasar, membuat bentuk bangunannya sudah tidak sama lagi dengan tipe 60 standar.

Seperti rumah pada umumnya, terdapat pintu utama untuk masuk ke dalam. Yang menjadi pembeda adalah pintu utama tidak terlalu terlihat dari luar. Jika ada orang asing yang baru pertama kali datang, mungkin mereka akan mengetuk jendela yang berada paling depan dari rumah tersebut. Mereka akan mengira kalau itu satu – satunya cara untuk masuk. Padahal, sebenarnya jendela itu mengarah ke kamar, bukan ke ruang tamu. Tapi, mau bagaimana? Aku mungkin akan melakukan hal yang sama kalau aku bukanlah penghuni asli dari rumah tersebut.

Kulangkahkan kaki ke sebelah kanan bangunan. Terlihat sebuah pelataran yang terdapat susunan rak. Disalah satu rak tersebut, aku melihat sepatu Ayah yang sudah tersusun rapi, kuletakkan sendal di samping sepatu Ayah. Sekarang aku berada di depan pintu utama untuk bersiap – siap masuk. Akhirnya aku kembali ke rumah. Sudah berapa lama aku tidak pulang sejak berada dirumah sakit? Aku pikir itu sudah lebih dari seminggu. Aku tidak pernah bertemu secara langsung dengan Ayah selama itu. Bukan berarti Ayah tidak menjenguk. Ayah datang sesekali saat aku sedang tidur, aku dapat informasi tersebut dari teman – teman yang menjagaku secara bergantian. Ketika aku bangun, Ayah sudah tidak ada. Mungkin disengaja, mungkin juga tidak. Tidak ada yang menanyakan.

Padahal aku yakin kalau Ayah berada dibalik pintu yang ada dihadapanku sekarang, tapi entah kenapa aku mulai ragu untuk masuk. Aku memang sempat percaya diri untuk menghadapi Ayah, hanya saja perubahan tidak bisa terjadi begitu saja. Aku yang sudah tidak berkomunikasi dengan Ayah selama bertahun – tahun, tidak bisa begitu saja memulai percakapan. Aku juga tidak tau apa yang ingin dibahas dengan Ayah. Aku tidak tau kesukaannya, aku tidak tau apa yang Ayah lakukan sekarang, aku juga tidak tau apa kami masih bisa disebut keluarga – Ah! Aku tau! Bagaimana kalau besok? Sekarang sudah malam, pasti Ayah sudah lelah. Mungkin Ayah tertidur. Benar! Aku tidak harus menghadapinya sekarang, masih ada lain waktu. Aku tidak perlu terburu – buru. Aku perlu menyiapkan banyak hal agar bisa menghadapi Ayah, dengan begitu aku bisa menyelesaikannya dengan sempurna.

Sampai kapan?

Lagi – lagi aku ingin melarikan diri. Padahal aku sudah diberi kesempatan untuk tetap hidup. Kalau nanti, tentu kemungkinan untuk menghadapi Ayah akan jauh lebih baik. Tapi, siapa yang menjamin kalau aku masih hidup? Siapa yang jamin kalau Ayah akan tetap bernapas? Tidak ada yang tau akan hal itu, memperkirakannya pun tidak mungkin, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah melakukan yang terbaik. Memanfaatkan setiap waktu yang diberikan untuk melangkah lebih jauh. Sebagaimana memanfaatkan waktu sehat diwaktu sakit, memanfaatkan masa muda sebelum tua, dan memanfaatkan waktu hidup sebelum mati. Aku tidak mau kembali menyesal untuk kesekian kalinya. Terkadang menghadapi secara langsung lebih baik dibandingkan menunggu waktu yang tepat.

Kutarik ganggang pintu seraya mendorongnya kedepan. Tidak kudapati cahaya lampu yang menerangi ruangan, hanya ada kegelapan. Kebanyakan lampu tidak menyala. Ruang – ruang terasa mati. Kucoba cek satu persatu ruangan umum untuk memastikan keberadaan Ayah, dimulai dari ruang utama. Tidak kudapati adanya tanda – tanda kehidupan. Kuteruskan langkah ke ruang yang berdekatan berikutnya. Dari sekian banyak ruang yang coba kumasuki, hanya ada satu ruangan yang lampunya tetap menyala. Ruang yang begitu banyak meninggalkan kenangan didalamnya. Ruang dimana aku – kami sering menghabiskan waktu untuk sekedar bercerita tentang keseharian bersama – sama. Ruang yang selalu menjadi tempat kami berkumpul pagi dan malam. Ruang yang kini menjadi asing. Ruang makan.

Aku melihat seseorang yang sedang duduk menyantap makanan. Seorang pria paruh baya yang terlihat sangat kelelahan. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari ingatanku. Apa Ayah kurang makan? Aku juga hanya melihat mie tanpa lauk yang ada di meja. Apa selama ini Ayah terus – terusan makan begitu? Kacamata yang sering Ayah gunakan, rasanya juga lebih tebal. Apa penglihatannya semakin buruk? Pandanganku tidak setajam biasa. Aku tidak bisa melihat ekspresi Ayah. Mungkin karena sekarang sudah malam, atau bisa juga karena aku yang belum sembuh total. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kuajukan ketika lama tidak melihat Ayah, tapi tidak ada satu katapun yang bisa terucap.

“Sudah pulang?”

Aku reflek menunduk ketika Ayah menatap. Aku tidak tau kenapa aku melakukannya. “Iya.”

Keheningan. Pertanda sebuah hubungan keluarga yang tidak harmonis. Percakapan tidak bisa terjadi begitu saja dalam hubungan yang seperti itu. Meski begitu banyak pertanyaan yang ingin diungkapkan, semua tertahan oleh perasaan yang lebih kuat. Rasa cemas. Apa yang terjadi kalau aku mulai bicara? Apa hubungan kami akan menjadi lebih baik? Atau malah hubungan kami akan semakin buruk? Bagaimana harus memulai semuanya agar bisa berakhir dengan baik? Apa yang sebaiknya aku ucapan? Semua keraguan menguatkan rasa cemas yang ada pada diriku.

“Ayah sudah selesai.”

Kudengar suara tegukan air. Kudengar suara langkah yang berjalan mendekat. Ayah melewatiku yang masih tertunduk. Aku menghela napas. Apa aku merasa lega? Aku merasa lebih baik setelah Ayah pergi? Aneh. Sebenarnya aku menganggap Ayah siapa? Kenapa aku merasa lebih baik ketika Ayah menjauh? Kenapa selama ini aku beranggapan bisa melewati hari – hari tanpa Ayah? Apa artinya Ayah untukku? Dia orang yang kebetulan serumah denganku. Dia hanya satu orang dari banyaknya manusia yang terlibat denganku. Dia hanya salah satu orang asing yang kebetulan bersamaku sejak lahir. Dia hanya salah satu diantara dua orang yang membesarkanku. Dia …, satu – satunya keluarga yang kumiliki sekarang. Meski aku tidak memperdulikannya, meski aku selalu tidak menghiraukannya. Hanya Ayah satu – satunya orang yang tetap peduli padaku, apapun yang terjadi. Dia melakukannya tanpa pamrih, tapi balasan apa yang sudah aku berikan padanya? Menyenangkannya untuk sekali pun tidak pernah. “Tunggu. Ada yang mau dibicarakan.”

Duduk semeja bersama Ayahku. Ayah tepat berada di seberangku, tapi aku tetap tidak bisa melihatnya. Mataku tertuju pada kedua tanganku yang saling menggenggam. Meski aku sudah memberanikan diri untuk memulai pembicaraan, aku tetap kesulitan untuk melanjutkannya. Ayah juga tidak ada inisiatif untuk membuka obrolan, mungkin Ayah menunggu aku bicara terlebih dulu karena memang aku yang bilang ingin bicara.

Detik – detik berlalu. Saking sunyi suasana yang tercipta sekarang, aku bisa mendengar dengan jelas tetesan air keran yang biasa digunakan untuk mencuci piring. Mungkin keran tersebut belum tertutup sepenuhnya setelah digunakan oleh Ayah untuk mencuci tangan. Suara jangkrik terasa lebih nyaring dari biasanya. Malahan, aku baru sadar kalau suara jangkrik bisa terdengar dari dalam rumahku. Napasku terasa sedikit berat. Aku bisa merasakan dengan jelas setiap udara yang masuk dan keluar melalui hidungku. Tampaknya, aku sedang merasa gugup.

Percakapan adalah hal yang mudah. Padahal aku tau itu. Aku hanya perlu membuka mulut untuk bicara. Aku cuman perlu mengatakan apa yang ada didalam pikiranku. Aku tau. Aku mengerti. Tapi, aku tetap tidak bisa melakukannya. Sebenarnya kenapa aku gugup? Aku hanya sedang bicara dengan Ayahku. Apa yang salah dengan hal itu? Kenapa harus ada rasa gugup untuk sesuatu yang tidak salah?

“Ma –“ Sial! Kami bicara diwaktu yang sama. Situasi terburuk dalam suasana seperti sekarang. Padahal aku sudah menyiapkan mental untuk mulai bicara. Aku pikir Ayah hanya akan menungguku, ternyata tidak. Mungkin Ayah juga merasakan ketidaknyamanan dari suasana yang tercipta. Ayah ingin merubah suasana karena aku terlalu lama diam. Aku pikir kepercayaan diriku mulai menurun. “Silahkan Ayah duluan.”

“Udah sehat?”

“Masih sedikit sakit, tapi udah mendingan.”

“Bagus.”

“Iya.”

“….”

“….”

“Kamu tadi mau bilang apa?”

“Eh iya, itu …, aku minta maaf udah buat ayah khawatir.”

“Tidak apa.”

“Iya.”

 Selasai sudah. Percakapan benar – benar tidak bisa mengalir. Padahal aku yakin kalau kami berdua menginginkan hal yang sama. Aku yakin kalau Ayah akan sependapat denganku. Kami memiliki hal yang ingin diwujudkan bersama. Kami hanya tidak bisa mengutarakannya. Ada sesuatu yang menghalangiku dan Ayah untuk bisa bersama, membuat hal simpel seperti menjadi sebuah keluarga biasa terasa mustahil. Kalau bisa, kalau saja kami berdua bisa teriak bersama. Aku yakin kami berdua akan meneriakkan hal yang sama. Kami berdua sebenarnya cuman ingin satu hal. Kami hanya ingin kembali seperti semula seperti sebelum Mama meninggal.

Pikiranku mulai terasa kosong. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa. Berbeda dengan situasi yang pernah aku hadapi sebelumnya, aku sama sekali tidak pernah membayangkan untuk berbaikan dengan Ayahku. Mungkin terdengar sangat buruk, tapi itu adalah sebuah fakta. Tidak pernah terpikirkan olehku untuk kembali menjadi keluarga normal setelah apa yang terjadi. Aku sudah menyerah sejak semua berubah. Tidak ada alasan bagiku untuk memperbaikinya.

“Waktu kamu bingung mau ngapain, kamu cuman perlu ngelakuin satu hal.”

 Aku tidak tau karena alasan apa, hanya saja nasehat yang pernah Bang Nanang ucapkan saat dirumah sakit, terlintas dalam benakku. Mungkin karena kalimat yang dia sebutkan relate dengan apa yang terjadi padaku sekarang. Percakapan itu terjadi saat teman sekelasku sibuk mempersiapkan diri untuk perpisahan dan hal semacamnya. Hanya ada aku dan Bang Nanang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!