NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: RETAKAN DI MEJA MAKAN

RETAKAN DI MEJA MAKAN

​Pagi itu, kabut tipis sisa hujan semalam masih enggan beranjak dari halaman belakang kediaman Pratama. Sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden ruang tengah tampak redup, seolah enggan menerangi rumah yang fondasi moralnya sudah runtuh sepenuhnya.

​Amira melangkah perlahan menaiki tangga dari ruang bawah tanah. Tubuhnya terasa begitu ringkih; sisa-sisa mual dari morning sickness berpadu dengan rasa sakit yang berdenyut di pipi kanannya yang masih membengkak keunguan. Namun, sepasang matanya yang sembap tidak lagi memancarkan keputusasaan. Sorot matanya kini sedingin es di kutub, kosong namun terarah dengan tajam.

​Di atas meja makan marmer hitam yang mewah, Amira meletakkan sebuah gelas kaca kosong. Gelas itu sengaja ia benturkan sedikit ke tepian wastafel sebelum dibawa ke meja, menyisakan sebaris retakan rambut yang menjalar dari bibir gelas hingga ke dasarnya. Ia menaruh gelas retak itu tepat di atas tatakan kain sutra tempat Aris biasa duduk menikmati kopi paginya.

​“Retak ini sepertimu, Aris. Tampak utuh dari luar, tapi siap hancur berkeping-keping dalam sekali sentuh,” bisik Amira dalam hati, sudut bibirnya yang pecah terangkat membentuk senyuman getir yang menyakitkan.

​Tanpa menunggu penghuni rumah lantai atas terbangun dari sisa malam mereka yang penuh dosa, Amira melangkah keluar melalui pintu belakang. Ia mengenakan gamis hitam longgar dan khimar panjang sewarna yang sengaja ia tarik agak ke depan untuk menutupi memar di pipi kanannya. Di dalam tas kain sederhana yang ia peluk erat, tersimpan amplop cokelat dari Pak Sanusi dan dokumen rahasia dua garis merahnya.

​Tujuannya pagi ini sangat jelas: Rumah Sakit Medika, tempat dokter spesialis kandungan pilihan Pak Sanusi praktik, sekaligus tempat ia akan melakukan visum resmi atas kekerasan fisik yang dilakukan Aris kemarin siang.

​Aroma karbol yang tajam menyambut Amira begitu ia melangkah masuk ke dalam ruang poli kebidanan yang sepi di lantai tiga. Tak lama menunggu, namanya dipanggil.

​Di dalam ruangan yang sejuk itu, seorang dokter wanita paruh baya dengan papan nama dr. Sarah, Sp.OG menyambutnya dengan senyum hangat yang menenangkan. Namun, begitu dr. Sarah meminta Amira membuka khimarnya untuk memeriksa tekanan darah, senyum dokter itu langsung lenyap.

​"Ya Allah, Ibu Amira... wajah Anda kenapa?" Dokter Sarah terpekik kecil, jemarinya yang terbungkus sarung tangan karet dengan lembut menyentuh rahang kanan Amira yang membiru dan sudut bibirnya yang robek.

​Amira menarik napas panjang, mencoba menahan rasa ngilu yang menjalar. "Saya habis dipukul suami saya kemarin siang, Dok. Saya butuh surat visum resmi dari rumah sakit ini untuk keperluan hukum."

​Dokter Sarah menatap Amira dengan pandangan penuh rasa iba sekaligus hormat atas ketegaran wanita di depannya. "Baik, Ibu. Kita akan lakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan saya akan buatkan laporan visum et repertum-nya. Tapi sekarang, mari kita periksa kandungan Anda terlebih dahulu. Pak Sanusi bilang Anda mencurigai adanya kehamilan."

​Amira mengangguk pendek. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang periksa. Saat gel dingin mulai dioleskan di atas perutnya yang masih rata, jantung Amira kembali berdegup kencang. Ada ketakutan besar yang tiba-tiba merayapi dinding rahimnya; ia takut stres luar biasa dan hantaman fisik kemarin berimbas buruk pada janinnya.

​Dokter Sarah menggerakkan stetoskop ultrasonografi (transducer) di atas perut Amira. Monitor di samping ranjang yang tadinya hanya menampilkan siluet abu-abu acak, tiba-tiba menangkap sebuah titik kecil berbentuk lingkaran sempurna di dalam kantung rahim.

​Dug-dug... dug-dug... dug-dug...

​Suara itu bergema di dalam ruangan yang sunyi. Suara detak jantung yang sangat cepat, halus, namun terdengar begitu perkasa dan penuh dengan daya hidup.

​Air mata Amira yang sejak kemarin ia tahan dengan paksa, akhirnya luruh membasahi pelipisnya. Itu adalah suara detak jantung anaknya. Makhluk kecil yang sedang berjuang hidup di tengah-tengah neraka yang diciptakan oleh ayahnya sendiri.

​"Kandungannya berusia sekitar lima minggu, Ibu Amira," ujar Dokter Sarah dengan suara yang melunak, matanya menatap monitor dengan binar haru. "Janinnya berkembang dengan sangat baik di dalam sini. Dia sangat kuat, seperti ibunya. Saya akan resepkan vitamin penguat kandungan dan asam folat. Ingat, Ibu tidak boleh terlalu stres setelah ini. Jaga kondisi fisik dan psikologis Anda demi anak ini."

​Amira mengangguk, jemarinya meremas sprei ranjang periksa dengan erat. "Ibu janji, Nak. Ibu akan hancurkan mereka sebelum mereka sempat menyentuh seujung kuku pun dari tubuhmu," sumpah Amira di dalam hatinya.

​Selesai pemeriksaan kandungan, Amira diarahkan ke ruang kedokteran forensik untuk pengambilan foto memar dan penyusunan berkas visum. Saat Amira menerima salinan dokumen visum yang distempel resmi oleh rumah sakit, ia merasa seolah baru saja menggenggam sebuah belati perak yang sangat tajam—senjata yang siap ia tancapkan tepat di leher reputasi Aris di pengadilan nanti.

​Sementara itu, jarum jam di kediaman Pratama sudah menunjukkan pukul delapan pagi.

​Aris melangkah turun dari lantai atas dengan kemeja yang sudah rapi, namun langkah kakinya tampak sedikit goyah akibat kelelahan pasca pergulatan panasnya bersama Lista hingga subuh tadi. Di belakangnya, Lista menyusul dengan gaun kerja berwarna pastel, wajahnya tampak berseri-seri penuh kemenangan.

​"Ibu mana, Lis?" tanya Aris sambil mendudukkan diri di kursi utama meja makan.

​"Bude masih di kamar mandi sepertinya, Mas," sahut Lista manja, langsung mengambil posisi di kursi sebelah Aris. Ia melirik ke arah meja makan, mencari-cari sarapan yang biasanya sudah tersaji rapi. "Lho... Mbak Amira belum masak ya? Kok mejanya kosong sekali, cuma ada..."

​Pandangan Lista terhenti pada sebuah gelas yang diletakkan di depan piring Aris.

​Aris mengernyitkan dahi. Ia mengulurkan tangannya yang kekar untuk meraih gelas tersebut, berniat menuangkan air dari teko. Namun, begitu jemarinya menyentuh permukaan kaca yang dingin, ia merasakan sesuatu yang janggal.

​Krek.

​Gelas itu tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian tepat di dalam genggaman Aris. Air sisa semalam yang ada di dalamnya tumpah membasahi celana kerja kain milik Aris, sementara pecahan kaca yang tajam hampir saja menggores telapak tangannya.

​"Sialan!" umpat Aris kasar, langsung berdiri dari kursinya sambil mengibaskan celananya yang basah. "Siapa yang menaruh gelas retak di sini?! Amira!!! KELUAR KAMU!"

​Teriakan amarah Aris bergaung memenuhi langit-langit rumah. Lista yang melihat hal itu langsung berpura-pura panik, ia mengambil tisu dan mencoba mengelap meja yang basah. "Astaga, Mas... Mbak Amira keterlaluan sekali. Apa dia sengaja mau mencelakai Mas Aris karena kejadian kemarin di ruang arsip?"

​Ibu Ratna yang baru keluar dari kamar mendengar keributan itu dan langsung berlari ke dapur. "Ada apa ini, Aris? Ya ampun, celanamu basah begitu! Mana si Amira?!"

​"Tidak tahu, Bu! Dia tidak ada di dapur!" jawab Aris dengan napas memburu, matanya menatap pecahan gelas di atas meja dengan rasa dongkol yang luar biasa. Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba menyelinap di sudut hatinya saat melihat retakan gelas itu—seolah gelas itu adalah sebuah pesan ancaman tersirat dari istrinya yang biasa penurut.

​"Paling dia kelayapan karena ngambek!" ketus Ibu Ratna, wajah keriputnya mendelik benci. "Sudah, Aris, jangan pikirkan perempuan gila itu. Biar Lista saja yang buatkan kopi baru untukmu. Kita harus fokus, siang ini kan kamu harus ke kantor bank swasta itu lagi untuk memperbaiki berkas finansial lima miliar yang kemarin dibilang cacat nomor seri jaminannya oleh pihak bank."

​Mendengar kata “finansial lima miliar”, Lista yang sedang memegang teko kopi mendadak menegang. Jari-jarinya mencengkeram gagang teko hingga memutih. Sial, ia hampir lupa kalau masalah nomor seri jaminan Amira kemarin gagal total karena sistem bank menolak verifikasi otomatis. Jika siang ini ia tidak bisa menunjukkan dokumen fisik asli yang ditandatangani Amira, pihak bank akan membatalkan pencairan dana ekspansi tersebut secara permanen.

​"Mas Aris..." Lista membalikkan badan, memasang wajah imut dan penuh kecemasan yang biasa menjadi senjatanya. "Soal berkas bank siang ini... bagaimana kalau kita minta Mbak Amira tanda tangan ulang secara fisik saja di atas materai? Biar pihak bank tidak banyak tanya lagi."

​Aris menghela napas panjang, merapikan kemejanya yang basah dengan gusar. "Iya, kamu benar. Nanti kalau perempuan itu pulang, saya paksa dia tanda tangan. Dia tidak punya hak untuk menolak."

​Tepat saat kalimat Aris selesai diucapkan, pintu belakang dapur terbuka halus.

​Amira melangkah masuk. Khimar hitamnya tampak sedikit basah oleh rintik gerimis di luar. Wajahnya tertutup rapat, namun aura yang dipancarkannya saat berjalan masuk ke dapur terasa begitu berbeda—begitu dingin dan sunyi, membuat Ibu Ratna yang biasanya langsung memaki mendadak terdiam selama beberapa detik.

​Aris melangkah maju, memblokir jalan Amira dengan tubuh tegapnya. "Dari mana saja kamu, Amira?! Dan apa maksudnya kamu menaruh gelas pecah di mejaku?!"

​Amira menghentikan langkahnya. Ia tidak mendongak, tidak juga mundur ketakutan seperti biasanya. Dengan gerakan lambat, ia menurunkan khimar yang menutupi wajahnya, menampilkan pipi kanannya yang bengkak membiru dengan bekas robekan darah yang mengering di sudut bibir akibat tamparan Aris kemarin.

​Melihat luka yang begitu kentara di wajah istrinya, Aris sempat tertegun sejenak. Ada secuil rasa bersalah yang melintas di matanya, namun egonya yang tinggi dengan cepat menekan rasa itu kembali.

​"Mas Aris minta aku tanda tangan berkas bank?" suara Amira terdengar sangat lirih, datar, tanpa emosi sama sekali. Ia menatap lurus ke arah dada kemeja Aris.

​Lista yang berdiri di dekat meja makan langsung menyela, mencoba memanfaatkan situasi sebelum Aris melunak. "Iya, Mbak Amira... ini demi kebaikan perusahaan Mas Aris juga. Mbak kan sebagai komisaris, harusnya mendukung suami, bukan malah merusak dokumen jaminan seperti kemarin..."

​Amira perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Lista. Tatapan mata Amira yang begitu kosong membuat Lista mendadak merinding dan menghentikan kalimatnya.

​"Aku akan tanda tangan, Lista. Aku akan berikan apa yang kalian butuhkan," ucap Amira dengan nada suara yang sangat tenang, namun terselip sebuah ritme misterius di dalamnya. Amira merogoh tas kainnya, berpura-pura mencari pulpen, namun di dalam sana, jemarinya justru meraba permukaan dingin map visum dari rumah sakit.

​Amira menatap Aris kembali, kali ini langsung mengunci sepasang mata suaminya. "Tapi dengan satu syarat, Mas. Aku minta uang belanja bulanan rumah ini dinaikkan dua kali lipat mulai hari ini. Karena... ada hal penting yang harus aku penuhi."

​Aris mendengus sinis, mengira Amira hanya sedang memanfaatkan momen untuk meminta uang demi keperluan pribadinya yang kusam. "Hanya itu? Uang? Dasar perempuan matre. Ya sudah, nanti saya transfer. Sekarang, ikut Lista ke ruang kerja atas dan tanda tangani berkas jaminan lima miliar itu!"

​Amira membalikkan badan, berjalan mengekor di belakang Lista menuju lantai atas dengan langkah yang tenang. Di balik punggung Lista yang berjalan dengan pinggul berlenggok penuh kemenangan, Amira menyunggingkan senyuman dinginnya di balik khimar hitam.

​“Masuklah ke dalam lubang perangkapmu sendiri, Lista,” batin Amira penuh kepuasan. Ia akan menandatangani berkas jaminan itu, namun ia sudah menyiapkan sebuah kejutan hukum bersama Pak Sanusi yang akan dikirimkan ke pihak bank tepat satu jam setelah dana lima miliar itu masuk ke rekening penampungan.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!