NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

Pepohonan mulai menipis.

Cahaya matahari yang sebelumnya terhalang dedaunan kini jatuh lebih bebas ke tanah. Suara hutan perlahan berubah—tidak lagi hanya angin dan daun, tapi sesuatu yang lain.

Jauh.

Samar.

Namun jelas.

Suara manusia.

Grachius menghentikan langkahnya sejenak.

Menatap ke depan.

Untuk pertama kalinya—

ia melihatnya.

Di kejauhan, berdiri dinding besar dari batu.

Tinggi.

Kokoh.

Dengan gerbang yang terbuka lebar.

“Kota Heimdall…”

Ia bergumam pelan.

Asap tipis terlihat naik dari dalam kota.

Suara ramai semakin jelas.

Langkah kaki.

Percakapan.

Logam beradu.

Dunia yang belum pernah ia sentuh sebelumnya—

kini tepat di depannya.

Grachius berjalan maju.

Keluar dari bayangan hutan.

Masuk ke jalan tanah yang mengarah langsung ke gerbang.

Beberapa orang terlihat di sana.

Pedagang.

Pengelana.

Penjaga.

Langkah Grachius tetap tenang.

Namun—

tatapannya mengamati segalanya.

Pakaian.

Senjata.

Gerakan.

Berbeda.

Semua terasa berbeda.

Saat ia mendekat—

dua penjaga di gerbang memperhatikannya.

“Berhenti.”

Grachius berhenti.

Salah satu penjaga melangkah maju.

Matanya menilai dari ujung kepala hingga kaki.

“Dari mana?”

Pertanyaan sederhana.

Namun terasa… asing.

Grachius terdiam sejenak.

“…hutan.”

Penjaga itu mengernyit.

Namun tidak bertanya lebih jauh.

“Tujuan?”

Sunyi sesaat.

Grachius menatap ke dalam kota.

“…lewat.”

Jawaban singkat.

Penjaga itu menatapnya beberapa detik lebih lama.

Seolah mencoba membaca sesuatu.

Lalu—

ia melangkah mundur.

“Jangan buat masalah.”

Grachius tidak menjawab.

Ia hanya berjalan.

Dan melewati gerbang itu.

Langkah pertama—

ke dunia manusia.

...----------------...

...----------------...

Di dalam—

suasana langsung berubah.

Suara ramai memenuhi udara.

Orang-orang berjalan ke segala arah.

Pedagang berteriak menawarkan dagangan.

Anak-anak berlari.

Logam berdentang dari kejauhan.

Grachius berhenti sejenak.

Matanya bergerak perlahan.

Mengamati semuanya.

Bangunan batu berjajar.

Jalan yang padat.

Wajah-wajah yang tidak ia kenal.

Untuk pertama kalinya—

ia berada di tengah keramaian.

“…ramai.”

Satu kata.

Namun cukup untuk menggambarkan semuanya.

Seorang pria hampir menabraknya.

“Lihat jalan!”

Grachius sedikit bergeser.

Tanpa emosi.

Ia kembali berjalan.

Namun lebih pelan.

Lebih hati-hati.

Tatapannya masih sama.

Tenang.

Namun tajam.

Pedang Enjin di pinggangnya menarik beberapa pandangan.

Namun tidak ada yang berani mendekat.

Ada sesuatu pada dirinya—

yang membuat orang lain memilih menjauh.

Grachius terus berjalan.

Menyusuri jalan kota.

Di atas—

langit tetap sama.

Namun di bawah—

segalanya berbeda.

Dan di antara keramaian itu—

tidak ada yang tahu—

siapa yang baru saja masuk ke kota mereka.

Atau…

apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

...----------------...

Di gerbang kota—

dua penjaga masih berdiri di tempat mereka.

Namun perhatian mereka… tidak lagi pada keramaian.

“Eh.”

Salah satu dari mereka menyenggol temannya pelan.

“Lihat yang tadi?”

Yang lain mengangguk sedikit.

“Yang dari hutan?”

“Iya.”

Sunyi sejenak.

“…aneh.”

Temannya menghela napas pendek.

“Semua orang dari hutan juga aneh.”

“Bukan itu.”

Ia menyipitkan mata, menatap ke arah dalam kota, seolah masih bisa melihat sosok itu.

“Matanya.”

“Kenapa?”

“…kuning.”

Ia berhenti sejenak.

“…kemerahan.”

Temannya mengernyit.

“Rambutnya juga.”

Sunyi.

“Putih… tapi ada warna.”

Angin berhembus melewati gerbang.

“…kayak matahari.”

Beberapa detik berlalu.

Temannya akhirnya mengangkat bahu.

“Selama dia gak bikin masalah…”

“…bukan urusan kita.”

Namun—

tatapan mereka masih tertuju ke dalam kota.

Seolah sesuatu… terasa tidak biasa.

...----------------...

...----------------...

Di dalam kota—

Grachius berjalan santai.

Langkahnya tidak terburu-buru.

Namun juga tidak lambat.

Matanya bergerak ke segala arah.

Bangunan.

Orang-orang.

Barang dagangan.

Segalanya terasa… baru.

“…ini…”

Ia berhenti sejenak.

Melihat seorang pandai besi yang sedang memukul logam panas.

Percikan api terbang.

Suara dentang menggema.

"…menarik.”

Ia melanjutkan langkahnya.

Seorang anak berlari melewatinya sambil tertawa.

Seorang wanita menawar harga di lapak.

Seorang pedagang berteriak menawarkan kain.

Kehidupan.

Hal yang selama ini hanya ia bayangkan—

kini ada di depannya.

Untuk sesaat—

ia hanya… mengamati.

Tanpa tujuan.

Tanpa pikiran berat.

Hanya… melihat.

Lalu—

aroma itu datang.

Hangat.

Lembut.

Grachius berhenti.

Menoleh.

Sebuah lapak kecil.

Dengan roti yang baru saja dipanggang.

Ia mendekat.

Seorang pedagang tua berdiri di belakangnya.

“Mau beli?”

Grachius mengangguk pelan.

“Satu.”

Pedagang itu mengambil roti hangat.

Mengulurkannya.

Grachius menerimanya.

Hangatnya langsung terasa di tangannya.

Namun—

ia berhenti.

“…uang.”

Ia terdiam sejenak.

Tangannya refleks menyentuh pinggangnya.

Tas kecil.

Dari Purus.

Ia membukanya.

Dan di dalam—

ada koin.

Mata Grachius sedikit melebar.

“…ada.”

Ia mengeluarkan beberapa koin perak.

Pedagang itu melirik.

“Lima Silvar?”

Grachius tidak menjawab.

Namun matanya mengamati koin itu.

“…ini cukup?”

Pedagang itu terkekeh kecil.

“Cukup banget.”

Grachius menyerahkan satu koin.

Pedagang itu mengambilnya.

Lalu memberikan kembali beberapa koin kecil.

“Enam Coppra.”

Grachius menerima kembalian itu.

Mengamatinya sejenak.

Koin perunggu.

Lebih kecil.

“…mengerti.”

Ia menyimpan semuanya kembali.

Lalu—

menggigit rotinya.

Hangat.

Lembut.

Untuk sesaat—

ia berhenti berjalan.

Menikmati.

Tanpa beban.

Tanpa tujuan.

Hanya… rasa sederhana.

Namun—

meski sederhana—

itu nyata.

Dan untuk pertama kalinya—

Grachius merasakan sesuatu yang tidak berhubungan dengan latihan…

atau balas dendam.

Kehidupan.

Ia kembali berjalan.

Roti di tangannya.

Pedang di pinggangnya.

Dan dunia di depannya—

semakin luas.

Namun di antara semua itu—

sesuatu tetap ada.

Diam.

Dalam.

Menunggu.

Dan Grachius—

masih berjalan menuju ke arahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!