NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Tamu Di Hari Minggu

Minggu pagi seharusnya menjadi waktu sakral bagi Cinta. Tidak ada alarm, tidak ada seragam yang harus disetrika, dan tidak ada jadwal OSIS yang menuntut perhatiannya. Rencananya sederhana yaitu hibernasi sampai tengah hari, lalu menghabiskan waktu dengan draf novelnya sambil sesekali mengemil cokelat pemberian Rian yang masih ia simpan dengan rapi.

Namun, ketenangan itu hancur saat pintu kamarnya diketuk dengan tidak sabar.

"Cinta... Bangun, Sayang. Ada temanmu di depan," suara Mamah terdengar dari balik pintu, terdengar sedikit terlalu bersemangat untuk ukuran pagi hari.

Cinta mengerang, menarik guling untuk menutupi telinganya. "Suruh masuk saja, Mah. Paling Sarah mau mengajak nonton drama Korea."

"Bukan Sarah, Kak," Mamah membuka pintu sedikit, menyembul dengan senyum menggoda yang membuat Cinta mendadak curiga.

"Ini cowok. Tinggi, ganteng, pakai jaket denim. Katanya mau jemput kamu. Kamu punya pacar kok tidak bilang-bilang sama Mamah?"

Mata Cinta langsung terbuka lebar. Seluruh kantuknya menguap seketika, digantikan oleh gelombang kepanikan yang luar biasa.

Tinggi? Jaket denim? Menjemput?

"M-mamah jangan bercanda! Siapa namanya?" tanya Cinta gagap, ia segera terduduk di tempat tidur.

"Dia bilang namanya Rian. Orangnya sopan, tadi langsung salim sama Mamah. Sekarang sedang duduk di ruang tamu. Cepat cuci muka, kasihan kalau disuruh menunggu lama!" Mamah tertawa kecil sebelum menutup pintu kembali, meninggalkan Cinta dalam kondisi setengah waras.

Cinta meloncat dari kasur. Ia berlari ke arah cermin riasnya dan hampir saja berteriak melihat pantulan dirinya sendiri. Rambutnya yang biasanya rapi kini mencuat ke segala arah, wajahnya khas muka bantal yang sembab, dan ia masih mengenakan piyama bergambar kartun yang sudah agak luntur.

"Aduh, Rian! Kenapa tidak bilang-bilang kalau mau datang!" umpat Cinta panik.

Ia segera berlari ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan kecepatan cahaya, menggosok gigi, dan mencoba merapikan rambutnya dengan sisir seadanya. Ia tidak punya waktu untuk mandi lama-lama atau berdandan. Cinta memilih pakaian yang paling aman namun tetap terlihat manis yaitu sebuah tunik berwarna krem dan celana kain yang nyaman. Ia memoleskan sedikit pelembap bibir agar wajahnya tidak terlihat terlalu pucat.

Dengan langkah ragu dan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, Cinta menuruni tangga. Saat sampai di ruang tamu, ia melihat pemandangan yang terasa sangat nyata namun sulit dipercaya.

Rian sedang duduk di sofa ruang tamu, tampak sangat tenang meski ia sedang berada di wilayah asing. Ia sedang berbincang kecil dengan Mamah yang tampak sangat antusias menawarkan kue-kue kering.

"Eh, ini anaknya sudah turun," seru Mamah sambil berdiri. "Mamah ke belakang dulu ya. Rian, silakan diminum tehnya."

Rian berdiri dengan sopan saat Mamah pergi, lalu pandangannya beralih ke arah Cinta.

Cinta berdiri kaku di dekat meja kayu. Ia merasa wajahnya sangat panas. "Rian? Kamu... kenapa tiba-tiba ada di sini? Dan bagaimana kamu tahu rumahku?"

Rian menatap Cinta dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia menyadari binar mata Cinta yang masih sedikit mengantuk dan sisa-sisa keterkejutan di wajah gadis itu. Sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat namun penuh arti muncul di bibirnya.

"Kemarin aku mengantarmu sampai depan pagar, ingat? Logika dasarnya, aku pasti tahu ini rumahmu," jawab Rian santai. "Maaf kalau aku mengganggu waktu tidurmu. Mamahmu bilang kamu baru bangun."

Cinta ingin sekali mengubur dirinya di bawah karpet saat itu juga. "Iya, ini hari Minggu, Rian. Biasanya aku memang istirahat lebih lama. Ada apa? Apa ada hal penting di sekolah?"

Rian menggeleng. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. "Tidak ada urusan sekolah. Aku cuma merasa bosan di rumah. Aku belum tahu banyak tentang kota ini. Aku kurang tahu tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi selain sekolah dan warung depan."

Ia diam sejenak, menatap Cinta dengan sorot mata yang menantang sekaligus memohon. "Aku ingin jalan-jalan hari ini. Dan menurutku, orang terbaik yang tahu setiap sudut kota ini dengan detail dan teratur adalah kamu. Jadi, mau menemaniku?"

Cinta terpaku. Rian mengajaknya jalan-jalan? Hanya mereka berdua? Tanpa Sarah yang cerewet, tanpa Fajar yang heboh, hanya deru mesin motor dan angin jalanan.

"Tapi aku... aku baru saja bangun, Rian. Aku belum siap-siap," gumam Cinta.

"Aku bisa tunggu. Aku sudah bilang pada Mamahmu kalau aku akan meminjammu sebentar, dan beliau sepertinya setuju," ucap Rian sambil melirik ke arah dapur, di mana Mamah sesekali mengintip dengan wajah sumringah.

Cinta menghela napas, ia tahu ia tidak bisa menolak. Sebagian besar dari dirinya justru merasa sangat bersemangat. "Baiklah. Tunggu sepuluh menit lagi. Aku harus bersiap-siap sebentar."

"Sepuluh menit. Jangan lebih, atau aku akan menjemputmu ke dalam kamar," goda Rian.

Cinta memutar bola matanya meski hatinya bersorak. Ia segera berlari kembali ke kamarnya untuk mandi.

Skip

Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di atas motor besar hitam milik Rian. Cinta mengenakan jaket dan membawa tas kecilnya.

Saat ia naik ke kursi penumpang, ia teringat kejadian beberapa hari lalu. Namun kali ini, rasanya berbeda. Tidak ada beban kuis, tidak ada seragam sekolah. Hanya ada kebebasan hari Minggu.

"Kita mau ke mana?" tanya Rian saat mereka mulai meninggalkan halaman rumah Cinta.

"Karena kamu bilang tidak tahu kota ini, ayo kita ke arah bukit dulu. Dari sana kita bisa melihat seluruh garis pantai dari atas. Setelah itu, aku akan membawamu ke tempat makan rahasia yang punya pemandangan terbaik," seru Cinta di balik helmnya.

"Siap, Bu Pemandu," sahut Rian.

Rian memacu motornya dengan stabil. Udara pagi yang segar menerpa mereka. Cinta memperhatikan bagaimana Rian membawa motornya, ia tampak jauh lebih santai hari ini. Jaket denimnya berkibar ditiup angin, dan aroma parfum kayu yang familiar kembali memenuhi indra penciuman Cinta.

Mereka mulai menanjak menuju daerah perbukitan. Jalanan yang berkelok-kelok membuat Cinta harus berpegangan lebih erat pada jaket Rian. Setiap kali motor itu miring mengikuti tikungan, Cinta merasakan kedekatan yang membuatnya merasa aman. Rian seolah tahu kapan harus melambat untuk membiarkan Cinta menikmati pemandangan hijau di sisi jalan.

Sesampainya di puncak bukit, Rian memarkir motornya di pinggir area pandang. Mereka turun dan berjalan menuju pembatas pagar.

"Wah..." Rian berdecak kagum. Di depan mereka, laut biru membentang luas. Dari ketinggian ini, ombak putih terlihat seperti garis-garis halus di atas kain biru raksasa. Kota ini terlihat kecil di bawah sana, dikelilingi oleh pepohonan dan perbukitan.

"Bagus, kan?" tanya Cinta sambil berdiri di samping Rian. "Dulu, kalau aku sedang pusing dengan tugas atau sedang buntu saat menulis novel, aku sering minta Ayah mengantarku ke sini. Di sini, semua masalah terasa kecil karena dunianya begitu luas."

Rian menatap cakrawala dengan pandangan yang dalam. "Kamu benar. Di Jakarta, yang aku lihat hanya gedung tinggi dan kemacetan. Di sini... rasanya seperti bisa bernapas lebih lega."

Ia menoleh ke arah Cinta. Angin bukit memainkan helai rambut Cinta. "Terima kasih sudah membawaku ke sini, Cin."

"Sama-sama. Ini baru permulaan," jawab Cinta dengan senyum tulus. "Setelah ini, aku akan membawamu ke dermaga tua. Di sana suasananya sangat tenang untuk sekadar duduk-duduk."

Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, percakapan mengalir lebih mudah. Rian banyak bertanya tentang sejarah tempat-tempat yang mereka lalui, dan Cinta sebagai orang lokal menjelaskannya dengan antusias. Rian sesekali menceritakan sedikit tentang hidupnya di Jakarta, tentang bagaimana ia merasa selalu harus bertempur untuk diakui, dan betapa ia menyukai ketenangan yang ia temukan di sini.

Bagi Cinta, hari Minggu ini adalah bab paling tak terduga dalam draf hidupnya. Ia melihat sisi Rian yang jauh lebih lembut, sisi seorang pendatang yang sedang mencari jati diri di tempat baru. Dan ia merasa sangat beruntung karena dialah yang dipilih Rian untuk menunjukkan jalan.

Saat mereka berhenti di sebuah kedai kopi kecil di pinggir pantai untuk beristirahat, Rian menatap Cinta yang sedang asyik memotret pemandangan laut.

"Kenapa?" tanya Cinta menyadari dirinya diperhatikan.

"Tidak ada," Rian menyesap kopinya. "Cuma terpikir... kalau saja aku tidak duduk sebangku dengannmu, mungkin aku masih jadi murid baru yang dibenci semua orang dan tidak tahu indahnya tempat ini."

Cinta meletakkan ponselnya, ia menatap Rian dengan lembut. "Dunia punya cara yang unik untuk mempertemukan orang, Rian."

Rian terdiam, mencerna kata-kata Cinta. Ia memberikan senyum kecil yang tulus, senyum yang membuat hari Minggu Cinta terasa sempurna meski dimulai dengan muka bantal dan kepanikan.

Matahari mulai naik lebih tinggi, namun perjalanan mereka masih panjang. Bagi Cinta, tidak masalah ke mana pun Rian membawanya hari ini, asalkan ia tetap berada di belakang punggung lebar itu, menghirup aroma kayu yang kini telah menjadi aroma favoritnya, dan menuliskan kenangan baru di setiap kilometer yang mereka lalui.

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!