NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Pagi itu, Jonathan mengantar Aletta sampai di gerbang sekolah. Baru saja mereka turun dari sepeda motor, Dilan sudah berdiri di sana menunggu dengan wajah yang serius. Dia langsung menghampiri keduanya dan menatap tajam ke arah Jonathan.

"Selamat yah, gue titip Aletta ya. Jaga dia baik-baik, jangan sampai dia sedih atau terluka sedikitpun," ucap Dilan dengan nada tegas seolah memberikan pesan terakhir.

Dilan langsung pergi begitu saja meninggalkan pertanyaannya dipikirannya Jonathan sedangkan Aletta berdiri mematung tak berkutik sedikitpun.

Mendengar ucapan itu, hati Meldi menjadi semakin penasaran. Dia sudah lama merasa ada yang ganjil antara Dilan dan Aletta. Ketika Dilan pergi menjauh, Jonathan langsung menoleh ke arah Aletta dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Kamu ada hubungan apa sama laki-laki yang tadi? Kenapa dia bicara seolah kalian punya ikatan yang sangat dalam?" tanya Jonathan dengan nada suara yang terdengar kecewa dan bingung.

Aletta menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan perasaannya yang berkecamuk. Dia tahu diaa harus menjaga janjinya dan tidak boleh membiarkan kesalah-pahaman terus berlanjut.

"Kamu ngomong apaan sih, kok mikirnya kaya gitu. Dilan itu kan pacarnya Tamara. Hubungan kami cuma sebatas teman biasa, tidak ada yang lain. Kamu gak perlu curiga seperti itu ah," jawab Aletta dengan nada yang berusaha tenang, meski hatinya terasa perih saat mengucapkannya.

"Kamu gak bohong kan sama aku, karena aku gak suka dibohongi orangnya" Ucap Jonathan yang membuat Aletta sedikit takut karena kenyataannya dia sedang berbohong.

"Iya sayang, udah ah aku masuk dulu yah nanti keburu bel masuk lagi" Ucap Aletta tersenyum bergelantungan ditangan Jonathan.

"Yaudah, belajar yang rajin yah, nanti aku jemput pulangnya" Ucap Jonathan merangkul Aletta dengan sayang dan mengelus rambutnya.

"Oke sayang" Ucap Aletta tersenyum merasa lega akhirnya Jonathan percaya dan tidak curiga lagi kepadanya.

"Maaf yah Jo aku harus bohong sama kamu" Kelihatan nya dalam hati sambil menyaksikan kepergian Jonathan yang perlahan hilang dari pandangannya.

Setelah Jonathan pergi, Dilan kembali menghampiri Aletta yang masih berdiri sendirian di koridor. Suasana di sekitar mereka seolah menjadi sunyi, seolah hanya ada mereka berdua di dunia ini. Dilan menatap wajah Aletta dalam-dalam, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.

"Aletta, jujur saja pada gue... Apakah loh benar-benar bahagia bersama Jonathan? Apakah bersamanya bisa membuat loh melupakan segala kesedihan dan beban di hati loh? Apakah dia bisa memberikan loh kebahagiaan yang tidak bisa gue berikan?" tanya Dilan perlahan, suaranya terdengar bergetar menahan rasa sakit.

Mendengar pertanyaan itu, hati Aletta serasa diremas kuat-kuat. Dia ingin sekali menjawab dengan jujur, ingin berteriak bahwa ia tidak bahagia, bahwa hatinya tetap milik Dilan.

Namun, janji yang pernah ia ucapkan mengikat lidahnya rapat-rapat. Ia hanya bisa terdiam, mulutnya terkunci rapat tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Perlahan, air matanya menetes jatuh membasahi pipi, menandakan betapa hancur dan sakitnya perasaannya saat itu

"Loh jangan nangis gitu aja jawab dong gue kan gak tau, apa yang ada di dalam isi hati loh" Ucap Dilan mengguncangkan badannya Aletta.

Dari kejauhan, Ruby melihat kejadian itu dengan jelas. Dia melihat bagaimana Aletta hanya diam sambil menangis di hadapan Dilan, dan betapa sedihnya wajah Dilan saat itu.

"Loh gak bahagia kan sama dia" Ucap Dilan langsung menjawab memandang wajah Aletta yang nampak kacau.

"Loh ngomong apa sih, yah bahagia lah" Ucap Aletta melepaskan genggaman Dilan dari bahunya dan memalingkan ke sembarang arah.

"Gak usah bohong deh gue kenal sikap loh Al, udah lah loh mau gue sama sahabat loh kan" Ucap Dilan namun Aletta malah diam saja.

"gue turuti apa mau loh tapi loh jangan lanjutin hubungan loh sama cowok itu" Ucap Dilan dan Aletta langsung menatapnya dengan serius.

"Loh apaan sih" Ucap Aletta kesel dan melepaskan genggaman tangan Dilan begitu saja.

"Gue heran yah sama loh udah jelas jelas loh gak suka sama tuh cowok masih aja loh ladeni" Ucap Dilan pergi meninggalkan Aletta sendirian.

Sebagai sahabat yang sudah lama mengenal Aletta, Ruby tahu persis apa yang sedang dirasakan oleh gadis itu. Dia merasa sangat prihatin melihat sahabatnya menderita seperti ini, terjebak di antara perasaan sejati dan janji yang harus ditepati.

Segera setelah Dilan pergi, Ruby langsung berlari menghampiri Aletta dan memeluknya erat. Dia membiarkan Aletta menangis sepuasnya di dalam pelukannya, seolah ingin menyerap semua kesedihan yang ada di hati sahabatnya.

"Sudah, jangan menangis lagi... Gue tahu rasanya sangat berat dan menyakitkan. Tapi gue ada di sini, gue akan selalu ada di samping loh apa pun yang terjadi. Jangan pendam semuanya sendirian, cerita saja sama gue kalau itu bisa membuat hati loh lebih lega," ucap Ruby lembut sambil mengusap punggung Aletta dengan sabar, berusaha menenangkan hati sahabatnya yang sedang hancur lebur.

"Gue jahat banget yah Ruby sampai gue sendiri aja gak kenal sama diri gue yang sekarang ini" Ucap Aletta terisak didalam pelukannya Ruby.

"Udah yah sekarang loh tentang, mending sekarang kita masuk ke kelas sebelum Tamara tahu soal kondisi loh saat ini" Ucap Ruby menatap wajah Aletta dan menghapus air matanya.

Bel masuk pun berbunyi Aletta terlihat diam dan tidak banyak omongan seperti biasanya sehingga membuat Tamara bertanya-tanya namun Aletta bilang hanya kurang enak badan.

Bel istirahat pun tiba dimana semua para siswa keluar untuk beristirahat dan memberi makanan di kantin.

"Eh Al kantin yuk laper nih gue" Ucap Tamara menarik tangan Aletta memaksanya untuk pergi ke kantin.

"Tapi gue gak laper" Ucap Aletta menolaknya secara baik-baik.

"Udah ah pokonya gue maksa" Ucap Tamara menariknya dan mau tak mau Aletta menurutinya karena memang dia juga laper.

Sesampainya di kantin dilan melambaikan tangan kepada mereka bertiga yang membuat Tamara sangat senang sedangkan Aletta merasa takut dengan apa yang akan Dilan perbuat.

"Hey duduk sini" Ucap Dilan kepada Tamara dan Aletta sehingga mereka berdua pun bingung dengan apa yang dimaksud dengan Dilan.

"Yah malah bengong sini duduk dong Tamara kok malah berdiri aja sih" Ucap Dilan menarik tangan Tamara sehingga Tamara melepaskan tangan Aletta tanpa sadar.

Aletta terkejut dan hanya bisa menunduk sedih di belakang sedangkan Ruby memegang tangan Aletta berusaha menguatkan dia bahwa dia tidak sendirian dan bisa melewati semuanya.

"Loh gak salah kan Dilan" Ucap Tamara setelah duduk disamping Dilan.

"Ya gak lah" Ucapnya singkat memandang Tamara.

"Loh mau pesen apa biar gue pesenin" Ucap Dilan.

"Gue pesen batagor aja deh, eh ya kalian mau pesen apa" Ucap Tamara tak lupa dia juga bertanya kepada Aletta dan Ruby.

"Kita samaan aja deh" Ucap Ruby langsung menjawab karena Aletta hanya terdiam.

"Gue pesenin yah" Ucap Dilan beranjak dari tempat duduknya tanpa melihat Aletta sedikitpun.

Jujur saja Erik merasa prihatin dengan hubungan Dilan dan Aletta yang berantakan apalagi sekarang Dilan sedangkan bersandiwara untuk mendekati Tamara.

Aletta tidak mengucapkan sepatah katapun karena memang dia tidak nyaman berada disana rasanya iya ingin pergi saja dari sana, namun dia tak punya tenaga untuk ngomong dan dia menghargai Tamara.

Waktu berlalu begitu cepat hingga bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa mulai berhamburan keluar menuju gerbang.

Di sana, Aletta melihat pemandangan yang membuat jantungnya terasa remuk menjadi debu. dia melihat Dilan berdiri di dekat gerbang sambil tersenyum lembut ke arah Tamara, lalu mengulurkan tangannya seolah mengajak gadis itu pergi bersamanya.

"Yuk, Tam, kita pulang bareng hari ini. Gue antar loh sampai depan rumah ya," kata Dilan dengan nada suara yang terdengar sangat lembut dan perhatian, nada yang dulu sering ia gunakan saat berbicara dengan Aletta.

"Wah, serius, Dilan? Asyik deh kalau gitu, ayo kita berangkat sekarang," jawab Tamara dengan wajah yang berseri-seri penuh kebahagiaan.

Melihat mereka berjalan beriringan dengan jarak yang sangat dekat, tertawa dan bercanda seolah dunia milik berdua, hati Aletta terasa seperti ditusuk ribuan jarum yang tajam.

Dia tahu seharusnya dia ikhlas, dia tahu Dilan sekarang adalah milik Tamara. Namun, melihat kenyataan itu di depan matanya sendiri membuat rasa sakit di hatinya semakin menjadi-jadi, bahkan jauh lebih sakit daripada saat ia harus berbohong pada Meldi tadi pagi.

Tidak lama kemudian, Jonathan datang menjemput Aletta seperti janjinya. Namun, sejak awal dia mendekat, wajahnya terlihat berbeda dari biasanya. Tidak ada senyum ceria atau sapaan hangat yang biasa dia berikan. dia hanya diam, menatap Aletta dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekecewaan, curiga, dan kesedihan yang mendalam.

"Ayo pulang," ucap Jonathan singkat, lalu membiarkan Aletta naik ke atas motornya tanpa banyak bicara.

Sepanjang perjalanan pulang, suasana di antara mereka terasa sangat hening dan menyesakkan. Aletta mencoba memulai pembicaraan beberapa kali, namun Jonathan selalu menjawab dengan kalimat yang sangat pendek atau hanya mengangguk dan menggelengkan kepala saja.

Dia masih teringat dengan pertanyaannya tadi pagi dan jawaban Aletta yang terdengar seolah menyembunyikan sesuatu. Meskipun Aletta bilang Dilan adalah pacarnya Tamara, naluri hatinya mengatakan bahwa ada rahasia besar yang tidak diketahuinya, dan hal itu membuat hatinya semakin gelisah serta membuatnya memilih untuk diam seribu bahasa sepanjang perjalanan.

Sepanjang sisa perjalanan sampai di depan rumah Aletta, keheningan itu masih terus terasa menyiksa. Hanya suara deru mesin sepeda yang terdengar memecah kesunyian.

Hati Aletta semakin gelisah melihat sikap Jonathan yang begitu dingin dan tertutup. dia tahu, jawabannya tadi pasti meninggalkan keraguan yang besar di hati pemuda itu, dan dia merasa bersalah karena tidak bisa berterus terang sepenuhnya.

Begitu motor berhenti dan mereka turun, Aletta tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia memegang lengan Jonathan pelan saat pemuda itu hendak memutar arah seolah ingin segera pergi.

"Jo, tunggu sebentar... Jangan langsung pulang dulu, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu," kata Aletta dengan nada lembut, matanya menatap wajah Jonathan yang masih tampak kaku dan murung.

Jonathan berhenti bergerak, namun dia tidak menoleh sedikitpun ke arah Aletta. Dia hanya diam menundukkan pandangannya ke tanah.

"Ada apa lagi, Aletta? Bukannya tadi pagi kamu sudah menjawab semuanya? Kalau memang Dilan pacarnya Tamara dan hubungan kalian cuma teman biasa, kenapa rasanya aku tidak percaya begitu saja? Kenapa rasanya ada yang kamu sembunyikan dari aku?" jawab Jonathan dengan suara yang terdengar dingin namun tersirat rasa kecewa yang mendalam.

Aletta menghela napas panjang, lalu melangkah mendekat hingga dia berdiri tepat di hadapan Jonathan. Dia menatap wajah pemuda itu dengan tatapan tulus dan memohon pengertian.

"Jo, tolong dengarkan aku baik-baik. Aku tahu sikapku dan jawabanku tadi bikin kamu curiga dan marah. Aku mengerti perasaan kamu, aku minta maaf kalau sikapku bikin kamu merasa tidak nyaman atau merasa ada yang aku rahasiakan." Memegang tangan Jonathan yang dingin.

"Tapi percayalah padaku, apa yang aku katakan tadi itu benar. Dilan memang sudah bersama Tamara, dan hubungan kami memang hanya sebatas teman yang rumahnya bersebelahan jadi memegang kita kenal . Tidak ada yang lain, sungguh," ucap Aletta mencoba meyakinkan.

Jonathan akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap mata Aletta dengan tajam. "Kalau begitu kenapa setiap kali ada dia, sikap kamu selalu berubah? Kenapa kalian berdua selalu terlihat seolah punya ikatan yang tidak bisa diputus? Aku merasa seperti orang asing di antara kalian, Aletta. Rasanya aku hanya orang yang kamu jadikan pelarian saja."

Mendengar ucapan itu, air mata Aletta hampir saja jatuh. Dia segera memegang kedua tangan Jonathan dengan lembut, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan ketulusan hatinya.

"Jangan bicara begitu ah. Kamu tidak boleh berpikir seperti itu yah. Kamu bukan pelarian, kamu sangat berarti buat aku. Aku tahu mungkin aku belum sepenuhnya terbuka dan mungkin sikapku kadang membingungkan, tapi percayalah, aku tidak pernah bermaksud menyakitimu atau mempermainkan perasaanmu. Semua yang terjadi antara aku dan Dilan itu hanya sebatas tetangga dan dia menjalin hubungan dengan Tamara. yang ada di pikiran dan hatiku hanyalah kamu," kata Aletta dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas.

"Kalau begitu, janji sama aku. Jangan pernah lagi menutup-nutupi sesuatu dari aku. Kalau ada apa-apa atau ada hal yang mengganggu pikiranmu, ceritakan padaku. Jangan biarkan aku menebak-nebak sendiri seperti ini, karena rasanya sangat menyakitkan," balas Jonathan, nada bicaranya mulai melunak melihat ketulusan di wajah Aletta.

Aletta tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya, lalu mengusap lengan Jonathan dengan lembut. "Aku janji, sayang. Mulai sekarang aku akan lebih terbuka sama kamu. Aku tidak akan menyembunyikan apa pun lagi. Jadi, tolong jangan marah lagi ya? Aku tidak suka kalau kamu diam begini, rasanya aku kehilangan semangat kalau kamu marah sama aku. Maafkan aku ya kalau selama ini sikapku bikin kamu sakit hati."

Melihat wajah Aletta yang tampak cemas dan memohon, serta mendengar janji yang diucapkannya dengan tulus, kemarahan di hati Jonathan perlahan-lahan hilang seketika.

Jonathan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, seolah membuang segala keraguan dan kekesalan yang ada di dadanya. Dia membalas genggaman tangan Aletta, lalu tersenyum tipis meski masih terlihat sedikit ragu.

"Baiklah, aku tidak marah lagi. Aku percaya sama kamu, sayang. Tapi ingat janjimu ya, jangan sampai ada rahasia lagi di antara kita," kata Jonathan akhirnya, suaranya kembali terdengar lembut seperti biasanya.

Aletta langsung tersenyum lega dan bahagia. Dia mengangguk dengan semangat, rasa cemas yang tadi menyelimuti hatinya akhirnya hilang sepenuhnya. "Terima kasih, Jo. Kamu memang yang paling mengerti aku. Sekarang kamu boleh pulang yah, hati-hati di jalan."

Jonathan mengangguk, lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya pergi meninggalkan halaman rumah Aletta. Meski keraguan itu belum hilang seratus persen di benaknya, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencoba percaya pada Aletta dan menjalani hubungan mereka dengan baik.

Sementara itu, di dalam hati Aletta, dia merasa sedikit lega karena berhasil membujuk Jonathan, namun di sisi lain dia tahu betapa beratnya menjaga rahasia besar yang terus dia pendam sendirian.

~back to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!