NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Obsesi / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah AllRey..

Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.

Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria yang Selalu Datang Diam-Diam

Setelah Pak Damar dan Tania pulang, apartemen Joyce kembali sunyi. Namun kali ini, kesunyian itu berbeda. Tidak lagi menyesakkan. Tidak lagi terasa seperti beban yang menindih dadanya. Kedatangan dua rekan kerja itu membuat Joyce merasa mendapatkan support dari orang-orang terdekatnya. Belum lagi Rike.., yang selalu memantau dan menguatkan ketika dia sedang terpuruk

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Joyce bisa bernapas sedikit lebih lega. Perlahan.. ia berjalan menuju balkon sambil membawa secangkir teh hangat. Sambil melihat ke depan, ia menyesap teh dari cangkirnya. Kehangatan mengalir dari tenggorokan ke bawah, dan membawa ketenangan yang dalam.

Saat ini, kota Jakarta mulai beranjak senja. Lampu-lampu gedung perlahan menyala satu per satu. Namun pikirannya masih tertahan pada satu kalimat.

"Ada pihak yang membantu mengklarifikasi semuanya."

Teringat perkataan tadi, Joyce tersenyum. Dia tidak mencari tahu pada pak Damar dan Tania, dugaan orang yang membantunya. Namun dalam pikirannya, hanya ada satu orang yang memiliki kekuatan sebesar itu. Ia tersenyum..

“Ardian.., kamu telah memberiku bantuan yang sangat luar biasa.” Dia berbisik lirih..

Joyce tiba-tiba mencari ponselnya. Dan ponselnya berada di atas meja. Dia meraihnya perlahan, dan mulai membuka kontak Ardian. Namun ia kembali menutupnya, karena muncul keraguan. Sesaat dia membuka lagi. Menutup lagi.

"Kenapa jadi gugup begini sih..."

Ia menghela napas. Padahal ia hanya ingin mengucapkan terima kasih. Namun entah mengapa, hal sederhana itu terasa sulit. Akhirnya ia memberanikan diri mengetik.

„Pak Ardian.”

„Terima kasih.”

Terkirim. Dan hanya dua kata. Sederhana. Namun cukup membuat jantungnya berdebar menunggu balasan. Tak sampai satu menit. Ponselnya bergetar.

“Untuk apa?”

Joyce hampir tertawa. Tentu saja. Ardian tidak akan mengaku. Ia mengetik kembali.

“Untuk sesuatu yang Anda lakukan diam-diam. Meski anda tidak bicara, aku yakin semua karena perlakuan anda..”

Kali ini balasannya sedikit lebih lama. Hampir tiga menit. Lalu muncul.

„Saya tidak suka melihat orang baik dihancurkan oleh fitnah. Dan fitnah itu muncul karena aku yang jadi penyebabnya.”

Joyce menatap layar cukup lama. Kalimat itu sederhana. Tetapi terasa begitu tulus. Tidak ada kesan pamer. Tidak ada kesan ingin dipuji. Seolah membantu dirinya adalah sesuatu yang wajar. Dan justru itu yang membuat hatinya menghangat. Tanpa dia sadari, air mata haru memenuhi matanya.

*******************

Di saat yang sama.

Ardian sedang duduk di ruang kerjanya ketika pesan Joyce masuk. Senyum terbit di bibir laki-laki itu. Raka yang kebetulan berada di ruangan itu langsung menyadari perubahan ekspresi bosnya. Sangat tipis. Namun cukup terlihat.

"Tuan.."

"Hmm?"

"Saya rasa wajah Anda lebih ramah dibanding biasanya. Terlihat lebih humble."

Ardian menatapnya datar.

"Keluar dari ruanganku sekarang."

Raka tertawa kecil. Dia segera berdiri dan menuju ke arah pintu. Namun sebelum pergi ia berkata,

"Ngomong-ngomong..."

"Apa?"

"Nyonya Ratih ingin bertemu Joyce."

Ardian langsung berhenti membaca pesan. Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

"Apa?"

"Nyonya belum menghubunginya."

"Tapi beliau meminta saya mencari jadwal Joyce."

Ardian mengusap wajahnya perlahan. Masalah. Ini jelas masalah. Karena ia sangat mengenal neneknya. Jika wanita itu tertarik pada seseorang, maka tidak ada yang bisa menghentikannya. Dan yang paling berbahaya..., Nyonya Ratih belum tentu menyukai Joyce. Hal buruk bisa berbahaya dengannya.

“Aku harus mencegah agar nenek tidak menekan Joyce..”

“Kejadian Jessica kemarin masih membekas. Bisa jadi nenek subjektif, dan berusaha menekannya untuk menjauh dariku.”

Tatapan Ardian berubah dingin, sangat berbeda 360 derajat, dibanding tadi.

*********************

Keesokan harinya.

Joyce sedang mempersiapkan presentasi untuk Grand Imperial Hotel ketika resepsionis apartemen menelepon. Tampak run down acara menghiasi layar tablet di depannya. Dengan sigap, dia menerima panggilan.

"Mbak Joyce."

"Iya?"

"Ada kiriman bunga untuk Anda."

Joyce mengernyit.

"Bunga? Dari siapa"

"Iya mbak. Namun saya tidak berani mengintip siapa pengirimnya."

"Besar sekali."

“Okay.. antarkan kemari ya, thanks.”

“Siap..”

Beberapa menit kemudian bunga itu tiba di unit apartemennya. Rangkaian mawar putih dan lily yang sangat elegan. Tercium aroma harum lembut dari bunga tersebut, dan aromanya sangat menenangkan. Di tengahnya terdapat kartu kecil. Joyce mengambil dan membuka kartu itu perlahan. Dan langsung membeku. Bukan karena pengirimnya. Melainkan karena isi pesannya.

“Untuk perempuan yang tetap berdiri meski dunia berusaha menjatuhkannya.”

— A.M.

Joyce menutup matanya perlahan. Jantungnya berdegup semakin cepat. Karena untuk pertama kalinya... Ardian tidak lagi terdengar seperti seorang CEO. Tidak lagi seperti klien. Tidak lagi seperti orang asing. Melainkan seperti seorang pria yang sedang berusaha masuk ke dalam hidupnya.

“Apa-apaan ini Ardian.. kamu mempermainkan perasaanku.”

**************

Dan di tempat lain..., seseorang baru saja menerima laporan yang membuat wajahnya berubah dingin.

Jessica.

Di tangannya terdapat foto rangkaian bunga yang dikirim ke apartemen Joyce. Mawar putih dan bunga lily tampak indah.. Tangannya mengepal. Sangat kuat. Karena kini ia tahu satu hal yang selama ini ia takuti. Ardian bukan sekadar tertarik pada Joyce.

“Kurang ajar.. ternyata pesona MC itu sudah sedemikian mendalam meracuni Ardian.”

“Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Aku harus bersabar sejenak, dan menunggu waktu yang tepat.”

Ardian sedang jatuh cinta. Dan itu membuat Joyce menjadi ancaman yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan. Tatapan Jessica terlihat menakutkan, dan penuh dendam serta amarah. Jarinya tampak mengetik beberapa pesan, kemudian dikirimkan ke seseorang. Tampak misterius..

****************

Joyce tampak bersemangat, dia pergi ke ballroom Nusantara. Hari ini ada breafing, dan sekaligus acara gladi resik. Baru saja dia mau masuk ke venue..

“Ms Joy.. hi..”

Terlihat partner MC nya melambaikan tangan, dan mendatangi. Partnernya itu bernama Erick, laki-laki dengan gaya metroseksual dan memiliki orientasi seksual yang menyimpang. Namun selama ini, Joyce malah merasa nyaman bekerja bareng dengannya.

“Hi juga Erick.. gimana, sehat kan.”

“Pasti dong.. Eits.. gimana nih sebenarnya kasusmu kemarin itu, Bisa bisanya  ada orang sesat menyebarkan isu hoax ga bener.”

“Namanya orang hidup sih Rick.. Ada yang suka, namun juga lebih banyak yang ga suka juga.”

Tidak mau menanggapi, Joyce hanya menjawab umum.

“Benar sih.. tapi betul-betul orang gila yang meragukan reputasimu.”

Joyce hanya tersenyum. Dia memang malas menanggapi, karena hanya mengingatkan akan luka hatinya. Baginya saat ini, yang penting reputasinya sudah kembali bersih. Dan untungnya..

“Plok.. plok.. crew kumpul.”

“Kita kumpul dulu yukk.. biar ga wasting time.”

Terdengar tepuk tangan koordinator acara. Joyce menarik tangan Erick dan mengajaknya turun, untuk menghindari pembicaraan mereka lebih lanjut. Pembicaraan mereka terhenti, dan Erick gagal mengorek informasi dari Joyce.

1
Mundri Astuti
Adrian kebangetan lembek, berarti sama" cucunya Oma Ratih kah ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!