Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERITA CLARISSA
Clarissa yang sudah tenang, menjelaskan kejadian yang terjadi setelah aku dan dia berpisah digudang. Setelah berhasil lepas dari kejaran geng Dimas, Clarissa mencoba mencari bantuan. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengecek ponselnya. Dia menelpon siapapun yang bisa dihubungi, mulai dari ayahnya, temannya, bahkan orang – orang yang kurang akrab. Sayangnya, tidak ada satupun dari mereka yang menerima panggilan Clarissa. Alasannya bukan karena mereka sibuk atau sengaja mengabaikan. Alasannya karena Clarissa tidak mendapat sinyal. Padahal dia tau kalau tidak bisa menelpon jika tidak ada sinyal, tapi dia tetap berharap kalau sewaktu – waktu sinyal tiba – tiba muncul diponselnya. Menyadari kalau usahanya sia – sia. Dia mencoba memeriksa sekitar. “Siapa tau ada orang,” kata Clarissa.
Pencarian Clarissa hanya berlangsung beberapa menit, dia sadar kalau usaha untuk mencari bantuan dari warga lokal juga tidak membuahkan hasil. “Dihutan aku nemuin beberapa rumah, cuma waktu aku cek, gak ada orangnya. Semua kosong.” Clarissa mencoba mencari cara lain. Dia sempat berpikir untuk kembali mengecek keadaanku, cuman dia ragu. Dia takut tertangkap ketika melakukannya. Jadi, dia mengurungkan niat dan memilih melanjutkan jalannya.
“Dari jauh, aku liat ada jalan lumayan besar. Waktu aku samperin, samar – samar aku ngerasa kalau jalannya gak asing.” Clarissa yang merasa cukup yakin dengan ingatannya, memilih menyusuri jalan tersebut. Dia berjalan lumayan lama, tapi tidak menemukan satu kendaraan pun yang lewat. Meski dia mulai meragukan ingatannya, dia tetap melanjutkan langkah. Dia pikir kembali pun tidak bisa berbuat apa – apa. Disaat dia mulai merasa lelah dan ingin menyerah. Ponselnya tiba – tiba berdering. Banyak notifikasi yang masuk. Saat dia ingin menelpon ayahnya, panggilan dari Awan masuk.
“Sekarang giliranku.” Awan langsung merespon ketika namanya disebut. Awalnya aku pikir dia ingin melanjutkan cerita Clarissa, tapi aku salah. Dia malah menceritakan kejadian sebelumnya. “Kita kan pisah tuh waktu kalian naik sepeda air. Aku bingung mau kemana buat nungguin kalian. Ada sih rencana mau berenang, cuman aku gak bawa baju ganti.” Karena Awan sudah terlanjur bercerita, aku tanya saja sekalian kemana dia, bisa – bisanya dia buat aku dan Clarissa harus menunggu. “Hehe.” Dia malah tertawa. Aku menatap sinis padanya. “Maaf!” kata Awan sambil berpose. “Aku lagi di tempat refleksi ikan. Awalnya aku iseng coba – coba, ternyata enak juga rasanya.”
“Kenapa gak suruh kami kesana aja?” Clarissa mengikutiku menatap sinis Awan.
“Kebetulan waktu kalian telpon, aku baru masuk. Aku pikir paling 5 menit aku selesai. Eh! Ternyata kebablasan.” Awan mengatakannya sambil bercanda. Dia menunjukkan senyuman. Melihat sikapnya yang konyol, membuat ruangan dipenuhi tawa.
Awan perlahan – lahan mengubah ekspresinya. Dia tiba – tiba terlihat serius. Suasana kembali menjadi tenang. “Waktu aku ke gerbang luar, aku gak nemuin kalian. Aku coba telpon gak diangkat. Aku pikir kalian mau ngerjain aku, mau balas dendam, jadi aku tungguin aja.
Aku tunggu tunggu, kok kalian gak keluar – keluar. Aku mulai ngerasa ada yang gak beres. Kalau kalian mau ngerjain aku, kayaknya gak bakal selama itu. Aku masih pikir positif, mungkin aja kalian pulang duluan dan masih dijalan, jadi gak bisa angkat telpon.
Tapi, waktu aku cek diparkiran, kendaraan kalian masih ada.” Meski dalam keraguan, Awan memilih menunggu lebih lama. Dia menunggu sampai tempat wisata tutup. Disaat itulah, dia semakin yakin kalau ada hal buruk yang terjadi. Dia berteriak memanggil nama kami, tapi tidak ada jawaban. Malahan, dia ditegur agar tidak berisik oleh penjaga yang kebetulan belum pulang.
Bingung harus berbuat apa, Awan memutuskan mengunjungi rumah kami secara langsung. Dia ingin memastikan keraguan didalam hatinya. Dia mengunjungi rumahku terlebih dahulu, disana dia tidak menemukan siapapun, rumahnya kosong. Sama sekali tidak ada tanda – tanda kehidupan. Tanpa pikir panjang, dia segera menuju rumah berikutnya, yaitu rumah Clarissa. Kebetulan saat tiba, dia bertemu ibu Clarissa. “Maaf tante, Clarissanya ada?” tanya Awan. Sebenarnya dia merasa sudah tau jawaban apa yang akan diberikan. Hanya saja dia ingin mendengarnya secara langsung.
“Clarissanya belum pulang.”
Jawaban yang diberikan ibu Clarissa sama persis dengan apa yang Awan pikirkan. Dia ingin berteriak kesal, hanya saja dia berusaha menahan, karena masih ada ibu Clarissa. Tidak lama, ibu Clarissa kembali ke rumahnya. Awan sempat ditanya soal urusannya mencari Clarissa, dia menjawab dengan santai seolah – olah tidak terjadi apa – apa. Meski didalam hatinya merasa gelisah, dia tidak ingin melihat Ibu Clarissa khawatir.
“Dimas.” Nama yang tiba – tiba terpikirkan oleh Awan. Dia ingin memeriksa rumah Dimas, tapi tidak tau dimana. Dia sudah bersiap untuk menghubungi Yasmine untuk menanyakan terkait hal itu. Dia siap menanggung resiko jika terjadi kesalahpahaman. “Aku gak mau nyesal. Kalau aku lewatin kesempatan, kalau aku ngulangin kesalahan yang sama cuman karena takut. Aku gak berani ketemu sama kamu lagi.” Awan mengatakannya padaku dengan senyum yang dipaksakan.
“Nah! Sebelum nelpon Yasmine, aku coba yakinin diri sendiri dulu. Aku coba telpon kalian sekali lagi. Aku bilang dalam hati, kalau masih gak ada jawaban, aku langsung telpon Yasmine.” Awan terlihat malu – malu ketika membicarakan perasaannya. “Kebetulan waktu aku telpon Clarissa, ternyata diangkat. Habis. Giliran Clarissa lagi.”
“Woy!” Bang Nanang yang dari tadi diam, akhirnya ikut berkomentar. Dia menepuk belakang punggung Awan. “Cerita jangan setengah – setengah!”
Dengan sedikit paksaan, Awan meneruskan ceritanya dibantu oleh Clarissa. Begitu Awan mendapat jawaban telpon dari Clarissa, dia segera melaju ke titik yang dikirim oleh Clarissa. Sesampainya dilokasi, dia mendapat penjelasan dari Clarissa soal situasi yang sedang dihadapi. “Waktu nunggu Awan datang, aku liat mobil Dimas lewat.” Kata – kata penutup yang disampaikan Clarissa, membuat mereka berdua memutuskan mengecek lokasi dimana aku dikurung. Mereka berdua sudah punya sedikit firasat, antara geng Dimas meninggalkanku sendiri atau geng Dimas memindahkan tempat persembunyiannya.
Sangat disayangkan, setibanya mereka berdua di gudang, mereka tidak menemukan siapapun. Mereka sempat kebingungan, meski begitu mereka tau kalau berdiam tidak akan menyelesaikan masalah. Masing – masing dari mereka menghubungi orang yang bisa diandalkan, Clarissa bertemu dengan ayahnya, dan Awan bertemu dengan Bang Nanang. Mereka semua berkumpul disatu titik yang yang paling strategis untuk mengetahui keberadaanku, rumah Dimas.
“Kamu tau? Waktu kami datang, orang tua Dimas udah ada ruang tamu. Mereka kaya udah nunggu kami datang.”
“Iya, kayaknya mereka udah biasa ngadapin situasi begitu. Hehe.”
Cerita mencapai titik akhir. Orang tua Dimas menjelaskan berbagai macam hal agar tidak ada yang membahas soalku. Setiap ingin memulai pembicaraan, selalu saja dialihkan pada hal lain. Kebetulan saat itu terjadi, Awan tidak sengaja melihat Dimas yang sedang bersembunyi dibalik tembok dan menghilang. Dia segera minta izin ke toilet dan mengikuti kemana Dimas pergi. Sisanya sama seperti yang ada diingatanku, Awan datang disaat – saat terakhir dan mendorong Dimas sampai terjatuh.
Aku dijelaskan juga tentang situasi yang terjadi setelahnya. Dimas yang tertangkap, tidak bisa mengelak lagi. Dia mau tidak mau dibawa ke pihak yang berwenang untuk diproses. Proses berlangsung selama beberapa hari. Selama itu, semakin hari bertambah, semakin jauh dirinya dari kata bersalah. Dia dinyatakan aman berkat dukungan dari orang tuanya. Setidaknya, kalau dia tidak mengaku. Dihari – hari terakhir, dia mengakui semua perbuatannya. Tidak ada yang tau alasan dia melakukan itu. Hanya saja, dia tiba – tiba buka suara dan memohon maaf atas tindakan yang telah dilakukan. Pada akhirnya dia dinyatakan bersalah.
Cerita berakhir. Tidak ada lagi yang dibicarakan. Sebenarnya, ada satu hal yang sejak awal kedatangan mereka ingin kutanyakan. Aku hanya tidak menemukan waktu yang tepat. Hal itu tidak menggangguku, hanya saja membuatku bertanya – tanya. Aku pikir sekarang adalah waktu yang tepat. Mereka yang kubahas bukan hanya Awan dan Clarissa, ada satu orang lagi yang dari tadi bergabung bersama kami selain Bang Nanang. Dia sama sekali tidak berbicara, Dia hanya ikut menangis saat suasana sedih dan tertawa ketika ada candaan. Selain itu, tidak ada yang dia lakukan. Dia hanya berdiri sendiri menatap kami semua dari sudut yang paling jauh. “Nadhifa?”
“Oh! Dia aku ajak. Katanya mau ikut.” Awan yang melihat Nadhifa diam, berinisiatif memberikan jawaban. “Makanya tadi aku minta tolong Bang Nanang buat jagain kamu. Ternyata kamu bangun waktu aku keluar. Sedih juga bukan aku orang pertama yang kamu lihat.” Dia mengatakannya dengan muka sedih yang dibuat – buat.
Mendengar kata – kata dari Awan membuat beberapa orang tertawa. Aku menunggu sampai tawa mereka reda. “Kalian dekat?” Awan terlihat kebingungan mendengar pertanyaan dariku. Dia seperti tidak mengerti maksudku. “Hmm …, aku liat kamu jarang bareng Nadhifa di kelas. Makanya aku nanya.”
“Maksud? Dia kan sepupuku.” Jawaban tidak terduga yang dikeluarkan Awan membuatku terdiam. Aku tidak tau kalau Awan dan Nadhifa adalah sepupu. Mereka tidak terlihat seperti itu. Awalnya aku pikir, aku saja yang baru tau soal fakta tersebut. Aku rasa akan wajar jika beberapa informasi tidak bisa kudapatkan karena kurangnya interaksi di kelas. Tapi, waktu kuliat Clarissa dan Bang Nanang, mereka juga terlihat kaget. Artinya itu bukan sesuatu yang diketahui oleh banyak orang. “Kenapa pada diam?”
“Nggak. Ngomong – ngomong, bisa tinggalin aku berdua sama Nadhifa?”