NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Di bawah rimbun pohon maja, lima orang anak sedang asyik jongkok mengelilingi lingkaran gundu di tanah. Namun, suasana mendadak berubah saat sosok Gandraka muncul dari balik pepohonan. Dua orang anak seketika berdiri, buru-buru menyeka debu di celana mereka, dan melangkah pergi.

​"Kenapa kalian pergi?" tanya Boyo, anak yang badannya paling besar di antara mereka.

​"Aku tidak mau main dengan anak itu. Dia aneh, jarang bergaul. Siapa tahu dia punya 'peliharaan' gaib," bisik temannya dengan wajah cemas.

​"Ah, kalian saja yang penakut! Dia itu bukan siapa-siapa, cuma kebetulan saja bisa mengusir wereng," sahut Nadi, bocah kurus yang sejak awal tampak tidak menyukai Gandraka. "Ayo tetap di sini, kita kerjain dia. Kalau dia kalah, kita ikat di pohon dan tinggal sampai besok pagi!"

​"Kau ini kenapa, sih? Dia sudah berbuat baik, gara-gara dia desa kita masih bisa makan," Boyo mencoba membela.

​"Terserah! Aku takut. Aku pulang saja, tidak mau main dengan anak aneh," balas si kawan tadi sambil berlalu cepat.

​Kini tinggal Boyo, Nadi, dan Jaya yang paling kecil. Gandraka pun sampai di hadapan mereka dengan wajah yang tampak bersemangat.

​"Sepertinya asyik. Bolehkah aku ikut bermain?" tanya Gandraka antusias.

​Nadi masih tetap jongkok, matanya melirik sinis. "Memangnya kau punya gundu?"

​"Tidak punya. Oh ya, kenapa dua teman kalian langsung pergi saat aku datang?" Gandraka bertanya sambil menatap jalan setapak.

​"Oh, itu... mereka bilang kebelet mau ke jamban," kilah Boyo, berusaha menjaga perasaan Gandraka.

​"Kalau tidak punya gundu, kau tidak bisa ikut main," timpal Jaya polos.

​Nadi tersenyum licik. "Tapi aku bisa memberimu satu. Harganya dua kepeng saja."

​Boyo dan Jaya menoleh heran ke arah Nadi. Padahal, dengan satu kepeng saja, mereka biasanya bisa mendapat satu kantong plastik gundu. Ini jelas pemerasan terang-terangan.

​Gandraka tidak tampak keberatan, ia justru merogoh kantongnya. "Baik, aku beli gundumu. Aku ingin ikut bermain bersama kalian."

Permainan dimulai. Nadi yang memang sudah lihai, sengaja memainkan ritme agar Gandraka merasa kesulitan di awal. Berkali-kali gundu Gandraka meleset jauh, membuat Nadi tertawa mengejek sambil mengantongi kemenangan demi kemenangan.

​Boyo yang merasa tidak tega melihat Gandraka terus diperas, akhirnya mendekat. Ia menyodorkan dua buah gundu miliknya yang paling bagus ke tangan Gandraka. "Pakai ini, Gandraka. Fokus ke lubang di tengah itu, jangan buru-buru," bisik Boyo menyemangati.

​Gandraka menerima gundu itu, ia menarik napas pendek. Matanya yang tajam mulai menangkap pola tarikan garis di tanah. Seolah-olah garis-garis yang ia gambar tadi siang di pendapa memberinya pemahaman baru tentang arah dan tenaga.

​Klik!

​Satu gundu Nadi terpental jauh. Gandraka menang. Kemudian, satu lagi, dan satu lagi. Gerakan tangan Gandraka kini menjadi sangat presisi, seolah ada magnet yang menarik gundunya tepat ke sasaran. Gundu-gundu di kantong Nadi pun mulai berpindah tangan dengan cepat.

​"Ah, sialan! Kau pasti pakai ilmu ya?" seru Nadi saat gundu terakhirnya berpindah ke tangan Gandraka. Wajahnya memerah, antara malu dan kesal karena rencananya memeras malah berbalik menjadi kerugian.

​"Aku hanya mengikuti cara kalian bermain," jawab Gandraka tenang sambil menyodorkan kembali gundu-gundu itu. "Ini, ambil saja kembali. Aku hanya ingin bermain."

​Nadi merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia menepis tangan Gandraka hingga gundu-gundu itu berhamburan. "Aku tidak butuh kasihan! Kalau kau memang hebat, jangan cuma main gundu anak kecil begini. Ayo, kita main yang lebih menantang."

​Matahari mulai turun, menyisakan cahaya jingga yang redup di sela-sela pohon maja. Hutan di belakang mereka mulai mengeluarkan suara jenggeret yang bersahutan, pertanda magrib segera tiba.

​"Main apa?" tanya Jaya yang mulai merasa merinding.

​"Nyanggrang Wewe," ucap Nadi dengan nada rendah yang menantang.

​Boyo tersentak. "Jangan gila, Nad! Itu permainan terlarang. Orang tua kita melarang keras memanggil 'ibu' dari kolong sana, apalagi ini hampir magrib!"

​Nyanggrang Wewe memang permainan yang mengerikan di desa itu. Mirip jailangkung, namun mereka menggunakan media bambu yang dipakaikan baju bekas dan tempurung kelapa untuk mengundang sosok Kolong Wewe—lelembut penculik anak yang dipercaya mendiami rimbunnya pohon maja yang gelap.

​"Kenapa? Takut?" Nadi menatap Gandraka dengan tatapan menghina. "Katanya kau pengusir wereng sakti. Masa main begini saja takut? Kalau kau menang, aku akan sujud padamu. Tapi kalau kau lari, kau benar-benar anak aneh yang cuma beruntung."

​Gandraka menatap ke arah hutan yang mulai gelap. Ia bisa merasakan sesuatu di sana bergejolak, seolah "teriakan gajah marah" yang ia dengar tadi siang sedang menunggu untuk dipicu kembali.

​"Nadi, itu berbahaya. Bukan hanya untukku, tapi untuk kalian," kata Gandraka serius.

​"Halah! Alasan saja! Kalau takut bilang saja takut!" tantang Nadi lagi, kini ia mulai menyiapkan sebilah bambu kering dan kain kusam yang ia ambil dari balik semak-semak, seolah ia memang sudah menyiapkan segalanya.

​Gandraka terdiam sejenak. Kitab di dalam benaknya seolah berdesir, lembarannya terbuka pada bagian yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ada rasa penasaran yang gelap mulai muncul di hatinya.

​"Baiklah," ucap Gandraka pelan, suaranya berubah menjadi lebih dingin. "Ayo kita main. Tapi ingat, apa pun yang muncul nanti, jangan sekali-kali kalian lepaskan bambunya."

​Langit Mojorejo perlahan berubah menjadi kelabu gelap, dan angin dingin dari Bukit Wengker mulai bertiup, membawa aroma melati yang menusuk di tengah waktu yang paling keramat bagi para lelembut.

Cahaya keemasan di ufuk barat mulai memudar, berganti menjadi warna ungu pekat yang menyakitkan mata. Di bawah naungan pohon maja yang besar, bayangan anak-anak itu memanjang, seolah-olah bayangan mereka sendiri ingin lari menjauh dari pemiliknya.

​Nadi tidak segera memulai. Ia justru berjalan perlahan menuju semak belukar yang rimbun, tempat ia menyembunyikan "peralatan" itu. Langkah kakinya yang menginjak dedaunan kering terdengar seperti suara tulang yang patah di tengah kesunyian sore yang kian mencekam.

​"Nad, sudahlah. Lihat itu, matahari sudah mau habis," bisik Jaya sambil memegangi lengan baju Boyo. Suaranya bergetar.

​Nadi kembali dengan sebilah bambu kuning yang sudah pecah di ujungnya, sebuah tempurung kelapa berlubang yang nampak berlumut, dan secarik kain kafan kusam yang entah ia dapatkan dari mana. Dengan telaten, ia mulai merakit benda itu. Ia mengikatkan kain ke bambu, membentuk semacam raga tanpa tangan yang lunglai.

​"Bantu aku memeganginya," perintah Nadi. Suaranya kini terdengar berat, tidak seperti suaranya yang biasa.

​Boyo ragu, namun karena tak ingin dianggap penakut di depan Gandraka, ia ikut memegang pangkal bambu itu. Gandraka hanya berdiri mematung. Matanya tidak beralih dari tempurung kelapa yang kini berfungsi sebagai kepala boneka tersebut. Ia bisa mencium aroma minyak srimpi yang basi, bercampur dengan bau tanah kuburan yang lembap.

​"Gandraka, pegang bagian tengahnya," perintah Nadi lagi.

​Gandraka melangkah maju. Saat jemarinya menyentuh permukaan bambu yang kasar, ia merasakan getaran halus, seperti denyut nadi yang tidak beraturan. Dingin. Sangat dingin hingga menusuk ke tulang sumsumnya.

​"Kenapa diam saja? Takut?" Nadi menyeringai, namun matanya sendiri mulai menunjukkan kegelisahan.

​"Aku tidak takut," sahut Gandraka lirih. "Aku hanya sedang mendengarkan."

​"Mendengar apa?" tanya Boyo dengan wajah pucat.

​"Mereka... mereka sudah berkerumun di balik pohon-pohon itu. Menunggu kita memanggil salah satu dari mereka," ucap Gandraka tanpa ekspresi.

​Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Suara jenggeret yang tadinya ramai, tiba-tiba berhenti total. Angin yang tadinya berhembus pelan, kini mati. Udara terasa berat dan sesak, seolah-olah oksigen di tempat itu baru saja diisap habis oleh sesuatu yang tak terlihat.

​Nadi mulai menggumamkan mantra. Kalimatnya tidak jelas, terdengar seperti geraman yang serak.

​"Nyanggrang wewe, nyanggrang saking kolong... teko tak duduhi, teko tak pakani..."

​Di sela-sela mantra itu, terdengar suara gesekan kain dari arah hutan. Srak... srak... srak... Seperti suara kain jarik yang diseret di atas semak-semak.

1
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
saniscara patriawuha.
gasssss polllll
saniscara patriawuha.
🫰🫰🫰🫰🫰
saniscara patriawuha.
gasssdd...
saniscara patriawuha.
gassssss polllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!