NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: TAMPARAN REALITA BAGI MIKO

Bab 25: Tamparan Realita bagi Miko

Malam kian melarut menembus angka sebelas lewat empat puluh lima menit. Suasana di sekitar area ruko dekat persimpangan jalan raya sudah tampak sangat lengang. Sebagian besar toko kelontong dan kedai makan sudah menutup pintu harmonika besi mereka, menyisakan keremangan dari sorot lampu jalanan yang memantulkan bayangan tiang-tiang listrik di atas aspal yang basah oleh embun malam.

Miko berjalan kaki sendirian menyusuri trotoar sembari menjinjing seplastik kresek hitam berisi dua bungkus mie instan dan sebotol air mineral yang baru saja ia beli dari minimarket dua puluh empat jam di ujung jalan. Ia sengaja keluar larut malam karena perutnya mendadak keroncongan, meninggalkan Revan yang sudah tertidur lelap di kamar belakang rumahnya setelah seharian penuh memeras keringat di bengkel Cak To.

Langkah kaki Miko perlahan melambat saat ia hendak melewati sebuah halte bus tua yang tampak sepi dan agak remang di bawah naungan pohon beringin kota.

Dari jarak sekitar lima meter, Miko menangkap siluet seorang pria paruh baya yang baru saja turun dari sebuah sepeda motor ojek daring. Pria itu tampak menyerahkan selembar uang belasan ribu dengan tangan yang terlihat sangat kaku dan bergetar. Begitu motor ojek itu berlalu pergi membelah malam, pria paruh baya itu tidak langsung berjalan, melainkan terduduk lemas di atas bangku beton halte yang dingin.

Jantung Miko mendadak berdegup kencang saat sorot lampu dari sebuah mobil yang melintas menerangi wajah pria tersebut selama beberapa detik.

Itu Ayah Revan.

Miko membeku di tempatnya berdiri, menyembunyikan tubuhnya di balik bayangan tiang papan reklame besar agar tidak terlihat. Matanya melebar, menatap tak percaya pada kondisi fisik pria yang dua malam lalu menemuinya di depan pagar rumah. Dalam waktu yang sangat singkat, Ayah Revan tampak jauh lebih mengenaskan. Tubuh tegapnya kini terlihat sangat ringkih dan membungkuk dalam. Kemeja kerjanya tampak kusut masai, dan wajahnya sangat pucat, sewarna dengan abu-abu jalalan malam.

Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Tiba-tiba, suara batuk yang teramat sangat berat dan kering terdengar memecah keheningan halte yang sepi. Ayah Revan membungkukkan tubuhnya semakin dalam, kedua tangannya mencengkeram dada kirinya dengan sangat erat seolah-olah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa hebat yang sedang meremas organ vitalnya tersebut.

Pria paruh baya itu terbatuk berkali-kali hingga tubuhnya bergetar hebat di atas bangku beton. Miko yang menyaksikan hal itu menahan napasnya, tangannya yang memegang plastik kresek meremas erat jinjingannya akibat rasa cemas yang mendadak menyerang dadanya.

Saat batuknya mereda, Ayah Revan perlahan menegakkan tubuhnya dengan sisa-sisa tenaga yang tampak hampir habis. Pria itu merogoh saku kemejanya, mengeluarkan selembar sapu tangan kain berwarna putih yang sudah agak usang. Beliau mengusap bibir dan dagunya yang basah.

Ketika Ayah Revan menurunkan sapu tangan itu di bawah pendaran lampu jalanan, mata Miko menangkap sesuatu yang membuat seluruh darah di dalam tubuhnya seketika berdesir dingin.

Ada bercak noda merah pekat di atas kain putih tersebut.

Ayah Revan batuk darah.

Pria paruh baya itu menatap noda merah di sapu tangannya selama beberapa saat dengan senyuman yang teramat sangat getir, seolah-olah beliau sudah terbiasa dengan rasa besi berkarat yang keluar dari tenggorokannya itu belakangan ini. Dengan gerakan yang sangat lambat dan gemetar, Ayah Revan melipat kembali sapu tangan berdarah itu, memasukkannya ke dalam saku, lalu mengusap dadanya sendiri beberapa kali sembari memejamkan mata rapat-rapat untuk menghalau rasa pening yang tampaknya sedang menyerang kepalanya.

Menyaksikan pemandangan mengerikan itu secara langsung, lutut Miko mendadak terasa lemas seperti jeli. Tamparan realita menghantam jiwanya dengan sangat keras tanpa belas kasihan.

Ya Allah... Om Dirga sakit parah...? batin Miko dengan dada yang bergemuruh hebat akibat rasa takut dan bersalah yang bercampur aduk menjadi satu kesedihan yang pekat. Air mata Miko tanpa sadar mengalir melewati pipinya yang mendadak pucat.

Miko teringat bagaimana cerianya Revan di kamar malam ini setelah berhasil memperbaiki motornya menggunakan uang titipan Ayahnya. Revan tertawa lepas, menyombongkan kemandirian jalannya, dan mengutuk orang tuanya sebagai sosok yang kejam dan pilih kasih. Revan merasa menang di luar rumah, tanpa pernah tahu bahwa kebebasan dan rasa bangga palsunya saat ini dibayar menggunakan tetesan darah dan sisa-sisa umur dari Ayah kandungnya sendiri yang sedang sekarat di halte bus sepi ini.

Rasa bersalah mulai menguliti batin Miko hingga ia merasa seperti seorang kriminal paling kejam sedunia. Dia memegang kebenaran, dia tahu segalanya, tapi mulutnya dipaksa bungkam oleh sebuah amanah dan ketakutan ego remajanya sendiri. Miko ingin sekali berlari keluar dari bayangan tiang, menghampiri Ayah Revan, lalu berteriak: "Om, pulang Om! Jangan kerja lagi! Biar saya seret Revan pulang malam ini juga!"

Namun, ingatan akan kata-kata memohon Ayah Revan malam itu kembali menahan langkah kakinya.

"Kalau Revan tahu uang ini dari Om, dia pasti bakal buang uang ini, Mik... Biar Om yang nanggung semuanya, yang penting Revan tetap aman di rumahmu..."

Miko menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan isakannya agar tidak terdengar. Ia hanya bisa berdiri mematung di kegelapan, menyaksikan Ayah Revan perlahan bangkit dari bangku halte dengan langkah yang sangat goyah dan terseok-seok, berjalan perlahan membelah kegelapan malam menuju ke arah komplek perumahan mereka yang berjarak beberapa ratus meter di depan.

Miko berbalik arah dengan langkah kaki yang terasa seberat timah, berjalan kembali menuju rumahnya dengan pikiran yang hancur berantakan. Sepanjang perjalanan, bayangan sapu tangan putih bernoda darah itu terus berputar-putar di depan matanya seperti hantu yang menakutkan.

Begitu sampai di kamar, Miko melihat Revan sedang tertidur pulas di atas kasur dengan posisi telentang, satu tangannya memeluk dompet jinsnya yang berisi uang sisa gir motor kemarin. Wajah Revan tampak sangat tenang dan damai dalam tidurnya, tanpa ada beban sedikit pun.

Miko berjalan mendekati meja belajarnya, meletakkan plastik kreseknya asal, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi kayu. Ia menatap punggung Revan dengan pandangan yang teramat sangat memilukan, dipenuhi rasa bersalah yang teramat pekat.

Van... lo salah besar... rintih Miko di dalam hatinya yang remuk. Orang tua lo gak pernah buang lo... Bokap lo di luar sana lagi bunuh dirinya sendiri pelan-pelan demi nebus kesalahan yang gak pernah dia lakuin ke lo... Kalau suatu saat lo tahu kebenaran ini, gue gak tahu gimana cara lo bakal bertahan hidup dari rasa penyesalan lo, Van...

Miko menyembunyikan wajahnya di atas lipatan kedua tangannya di atas meja, menangis dalam keheningan malam yang sunyi tanpa suara. Labirin salah paham ini kini telah resmi mencapai batas puncaknya. Semua akumulasi kebohongan, ego remaja, dan pengorbanan rahasia yang berdarah-darah ini telah terkunci rapat di tempatnya, bersiap menyambut badai tragedi terbesar yang akan meruntuhkan tiang rumah keluarga Dirgantara sepenuhnya

Bersambung.....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!