Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IBLIS BAYANGAN
Eng Sok mencoba tenang.
Wajahnya ramah. Senyumnya tipis. Matanya — tidak bisa bohong. Tapi ia berusaha. Lim Hong Guan masih berdiri di samping Ah Chio. Masih tersenyum. Masih memegang dua gelas kopi — satu untuk Ah Chio, satu untuk dirinya sendiri.
Tidak untuk Eng Sok.
"Ko Sioh Bu," kata Lim Hong Guan. "Senang bertemu."
Eng Sok mengangguk. Tidak menjawab.
Ah Chio menatapnya — agak lama. Seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak jadi.
"Kami duluan, Ko," kata Ah Chio. "Ada syuting."
Eng Sok masih tidak menjawab.
Ah Chio menarik tangan Lim Hong Guan. Mereka berjalan ke arah studio. Eng Sok berdiri di tempatnya — membatu.
"Kok bisa iblis bintang ini yang dapat?" maki Eng Sok dalam hati.
Ia menyesal. Bukan karena Ah Chio memilih orang lain. Tapi karena dia sendiri tidak pernah memilih. Dua bulan lalu, Ah Chio bertanya: "Kita dibawa ke mana?" Dan Eng Sok diam.
---
Sampai di rumah, Eng Sok mandi.
Air panas — hampir mendidih. Keran air panas ia putar penuh. Uap memenuhi kamar mandi. Kulitnya memerah. Tapi ia tidak merasa sakit.
Kalo listrik gak mati, mungkin dia ikut matang.
Ia hanya duduk di bak mandi. Menatap langit-langit. Berpikir — tentang Ah Chio, tentang Lim Hong Guan, tentang keputusan yang tidak pernah ia ambil.
---
Jam enam sore. Adegan pertamanya butuh Scene malam di Kebun Teh dua blok dari rumahnya.
Eng Sok berangkat syuting. Drama panjang pertama dalam kariernya — "Huan Sia" (Iblis Bayangan). Naskahnya sudah ia baca semalam sampai begadang, ga hafal. Tadi malam susah banget ngapalin itu. Habis ketemu Ah Guan, habis mandi air panas, dia langsung hafal.
Hafal karena dendam.
Di naskah, ia berperan sebagai pangeran sesat — pangeran miskin yang kalah saing. Gadis pujaannya cinta padanya. Tapi ayahnya menjodohkan dengan pangeran kaya dan sakti. Akhirnya, gadis itu jatuh cinta dengan pria pilihan ayahnya karena pangeran pilihan ayahnya lebih tulus mencintainya. Ia yang awalnya memuji sinopsis karena mengagungkan pilihan orang tua, habis ketemu Ah Guan langsung memaki-maki sinopsis.
Ah Ti berbisik sambil menunjukkan video di HP dia yang baru,”Telat, Ah Me. Cici Ah Chio diambil Baba Ah Guan.”
Ah Me langsung memandang video itu kosong. Dadanya naik turun. Dan ia duduk di kursi. Gak kuat berdiri.
Dibaca lagi naskah itu sama Eng Sok. Pangeran sesat itu — menjual jiwanya pada Iblis Langit. Demi cinta. Demi balas dendam. Demi menghancurkan.
Eng Sok membaca peran itu — dan merasa.
Seperti melihat dirinya sendiri. Lalu dia berangkat dengan rasa sakit sebadan. Walaupun kata hasil cek up kemarin, dia sehat. Sangat prima akibat pola hidup seimbang natural dan Kalisteniknya.
---
Di lokasi syuting, Ah Chio sudah tiba.
Lim Hong Guan juga.
Eng Sok melihat mereka dari kejauhan — Ah Chio sedang merias wajah, Lim Hong Guan duduk di sampingnya, memegang naskah. Kadang bicara. Kadang tertawa. Saling memegang tangan.
Mesra.
Dia sendiri rambutnya dicat perak. Pakai kosmetik natural. Iya… ada produsen make up natural mendanai karena dia join project ini. Langsung datang begitu Eng Sok diperkenalkan mendadak.
Eng Sok mengepalkan tangan. Lalu melepas. Rambutnya dicat temporary pakai cat perak.
"Kontrak. Kerja. Fokus."
---
Toian Hok memberi arahan. Adegan pertama: pangeran sesat (Eng Sok) menjual jiwa. Di bawah pohon beringin tua — latar green screen, tapi pohon asli dari kebun belakang studio.
"Action!"
Eng Sok berlutut. Rambut panjang perak tergerai tertimpa sinar purnama. Wajahnya pucat — bukan make up. Tapi karena hatinya sakit. Make up pembuluh darah ungu tua dan bibir ombre putih ungu membuat karakternya seperti iblis yang hidup.
"Kugadaikan jiwaku... demi cinta..."
Ia memuntahkan sirup merah hitam dari mulutnya. Tidak perlu akting. Tidak perlu berpura-pura
Darahnya sakit.
Ekspresinya — memukau.
Dia mengeluarkan mawar merah dari Tng Sa dia. Ga ada di skrip. Tapi dilemparkan pas pakai jurus lemparan Kun Hong. Sampai diterima Ah Chio di pinggir kebun teh. Dan diikuti kamera. Akhirnya dimasukkan skrip. Toian Hok sang sutradara merasa itu pas estetikanya. Adegan buat nyambung langsung ditulis mendadak dan diWA ke Ah Chio dan pemeran Ayah Putri.
Kameramen lupa menekan tombol off. Matanya membulat. Tangannya gemetar — tapi kamera tetap stabil. Sampai seekor kucing liar nabrak kaki kamera — baru kamera dimatikan.
Toian Hok tidak bilang "cut". Ia hanya diam. Menatap hasil rekaman — bergantian ke layar monitor, ke Eng Sok.
"Satu take." Suaranya parau. "Lanjut."
---
Lim Hong Guan melongo.
"Dia... kayak gak akting," bisiknya ke asisten sutradara.
Ah Chio — yang berdiri di belakang kamera — menelan ludah. Nafasnya terasa pendek-pendek. Kakinya bergerak terus — gelisah.
Ia tahu.
Eng sok tidak sedang akting.
Dia sedang patah hati.
---
Syuting berlangsung hingga tengah malam.
Cat temporary dicuci. Sekarang dia berambut hitam. Mendekati Ah Chio tapi dipukuli figuran. Yang mukulin sampai minta-minta maaf. Karena Eng Sok masih pincang-pincang setelah selesai adegan. Sakit patah hati. Tapi mereka mengira Eng Sok ketendang.
Eng Sok membuka Laptop barunya. Mencari tahu siapa lawannya: Lim Hong Guan. “Mengetahui lawan adalah separuh kemenangan, kata Sun Zu”, katanya sambil menyeringai ke arwah Sioh Bu yang mengacungkan jempol.
BERSAMBUNG
---
Huan Sia — Iblis Bayangan.
Eng Sok berakting dengan luka asli.
Lim Hong Guan melongo. Ah Chio gelisah.
Dan besok — adegan rebutan.
Siapa yang akan menang?
💐🪷