NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Baru saja Ani selesai menata beberapa baju ke dalam lemari dan duduk sejenak di tepi kasur empuknya, ponsel di saku bajunya kembali bergetar pelan. Di tengah suasana baru yang masih terasa asing namun nyaman ini, nama yang terpampang jelas di layar membuat senyum Ani langsung merekah lebar: Ibu Asri.

Hati Ani terasa hangat seketika. Tentu saja ibunya pasti akan segera menanyakan kabar, mengingat betapa berat hati dan cemasnya ia tadi saat melepaskan kepergian anaknya. Dengan tangan yang masih sedikit bergetar karena rasa rindu, Ani segera menekan tombol hijau dan mengangkat panggilan itu.

"Halo... Ibu..." sapa Ani lembut, suaranya terdengar ceria namun samar terdengar rasa haru yang masih tersisa.

Dari seberang sana, suara Ibu Asri langsung terdengar lantang namun bercampur cemas, seolah sudah tak sabar menunggu kabar ini sejak tadi. Di latar belakang, terdengar juga suara berat Ayah Harun yang tampak berdiri di dekat istrinya, ikut menyimak pembicaraan itu.

"Halo, Nak! Ani... Kamu sudah sampai belum, Nak? Ya Allah, Ibu sama Ayah dari tadi sudah tidak tenang duduknya. Jalanan lancar tidak? " rentetan pertanyaan Ibu mengalir deras, penuh kekhawatiran seorang ibu yang tak pernah berubah seumur hidupnya.

Ani tertawa kecil mendengar rentetan pertanyaan itu, rasa rindu pada suasana rumahnya di desa makin terasa menyentuh hati. Ia menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara yang meyakinkan dan penuh kebahagiaan.

"Sudah sampai, Bu... Sudah sampai dengan selamat, aman, dan sehat walafiat. Ibu sama Ayah jangan khawatir ya, tadi perjalanan lancar sekali, tidak macet, tidak ada halangan apa pun. Damar yang menyetir hati-hati sekali kok, pelan dan enak jalannya," jawab Ani lembut, berusaha menenangkan hati kedua orang tuanya yang jauh di sana.

"Syukurlah... syukurlah kalau begitu," suara Ibu terdengar lega sekali, disusul suara Ayah Harun yang terdengar berdeham pelan lalu menyahut dari samping, "Alhamdulillah... Syukur kepada Tuhan. Sudah sampai saja rasanya hati Ayah sudah lega setengah mati."

"Terus kamu sekarang ada di mana, Nak? Di kantor Damar kah? Atau di mana? Kamu sudah dapat tempat tinggal belum? Tidur di mana nanti malam?" tanya Ibu lagi bertubi-tubi, rasa penasaran dan kekhawatirannya belum sepenuhnya hilang.

Ani bangkit berdiri, berjalan perlahan menuju jendela kaca besar di kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berkelap-kelip indah di bawah sana. Ia tersenyum lebar, rasa syukur yang luar biasa kembali memenuhi dadanya saat teringat kebaikan sahabatnya itu.

"Ada kabar gembira nih, Bu... Buat Ibu sama Ayah," jawab Ani dengan nada ceria yang membuat kedua orang tuanya di seberang sana langsung menegakkan telinga.

"Memangnya ada apa, Nak? Ada kabar apa? Cepat cerita sama Ibu," desak Ibu penasaran.

Ani mengangguk sendiri, lalu mulai menceritakan semuanya dengan rinci, penuh semangat dan rasa terima kasih.

"Ini lho, Bu... Tadi sesampainya di kota, Damar tidak bawa Ani ke mana-mana dulu. Dia langsung bawa Ani ke sebuah gedung apartemen yang bagus, bersih, dan aman sekali. Ternyata... apartemen ini milik Damar sendiri, Bu. Salah satu unit yang dia punya, dan katanya sudah lama kosong tidak dipakai."

Ani berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu meresap, lalu melanjutkan lagi.

"Damar bilang, daripada Ani harus susah payah cari kontrakan, harus bayar sewa mahal, dan belum tentu aman atau dekat jalan. Dia malah menyuruh Ani menempati apartemen ini saja, Bu... Dia serahkan semuanya buat Ani. Katanya, biaya apa pun tidak usah dipikirkan, anggap saja milik Ani sendiri selama Ani mau tinggal di sini."

Suara Ani sedikit bergetar karena haru saat mengingat ucapan Damar tadi.

"Dan hebatnya lagi, Bu... Lokasinya sangat strategis. Dari sini ke kantor Damar cuma jalan kaki lima menit saja. Sangat dekat, aman, dan nyaman. Jadi Ani tidak perlu naik kendaraan umum, tidak perlu kena panas hujan, tidak perlu keluar uang ongkos. Damar benar-benar sangat baik, Bu... Dia memikirkan segalanya sampai rinci sekali demi kemudahan Ani. Ani tidak tahu harus membalas kebaikan dia dengan apa."

Di seberang telepon, keheningan menyelimuti sejenak, sebelum terdengar suara isak tangis halus Ibu Asri yang bercampur rasa syukur dan bahagia.

"Ya Allah... Maha Besar Engkau ya Allah..." gumam Ibu pelan, lalu suaranya meninggi penuh rasa terharu. "Nak... dengar Ibu. Ini semua adalah jawaban doa-doa kami. Dulu waktu kamu pergi dari sini, Ibu sama Ayah berdoa supaya kamu bertemu orang-orang baik, orang-orang yang tulus menolong tanpa pamrih. Dan ternyata Damar itu orangnya. Dia benar-benar malaikat tak bersayap yang Tuhan kirimkan buat kamu, Nak."

Kemudian terdengar suara Ayah Harun mengambil alih pembicaraan, suaranya terdengar tegas namun penuh rasa syukur yang mendalam.

"Benar kata Ibumu, Ani. Damar itu sahabat sejati. Dia bukan cuma sekadar teman kuliah, tapi dia seperti saudara sendiri. Kamu harus bersyukur sekali punya teman sebaik dia. Jangan pernah kamu lupa kebaikannya, Nak. Tapi ingat juga, jangan merasa berhutang budi berlebihan sampai merendahkan dirimu. Dia menghargai kamu karena dia tahu kamu berharga. Jadi, buktikan kepercayaannya itu dengan kerja kerasmu."

"Iya, Ayah... Iya, Bu... Ani mengerti sekali. Ani sudah berjanji sama diri sendiri, Ani akan bekerja sebaik mungkin. Ani tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dan kebaikan Damar," jawab Ani mantap.

"Terus tempatnya aman tidak, Nak? Di sana bersih? Ada pagar? Ada orang yang jaga?" tanya Ibu masih belum puas, rasa khawatir seorang ibu tak akan pernah ada habisnya.

"Aman sekali, Bu... Sangat aman. Ada satpam jaga 24 jam, pintunya pakai kartu khusus, gedungnya tertutup, dan lingkungannya bersih serta teratur. Damar sendiri tinggal tidak jauh dari sini, lantai bawah katanya. Jadi kalau ada apa-apa, Ani tinggal panggil atau telepon dia, dia pasti langsung datang. Ibu sama Ayah tenang saja ya," jelas Ani panjang lebar untuk meyakinkan hati orang tuanya.

"Syukurlah... syukurlah kalau begitu. Hati Ibu jadi tenang sekali mendengarnya. Rumah yang layak, tempat yang aman, dekat tempat kerja... itu sudah lebih dari cukup, Nak. Itu sudah nikmat yang besar sekali," ucap Ibu Asri lega. "Nah, sekarang kamu istirahatlah ya. Beres-beres barangmu, mandi, makan yang banyak. Jangan sampai lupa makan ya. Di sana dingin, pakai baju yang tebal kalau perlu. Jangan begadang, besok kan hari pertamamu bekerja. Harus segar dan ceria."

"Siap, Bu... Ani ingat semua pesan Ibu. Nanti Ani makan, nanti Ani istirahat. Ibu sama Ayah di sana juga sehat-sehat ya, jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa, kabari Ani langsung ya," pesan Ani balik, suaranya lembut namun tegas.

"Iya, Nak. Sudah sana istirahat. Ingat, setiap kali sujud, nama kamu selalu ada di doa kami. Semangat ya, Nak... Ayah sama Ibu selalu bangga sama kamu," kata Ibu mengakhiri pembicaraan, disusul suara Ayah yang kembali menyisipkan pesan singkat, "Semangat, anak Ayah. Kami sayang kamu."

Sambungan telepon pun terputus. Ani menurunkan ponselnya perlahan, menatap layar yang sudah gelap itu dengan senyum yang tak kunjung pudar. Hatinya terasa begitu penuh, begitu hangat, dan begitu kuat. Di kota besar yang luas dan ramai ini, ia tidak merasa kesepian sedikit pun. Ia merasa dikelilingi oleh perlindungan: perlindungan doa kedua orang tuanya yang jauh di desa, perlindungan ketulusan sahabat sejatinya, dan perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa yang menuntun langkahnya ke jalan yang indah ini.

Ani kembali berjalan mengelilingi ruangan apartemen itu, kini dengan pandangan yang lebih akrab dan memiliki. Tempat ini bukan sekadar bangunan beton dan kaca. Tempat ini adalah gerbang baru, awal mula kebangkitannya yang sesungguhnya. Di sini, di ruangan yang bersih dan nyaman ini, Ani tahu ia akan menciptakan banyak cerita indah, banyak kesuksesan, dan banyak kebahagiaan yang akan ia banggakan kelak di depan Ayah, Ibu, dan semua orang yang pernah meragukannya.

Malam itu, Ani tidur dengan hati yang paling damai dan penuh harapan. Ia tahu, hari esok akan menjadi awal dari perjalanan panjang yang gemilang.

bersambung,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!