NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Jangan Sentuh Keluargaku

“Mereka datang buat ambil Nayra.”

Kalimat Arsen langsung menghantam ruangan seperti ledakan.

Tak ada waktu buat mencerna.

Tak ada waktu buat panik.

Karena di layar laptop—

orang-orang bersenjata itu mulai bergerak menuju gedung apartemen.

Cepat.

Rapi.

Terlatih.

Dan itu membuat semuanya jauh lebih buruk.

“Berapa orang?” tanya Zavian langsung.

“Minimal delapan.”

Arsen memperbesar rekaman kamera.

“Mungkin lebih.”

Nayra langsung pucat.

“Delapan?!”

“Itu yang kelihatan.”

“Oke aku mau pingsan.”

“Jangan sekarang,” jawab Arsen cepat.

Reina berdiri pelan.

Tatapannya langsung berubah tajam.

Dan untuk pertama kalinya—

Nayra melihat sisi lain perempuan itu.

Bukan kakak hangat yang barusan memberinya boneka lama.

Tapi seseorang yang tahu cara bertahan hidup.

“Kita harus pergi.”

Zavian mengangguk kecil.

“Mereka bakal nutup semua akses keluar dalam beberapa menit.”

Arsen langsung mulai memasukkan laptop dan beberapa alat ke tas.

Sementara Nayra masih memeluk boneka kelinci kecilnya tanpa sadar.

Otaknya terlalu penuh.

Terlalu cepat.

“Hey.”

Zavian mendekat.

Tangannya menyentuh pipi Nayra pelan.

Tatapannya lurus.

Fokus.

“Aku butuh kamu tetap tenang.”

Deg.

Nayra langsung menelan ludah.

Karena suara cowok itu sekarang terdengar seperti seseorang yang siap perang.

Dan itu menakutkan.

“Mereka nggak bakal dapetin kamu.”

Kalimat itu keluar pelan.

Namun penuh keyakinan.

Dan Nayra ingin percaya.

Sungguh.

Tapi jantungnya tetap gemetar.

BRAKK!

Suara pintu bawah gedung dihantam keras terdengar samar dari koridor.

Semua langsung membeku.

“Mereka cepet banget!” geram Arsen.

“Mereka pasti udah mantau dari tadi,” jawab Reina.

Tatapannya ke pintu apartemen.

“Ini bukan serangan mendadak.”

Deg.

Artinya—

mereka memang sudah lama diawasi.

Zavian langsung mengambil pistol dari meja.

Lalu melempar satu lagi ke Arsen.

“Jangan mati.”

“Kalimat motivasi favoritku.”

Reina mengeluarkan pisau kecil dari balik jaket.

Dan Nayra langsung melotot.

“KAMU BAWA PISAU?!”

“Aku kakakmu.”

“Itu bukan jawaban!”

BRAK!

Suara langkah mulai terdengar di lorong apartemen.

Cepat.

Banyak.

Mereka sudah naik.

“Kita lewat tangga belakang,” kata Zavian cepat.

“Lantai tujuh?” protes Nayra.

“Kamu mau naik helikopter?”

“Poin bagus.”

Mereka langsung bergerak.

Arsen membuka pintu belakang dapur kecil yang terhubung ke tangga darurat.

Udara malam dingin langsung menyambut.

Dan suara langkah di lorong utama makin dekat.

“GERAK!”

Zavian mendorong Nayra turun duluan.

Langkah kaki menggema cepat di tangga sempit.

Jantung Nayra berdetak brutal.

Satu lantai.

Dua lantai.

Tiga lantai.

Dan suara pintu apartemen mereka dihancurkan terdengar keras di atas.

BRAKKK!

“Mereka masuk!” teriak Arsen.

“NO SHIT!”

Tembakan pertama pecah beberapa detik kemudian.

DUAK!

Peluru menghantam dinding tangga.

Debu beterbangan.

Nayra langsung menjerit kecil.

“MEREKA NEMBAK?!”

“Mereka bukan mau ngajak ngobrol!” bentak Arsen sambil membalas tembakan.

Situasi langsung berubah kacau.

Suara langkah.

Tembakan.

Pantulan peluru di logam tangga.

Dan Nayra benar-benar membenci hidupnya sekarang.

“Turun terus!” teriak Zavian.

Cowok itu berjalan paling belakang sekarang.

Menutupi semuanya.

Melindungi mereka dari arah atas.

Dan Nayra baru sadar sesuatu—

Zavian selalu mengambil posisi paling berbahaya.

Selalu.

Seolah dirinya sendiri bukan prioritas.

Dan itu membuat dada Nayra sakit.

DUAK!

Peluru lain menghantam dekat kepala Zavian.

Cowok itu langsung membalas dua tembakan cepat.

Salah satu penyerang jatuh.

Namun langkah mereka tidak berhenti.

Mereka terus turun.

Terus mengejar.

“Mereka keras kepala banget!” teriak Nayra sambil hampir terpeleset.

“Kayak kamu,” jawab Arsen.

“INI BUKAN WAKTU YANG TEPAT!”

Begitu sampai lantai dua—

Reina mendadak berhenti.

“Arah sini!”

Ia membuka pintu lorong servis kecil.

Gelap.

Sempit.

Dan berbau debu.

“Kamu tahu tempat ini?” tanya Nayra bingung.

“Aku pernah tinggal di gedung kayak gini.”

Tatapannya datar.

“Orang miskin punya skill survival.”

“Oke itu sedih.”

Mereka masuk ke lorong servis.

Dan suara langkah para penyerang mulai menjauh sedikit.

Setidaknya untuk sementara.

Napas Nayra memburu.

Kakinya gemetar.

Dan ia baru sadar—

tangannya masih memegang boneka kelinci kecil itu erat.

“Kamu serius bawa itu?”

Arsen menunjuk boneka tersebut.

Nayra langsung defensif.

“INI PENTING.”

“Fair.”

Mereka akhirnya keluar lewat pintu belakang gedung.

Jalan kecil sempit menyambut mereka.

Gelap.

Basah.

Sunyi.

Namun itu tidak berlangsung lama.

Karena dua mobil hitam langsung berbelok ke arah gang mereka.

Deg.

“MEREKA DI SINI JUGA?!”

“Tentu aja,” jawab Arsen lelah.

“Hidup benci kita.”

“Lari!” bentak Zavian.

Dan mereka langsung sprint lagi.

Nayra yakin paru-parunya mau keluar sekarang.

Ia capek.

Takut.

Pusing.

Namun ia tetap berlari.

Karena berhenti berarti tertangkap.

Dan ia tidak mau kembali jadi eksperimen siapa pun.

Tidak lagi.

Suara tembakan kembali terdengar.

Orang-orang mulai berteriak dari kejauhan.

Lampu mobil menyapu gang sempit.

Dan suasana berubah seperti mimpi buruk lagi.

“Ke kanan!” teriak Reina.

Mereka berbelok cepat.

Nyaris menabrak tumpukan kardus.

Arsen mengumpat karena sepatunya licin.

Dan Nayra benar-benar ingin hidup normal sekarang.

Sangat ingin.

Tiba-tiba—

sebuah mobil hitam muncul dari ujung gang depan mereka.

Berhenti mendadak.

Pintu terbuka.

Dua pria bersenjata keluar.

Deg.

Mereka terkepung.

“Belakang juga!” teriak Arsen.

Dan benar saja—

langkah kaki lain mulai mendekat dari arah belakang.

Oke.

Situasi resmi kacau total.

“Lindungi Nayra.”

Suara Zavian berubah sangat dingin sekarang.

Berbahaya.

Dan Nayra langsung tahu—

cowok itu mau melakukan sesuatu nekat.

“Zavian jangan—”

Namun Zavian sudah maju duluan.

DUAK!

Tembakan cepat memecah udara.

Salah satu pria depan langsung jatuh.

Yang lain membalas brutal.

“MASUK KE GANG SAMPING!” bentak Zavian tanpa menoleh.

“Tapi kamu—”

“SEKARANG!”

Deg.

Nayra benci nada suara itu.

Nada seseorang yang siap ditinggal sendirian demi orang lain.

Reina langsung menarik tangan Nayra.

“Kita harus gerak!”

“TAPI—”

“Percaya sama dia!”

Dan itu masalahnya.

Nayra memang percaya.

Terlalu percaya.

Mereka berlari lagi.

Namun Nayra terus menoleh ke belakang.

Melihat Zavian sendirian menghadapi para penyerang.

Melihat kilatan tembakan di tengah hujan malam.

Dan rasa takut di dadanya berubah jadi sesuatu yang lain.

Marah.

Ia capek terus lari.

Capek terus jadi target.

Capek terus kehilangan orang.

Tiba-tiba—

suara kecil muncul lagi di kepalanya.

“Kamu nggak lemah.”

Deg.

Langkah Nayra melambat sedikit.

“Aku takut…”

“Tapi kamu tetap jalan.”

Suara itu lembut.

Hangat.

“Dan itu namanya berani.”

DUARR!

Ledakan kecil terdengar dari belakang.

Arsen langsung mengumpat.

“Dia gila!”

Nayra berhenti mendadak.

Reina langsung menoleh.

“Nayra?!”

Gadis itu menatap kembali ke arah gang belakang.

Napasnya kacau.

Jantungnya brutal.

Namun satu hal tiba-tiba terasa sangat jelas di kepalanya—

ia tidak mau terus dilindungi sementara orang lain terluka untuknya.

Tidak lagi.

“Aku capek lari.”

Reina membeku.

“Hah?”

Tatapan Nayra berubah sekarang.

Takutnya masih ada.

Namun di balik itu—

ada sesuatu yang baru.

Keputusan.

“Nayra jangan nekat,” kata Arsen cepat.

“Terlambat.”

Dan sebelum siapa pun sempat menghentikan—

Nayra berbalik.

Lalu berlari kembali ke arah suara tembakan.

“NAYRA!”

Teriakan Reina menggema di belakang.

Namun Nayra terus berlari.

Hujan membasahi wajahnya.

Napasnya sakit.

Tapi langkahnya tidak berhenti.

Karena untuk pertama kalinya—

ia tidak mau jadi seseorang yang cuma diselamatkan.

Begitu sampai kembali ke gang utama—

pemandangan di depannya langsung membuat dadanya nyaris berhenti.

Zavian berdiri sendirian di tengah hujan.

Darah menetes dari lengannya.

Beberapa pria bersenjata mengepungnya.

Dan salah satu dari mereka—

sedang mengarahkan pistol tepat ke kepala cowok itu.

Deg.

“Nah akhirnya.”

Pria bertudung hitam itu tersenyum kecil saat melihat Nayra datang.

“Target utama muncul juga.”

Nayra membeku.

Dan untuk pertama kalinya—

ia melihat jelas simbol tiga garis di leher pria itu.

“Lepasin dia.”

Suara Nayra gemetar.

Namun matanya tetap menatap lurus.

Pria itu tertawa kecil.

“Kalau nggak?”

Sunyi.

Hujan turun makin deras.

Dan Zavian langsung berkata pelan—

“Nayra… pergi.”

Deg.

Tidak.

Tidak kali ini.

Pria bertudung itu tersenyum tipis.

“Kamu spesial, Nayra.”

Tatapannya aneh.

Seperti ilmuwan melihat hasil eksperimen.

“Project Lazarus belum selesai.”

Dada Nayra langsung dingin.

Lalu pria itu mengangkat pistolnya sedikit lebih dekat ke kepala Zavian.

“Sekarang pilih.”

Senyumnya melebar.

“Kamu ikut kami…”

Tatapannya tajam.

“…atau dia mati di sini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!