NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pesan Berdarah dan Langkah Pertama Sang Pemburu

Genggaman tangan Kafka terasa dingin menembus sarung tangannya, namun ada kekuatan absolut di balik sentuhan itu. Saat aku ditarik berdiri, lututku masih sedikit gemetar, tapi beban tak kasatmata yang menghimpit dadaku selama berminggu-minggu—ketakutan dikejar oleh Guild, Hermes, dan Freya—lenyap seketika.

​Aku baru saja menjual jiwaku bukan kepada iblis, melainkan kepada anomali alam semesta.

​Silver Wolf melompat turun dari mejaku, sepatu sneakers-nya mendarat tanpa suara. Ia berjalan menghampiri Hermes yang masih terduduk kaku seperti patung batu, matanya membelalak penuh teror, tak mampu menggerakkan satu otot pun berkat Spirit Whisper Kafka.

​"Hei, Penulis," panggil Silver Wolf tanpa menoleh, meniup permen karetnya. "Apa drop item dari NPC level tinggi ini bagus? Haruskah aku meretas kode asalnya dan menghapusnya dari server?"

​"Jangan!" sergahku cepat, suaraku masih serak. Aku menatap Kafka yang kini memutar tubuhnya menghadapku dengan tatapan bertanya. "Jika kalian membunuhnya, wadah fana itu akan hancur. Kekuatan aslinya sebagai Dewa akan meledak dalam wujud pilar cahaya yang menembus langit untuk kembali ke Tenkai (Surga). Itu akan mengundang seluruh Orario dan Ouranos ke tempat ini dalam hitungan menit."

​Kafka terkekeh pelan. Ia mengangkat tangannya, merapikan kerah jas ungunya yang elegan. "Membunuhnya memang tidak ada dalam naskah Elio. Kematian seorang dewa pada tahap ini hanya akan merusak keseimbangan parameter dunia yang sedang kau bangun. Tapi..."

​Kafka berjalan mendekati Hermes. Ia menunduk, menatap wajah sang Dewa Penipu yang dipenuhi keringat dingin. Jari lentik Kafka menyentuh dagu Hermes, memaksanya mendongak.

​"Kita tidak bisa pergi tanpa meninggalkan... salam perkenalan, bukan?"

​Mata ungu Kafka kembali bersinar dengan benang-benang spiritual. Ia menatap lurus ke dalam pupil jingga Hermes yang bergetar.

​"Saat mantra kelumpuhan ini lepas, kau akan melupakan wujud kami," bisik Kafka, suaranya meresap langsung ke dalam jiwa sang Dewa. "Tapi kau akan mengingat satu pesan ini, dan kau akan menyampaikannya kepada setiap Dewa yang duduk di menara kesombongan mereka: 'Papan catur kalian bukan lagi milik kalian. Bintang-bintang telah turun untuk bermain'."

​Air mata darah menetes dari pelipis Hermes akibat tekanan mental yang dipaksakan pada keilahiannya. Di sudut ruangan, Asfi menangis tertahan melihat tuannya diperlakukan layaknya kurir murahan.

​"Bagus," Kafka tersenyum puas, melepaskan dagu Hermes. Ia lalu menoleh padaku. "Bawa barang-barang yang kau perlukan. Kita meninggalkan panggung kumuh ini."

​Aku menatap sekeliling ruang bawah tanahku. Tumpukan perkamen, pena bulu, botol tinta, dan sisa-sisa roti kering. Kehidupanku yang menyedihkan sebagai buronan.

​"Aku tidak butuh apa-apa dari sini," ucapku mantap. "Semua naskah dan konsepnya ada di dalam kepalaku."

​"Jawaban yang sangat aku sukai," sahut Silver Wolf. Gadis mungil itu mengangkat sebelah tangannya ke udara. Sebuah keyboard hologram biru cyan muncul di depan jari-jarinya. Ia mengetik dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap mata biasa. "Mengedit koordinat spasial. Menimpa tekstur bata dengan pintu dimensi. Execute."

​Di dinding batu ruang bawah tanahku, realitas mendadak glitch. Udara beriak, batu bata terpecah menjadi piksel-piksel cahaya, lalu robek, membuka sebuah portal yang memperlihatkan pemandangan malam di puncak sebuah tebing curam. Angin malam yang segar berhembus masuk, menggantikan bau apek ruangan itu.

​"Ayo," ajak Kafka, melangkah anggun menembus portal tersebut. Silver Wolf mengikutinya dengan santai, tangannya sibuk menekan tombol pada perangkat di pergelangan tangannya.

​Aku menatap Hermes dan Asfi untuk terakhir kalinya, lalu menarik napas panjang, dan melangkah menembus batas dimensi itu. Di belakangku, portal tertutup seketika, mengembalikan dinding batu itu seperti sedia kala, seolah kami tidak pernah ada di sana.

​Tiga Puluh Menit Kemudian – Ruang Bawah Tanah Anonym

​Pintu kayu yang sudah hancur itu ditendang sekali lagi hingga berkeping-keping.

​"Sisir area ini! Jangan biarkan satu ekor tikus pun lolos!" raung Bete Loga, manusia serigala dari Loki Familia, melesat masuk dengan taring beringas dan cakar terhunus. Di belakangnya, puluhan anggota divisi bayangan Loki menyebar, mengamankan setiap sudut.

​Loki sendiri berjalan masuk dengan langkah terburu-buru. Mata merahnya memindai ruangan pengap itu. Ia mengharapkan perlawanan, atau setidaknya menemukan sang Pencerita misterius yang telah mengacaukan Falna Finn.

​Namun, yang ia temukan membuat darah sang Dewi Penipu membeku.

​"Loki-sama!" seru Raul, menunjuk ke sudut ruangan. "Itu... Hermes-sama! Dan Asfi!"

​Loki berlari mendekat. Hermes masih terduduk di lantai dengan pose kaku yang mengerikan. Matanya terbuka lebar, menatap kosong ke udara. Asfi pingsan tak jauh dari sana, darah menggenang di bawah tubuhnya.

​"Hermes!" Loki mengguncang bahu sahabat sesama Dewanya itu. "Sadarlah, bodoh! Apa yang terjadi di sini?! Mana penulis itu?!"

​Sentuhan Loki seolah memecahkan cangkang tak kasatmata yang mengurung Hermes. Dewa bertopi bulu itu tersentak hebat, meraup udara seperti orang tenggelam. Kutukan Spirit Whisper terlepas sebagian.

​"Hermes!" bentak Loki, menampar pipi dewa itu. "Jawab aku!"

​Perlahan, Hermes menoleh menatap Loki. Namun ekspresi di wajahnya sangatlah kosong, seolah jiwanya sedang dikendalikan oleh sisa-sisa perintah absolut. Mulut Hermes terbuka, namun suara yang keluar bukanlah suara ceria khas sang Dewa Pengembara.

​Itu adalah intonasi yang lembut, elegan, namun sangat asing.

​"Papan catur kalian bukan lagi milik kalian," Hermes berbicara layaknya boneka ventriloquist, suaranya bergema aneh di ruangan sempit itu. "Bintang-bintang telah turun untuk bermain."

​Setelah mengucapkan kalimat itu, mata Hermes bergulir ke belakang dan ia jatuh pingsan di lantai batu.

​Loki terhuyung mundur. Jantung ilahinya berdebar liar. Kalimat itu bukanlah gertakan fana. Itu adalah proklamasi perang dari entitas yang tidak terikat oleh aturan Tenkai.

​"Sialan..." desis Loki, mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. "Kita terlambat. Mereka sudah membawanya."

​Di Luar Tembok Orario – Puncak Tebing Naga Jatuh

​Angin malam menderu kencang, meniup jubahku. Aku berdiri di tepi tebing, menatap lautan lampu kota Orario yang berkilauan di kejauhan. Menara Babel menjulang di tengah-tengahnya, menembus awan, tempat di mana para Dewa merasa diri mereka adalah penguasa dunia.

​Dari atas sini, kota raksasa itu terlihat seperti mainan balok kayu.

​"Pemandangan yang lumayan," komentar Silver Wolf, duduk di atas sebuah batu besar sambil mengunyah permen karetnya. Papan layarnya masih mengambang di udara, menampilkan barisan kode dan, entah bagaimana, memproyeksikan peta struktur Dungeon Orario dalam bentuk tiga dimensi. "Keamanan firewall sihir di dunia ini benar-benar nol. Aku baru saja meretas arsip milik makhluk tua bernama Ouranos. Dia sedang memobilisasi sesuatu yang disebut 'Xenos'."

​Kafka melangkah ke sampingku. Angin mempermainkan rambut merah keunguannya. Ia menatap ke arah Babel dengan senyum tipis.

​"Kau melihatnya, Anonym?" tanya Kafka lembut. "Dunia yang selama ini mengurungmu, kini gemetar karena kata-katamu. Tapi pekerjaan kita belum selesai."

​Kafka menoleh menatapku. Mata ungunya memantulkan cahaya bulan.

​"Dalam prolog yang baru saja kau tulis, kau menciptakan sebuah cangkang kosong yang menyimpan Kanker Semua Dunia. Sebuah anomali yang jatuh ke dasar labirin itu. Karena tulisanmu kini telah menyatu dengan realitas, 'Wadah' itu sekarang benar-benar eksis di suatu tempat di dalam Dungeon."

​Aku mengangguk pelan. Jantungku berdegup kencang menyadari skala fiksi yang kini menjadi fakta. "Stellaron itu... jika tidak ditemukan lebih dulu, Evilus atau monster di bawah sana akan menggunakan kekuatannya."

​"Tepat," Kafka berbalik, berjalan menjauh dari tepi tebing. "Maka tugas pertamamu sebagai anggota kami adalah menuliskan jalurnya. Arahkan narasi dunia ini menuju wadah tersebut. Kita akan turun ke kedalaman labirin itu, tidak peduli berapa banyak Dewa atau Familia yang menghalangi jalan kita."

​Silver Wolf melompat turun dari batu, layar hologramnya menghilang menjadi partikel cahaya. "Akhirnya, misi utama (Main Quest) dimulai. Aku bertaruh kita akan menghancurkan setidaknya setengah kota itu sebelum mencapai lantai paling bawah."

​Aku menatap Orario untuk terakhir kalinya. Rasa takutku telah digantikan oleh sesuatu yang lain. Adrenalin. Kebebasan yang gila. Bersama Pemburu Stellaron, aku bukan lagi pion di atas papan catur para Dewa.

​Aku adalah orang yang menulis ulang papannya.

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!