NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Action / Wanita perkasa / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Komedi
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
​Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
​Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
​"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Tanda Di Pergelangan Tangan

​Persiapan ekspedisi menuju Lautan Terlarang dilakukan dengan kerahasiaan tingkat tinggi. Di pelabuhan militer tersembunyi yang terletak di teluk berbatu tak jauh dari ibu kota, sebuah kapal cepat jenis brigantine bernama Candra Kirana sedang dipasangi layar baru. Kapal itu ramping, kuat, dan yang paling penting: mampu membelah ombak dengan kecepatan yang tidak bisa dikejar kapal perang biasa.

​Alesia berdiri di dermaga, kali ini tidak memakai pakaian permaisuri maupun pakaian gerilya hitamnya. Ia mengenakan celana linen longgar, sepatu bot kulit, dan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku. Di pinggangnya, Golok Seliwa tetap setia melingkar.

​"Bang, lu yakin ini kapalnya kaga bakal bocor di tengah jalan? Ombak di luar sana katanya galak bener," tanya Alesia sambil menepuk lambung kapal yang terbuat dari kayu jati tua yang diperkuat besi.

​Magnus, yang sedang meninjau peta navigasi bersama Jenderal Kael di atas geladak, mendongak. "Ini kapal terbaik Orizon, Siti. Kayunya sudah direndam minyak suci selama tujuh tahun. Badai sebesar apapun hanya akan membuatnya menari, bukan tenggelam."

​"Gayanya... menari. Awas aja kalau nanti gue malah mabuk laut terus muntah-muntah di baju lu," canda Alesia sambil melompat naik ke geladak dengan lincah.

​Jenderal Kael membungkuk hormat, namun wajahnya tampak jauh lebih tegang dari biasanya. Matanya terus melirik ke arah sepuluh awak kapal pilihan yang sedang memindahkan peti-peti logistik ke dalam palka.

​"Gusti Permaisuri, Baginda," bisik Kael dengan suara yang sangat rendah setelah memastikan para pelaut berada dalam jarak aman. "Hamba harus melaporkan sesuatu yang mengkhawatirkan."

​Magnus meletakkan kompas peraknya. "Ada apa, Kael? Kau terlihat seperti baru melihat hantu di siang bolong."

​"Saat pemeriksaan kesehatan para awak tadi pagi, hamba menemukan sesuatu," Kael menepi ke sudut kabin kapten, memberi isyarat agar Magnus dan Alesia mengikutinya. "Salah satu kelasi mesin bernama Bram... di pergelangan tangan kirinya terdapat bekas luka bakar yang aneh."

​Alesia mengernyit. "Luka bakar doang? Mungkin dia kena knalpot—eh, maksudnya kena uap panas mesin?"

​"Bukan sembarang luka bakar, Gusti," Kael menggeleng pelan. "Hamba mencoba membersihkan lukanya dengan cairan cuka, dan di balik kulit yang mengelupas itu, terlihat sisa tato berbentuk bunga lili hitam yang melilit belati. Itu adalah lambang Orde Mawar Hitam."

​Magnus tersentak, matanya berkilat marah. "Loyalis Ibu Suri. Mereka adalah unit pembunuh rahasia yang seharusnya sudah dibubarkan tujuh tahun lalu."

​"Buset, jadi kita bawa 'cepu' di atas kapal?" seru Alesia, tangannya secara refleks memegang gagang goloknya. "Mana orangnya? Biar gue kasih paham pake teknik 'Anatomi' gue!"

​"Jangan sekarang, Siti," Magnus menahan lengan Alesia. "Jika kita menangkapnya di sini, kita tidak akan tahu siapa kawan-kawannya yang lain. Orde Mawar Hitam tidak pernah bergerak sendirian. Pasti ada setidaknya dua atau tiga orang lagi di kapal ini yang bekerja untuknya."

​"Terus kita biarin aja mereka ikut berlayar?" tanya Alesia tidak percaya. "Itu mah namanya kita nyerahin leher buat disembelih pas kita lagi tidur, Bang!"

​"Kita akan menjadikannya umpan," ucap Magnus dingin. "Kael, pastikan Bram tetap bekerja seperti biasa. Berikan dia akses ke bagian mesin, tapi pasang dua orang Mawar-mu di langit-langit palka untuk mengawasi setiap geraknya."

​Alesia menghela napas, ia menyandarkan punggungnya di dinding kabit. "Duh, niatnya mau petualangan nyari pulau misterius, malah dapet bonus drama pengkhianatan lagi. Hidup gue di sini bener-bener kaga ada tenang-tenangnya ya."

​"Itulah harga dari sebuah perubahan, Permaisuriku," Magnus mendekat, mengusap bahu Alesia untuk menenangkannya. "Ibu Suri tahu jika kau berhasil menemukan Pulau Tanpa Nama itu, posisinya sebagai pemegang 'ramalan' akan runtuh total. Dia akan melakukan apapun untuk menghentikan kita."

​Tiba-tiba, suara Lily terdengar dari tangga geladak. "Gustiiiii! Hamba sudah memasukkan semua stok terasi dan cabe rawit ke dapur kapal! Kita siap berangkat!"

​Alesia tertawa kecil melihat keceriaan Lily yang belum tahu apa-apa soal Mawar Hitam itu. "Siap, Ly! Jagain kompornya, jangan sampe mati!"

​Satu jam kemudian, Candra Kirana perlahan meninggalkan teluk. Layar-layar putihnya mengembang gagah diterpa angin laut yang kencang. Alesia berdiri di buritan, menatap daratan Orizon yang semakin mengecil.

​Malam pertama di laut lepas terasa mencekam. Suara derit kayu kapal yang beradu dengan ombak menciptakan irama yang konstan. Alesia tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk keluar dari kabinnya dan berjalan perlahan menuju area palka bawah, tempat mesin uap pembantu berada.

​Ia melihat Bram, pria yang dimaksud Kael, sedang sibuk menuangkan pelumas pada mesin. Pria itu tampak biasa saja, namun Alesia menangkap gerakan matanya yang terus melirik ke arah pintu keluar.

​"Rajin bener, Mas Bram," tegur Alesia tiba-tiba dari kegelapan tangga.

​Bram tersentak, hampir menjatuhkan botol minyaknya. Ia segera membungkuk dalam. "Gusti Permaisuri! Mohon ampun, hamba hanya memastikan perjalanan kita lancar."

​Alesia berjalan mendekat, matanya menatap tajam ke arah pergelangan tangan kiri Bram yang tertutup kain pembalut. "Tangan lu kenapa? Luka?"

​Bram menyembunyikan tangannya di balik punggung. "Hanya kecelakaan kecil saat mengangkat peti, Gusti. Bukan hal yang perlu dikhawatirkan."

​"Oh, gitu ya? Gue punya salep bagus loh di kabin. Buat ngilangin bekas luka... atau bekas tato," ucap Alesia dengan nada bicara yang santai namun menusuk.

​Wajah Bram berubah pucat pasi. Suasana di palka bawah mendadak menjadi dingin. Bram mundur selangkah, tangannya meraba sesuatu di balik sabuknya.

​"Gusti Permaisuri sebaiknya kembali ke kabin," suara Bram berubah menjadi berat dan tidak ramah lagi. "Lautan ini sangat berbahaya di malam hari. Terkadang orang bisa terpeleset dan tidak pernah ditemukan lagi."

​Alesia menyeringai, ia menarik Golok Seliwa-nya setengah inci dari sarungnya, menciptakan bunyi logam yang tajam. "Wah, anceman lu boleh juga. Tapi lu lupa satu hal, Mas. Gue ini bukan Permaisuri yang cuma bisa dandan di depan cermin. Gue ini lulusan jalanan yang udah biasa liat orang modelan lu."

​"SITI!" teriakan Magnus terdengar dari atas.

​Bram langsung berbalik dan lari menuju lorong gelap di belakang mesin. Alesia hendak mengejar, namun Magnus dan Kael sudah muncul di tangga dengan pedang terhunus.

​"Dia kabur ke palka belakang, Bang!" teriak Alesia.

​Kael segera mengejar, namun semenit kemudian ia kembali dengan wajah kecewa. "Dia melompat ke laut melalui lubang pembuangan, Yang Mulia. Tapi dia tidak sendirian. Ada sebuah perahu kecil yang sudah menunggu di bawah bayangan lambung kapal sejak tadi."

​Magnus menatap lubang air yang masih basah. "Dia sengaja memancing kita. Dia ingin kita tahu bahwa dia ada di sini."

​"Bukan cuma itu, Bang," Alesia menunjuk ke arah tangki air tawar di sudut ruangan. Di sana, terdapat sebuah simbol bunga lili hitam yang digambar dengan darah. Di bawahnya tertulis sebuah pesan singkat:

​"Selamat datang di kuburan air kalian."

​Alesia menarik napas panjang. "Kayaknya liburan kita bakal makin seru nih. Baru malem pertama udah ada yang mau bikinin kuburan."

​Magnus menggenggam tangan Alesia, wajahnya penuh tekad. "Kita tidak akan kembali. Justru karena mereka takut kita sampai ke pulau itu, berarti kita sudah berada di jalur yang benar. Kael, perketat penjagaan. Siapapun yang mendekati kemudi selain kau dan aku, tangkap!"

​Di tengah samudera yang luas dan gelap, Candra Kirana terus melaju, membawa beban rahasia dan ancaman yang mengintai dari balik ombak. Alesia menatap peta di tangannya. Pulau Tanpa Nama sudah semakin dekat, namun ia tahu, badai yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
Nunung Elasari
ayooo al kasih paham
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Nunung Elasari
kocak, sorry thor baru mampir
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Pawon Ana
hadeuh....sabar Siti masih belum kelar itu perangnya...masih ada sesi selanjutnya....dan aku juga akan sabar menunggu🤭✌️
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Pawon Ana
ayo maju Siti dari Depok....paling seneng kalau pas part Siti praktek ilmu silat .... jawara Betawi dilawan....🤣 si genius jalan Depok beraksi..💪
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Muft Smoker
burung dewa ny msh KW bang ,, jd mudah di taklukkan 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Muft Smoker
ayoo siti semangat ,,
perjalanan mu Blum berakhir ,,
msh byk tantangan yg Blum terpecahkn ,,
Muft Smoker: sama2 siti 👍👍👍👍👍👍 ,, 😉😉😉
jgn kn siti aq juga semangat baca ny,,
cerita ny seruuu
total 2 replies
Pawon Ana
daaan petualangan baru Siti permaisuri dari Depok dimulai....semangat mbak siti💪🤭
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣 terimakasih kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aditya Rian
lanjut kan 👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aditya Rian
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aditya Rian
👍👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
🙏🙏🙏🙏🙏
aditya rian
🤣🤣🤣🤣🤣
aditya rian
🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
kocaghhh 🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
👣👣👣👣👣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya
total 1 replies
umie chaby_ba
keren nih ada tabrakan dunia modernnya juga , apa kebocoran kah
Ariska Kamisa: mungkin ya 🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
ada penjelajah waktu lain kayanya, 😱
umie chaby_ba
ya Allah... ada Bae idenya siti Siti 🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!