Pernikahan Arga dan hana awalnya tampak sempurna. Sepuluh tahun kebersamaan, satu ikatan suci, dan kepercayaan yang tak pernah ia ragukan. Hingga suatu hari, Arga menemukan kebenaran yang menghancurkan seluruh hidupnya—istri yang ia cintai ternyata adalah perempuan yang diam-diam menjadi kekasih dari satu-satunya darah daging yang ia miliki: abang kandungnya sendiri. Perselingkuhan itu bukan terjadi semalam. Ia tumbuh perlahan, berakar dari masa lalu yang tak pernah benar-benar mati. Setiap senyum yang Arga kira tulus, setiap pelukan yang ia anggap rumah, ternyata menyimpan pengkhianatan yang terencana. Di antara dosa, rasa bersalah, dan luka yang tak terucap, Arga terjebak dalam dilema: mempertahankan pernikahan yang sudah tercemar, atau melepaskan semuanya—termasuk ikatan saudara yang sejak kecil ia jaga dengan nyawa. Ketika kebenaran terungkap, tak ada lagi yang benar-benar menjadi pemenang. Karena terkadang, pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari orang asing, melainkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ruang senandika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenyataan
" Maaf.. aku hanya senang melihat mu" ucap Aku tersenyum canggung. Entah mengapa dia langsung terlihat kebingungan atas perkataan ku.
" Senang melihat ku...?" Ucap roseanne bingung. Pertanyaan nya membuat ku salah tingkah seketika.
" I-iya... Aku melihat mu dan tentu nya harus menyapa mu bukan... Kita sudah saling mengenal, dan pasti akan saling sapa jika bertemu..." Ucap bian hampir saja. Lagi-lagi perasaan ku pada Rose membuat ku terlihat bodoh.
"Ah seperti itu..." Jawab Rose dengan polos mengangguk. Dan dia juga tersenyum sangat manis. Jantung ku berdetak tidak karuan sekarang.
"Kau sedang mencari buku apa...? Ucap ku berusaha menghilangkan rasa canggung ku dengan bertanya.
" Hanya buku sejarah kesenian... Ku pikir aku perlu mengetahui sejarah kesenian yang pernah ada di dunia ini..." Ucap Rose tersenyum menatap sebuah buku yang tadi di pegang, dan kembali menaruh nya ke rak.
" Menurut ku begitu... Kau sangat suka seni..." Tanya ku sedikit kelepasan dengan berbicara terlalu antusias. Mengetahui hal kesukaannya sudah membuat ku cukup bahagia.
" Ya kau benar... Namun aku belum mendapatkan nya..." Dia berucap dengan Lesu. Oh Rose aku tidak bisa melihat mu sedih seperti ini.
" Bagaimana kalau aku ikut mencari...?" Ucap ku sembari menawarkan bantuan pada nya. Daripada melihat nya sedih, jadi aku menawarkan bantuan. Lagian aku senang berdekatan dengan nya.
" Terimakasih atas tawaran nya... Aku akan mencari nya di lain waktu... Sebentar lagi kelas akan di mulai..." Jawab Rose menolak secara halus. Aku sedikit kecewa tapi mengerti karena memang pembelajaran akan segera di mulai.
" Lalu kau kenapa ada di sini...?" Ucap Rose bertanya lagi, dan hal itu membuat ku salah tingkah karena memikirkan alasan yang harus ku katakan.
" A-aku mencari hana... Yah mencari hana.." ucap ku menjawab dengan senyuman canggung. Entah kenapa nama Hana terlintas di pikiran ku untuk di jadikan sebuah alasan.
"Oh kak Hana tidak berangkat hari ini..." Dia malah berkata seperti itu. Dan mendengarkan itu aku langsung terdiam. Setau ku Hana sangatlah jarang izin. Aku khawatir dia sakit atau kenapa.
" Kenapa?... Maksudku apa kau tau kenapa hana tidak berangkat..." Tanyaku dan dia hanya menjawab dengan gelengan. Aku hanya bisa menghela nafas. Kulihat dia melihat jam tangan nya sekilas. Aku bisa melihat wajah panik nya. Tanpa sadar bibir ku membentuk senyuman melihat wajah panik gadis yang ku suka, begitu lucu menurut ku.
" Aku harus segera pergi... Terimakasih dan maaf tuan bian..." Aku bahkan belum menjawab perkataan nya, tapi dia sudah bergegas pergi.Aku hanya bisa menghela nafas pelan. Mungkin jika dia ada waktu luang, aku akan mengajak nya berbincang lebih lama.
Bian POV end.
#
Arka POV.
Aku baru saja selesai kelas. Sungguh aku tidak terlalu fokus tadi, pikiran ku selalu tertuju pada Hana yang belum mengabari ku hingga saat ini. Aku khawatir dia terluka. Kini aku berjalan di lorong menuju kelas hana. Aku berharap dia ada dan baik-baik saja. Langkah ku terhenti melihat seseorang yang tak asing. Aku segera memanggil nya, dia menoleh dan langsung menghampiri ku.
" Arka..." Ucap bian sembari tersenyum menyapa. Mungkin aku bisa bertanya di mana hana pada bian.
" Hai bian.. Bagaimana kabar mu? lama tidak bertemu..." Aku bertanya untuk sekedar basa basi. Dan lagi sudah lama aku tidak bertemu dengan nya.
" I am fine... Bagaimana dengan mu...?" Dia bertanya dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
" Apa Kau mencari Hana...?" Dia bertanya lagi, dia berhasil menebak bahwa aku memang mencari hana. Tanpa menunggu lama aku pun mengangguk.
"Hana tidak berangkat..." Rasa khawatir kembali menghampiri ku. Pikiran ku berkecamuk memikirkan apakah hana baik-baik saja. Mungkinkah hana sakit, apalagi sadari pertemuan kita kemarin dia belum mengabari ku lagi.
" Apa kau tau kenapa dia tidak berangkat..." Tanya arka yang sangat khawatir tapi bian menggeleng. Aku menghela nafas panjang,bahu ku terasa sangat lesu sekarang.
" Datang saja ke mansion nya... "Ucap bian menyarankan Arka. Bian yang merupakan sepupu dari hana jadi dia tidak jadi masalah keluar masuk mansion keluarga Hana.
Aku hanya bisa diam, sejujurnya aku sedikit takut datang ke mansion kekasih ku. Karena aku tau yang aku dapat hanyalah penolakan. Tapi tidak ada salah nya jika mencoba.
" Ah bagaimana kalau aku ikut kesana... Sudah lama aku tidak mengunjungi paman dan bibi..." Ucap bian .Seperti nya bian mengerti bahwa aku ragu untuk datang kesana. Bian tau bahwa hubungan ku dengan keluarga hana kurang baik. Dan lagi bian juga sepupu dari hana
" Terimakasih... Tapi apakah aku tidak merepotkan mu..." Tanya arka pada bian dan Ku lihat dia tertawa. Apa ada yang lucu, kenapa dia tertawa begitu. Dia menghentikan tawa nya dan menatap ku dengan intens. Kemudian menepuk pelan bahu ku.
" Tenang saja... Aku tidak pernah merasa di repotkan oleh mu... Kau sudah ku anggap seperti adik ku... Dan lagi pula meskipun kamu sudah tidak bekerja serajin dulu di kantor ku kau tetap seperti adik ku " ucap bian sembari menepuk pundak arka yang perlahan tersenyum mendengar ucapan bian yang merupakan bos nya sekaligus sahabatnya itu.
Aku kembali tersenyum tipis. Tuan bian memang sangatlah baik, dia yang selalu membantu hubungan ku dengan hana agar selalu baik-baik saja. Selain itu dia juga banyak membantu ku yang lain. Dia berhati mulia,aku tidak bisa membalas kebaikan nya selama ini.
Lalice POV end.
Arka dan bian benar-benar datang ke mansion Mr Juna setelah pulang kampus. Mobil mewah milik bian memasuki area mansion MrJuna. Di sambut dengan baik oleh bodyguard karena sudah tau bahwa bian keponakan Mr. Juna. Mrs. Ayu tersenyum senang melihat kedatangan bian. Ia yang baru saja selesai mengangkat telefon langsung menghampiri mobil bian. Namun senyum nya langsung hilang saat melihat siapa yang turun. Bian tidak sendiri melainkan bersama orang yang selama ini tidak di sukai Mr. Juna.
Arka POV. Aku berusaha tersenyum melihat respon Mr. Juna yang memang terlihat tidak menyukai kedatangan ku. Ini sudah sering terjadi, harus nya aku sudah terbiasa. Tapi entah kenapa hati ini masih nyeri saat menerima sikap tersebut.
"Bian mengapa kau datang bersama nya..." Mr. Juna bertanya pada ponakan nya yaitu bian. Dari tatapan nya terlihat benar-benar kesal.
" Putri mu tidak bisa di hubungi sadari kemarin paman... Sebagai kekasih nya, tentu arka khawatir... Jadi,aku mengajak nya ke sini..." Ucap bian menjelaskan. Jujur dalam keadaan seperti ini aku merasa tidak enak pada bian. Ku lihat Mr. Juna rertawa kecil sejenak. Kemudian dia terlihat menatap ku dengan sinis seakan aku orang yang sudah berbuat kejahatan kepada nya.