NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:868
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Lelaki Yang Diijinkan Tidur.

*(Lima Tahun Sebelumnya — 2011)*

Bangsal kelas tiga bau obat dan keringat dan sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak punya nama tapi semua orang yang pernah ke sini tahu baunya. Bau yang bikin langkah kaki jadi berat tanpa kamu minta.

Kasur nomor tujuh di ujung kiri.

Satria masuk dengan seragam SMP yang belum sempat diganti karena tadi langsung lari dari sekolah begitu Ibu telepon ke warung sebelah dan menitipkan pesan. Tas ranselnya masih di punggung. Masih ada buku matematika di dalamnya yang belum sempat dikerjakan PRnya. Hal-hal kecil yang tidak penting yang entah kenapa masih dia ingat bertahun-tahun kemudian, mungkin karena otak manusia memang aneh, menyimpan detail yang tidak berguna di momen yang paling penting.

Bapak ada di sana.

Satria berhenti dua langkah dari kasur.

Dia tidak langsung mendekat. Bukan karena takut. Tapi karena butuh satu atau dua detik untuk menyesuaikan diri dengan apa yang dilihatnya, karena laki-laki yang ada di kasur nomor tujuh itu tidak sepenuhnya cocok dengan gambar Bapak yang ada di kepalanya.

Bapak di kepalanya adalah laki-laki yang bangun sebelum subuh dan pulang setelah Satria tidur. Yang bahunya lebar dan tangannya kasar karena mendorong gerobak nasi goreng sampai jam tiga pagi, terus lanjut ojek sampai siang, terus lanjut kerja serabutan kalau ada yang minta. Laki-laki yang kalau tertawa giginya kelihatan semua dan suaranya menggelegar sampai tetangga sebelah bisa dengar. Laki-laki yang pergelangan tangannya lebih besar dari pergelangan tangan Satria dan Agung digabungkan.

Tapi laki-laki di kasur nomor tujuh ini kecil.

Itu kata pertama yang muncul di kepala Satria dan dia benci dirinya sendiri karena memikirkannya. Kecil. Tubuh yang dulu tegap dan mengisi ruangan sekarang tenggelam di kasur tipis itu, seperti orang yang tubuhnya perlahan menyerahkan diri. Pipinya cekung. Lehernya kelihatan tulangnya. Tangan yang dulu kuat itu sekarang tergeletak di samping tubuh, kurus, dengan selang infus menancap di punggung tangan kirinya dan plesternya sudah agak kotor di pinggirannya karena sudah lama dipasang.

Ibu duduk di kursi plastik di sebelah kasur, memegang tangan Bapak, tidak bilang apa-apa.

Agung ada di pojok ruangan, duduk di lantai karena tidak ada kursi lagi, lutut dipeluk, kepala ditundukkan ke lutut. Delapan tahun. Terlalu kecil untuk mengerti sepenuhnya tapi cukup besar untuk merasakan bahwa sesuatu yang sangat besar sedang terjadi.

Bapak membuka mata waktu Satria mendekat.

Matanya masih sama. Itu yang bikin Satria hampir tidak bisa tahan. Di antara semua yang berubah, mata itu masih sama persis. Masih cokelat tua, masih ada sesuatu yang tegas di sana, tapi sekarang ada lelah di dalamnya. Lelah yang berbeda dari lelah biasa. Bukan lelah setelah kerja keras. Tapi lelah dari dalam, dari tempat yang tidak bisa diurut atau ditiduri atau disembuhkan.

"Satria."

Suaranya serak. Lebih rendah dari biasanya. Seperti mesin yang hampir kehabisan bahan bakar tapi dipaksa tetap jalan.

Satria duduk di tepi kasur. Pelan. Seperti takut kalau dia duduk terlalu berat kasurnya akan rusak atau Bapaknya akan kesakitan atau sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan tapi tetap membuatnya berhati-hati.

"Iya, Pak."

Bapak menatapnya lama.

Terlalu lama, sebetulnya. Sampai Satria tidak nyaman dan hampir mau nunduk tapi tidak jadi karena rasanya tidak sopan, jadi dia balas tatapan itu meskipun tenggorokannya mulai panas.

"Sini tangannya."

Satria mengulurkan tangan kanan. Bapak menggenggamnya. Genggaman yang tidak sekuat dulu, tapi masih ada di sana, masih ada tekanannya, masih ada rasa tangannya yang kasar di telapak tangan Satria.

"Dengerin Bapak."

"Iya, Pak."

"Cari istri yang baik." Bapak berhenti sebentar. Menelan sesuatu. "Bukan yang cantik doang. Bukan yang kaya. Yang baik. Yang mau susah bareng kamu. Yang sabar. Kayak Ibumu."

Ibu di sebelah kasur tidak bersuara. Tapi tangannya yang memegang tangan Bapak mengencang sedikit.

"Iya, Pak."

"Jaga Ibu." Suaranya makin pelan. "Jaga Agung. Kamu laki-laki paling besar sekarang, Tri. Bapak... Bapak minta maaf karena menitipkan ini ke kamu. Harusnya belum saatnya. Kamu masih SMP. Harusnya kamu masih bisa..."

Kalimatnya tidak selesai.

Bapak menutup mata sebentar. Napasnya naik turun, tidak rata, seperti ada yang mengganjalnya di tengah jalan setiap kali udara mau masuk.

Satria mengencangkan genggamannya di tangan Bapak.

Jangan dulu. Jangan dulu selesai. Masih ada yang mau aku bilang, masih banyak yang belum aku tanya, masih banyak yang aku tidak tahu dan harusnya kamu yang ajarin aku, cara cukur yang benar, cara ikat dasi, cara ngomong ke perempuan, cara jadi bapak nanti kalau saatnya tiba, cara semua hal yang harusnya aku pelajari dari kamu bertahun-tahun lagi.

Tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Cuma, "Pak."

Bapak membuka mata lagi.

"Jadi laki-laki yang baik." Pelan sekali. Hampir habis. "Itu saja yang Bapak minta. Jadi laki-laki yang baik, Tri. Sisanya... sisanya Allah yang urus."

Satria mengangguk.

Kepalanya mengangguk tapi matanya sudah panas sekali dan dia tidak mau nangis di sini, tidak mau, karena kalau dia nangis berarti dia percaya ini adalah perpisahan dan selama dia tidak nangis mungkin ini bukan perpisahan, mungkin Bapak masih akan bangun besok dan menggelegar ketawa dan pulang setelah Satria tidur dan semua masih akan seperti biasa.

Bapak mengusap punggung tangan Satria satu kali.

Satu kali saja.

Pelan. Seperti orang yang sedang menitipkan sesuatu yang sangat berharga ke tangan yang masih terlalu muda untuk memegangnya, tapi tidak ada pilihan lain.

Lalu tangannya berhenti bergerak.

Napasnya keluar satu kali, panjang, sangat panjang, sangat pelan. Seperti orang yang akhirnya diizinkan tidur setelah bertahun-tahun tidak bisa benar-benar istirahat. Seperti orang yang akhirnya bisa melepaskan beban yang sudah terlalu lama dipanggul.

Dan tidak ada napas berikutnya.

"Pak."

Satria tidak bergerak.

"Pak?"

Tidak ada jawaban.

"Bapaaaak!"

Dia mengguncang bahu itu. Bahu yang kurus itu. Bahu yang dulu lebar itu. Sekali, dua kali, tiga kali, dengan kedua tangan, dengan seluruh tenaganya yang panik, karena otaknya belum bisa menerima, belum mau menerima, ini tidak nyata, ini tidak mungkin, tadi Bapak masih bicara, tadi Bapak masih pegang tanganku, tadi masih ada, tadi masih ada.

Ibu mengeluarkan suara yang bukan tangisan biasa.

Suara yang lebih dalam dari itu. Suara yang keluar dari tempat di dalam tubuh manusia yang tidak ada namanya, yang tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkannya, suara dari orang yang kehilangan separuh hidupnya dalam satu tarikan napas.

Agung di pojok ruangan mengangkat kepalanya dari lututnya.

Melihat Ibu. Melihat Satria yang masih mengguncang Bapak. Melihat wajah perawat yang datang buru-buru dan mengangkat tangan Satria dengan pelan dan menggeleng kecil.

Delapan tahun. Agung baru delapan tahun.

Dia tidak menangis dulu. Tidak langsung. Cuma menatap. Seperti otaknya juga belum bisa sampai ke sana, belum bisa menerjemahkan apa yang matanya lihat menjadi sesuatu yang bisa dia mengerti dan rasakan.

Satria duduk kaku di tepi kasur.

Tangannya masih di bahu Bapak yang sudah tidak bergerak itu. Di kepalanya, pelan-pelan, dengan cara yang sangat kejam, mulai masuk satu per satu: ini nyata. Ini terjadi. Bapak sudah pergi.

Dan di sudut lain kepalanya, dengan cara yang sama kejamnya, muncul hal lain.

Kaleng biskuit merah di atas lemari di rumah.

Dua setengah juta. Tabungan Bapak yang dikumpulkan bertahun-tahun, sedikit demi sedikit, dari sisa nasi goreng dan sisa ojek dan sisa kerja serabutan. Uang yang Bapak bilang untuk biaya masuk TNI. Untuk Satria. Karena Bapak selalu bilang, "Kamu cocok jadi tentara, Tri, badanmu bagus, otakmu cukup, tinggal mental baja yang diasah."

Dua setengah juta.

Habis untuk rumah sakit. Habis untuk pemakaman. Habis dalam satu hari untuk dua hal yang tidak bisa ditawar.

Cita-cita yang belum sempat dimulai, musnah pada hari yang sama dengan orang yang memimpikannya.

Satria tidak menangis di kamar rumah sakit itu.

Tidak di sana. Tidak waktu jenazah Bapak dibawa pulang. Tidak waktu dimandikan. Tidak waktu disembahyangkan. Tidak waktu dikuburkan di pemakaman yang tanahnya masih basah karena hujan turun tiba-tiba waktu prosesi pemakaman dan semua orang basah tapi tidak ada yang peduli karena ada hal yang lebih penting.

Dia baru menangis malam itu. Sendirian di kamar. Setelah Ibu dan Agung tidur karena kelelahan. Dia baru menangis waktu tidak ada yang lihat, dengan muka ditengkurapkan ke bantal, dengan suara yang ditahan sampai perutnya sakit.

Tiga hari kemudian dia berhenti sekolah.

Tidak ada drama. Tidak ada adegan panjang. Dia cuma tidak berangkat. Seragamnya digantung di balik pintu. Tas ranselnya diletakkan di bawah meja. Buku matematika yang PRnya belum sempat dikerjakan itu dia simpan di bawah kasur karena tidak tahu harus diapakan, tidak mau dibuang tapi tidak mau dilihat juga.

Minggu berikutnya dia sudah di proyek.

Kuli bangunan. Tiga ratus ribu seminggu. Tangan yang sama dengan tangan Bapak, kasar di tempat yang sama, kapalan di tempat yang sama, luka kecil yang tidak sempat sembuh di tempat yang sama.

Persis seperti Bapaknya.

Persis seperti yang tidak pernah dia rencanakan.

Dan di antara semua hal yang hilang pada tahun itu, yang paling sering dia pikirkan sendirian di malam-malam yang sunyi adalah bukan kaleng biskuit merah itu, bukan seragam SMA yang tidak pernah dia pakai, bukan nama di daftar pendaftaran TNI yang tidak pernah dia isi.

Yang paling sering dia pikirkan adalah satu kalimat terakhir Bapak.

*Jadi laki-laki yang baik, Tri.*

Dan pertanyaan yang tidak pernah bisa dia jawab sendiri: apakah dia sudah cukup?

Apakah dia sudah cukup jadi laki-laki yang baik seperti yang Bapak minta?

Atau dia masih kurang. Masih jauh. Masih perlu lebih banyak waktu, lebih banyak rasa sakit, lebih banyak hal yang dirobohkan dan dibangun ulang sebelum dia bisa bilang dengan jujur: iya, Pak. Sudah cukup.

Tapi Bapak tidak ada lagi untuk mendengar jawabannya.

Dan itu yang paling berat dari semua beban yang harus dia bawa.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!