Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Berpisah Jika Tidak Kita Akan Sama-Sama Terluka
“Mas.. pelan-pelan!” Aku sudah berpegangan erat pada sisi pintu dan mencengkram lengan mas Ar.
Seperti tidak mendengar ucapanku, mas Ar terus melajukan mobilnya bak orang yang sedang dalam kejaran bahaya. Sorot matanya tertuju pada jalanan, tajam dan bengis, hatinya seperti sedang bergemuruh oleh emosi.
Setelah pengakuan aku sebagai istrinya, mas Ar menarik tanganku munuju mobilnya, dan tanpa aba-aba mas Ar langsung menarik pedal gas menuju jalanan yang asing, aku belum pernah kesini. Jalanan sepi yang dikelilingi oleh pohon-pohon rindang nan besar disisinya. Aku akan dibawa kemana?, apa mas Ar akan mencelakaiku. Sepanjang jalan pikiranku terus dihantui oleh hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi.
Aku mengeratkan cengkraman tidak berani melihat pada jalanan. Mas Ar tetap mengemudikan mobilnya bak kesetanan. Sorot matanya sungguh' tajam menyeramkan.
“Duar.” Kilatan petir mulai bermunculan, awan hitam sudah bergumul ingin segera menumpahkan bebannya.
“Duar…” tanpa tanding. Mobil hitam terus meliuk-liuk bagai sedang berkejaran dengan petir yang terus bermunculan.
“MAS….!, aku takut mas!, kita mau kemana?” Aku bersaha membuka mata lagi, mas Ar menoleh padaku dengan tatapan bengis yang sulit aku pahami.
Apa kesalahan yang aku lakukan sehingga mas Ar sungguh murka seperti ini?.
Apa gara-gara tadi aku dekat-dekat dengan mas Arya.
Tapi kan… mas Ar…
Ah sudahlah aku pasrah, walau bagaimanapun kini keselamatan dan nyawaku berada pada tangan mas Ar.
Hujan deras mulai turun. Perlahan mobil mas Ar menurunkan kecepatannya.
Kini mobil hitam itu memasuki sebuah tempat yang sangat asing bagiku, tengah hutan yang rindang. Terdapat rumah kecil berwarna putih disana.
Aku tidak paham, mengapa mas Ar membawaku ke tempat ini?,
Apa aku akan diasingkan disini?.
Mas Ar mulai turun dari mobilnya, pria itu berjalan gontai menuju halaman rumah kecil berumput hijau. Jas dan kemeja nya kini sudah basah oleh air hujan.
Pria itu menunduk dengan kedua tangan berada dipinggangnya. dari raut wajahnya yang menunduk dan terguyur oleh air hujan aku bisa melihat seperti ada luka diwajah itu. Tapi siapa yang membuatnya terluka?.
Aku tetap diam memperhatikannya dibalik kqca mobil, hujan terus mengguyur tubuh mas Ar. Wajah tampan dan berwibawa itu kini sungguh terlihat gusar, matanya kosong menatap keseliling hutan yang riuh oleh daun-daun hijau yang tertimpa air hujan.
Aku membuka kaca mobil.
“Mas… ini hujan mas. Kamu bisa demam nanti.” Tidak ada jawaban, sungguh pria itu benar-benar sedang terluka.
Aku mencoba untuk turun dan melangkahkan kaki, hawa dingin langsung menusuk kulitku.
Aku sudah berada tepat disisinya, ada rasa takut yang menyelimutiku. Namun dalam diri ini terus mendorong ingin mengulurkan tangan pada mas Ar.
Derap langkahku makin mendekat.
“Mas…”
Tanpa aba-aba mas Ar menarik tubuhku dan memelukku erat.
Pria ini seperti sedang menangis, aku merasakan getaran bahunya. Pria ini sedang rapuh.
“Kenapa?…” tanyaku pelan.
“Wanita itu kembali leen.”
Deg.
Zahira?
Kenapa ada rasa sakit yang mulai menyayat hatiku?
Apa aku sedang cemburu?
Entah menagapa, aku menjadi ikut rapuh. Aku menyandarkan kepalaku pada dada bidangnya. Kemudian aku merasakan kepala mas Ar yang menempel pada puncak kepalaku.
“Zahira?”
Aku merasakan anggukan dari kepala mas Ar.
Dadaku mulai merasakan sesak. Hatiku benar-benar sakit, apakah benar aku sudah menyimpan rasa pada mas Ar?, laki-laki yang sudah menanamkan luka untukku.
Tangan kecilku mulai mengelus punggung mas Ar, seolah ingin menyembuhkan luka pria yang sedang memelukku erat. Tapi pada kenyataanya akupun terluka.
“Kenapa tidak bersatu saja si mas?, jika rasanya sesakit ini.” Air mataku berdesakan ingin keluar, ditahanpun sudah tidak sanggup lagi.
“Tidak bisa Ayleen.”
“Kenapa?, apa karna kamu sudah menikahiku mas.”
Tidak ada jawaban.
“Kamu bisa melepasku mas, dan kejarlah cintamu itu!” Aku sudah menatap netra matanya. begitupun mas Ar pria itu sudah menunduk dengan tatapan kearahku.
“Tidak Ayleen!”
“Tanggung jawabmu sudah selesai mas, aku tidak mengandung anakmu. Jadi kamu tidak usah lagi merasa bersalah untukku. Kini kamu bisa melepaskannku mas, tanpa ada rasa bersalah, kejarlah wanita itu!”
Air matku kembali berderai, sungguh sangat menyedihkan.
Tatapan dari sorot mata mas Ar meredup.
“Aku tidak akan melepaskanmu Ayleen.”
“Jika kamu tidak melepaskanku, kita akan sama-sama terluka mas. Kamu yang hidup dengan wanita yang bukan kamu cintai dan aku yang mulai merasa ada benih-benih yang tumbuh dihatiku. Jadi sebaiknya sebelum rasa ini tumbuh subur sebaiknya kamu segera melepasku mas.”
Tidak ada jawaban, mas Ar menatapku lakat, Tangannnya kembali memelukku erat, dan kini jas hitam itu ia buka kancingnya dan menyelimuti tubuhku , satu jas dua badan.
Bibirnya menyentuh lembut keningku.
Rasa apa ini, jantungku berdebar kencang, dan rasa nyaman mulai menyelimutiku. Aku mendongak, sorot matanya melembut.
Hatiku makin teriris melihatnya, melihat pada kenyataan bahwa pria yang kini sudah sah menjadi suamiku, ternyata memiliki rasa cinta yang begitu dalam pada wanita lain. Namun, pria ini tetap berusaha tetap bertahan karena rasa tanggung jawab dan rasa bersalah yang mencengkram kuat hatinya.
Sedangkan aku baru menyadari, rasa cinta pada mas Ar kian bertumbuh dengan seiring waktu, rasa benciku padanya kini berubah menjadi rasa kagum, ketika melihat sosok yang bertanggung jawab dalam dirinya.
“Kamu akan kedinginan jika terus-terusan diguyur hujan seperti ini.”
“Kamu juga mas, aku mengkhawatirkanmu jatuh sakit lagi.”
“Kita masuk rumah.”
“Rumah siapa itu?”
“Kita.” Ucapnya singkat.
Mas Ar menggandeng bahuku menuju rumah putih kecil itu.
“Maafkan saya Ayleen, saya sudah banyak menanamkan luka dihatimu.”
“Iya mas, kenapa dari sekian banyak pria. Kenapa kamu yang ditakdirkan untukku.”
Deg.
Langakah nya terhenti. “Apa kamu mengharapakan pria tadi sebagai pendamping hidupmu.”
“Dulu, aku pernah menyebut namanya dalam do’aku, tapi kenapa jalan takdir ku selalu melenceng dengan apa yang kupinta.”
“Takdir, jalan tuhan lebih indah dari pada yang kamu pinta. dan jangan harap kamu bisa hidup bersamanya.”
“Kenapa?, kamu tidak mencintaiku mas.”
“Aku tidak akan pernah melepaskanmu.”
Lalu tanganku ditarik masuk kedalam rumah itu. Ada hawa yang aneh yang aku rasakan. Aku merasa tidak nyaman melihat rumah itu.
“Emh mas, sebaiknya kita pulang saja. Aku gaenak badan.”
“Oke.”
Aku sudah memasuki mobil dalam keadaan baju yang basah.
“Nih pake!” Mas Ar menyerahkan jaket tebal.
“Kamu mas?”
“Pake saja, jangan banyak protes. Buka bajumu yang basah!”
“Tapi…”
“Ckc, saya sudah sering melihatnya.”
“Dari wanita lain?”
“Mana ada, cepetan masuk angin nanti saya yang repot.”
“Ngadep sana mas.”
Ternyata pria itu nurut, aku mulai melepas pakaian basah dan menggantinya dengan jaket tebal. Rasa hangat melai mengalir ditubuhku.
*
*
Hem… sakit juga ya jika kasusnya seperti ini.
Bab ini akan berlanjut, tetap dukung author ya💗