Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan di Atas Darah
Alea berdiri di dermaga kayu yang lapuk, menghirup aroma garam dan bensin yang bercampur. Di belakangnya, Arka sedang berbicara serius dengan Rio mengenai logistik persenjataan. Kehidupan mereka sebagai sosialita Jakarta telah menguap, digantikan oleh realitas kasar sebagai pelarian.
"Berhenti menatap cakrawala, Alea. Laut tidak akan memberimu jawaban, tapi dia bisa menenggelamkanmu jika kau melamun," suara serak seorang wanita memecah lamunan Alea.
Seorang wanita tua dengan rambut perak yang dipotong pendek—hampir cepak—mendekat. Tangannya yang keriput namun lincah sedang memainkan satu pak kartu remi, membuatnya menari di antara jemarinya dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Namanya adalah Mami Chen, mantan bandar kasino legendaris dari Makau yang pernah diselamatkan Arka dari eksekusi mati lima tahun lalu.
"Mami Chen akan melatihmu," ucap Arka yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Alea. "Di kasino Helena Vance nanti, kau tidak bisa membawa senjata api. Satu-satunya senjatamu adalah kecepatan tangan, ketenangan saraf, dan kemampuan untuk membaca kebohongan dari kedipan mata lawan."
"Aku jurnalis, Arka. Aku biasa menulis fakta, bukan menipu di meja judi," protes Alea.
Mami Chen tertawa, suara tawanya kering seperti kertas tua. "Anak manis, judi adalah jurnalisme yang paling jujur. Di sana, orang tidak bicara dengan mulut, mereka bicara dengan uang dan keringat dingin. Jika kau ingin menjatuhkan Helena, kau harus menguras egonya sebelum menguras hartanya."
Selama tiga hari berikutnya, bungker rahasia itu berubah menjadi sekolah judi maut bagi Alea. Di bawah lampu neon yang berkedip, Mami Chen mengajari Alea segala hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah jurnalistik.
"Tanganmu terlalu tegang," tegur Mami Chen sembari memukul jemari Alea dengan penggaris besi. "Jangan menatap kartu itu seolah-olah itu surat cinta. Tatap mataku. Kau harus tahu apa yang kupunya tanpa pernah melihat kartuku."
Alea mendesis kesakitan, namun ia kembali membagikan kartu. "Baccarat adalah permainan keberuntungan, Mami. Bagaimana aku bisa mengendalikannya?"
"Tidak ada yang namanya keberuntungan di meja Helena Vance, hanya ada probabilitas dan manipulasi," sela Arka yang duduk di kursi sudut, mengawasi latihan itu sembari membersihkan pisau porselen—senjata yang tidak terdeteksi mesin pemindai logam. "Helena menggunakan algoritma untuk memastikan bandar selalu menang. Tugasmu adalah mengacaukan frekuensi algoritma itu menggunakan perangkat peretas kecil yang disembunyikan di balik kuku palsumu."
Alea menatap kuku palsu yang sudah dipasang di jemarinya. Di dalamnya tertanam micro-chip yang akan mengirimkan sinyal gangguan pada pengocok kartu elektrik di meja judi.
"Dan ingat," lanjut Mami Chen, wajahnya berubah sangat serius. "Helena Vance adalah wanita yang sangat haus akan pengakuan. Dia membenci Elias karena Elias dianggap lebih jenius darinya. Jika kau bisa memprovokasinya, menyebut nama Elias di saat yang tepat, dia akan melakukan kesalahan. Dan satu kesalahan Helena adalah kemenangan kita."
Malam terakhir di pulau itu, Alea duduk sendirian di dermaga. Arka mendekat, membawa sebotol air mineral. Ia duduk di samping Alea, bahu mereka bersentuhan.
"Kau takut?" tanya Arka pelan.
"Aku takut kehilangan diriku sendiri, Arka," Alea menatap pantulan bulan di air laut. "Pertama aku belajar menembak, lalu menyamar, sekarang menipu. Kadang aku bertanya-tanya, apakah setelah semua ini selesai, aku masih Alea yang dulu?"
Arka terdiam cukup lama. Ia meraih tangan Alea, mengusap jemarinya yang lecet karena latihan kartu. "Alea yang dulu adalah jurnalis yang berani mencari kebenaran. Alea yang sekarang adalah pejuang yang akan menegakkan kebenaran itu. Intinya sama, hanya metodenya yang berubah."
Arka mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Di dalamnya ada sepasang anting berlian hitam yang memukau. "Ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah pemancar komunikasi dua arah. Aku akan berada di telingamu sepanjang waktu di kasino itu. Kau tidak akan sendirian."
Alea memakai anting itu, merasakan dinginnya logam menyentuh kulitnya. "Janji kita masih berlaku, kan? Kita keluar dari sini bersama-sama."
Arka menarik Alea ke dalam pelukannya, memberikan kehangatan di tengah dinginnya angin malam Natuna. "Sampai napas terakhir, Alea. Sampai napas terakhir."
Fajar hari keempat, mereka bergerak menuju Makau menggunakan kapal cepat nelayan menuju perbatasan, sebelum berpindah ke kapal pesiar mewah yang sudah disiapkan oleh jaringan Mami Chen.
Kasino milik Helena Vance, "The Obsidian Vault", bukan berada di daratan. Itu adalah sebuah kapal super-yacht raksasa yang berlayar di perairan internasional, di mana hukum negara tidak berlaku dan dosa hanyalah sebuah mata uang.
Alea berdiri di dek kapal pesiar yang akan membawanya menuju The Obsidian Vault. Ia mengenakan gaun malam backless berwarna emas yang berkilauan, membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya ditata ke samping, memperlihatkan anting berlian hitamnya. Di balik senyum sosialitanya, ia adalah bom waktu yang siap meledak.
"Target terlihat," suara Arka terdengar di telinganya melalui anting tersebut. Arka sendiri berada di kapal penunjang sekitar satu mil jauhnya, berperan sebagai operator teknis. "Ingat, Alea. Kau adalah 'Madamme Luna', janda kaya dari filantropis Singapura. Helena sangat menyukai mangsa seperti itu."
Kapal pesiar mereka merapat di lambung raksasa The Obsidian Vault. Musik klasik mengalun dari pengeras suara emas di sepanjang koridor. Saat Alea melangkah masuk ke aula utama, matanya langsung tertuju pada sebuah meja tinggi di tengah ruangan.
Di sana, dikelilingi oleh pria-pria berjas hitam, duduk seorang wanita dengan rambut pirang platinum yang ditarik kencang ke belakang. Pakaiannya serba putih, kontras dengan kulitnya yang pucat. Helena Vance. Di tangannya, ia memegang tumpukan koin emas dengan cara yang sangat mirip dengan cara Elias memegang gelas wiskinya.
"Selamat datang di surga bagi mereka yang berani kalah, Madamme Luna," suara Helena terdengar melalui mikrofon ruangan, meski matanya tetap tertuju pada kartu di atas meja.
Alea melangkah maju dengan keanggunan yang ia pelajari dari Mami Chen. Ia meletakkan tas kecilnya di atas meja, tepat di hadapan Helena.
"Saya tidak datang untuk kalah, Nona Vance," ucap Alea dengan nada sombong yang meyakinkan. "Saya datang untuk melihat apakah 'The Banker' sehebat yang dikatakan orang-orang, atau apakah dia hanya bersembunyi di balik bayang-bayang kakaknya yang sudah mati."
Seluruh ruangan mendadak sunyi. Helena Vance mengangkat kepalanya perlahan, matanya yang sedingin es menatap Alea dengan intensitas yang mengerikan. Senyum tipis muncul di bibir Helena—jenis senyum yang menjanjikan kehancuran.
"Elias selalu punya selera yang buruk pada wanita," ucap Helena pelan. "Mari kita lihat, apakah keberanianmu setebal dompetmu."
Alea duduk di kursi kosong di depan Helena. Jantungnya berdebu kencang, namun ia tetap tenang. Ia menyentuh kuku palsunya, mengaktifkan sinyal gangguan.
"Arka, aku sudah masuk," bisik Alea nyaris tak terdengar.
"Bagus," jawab Arka dari seberang sana. "Mari kita kuras bankir ini sampai dia tidak punya apa-apa lagi selain rahasianya."
Permainan dimulai. Di tengah laut lepas, di bawah lampu kristal yang menyilaukan, taruhan bukan lagi soal uang miliaran dolar. Ini adalah awal dari runtuhnya tembok kedua Obsidian Circle, dan Alea Senja adalah orang yang memegang dadunya.