Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Malam itu, usai menunaikan salat magrib, Dian baru saja merapikan mukena ketika ketukan keras terdengar di pintu kamar. Andi masih berbaring di ranjang, sementara Naya terlelap pulas.
Dian membuka pintu.
“Lama sekali, Ian. Ngapain saja kamu?” bentak Bu Minah dengan wajah tak sabar.
“Habis salat magrib, Bu,” jawab Dian singkat, nadanya datar.
“Ya sudah, mumpung kamu di sini, masak sana. Sekalian buat kita semua,” perintah Bu Minah tanpa rasa sungkan.
Dian terdiam sejenak, lalu menahan napas.
“Loh, kenapa Dian, Bu? Dian ini tamu. Kalau masak, seharusnya tuan rumah juga ikut. Masa tamu langsung disuruh-suruh?” ucapnya, tak mampu lagi menyembunyikan kesal.
“Kamu sekarang berani melawan, ya?” suara Bu Minah meninggi, membuat Andi bangkit dari tidurnya.
“Ada apa sih ribut-ribut?” tanya Andi jengkel.
“Ini, Ndi. Istri kamu disuruh masak malah nggak mau. Sudah datang ke rumah orang, berlagak kayak tamu saja,” gerutu Bu Minah sebelum berlalu, yakin Andi akan menegur Dian.
Benar saja, Andi menatap Dian tajam.
“Ian, nurut saja kata ibu. Kamu harus tahu diri. Ini rumah Arif sama Nuri. Kalau begitu, mending kamu pulang ke Pinang saja, daripada di sini nyusahin.”
Dian tak lagi sanggup menahan perasaannya.
“Bang, aku ke sini karena rindu kamu. Naya juga kangen ayahnya. Tapi kenapa malah jadi begini?” suaranya meninggi.
“Aku datang sebagai tamu, Bang. Baru sekali datang sudah disuruh-suruh seperti pembantu. Aku juga ingin diperlakukan layaknya tamu, dijamu dengan pantas, bukan diperlakukan seperti beban.”
Perkataan Dian barusan membuat Andi terdiam. Ada rasa gamang di dadanya—apa yang dikatakan istrinya memang ada benarnya, batinnya.
“Ian, kamu masuk kamar dulu. Aku mau bicara sebentar sama ibu,” ujar Andi akhirnya.
Dian tak membantah. Ia hanya mengangguk pelan lalu kembali ke kamar, menutup pintu perlahan.
Di ruang tamu, Bu Minah sudah duduk di sofa. Ia mengernyit heran saat hanya Andi yang datang menghampiri.
“Ndi, mana istrimu? Suruh lagi masak,” ucap Bu Minah ketus.
Andi menarik napas panjang.
“Bu, bisa nggak malam ini jangan ribut dulu. Kita beli saja makan di luar. Lagian Dian juga nggak lama di sini.”
Bu Minah melotot kesal, hendak membantah. Namun beberapa detik kemudian, ia terdiam.
“Ya sudah,” gumamnya enggan, mengiyakan perkataan anaknya meski wajahnya masih menyimpan kejengkelan.
Malam itu mereka makan bersama di meja makan. Meski berada dalam satu ruangan, sikap Nuri tetap dingin dan acuh terhadap Dian, seolah keberadaannya tak berarti.
Bu Minah pun memilih diam. Amarahnya mereda, tergantikan oleh kepuasan saat menikmati hidangan favoritnya dari restoran langganan. Andi memang hafal betul selera sang ibu—itulah sebabnya malam itu Bu Minah tak lagi banyak bicara, fokus menyantap makanan dengan lahap.
Setelah makan malam, Andi dan Dian sudah berada di dalam kamar. Suasana terasa canggung, hening menggantung di antara mereka.
“Ian, kamu di sini aku kasih waktu tiga hari ya. Besok aku akan ajukan cuti,” ujar Andi datar tanpa menatap wajah istrinya.
Dalam hati, Andi tahu Tasya pasti akan marah. Ia sudah berjanji menghabiskan waktu bersamanya, namun semua rencana itu berantakan sejak Dian datang.
“Baik, Bang. Besok kita jalan-jalan ya. Sudah lama kita nggak pergi bertiga,” jawab Dian dengan nada penuh semangat, meski dadanya terasa sesak.
“Kamu atur saja,” balas Andi singkat, lalu membelakangi Dian dan berbaring.
Dian menatap punggung suaminya lama. Dalam batinnya, tekad itu menguat.
Aku akan membuatmu lepas dari wanita itu, Bang. Aku tidak akan membiarkan rumah tangga kami dihancurkan oleh perempuan lain.
Setelah salat subuh, Dian kembali merebahkan tubuhnya. Apalagi tadi Naya sempat terbangun meminta susu, membuatnya kurang tidur.
Pukul tujuh pagi, Nuri sudah tampil rapi hendak berangkat kerja. Begitu tiba di meja makan, langkahnya terhenti. Meja itu kosong—tak ada roti, tak ada kue basah seperti biasanya. Wajah Nuri langsung berubah.
“Ibu!” teriaknya memanggil Bu Minah.
Bu Minah yang sedang di kamar terkejut dan segera keluar.
“Aduh, Nur… masih pagi begini,” keluhnya.
“Ibu tahu sekarang jam berapa? Mana sarapan? Kok nggak ada apa-apa sih? Jangan malas dong, Bu,” omel Nuri kesal.
Bu Minah melirik meja makan dengan bingung. Kok kosong? batinnya. Biasanya ia memang sudah menyiapkan sarapan, tapi pagi ini ia merasa tak perlu bangun lebih awal karena ada Dian di rumah.
“Ibu siapkan dulu ya, Nur,” ucapnya tergesa.
“Udah, nggak usah. Aku makan di kantor aja,” jawab Nuri ketus, lalu berlalu.
Amarah Bu Minah langsung memuncak. Dengan langkah cepat, ia menggedor pintu kamar Andi keras-keras sambil memanggil nama Dian berulang kali.
Andi yang terbangun menoleh ke arah istrinya.
“Ian, bangun. Ibu manggil,” ujarnya pelan.
Dian tersadar, lalu segera membuka pintu kamar.
Begitu pintu terbuka, Bu Minah sudah berdiri dengan wajah merah padam.
“Bagus ya kamu, Dian. Menantu kurang ajar! Jam segini baru bangun? Kamu tahu nggak gara-gara kamu Nuri sampai nggak sarapan!”
Dian mengernyit heran.
“Kok jadi aku yang ibu salahkan? Nuri nggak sarapan itu bukan urusan aku, Bu.”
“Ya ampun, memang bodoh kamu, Dian! Heran ibu, Andi bisa-bisanya menikah sama kamu,” bentak Bu Minah. “Kamu kan ada di sini. Masa susah sih bangun pagi buat nyiapin sarapan?”
Dian menarik napas, menahan diri agar tak terpancing emosi. Dengan suara tetap sopan namun tegas, ia menjawab,
“Ibu mertuaku sayang, saya di sini tamu. Tidak seharusnya saya mengurus semua kebutuhan orang di rumah ini, kecuali suami saya. Lagipula ini bukan rumah ibu. Beda kalau saya di Pinang, Bu. Saya ke sini juga untuk liburan, bukan untuk mengurus dapur.”
Ia menatap Bu Minah sebentar.
“Sudah ya, Bu. Dian masuk lagi.”
Tanpa menunggu jawaban, Dian menutup pintu dan kembali ke kamar.
Bu Minah tertegun di tempat. Hampir tak pernah Dian membantahnya, apalagi dengan setegas ini.
“Ada apa dengan wanita kampung itu…” gumamnya lirih sambil melangkah ke dapur, menyimpan amarah yang belum padam.
Pukul sepuluh pagi, Andi, Dian, dan Naya sudah siap berangkat. Andi bahkan menyewa mobil agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama, sekadar berjalan-jalan sebagai keluarga kecil.
Sambil merapikan hijabnya, Dian berbisik dalam hati. Aku akan memperbaiki rumah tangga ini… demi Naya.
Tanpa disadarinya, sejak tadi Andi memperhatikannya diam-diam. Jujur saja, ada sesuatu yang berbeda pada istrinya kini. Wajah Dian tampak lebih cerah, tak lagi sekusam dulu. Tubuhnya terlihat lebih ramping, dan caranya membawa diri pun berubah—lebih rapi, lebih tenang. Meski berhijab sederhana, kecantikannya justru semakin terpancar.
Lamunan Andi buyar ketika suara kecil Naya tiba-tiba memecah keheningan.
“Ayah… ayah… gendong,” pintanya polos.
Andi tersenyum, lalu mengangkat Naya ke dalam gendongannya sebelum melangkah keluar.
Andi kemudian duduk di ruang tamu. Kebetulan, ibunya sudah ada di sana.
“Mau ke mana, Ndi? Antar Dian, ya?” tanya Bu Minah.
“Enggak, Bu. Mau ajak Naya sama Dian jalan-jalan,” jawab Andi sambil sibuk merapikan jepit rambut Naya.
Bu Minah terkejut, raut wajahnya jelas tak percaya. “Loh… loh… bukannya kamu ada janji sama Tasya, Ndi?”
Seketika Andi meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, memberi isyarat agar ibunya diam. Ia khawatir Dian mendengar pembicaraan itu. Bu Minah pun langsung terdiam.
Namun tanpa mereka sadari, di balik gorden, Dian mendengar semuanya dengan jelas.
Oh… jadi kamu ada janji dengan wanita itu, batinnya dingin. Kita lihat saja nanti.
Di sepanjang perjalanan, Naya sibuk bernyanyi riang di pangkuan Dian. Tawa kecil putrinya mengisi mobil, menghadirkan kehangatan yang sudah lama tak Andi rasakan. Ada perasaan asing namun menenangkan yang menyelinap di dadanya.
Mereka akhirnya sarapan meski sudah lewat jam makan pagi. Meski begitu, Andi dan Dian tetap menikmatinya. Andi sesekali sibuk menatap layar ponselnya, sementara Dian fokus menyuapi Naya dengan sabar.
Dalam hati, Dian tersenyum tipis. Ia tahu betul, di balik layar ponsel itu, wanita tersebut pasti sedang kesal—atau bahkan marah—karena pria yang ia dambakan kini tengah menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya.
Biarlah, batin Dian sambil terus menyuapi Naya dengan tenang.
Pikiran Andi semakin kacau. Ponsel di tangannya bergetar tanpa henti—pesan dari Tasya yang mengancam akan menyusul dan mendatangi mereka saat itu juga. Dadanya terasa sesak, keringat dingin mulai muncul.
Dengan napas ditahan, Andi berusaha membujuk Tasya lewat pesan singkat. Ia meyakinkan bahwa pertemuan itu tidak akan lama, hanya sebentar saja bersama Dian dan Naya, setelah itu ia akan kembali. Kata-katanya disusun hati-hati, penuh alasan, berharap amarah Tasya mereda.
Namun di saat yang sama, Andi sadar, kebohongan demi kebohongan yang ia buat justru semakin menjerat dirinya sendiri.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan, berkeliling Batam tanpa tujuan yang benar-benar pasti. Mereka singgah ke mal, berbelanja seperlunya, lalu mengajak Naya bermain. Tawa kecil anak itu sesekali memenuhi ruang, membuat suasana terasa hangat dan nyaris sempurna.
Dian menikmati setiap detik kebersamaan itu. Waktu sederhana seperti ini—berjalan bertiga, tanpa tekanan, tanpa bentakan—adalah hal yang sangat jarang ia rasakan sejak menikah.
Saat turun dari mobil, Andi menggendong Naya di depan. Dian menyusul, lalu dengan ragu namun penuh keberanian, ia menggenggam tangan suaminya. Genggaman itu erat, seolah ingin memastikan Andi benar-benar ada di sisinya.
Andi tidak menepis. Biasanya, ia akan segera menarik tangannya ketika Dian bersikap demikian. Namun kali ini, ia membiarkan. Bahkan langkah mereka tetap seirama, seolah tak ada jarak di antara keduanya—setidaknya untuk hari itu.