🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Alexa melangkah kembali memasuki kamar.
Pintu tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan Yura yang masih berdiri kaku di tempat semula dengan mulutnya menganga lebar, seperti patung yang lupa cara menutup rahang.
Alexa berhenti sejenak, menatap pemandangan itu dengan ekspresi datar. "Tutup mulutmu," ucapnya tenang, "Sebelum nyamuk masuk."
Yura refleks menutup mulutnya rapat-rapat. Matanya segera menyapu sekeliling kamar, mencari sesuatu yang sejak tadi tak pernah ia lihat, sembari mengibaskan tangan di depan wajahnya.
Alexa menghela napas singkat. Ia mengangkat tangan dan memijat pelipisnya. "Kau membutuhkan lawan yang sepadan, bukan?" ujarnya tiba-tiba. "Jika kau mau, aku bisa ikut dalam permainanmu."
Yura menghentikan gerakannya dan menoleh menatap Alexa. Keningnya mengernyit, satu alis terangkat lebih tinggi dari yang lain.
Tatapannya kosong bercampur curiga, seolah berusaha mencerna kalimat itu tanpa berani mengajukan satu pertanyaan pun.
Alexa melanjutkan, suaranya tetap stabil. "Kita bisa menikah secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan orang lain. Jika kita tidak menikah, mereka justru akan menyusun skenario yang jauh lebih memalukan."
"A-apa itu tadi… presdir?" tanya Yura ragu, lidahnya hampir tersandung.
Alexa hanya mengangguk singkat.
Gerakan itu membuat Yura tanpa sadar menirunya, tangannya terangkat dan menyentuh pelipisnya sendiri. Seketika kepalanya berdenyut, bahkan terasa dua kali lebih tajam dari sebelumnya.
Mereka saling menatap.
Dan pada saat yang sama, keduanya menyadari bahwa mereka melakukan gerakan yang persis sama.
Hampir bersamaan, tangan mereka terlepas dengan canggung.
Alexa berdeham pelan, wajahnya kembali dingin. "Tidak ada waktu bagimu untuk mencari orang lain. Belum lagi kita harus menemui dukun itu. Setelah itu—"
"Apa Anda juga akan ikut?" potong Yura spontan.
"Iya," jawab Alexa tanpa ragu. "Aku tidak ingin kau berbohong nantinya." Ia mengalihkan pandangan ke arah lain. "Demi kesenjangan hidup juga," gumamnya pelan, terlalu samar untuk disebut jelas, tetapi cukup terdengar oleh Yura.
Sudut bibir Yura bergerak. Ia segera menahan senyumnya dengan menggigit bibir bagian dalam agar ekspresinya tidak terbaca.
"Setelah itu," lanjut Alexa, "Kita mendaftarkan pernikahan. Lalu menghadap mereka, serta orang tuamu."
Yura langsung mengangkat alis. "Orang tua saya?"
"Ya."
Yura terdiam sejenak.
"Tapi, Pak… orang tua saya pasti akan terkejut. Mereka juga tinggal jauh dari kota. Dan juga…" ia melirik sekeliling kamar, "Bukankah kita seharusnya berangkat bekerja?"
Alexa mengangkat tangan, lalu menunjuk jam di dinding.
Pukul sebelas siang.
Yura menatap jam itu dengan wajah kosong. "Oh."
"Kita tetap akan pergi. Urusan orang tuamu akan aku hadapi, selama kau juga ikut dalam permainanku," ujar Alexa santai. "Tugasmu sekarang adalah mengambil cuti. Katakan saja kepada temanmu bahwa kau mendadak sakit. Aku akan mandi lebih dulu."
Ia langsung berbalik menuju kamar mandi tanpa menunggu reaksi.
Pintu tertutup.
Yura berdiri sendirian di tengah kamar. Mulutnya kembali menganga.
"Apa dia barusan mengutukku agar benar-benar sakit?" gumamnya dalam hati. "Kalau aku sakit, berarti kau koma."
Ia menunjuk pintu kamar mandi dengan jari telunjuk, wajahnya dipenuhi kejengkelan kecil.
Pintu kamar mandi terbuka.
Alexa keluar dan mendapati telunjuk Yura masih terarah tepat ke arahnya.
Yura tersentak, buru-buru mengalihkan arah jarinya ke samping, lalu berpura-pura memainkan jari-jarinya seolah sedang menghitung sesuatu yang sangat penting.
Alexa mengerang pelan dalam hati. Ia tidak berkomentar apa pun, hanya meraih ponselnya dan menelepon seseorang. "Bawa satu setel pakaianku," katanya singkat.
Ia melirik Yura sekilas. Mata Yura berbinar, penuh harapan.
"Itu saja," lanjut Alexa.
Telepon ditutup.
Harapan Yura runtuh seketika.
Alexa kembali masuk ke kamar mandi tanpa menoleh.
Yura mengepalkan tangan. "Kurang setengah gelas," desisnya pelan. ia mengayunkan tinjunya ke udara, meninju angin kosong.
Kekesalannya tertahan di dada, sementara di kepalanya hanya ada kalimat bahwa pria itu tidak memiliki hati.
......................
Rendra mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kerjanya dengan pandangan beberapa kali melayang ke arah meja Yura yang sejak pagi masih kosong.
Rendra kemudian mengangkat pergelangan tangannya, menatap jam tangan yang melingkar di sana. Jarumnya sudah bergerak mendekati waktu makan siang.
Namun Yura belum juga muncul.
Sejak semalam hingga pagi ini, gadis itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Tidak ada pesan mau pun kabar.
Rendra mengembuskan napas pelan. Dalam benaknya, ia menduga penyebabnya tak jauh dari kejadian semalam saat Yura mengetahui hubungannya dengan Rose.
Ia sempat berpikir Yura hanya sedang marah besar dan akan muncul seperti biasa setelah emosinya mereda. Namun Yura sampai saat ini tidak juga datang. Itulah yang mengganggu hatinya.
Rendra pun bangkit dari kursinya dan melangkah menuju meja Rani.
Begitu ia mendekat, Rani langsung mendongak. Di saat yang sama, Bimo dan Leo ikut melirik, jelas tertarik dengan apa yang sedang terjadi.
"Ada apa, Kak?" tanya Rani.
"Apa Yura semalam ke rumahmu?" tanya Rendra langsung. "Dan menginap di sana?"
Rani sontak menggeleng. Alisnya sedikit mengernyit, rasa curiga perlahan muncul di wajahnya.
Namun dalam hati, ia bergumam kesal. "Pantas saja. Dia bilang mendadak sakit. Pasti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka."
Pandangan Rani beralih ke arah Bimo dan Leo yang tampak semakin kepo. Ia kemudian berdiri dan memberi isyarat pada Rendra.
"Ayo ke sana," ujarnya singkat, menunjuk sudut ruangan yang lebih sepi.
Rendra mengangguk dan mengikutinya. Ia juga penasaran dengan sikap Rani. Ia tahu Rani adalah sahabat Yura, meski hubungan Rani dengan Rose memang tidak pernah dekat.
Begitu mereka berhenti di tempat yang agak sunyi, Rani langsung berbalik.
"Apa yang kalian lakukan pada Yura?" tanyanya tajam. "Apa dia sudah mengetahui hubungan kalian itu?"
Rendra terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan tanpa berkata apa pun.
Melihat itu, Rani memejamkan matanya, rahangnya mengeras menahan amarah. "Kalau begitu, lebih baik kalian menjauhi Yura," ucapnya dingin. "Ini peringatan terakhir dariku. Berhentilah bermain-main. Jangan lagi menyakitinya. Jika kalian masih mendekatinya, aku tidak akan tinggal diam."
"Ini juga bukan sepenuhnya salah kami—" Rendra mencoba menyela.
"Iya, kalau kalian mau mengakui," potong Rani tajam. "Kakak tahu sendiri bagaimana perasaan Yura pada kakak. Seharusnya sejak awal kakak jujur pada Yura bahwa kakak menyukai Rose."
"Tapi Rose sendiri tidak ingin merusak persahabatan mereka—"
"Itulah alasan aku membencinya," sahut Rani tanpa ragu. "Rose selalu iri pada Yura. Apa pun yang Yura miliki—"
"Jangan sembarangan menuduh ibu dari anakku."
Ucapan itu membuat mata Rani langsung melotot. Bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang dingin. "Pantas saja," katanya pelan, nyaris mengejek.
Rendra mengernyit, tetapi tidak mengajukan pertanyaan apa pun.
Rani kemudian menepuk bahu Rendra, kali ini dengan tekanan yang terasa sebagai peringatan. "Hati-hati, Kak. Cepat atau lambat, anakmu akan hilang. Dan apa pun yang Yura dapatkan nanti, tolong jaga calon ibu dari anak-anakmu itu agar tidak mengambil apa yang menjadi milik Yura."
Ia menatap Rendra lurus. "Aku yakin Yura akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar darimu. Dan itu hanya akan membuat Rose ingin merebutnya lagi."
"Kau—"
Namun Rani sudah berbalik lebih dulu dan melangkah pergi, meninggalkan Rendra yang berdiri dengan rahang mengeras.
"Rose terlalu baik untuk mereka," gumam Rendra kesal dalam hati. "Aku tidak akan tinggal diam jika mereka yang menyakitinya."
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺