NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Lampu koridor hotel itu terlihat redup, berwarna kuning pucat. Suara dari dalam kamar terdengar samar, bercampur tawa laki-laki yang asing di telinga Pitaloka. Langkah kakinya melambat, seolah tubuhnya ingin berhenti, tapi pikirannya mendorongnya terus maju.

Sherly berjalan di depannya, percaya diri, seolah tak ada yang perlu dipikirkan lagi.

Pitaloka berhenti sesaat. Tangannya gemetar. Ini bukan dirinya. Tapi pikirannya berisik ... tentang rasa kotor yang belum juga hilang, tentang trauma yang tak mau diam, tentang rasa ingin membuktikan bahwa dirinya masih punya kendali atas tubuhnya sendiri. "Sher ..." suaranya nyaris tak terdengar.

Sherly menoleh. Wajahnya terlihat santai, nyaris datar. "Kalau kamu nggak siap, kamu balik aja."

Pitaloka menelan ludah. Dadanya sesak. Dalam kepalanya, ada dua suara saling bertabrakan ... yang satu berteriak jangan, yang lain berbisik biarin aja, toh semua udah rusak.

Ia menatap pintu kamar itu lama. Lalu ... melangkah maju.

Pintu terbuka.

Suara tawa, aroma alkohol, asap rokok dan wajah-wajah asing menyambut.

Dunia seolah bergeser dari porosnya. Sherly masuk lebih dulu, disusul Pitaloka yang ragu-ragu, lalu pintu itu menutup perlahan di belakang mereka.

Dalam sekejap, semua terasa menjauh ... logika, rasa aman, bahkan dirinya sendiri.

Yang tersisa hanyalah keputusan yang sudah terlanjur diambil.

"Hai Sherly. Akhirnya kamu datang juga," seru salah seorang lelaki berambut agak gondrong. "Aku kira kamu sendirian ... ternyata bawa teman ya?" lanjutnya sambil melirik ke arah Pitaloka yang berdiri di belakang Sherly.

"Iya. Temanku ini mau ikutan party bareng kita," balas Sherly sambil menarik Pitaloka.

"Sip lah! Ayo sini, kita kenalan dulu." Lelaki gondrong itu mengulurkan tangan ... dan Pitaloka menyambutnya.

"Pita ..." katanya sambil menyalami si gondrong. Tiba-tiba ... sesuatu yang aneh hadir dalam dirinya. "Kenapa aku merasa nggak asing dengan jemari ini," batinnya ketika ia berjabat tangan dengan lelaki terakhir yang mengaku bernama Doni.

Namun tepukan halus dari Sherly membuyarkan suara batin itu. "Pita ... aku, Andrew dan Jackson mau main di kamar mandi. Kamu sama Doni di sini aja ya?"

Pitaloka terhenyak, "Sher ... kamu ... kamu mau main sama dua orang sekaligus?"

Sherly mengangguk mantap. "Iya, Pita. Aku udah biasa. Dan aku nggak puas kalau main cuma dengan satu cowok. Nggak kerasa," ungkapnya diiringi tawa.

Sherly berlalu, masuk ke kamar mandi bersama dua lelaki.

Sementara Pitaloka, masih mematung di tepi ranjang.

"Pita ... kamu baru pertama kali melakukan hal kayak gini ya?" tanya Doni sambil menjatuhkan bokong di sebelah Pitaloka.

Pitaloka ingin menjawab iya, tapi faktanya ia sudah pernah melakukannya, meski dipaksa.

"Secara sadar ... iya. Tapi aku pernah melakukan hubungan mesra saat sedang mabuk. Dan kejadian itu terjadi malam kemarin."

Doni mengangguk-anggukan kepalanya sambil menyesap rokok elektrik di tangannya. "Santai aja, Pit. Kita nikmatin semuanya. Aku nggak akan kasar kok sama kamu." Doni bangkit, mematikan rokok elektriknya, lalu ia kembali menghampiri Pitaloka. "Relaks, ya ..." Dia menumpukan kedua tangannya di sebelah kiri dan kanan ranjang, di mana di tengah-tengahnya, ada Pitaloka yang duduk menahan napas. "Pita ... ayo kita terbang bersama ke puncak nirwana," bisik Doni sambil mendorong tubuh Pitaloka hingga merebah di atas ranjang.

_____

Jam dinding di ruang keluarga berdetak pelan, tapi bunyinya terasa nyaring di telinga Lastri.

Jarum pendek sudah mendekati angka dua belas malam. Di meja, teh hangat yang tadi ia buat telah dingin, uapnya menghilang tanpa sempat disentuh.

Lastri duduk tegak di sofa, sesekali melirik ponselnya yang tergeletak di pangkuan. Sejak magrib, ia menunggu. Biasanya, sang suami tak pernah pulang selarut ini tanpa kabar.

Akhirnya layar ponselnya menyala.

Suamiku: Sayang, aku tidak jadi pulang malam ini. Ada urusan mendadak. Maaf ya. Kamu jangan marah. Tidur lah.

Lastri menghela napas lega. "Oh ... ya sudah," gumamnya pelan. Ia membalas singkat.

"Hati-hati di sananya."

Awalnya, Lastri merasa tenang.  Ia tahu suaminya adalah seorang anggota dewan ... rapat dadakan, pertemuan tertutup, atau urusan politik yang tiba-tiba muncul bukan hal baru. Ia berdiri, berniat membereskan teh hangat di atas meja.

Namun saat akan melangkah ke dapur, dadanya terasa sedikit sesak. Pikirannya mulai berkelana.

Akhir-akhir ini berita terlalu sering memberitakan kasus perselingkuhan yang melibatkan tokoh publik. Semua terjadi mendadak. Semua terasa dekat.

Langkahnya melambat. "Tapi ... ini kan sudah tengah malam. Memangnya urusan mendadak apa yang dilakukan jam segini?" gumamnya pada diri sendiri.

Lastri berhenti, tak jadi pergi ke dapur. Di luar, halaman rumah tampak sunyi. Lampu taman menyala temaram, bayangan pepohonan bergerak tertiup angin. Sunyi itu tiba-tiba terasa tidak ramah.

Ia kembali menatap ponsel. Tidak ada pesan lanjutan. Tidak ada telepon masuk.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. "Apa benar Mas Zainal ada urusan mendadak ...?" bisiknya lirih.

Bayangan-bayangan buruk mulai menyusup tanpa izin. Wajah-wajah di berita ... tentang pejabat yang punya banyak wanita simpanan, tentang politikus yang menikah siri dengan artis ibu kota. Tentang aparat negara yang punya anak rahasia dan masih banyak lagi.Semuanya bercampur di kepalanya.

Lastri mengusap lengannya sendiri, merasakan dingin yang tak berasal dari udara. "Enggak! Nggak! Jangan mikir yang aneh-aneh, Lastri!" ucapnya mencoba menenangkan diri.

Namun pikirannya membandel.

Bagaimana kalau suaminya sedang bersama wanita lain?

Bagaimana kalau Zainal sedang bermesraan di atas ranjang?

Tangan Lastri bergetar saat meraih ponsel lagi. Ia nyaris menekan tombol telepon, tapi urung. Ia tak ingin terlihat panik ... dan mengganggu suaminya.

Zainal pasti marah dan membentak dirinya.

Ia berjalan mondar-mandir di ruang keluarga, napasnya mulai tak beraturan. Setiap bunyi dari luar ... gesekan daun, suara motor lewat ... membuatnya menoleh cepat. "Mas ... kamu benar-benar sedang bekerja kan?" bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.

Jam kembali berdetak. Malam terasa makin panjang. Dan di balik dinding rumah mewah yang biasanya memberi rasa aman, Lastri justru diliputi ketakutan yang tak bisa ia jelaskan ... seolah firasat buruk sedang mengintai, menunggu untuk menjadi nyata.

Tanpa ia ketahui, sepasang mata di balik celah pintu sedang memperhatikannya. "Sepertinya ... Nyonya rumah ini sedang gelisah. Sepertinya ... Lastri mulai tak percaya pada suaminya. Dan ini, akan membuatku mudah menyusup. Memantik konflik di antara Lastri dan Zainal."

_____

Pagi datang pelan, disertai cahaya pucat yang menyelinap lewat celah tirai kamar hotel.

Udara terasa pengap, bau parfum bercampur sisa alkohol dan asap rokok menggantung di udara.

Pitaloka terbangun. Ia menarik selimut untuk menutupi dadanya yang polos, lalu menatap langit-langit, lama.

Kepalanya sedikit berat, tapi tidak sakit. Yang aneh ... tidak ada rasa sesal seperti yang ia kira akan datang. Tidak ada tangis. Tidak ada panik.

Yang ada justru ... rasa kosong yang hangat. Ia mengingat pergumulan malam tadi. Di mana ia dan lelaki bernama Doni melakukan hal itu berkali-kali. Lalu bertukar menjadi ia dan Jackson serta Andrew. Dan terakhir, dia digempur oleh ketiga lelaki itu.

Pitaloka duduk perlahan di tepi ranjang, menyibakkan rambut dari wajahnya. Di dalam dadanya, ada denyut aneh ... bukan bahagia, bukan bersalah. Lebih seperti candu yang baru saja dikenali.

Pintu kamar mandi terbuka pelan. Sherly keluar dengan rambut masih basah, mengenakan handuk sampai dada. Ia menatap Pitaloka, lalu tersenyum kecil. "Gimana rasanya?" tanyanya santai.

Pitaloka terdiam sejenak. Ia menatap lantai, lalu ke jendela, lalu kembali ke Sherly. "Entah," jawabnya jujur. "Tapi ... aku nggak nyesel."

Sherly berhenti melangkah. Matanya menyipit tipis, lalu senyumnya melebar ... bukan senyum mengejek, tapi seperti seseorang yang menemukan kawan seperjuangan. "Serius?"

Pitaloka mengangguk. "Iya. Aneh, tapi ... rasanya kayak aku punya semangat hidup lagi. Kayak aku pegang kendali atas diriku sendiri."

Sherly mendekat, duduk di sampingnya. "Nah, itu yang aku maksud. Kadang kita cuma butuh ngerasain sesuatu yang bikin kita melupakan luka."

Pitaloka menarik napas panjang. Ada bagian dalam dirinya yang berbisik bahwa ini berbahaya. Tapi ada bagian lain yang justru merasa bebas ... bebas dari rasa bersalah, dari kenangan, dari rasa menjadi korban. "Aku nggak nyangka bakal ngerasa gini," ucapnya pelan. "Tapi aku ... ingin melakukannya lagi, Sher."

Sherly menoleh cepat. "Serius?"

Pitaloka mengangguk. "Bukan sekarang. Tapi ... nanti."

Senyum Sherly mengembang penuh kepuasan. "Welcome to the club, Pita."

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!