NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 — Sesuatu yang Disembunyikan

Rakha baru menyadari ada yang berbeda ketika Nayla menyebut sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

Bukan hal besar—bahkan terlalu kecil untuk disebut rahasia. Tapi cukup spesifik untuk membuat jarinya berhenti menarik tali sepatu.

"Jangan kelamaan pulang hari ini," kata Nayla dari bangku cadangan. Nadanya ringan, nyaris sambil lalu. "Kamu kemarin kelihatan capek."

Rakha mendongak. Tidak lama.

"Kelihatan dari mana?" tanyanya.

Nayla menata botol minum di sampingnya, merapikannya satu per satu sebelum menjawab.

"Kelihatan aja."

Rakha mengangguk pelan. Ia tidak mengejar penjelasan. Ia kembali menunduk, menarik tali sepatunya sekali lagi—sedikit lebih kencang dari yang diperlukan lalu berdiri.

Latihan dimulai seperti biasa.

Sore bergerak pelan di aula. Bola berpindah dari tangan ke tangan, ritmenya rapi, hampir tanpa suara selain pantulan di lantai. Keenan menjaga sisi kanan, langkahnya ringan dan sigap. Dimas dan Olan mengisi tengah, menutup ruang tanpa banyak bicara.

Rakha masuk dari belakang formasi. Ia tidak terburu-buru. Matanya menyapu, menghitung jarak, memilih momen. Langkahnya diatur—sedikit lebih lambat dari biasanya, cukup untuk menjaga tubuhnya tetap terkendali.

Ia mengikuti alur. Itu cukup.

Tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Ia merasakannya di sendi, di napas yang harus ia atur sendiri. Tapi ia tidak tertinggal. Ia berada di tempat yang tepat, bergerak seperlunya.

Di sela-sela drill, pandangannya sempat melayang ke bangku cadangan. Nayla ada di sana. Kadang menunduk, kadang mengangkat kepala, lalu diam lagi. Ia tidak mencari tatap mata. Tidak memberi isyarat.

Namun kehadirannya terasa konsisten.

Selalu ada.

Selalu pas.

Latihan berakhir tanpa kejutan.

Pelatih Arwin menyampaikan evaluasi singkat—beberapa koreksi, satu dua catatan—lalu membubarkan mereka. Anak-anak mulai bergerak sendiri, ritme lapangan perlahan mengendur, suara sepatu berganti dengan bunyi tas ditutup.

Hari itu selesai, begitu saja.

Rakha keluar aula lebih dulu, berniat langsung pulang. Udara sore menyentuh kulitnya dingin, membuatnya berhenti sejenak di sisi bangunan. Tangannya baru setengah jalan ke saku jaket ketika suara itu sampai ke telinganya.

Suara Nayla.

"…iya, Om," ucapnya pelan. Nadanya berbeda dari yang biasa ia dengar di lapangan. Lebih hati-hati. Lebih terjaga.

"Rakha baik-baik aja kok."

Rakha terdiam. Ia tidak berniat mendengar. Tapi namanya sudah lebih dulu tertangkap.

"Latihannya jalan normal," lanjut Nayla. "Saya perhatiin terus."

Ada jeda. Singkat, tapi cukup.

"Iya. Ada Keenan juga."

Rakha melangkah mundur satu langkah, refleks. Seolah jarak itu bisa memutuskan apa yang barusan ia dengar.

Ia tidak menunggu kalimat berikutnya. Entah karena suara Nayla merendah, atau karena ia memilih berhenti di sana.

Yang tertinggal hanya satu frasa, berulang di kepalanya.

'Saya perhatiin terus.'

Rakha menoleh ke pintu aula.

Keenan baru keluar, tas tersampir di bahu, langkahnya santai. Wajahnya datar—hanya sisa lelah latihan yang menempel. Ia berjalan seperti biasa, tanpa membawa apa pun selain rutinitas.

Rakha memalingkan pandangan lebih dulu. Ia menarik napas pelan, membiarkannya turun sampai dada terasa longgar.

Langkahnya kembali bergerak.

Hari itu berlanjut seperti seharusnya.

Namun ada sesuatu yang bergeser tipis. Tidak cukup besar untuk terlihat, tapi cukup untuk membuat Rakha menjaga jarak setengah langkah lebih jauh dari biasanya.

Dan sejak sore itu, ia mulai bermain dengan cara yang sedikit berbeda.

.

.

.

Di lapangan, gerakannya tetap rapi. Operan tepat sasaran, langkah terukur. Saat Keenan bergerak mendekat untuk menerima bola, Rakha tidak menunggu seperti biasanya. Ia menggeser posisi lebih dulu, membuka sudut lain, lalu melepaskan operan tanpa menoleh lama.

Keenan menangkapnya, tersenyum singkat. "Cepat amat."

Rakha hanya mengangkat bahu. Bola kembali berpindah. Kali ini Keenan mendekat lagi, jaraknya lebih rapat. Rakha menahan langkah sepersekian detik, lalu bergerak ke samping, membuat ruang cukup untuk lewatnya bola—tidak lebih.

Di sisi lapangan, Nayla berdiri diam. Tangannya terlipat di depan dada. Pandangannya mengikuti Rakha, lalu berhenti, seolah mencatat sesuatu yang tak perlu ditanyakan.

Latihan berjalan. Rakha membaca arah lawan, menutup ruang lebih cepat, lalu melepas bola sebelum Keenan sempat memberi isyarat. Keenan tetap menyusul, ritmenya menyatu, meski kali ini ia harus menyesuaikan diri.

"Timing lu berubah," gumam Keenan sambil berlari sejajar.

Rakha tidak langsung menjawab. Ia mengatur napas, lalu berkata singkat, "Biasa aja."

Tidak terdengar bantahan. Bola kembali memantul di lantai.

Saat jeda, Nayla mendekat. "Capek?"

Rakha mengangguk. "Iya."

Tidak ada yang menimpali. Keenan berdiri di sampingnya, meneguk air, lalu kembali menatap lapangan.

Matahari mulai turun. Bayangan kaki mereka memanjang di lantai, sempat bertumpuk sebelum terpisah. Di sekitar, anak-anak lain mulai merapikan barang, suara di lapangan perlahan menurun.

Latihan selesai.

Rakha menyampirkan tas ke bahu dan berhenti di pinggir lapangan. Keenan otomatis ikut berhenti.

Kebiasaan lama.

Rakha menyadarinya. Ia tidak langsung bergerak. Tas dirapikan lebih rapi, tali sepatu ditarik sekali lagi.

"Pulang bareng?" tanya Keenan.

Rakha mengangguk. "Iya."

Jawabannya netral. Tidak mengundang. Tidak menolak.

Baru setelah itu Rakha berdiri. Nayla berjalan beberapa langkah di belakang mereka.

Perubahan itu tetap ikut berjalan—ringan, nyaris tak terasa, tapi belum selesai.

Mereka keluar aula berdampingan. Langkah

Keenan sedikit lebih cepat. Rakha mengikuti—sampai ia memperlambat. Keenan ikut berhenti. Di belakang mereka, langkah Nayla ikut tertahan.

"Lu kenapa sih hari ini?" tanya Keenan.

"Enggak."

"Terus?"

Rakha diam sebentar. Udara sore

menggantung. Nayla berjalan lagi saat mereka bergerak, menjaga jarak beberapa langkah.

"Keen," kata Rakha pelan. "Lu dari kemarin terlalu protektif."

Keenan mengerutkan kening. "Emang kenapa?"

Rakha menatap ke depan, ke arah parkiran.

"Gue nggak butuh itu," katanya akhirnya. Suaranya datar.

Keenan terdiam.

"Oh," katanya singkat. "Sorry."

Mereka berjalan lagi. Nayla tetap di belakang, langkahnya menyusul tanpa mendekat.

Beberapa langkah kemudian, Rakha bicara—lebih pelan.

"Lu nggak salah. Cuma… jangan sekarang."

Keenan mengangguk. Ia tidak bertanya.

Saat jarak mereka menyempit di area parkiran, Nayla akhirnya sejajar. Ia menoleh ke Rakha.

"Kamu udah mau pulang?" tanyanya.

Rakha mengangguk. "Iya."

Nayla memperhatikannya sejenak. "Jangan lupa istirahat."

Rakha berhenti sebentar, lalu mengangguk lagi. "Iya."

Tidak ada tambahan.

Tidak ada penjelasan.

Keenan berdiri di samping mereka, mendengarkan dan sadar, ada bagian yang bukan lagi miliknya untuk masuk.

Rakha naik motor lebih dulu.

Mesin menyala. Suaranya memotong sore yang mulai dingin.

Sebelum pergi, Rakha melirik Keenan.

"Besok."

Satu kata. Datar. Tidak meminta jawaban.

"Iya," kata Keenan.

Motor itu melaju menjauh.

Nayla melangkah ke arah sebaliknya.

Keenan tertinggal sendiri. Dan di antara langkah yang menjauh dan suara mesin yang memudar, ia sadar ada sesuatu yang bergerak pelan di antara mereka bertiga.

Belum jelas bentuknya.

Belum jelas arahnya.

Tapi untuk pertama kalinya, ia tahu jarak itu tidak lagi sepenuhnya ada di tangannya.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!