Pagi ini dia akad nikah dengan perempuan pilihannya. Padahal dua minggu lalu dia berjanji akan melamarku. Laki-laki mana lagi yang bisa dipercaya?
Dekat sejak SMA, bahkan Kyara selalu mendukung Bagaskara untuk mencapai cita-citanya. Mulai dari beli sepatu, memberi uang untuk ongkos seleksi, Kyara selalu ada. Namun, sekarang gadis cantik itu membuktikan jika kamu memulai hubungan dengan pasanganmu dari nol, maka kamu akan mendapat pengkhianatan.
Ikuti perjalanan cinta Kyara Athiya hingga mendapat pengganti Bagaskara dengan cinta yang tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASIH BAHAS MANTAN
"Senang banget habis video call?" sindir Justin pura-pura fokus ke laptop. Kyara berdehem kemudian menggeleng, bukan baper tapi lucu aja dengan Owi yang konyol begitu. Sejak dulu jaga image saat Kya masih dengan Bagas, tapi sekarang konyolnya kelihatan, terkesan teman lama yang asyik.
"Biasa saja, cuma heran Owi bisa sekonyol itu. Dulu mana mau telepon atau chat meski hanya bercanda."
"Ya kan sadar. Kalau kamu milik temannya, sekarang kamu jomblo makanya dia seberani itu."
"Mungkin," begitulah Kyara, ia tak mau buru-buru terbawa suasana dengan sikap Owi. Ia masih memegang prinsip Bagas dan Owi dekat, tidak menutup kemungkinan sifatnya juga hampir sama. Apalagi Owi juga atlet yang banyak penggemarnya, siapa tahu dia banyak cewek tapi sekedar hubungan tanpa status, keburu ge-er nyatanya hanya dianggap teman kan nyesek.
Owi sendiri punya kebiasaan baru, ia suka sekali melihat postingan WA Kya tiap hari, gadis itu tak pernah lupa mengunggah status menandakan kalau dia hidup. Apapun diunggah, bahkan hanya potret minuman boba saja ia unggah tentunya dengan caption yang beragam, kadang melankolis, kadang galau, kadang ceria mungkin tergantung mood Kya hari itu.
Owi sudah komunikasi dengan official clubnya, siapa tahu mau merekrut Bagas. Menurut kabar yang beredar, Bagas mengalami penurunan performa sejak menikah, tentu tim official tak serta merta menerima, pasti melacak track record Bagas terlebih dulu. Owi juga ditunjukkan cara bermain Bagas terakhir kalinya, menurut tim gaya Bagas tidak cocok dengan club ini.
Saat itu Owi hanya mengangguk saja, tapi dalam hati sedikit protes halah alasan gaya bermain gak cocok, bilang saja menolak. Namanya atlet pasti punya gaya bermain tertentu, dan pasti beradaptasi saat bermain di club baru. Akal-akalan saja untuk menolak.
"Sori, Gas. Belum goal di official club!" lapor Owi setelah latihan, ia menyempatkan menelepon Bagas, siapa tahu Bagas juga menunggu kabar. Owi tak mau dianggap menggantung kabar.
"Iya, gak pa-pa, Wi. Sudah aku tebak. Orang tua Lovy juga pasti blokade semua akses club lokal maupun luar lah!"
"Kok sejahat itu sih, Gas."
"Orang berkuasa pasti semaunya."
"Terus kamu rencananya gimana?" tanya Owi yang masih menyayangkan kalau Bagas harus pensiun dini.
"Berkebun," jawab asal Bagas sembari tertawa.
"Bikin lapangan saja, disewakan atau menjadi pelatih begitu?" saran Owi.
"Aku belum punya keberanian untuk itu, Wi."
"Ya tapi kamu gak bisa diam di tempat terus, Gas. Gimana keluarga kamu!"
"Soal finansial sih masih aman lah, apalagi orang tuaku tidak memanfaatkan uang yang aku kasih dulu untuk foya-foya. Beliau mengalihkan uang dariku untuk beli kebun dan emas, jadi masih aman kok, Wi. Makasih udah care."
"Oke, setidaknya makan bisa kan?" Bagas tertawa ngakak, bayangan orang mungkin begitu setelah bergaji besar, lalu gak kerja seolah kehabisan uang langsung.
"Bisa. Berkat Kya finansialku aman." Owi langsung mengerutkan dahi setelah Bagas menyinggung Kya, mendadak Owi tak suka. Baginya Bagas sudah tak boleh mendekati Kya dong. Kenapa masih teringat Kya?
"Kya? Kenapa? Kamu masih berhubungan?"
"Enggak. Dulu dia kasih tahu aku soal manage keuangan, salah satunya investasi."
"Dia paham banget kayaknya?" tanya Owi pura-pura penasaran, padahal hatinya panas mendengar cewek incarannya dipuji Bagas. Owi juga paham lah, Kya bisa memberi saran soal manage keuangan, bukannya sang kakak kerja di bidang investasi ya. Kemudian sekarang Kya juga menghandle toko emas, pastinya dia melek manage soal keuangan.
Bagas pun mengenang bagaimana Kya dulu menasehati dalam investasi. Dia juga tahu dari sang kakak, Bagas paling ingat metode 50: 30: 20, di mana 50 soal kebutuhan hidup, 30 investasi, dan 20 keinginan, dan Bagas pun mengikuti nasehat itu yang bisa menyelamatkan hidupnya saat ini.
Owi hanya diam, tak semangat ngobrol seperti di awal tadi. Mendengar cerita Bagas, ia sadar hubungan mereka sebenarnya sudah berjalan jauh, bahkan mungkin sudah mengatur masa depannya. Pantas saja Bagas susah move on, tapi Owi boleh ngomong ke Bagas gak sih. Waktu lo buat Kyara sudah selesai. Tapi apakah Owi tega? Ah sial.
Selama beberapa hari Owi merenung, apa mungkin jodoh Kya memang Bagas ya? Sudah menikah pun Bagas dipisahkan oleh istrinya. Mendadak Owi tak terima. Ia pun sengaja mengirim chat pada Kya, meski di Jepang tengah malam.
Kya. Kamu punya niatan balik sama Bagas gak?
Saat itu Kya sedang melihat drakor di kamarnya, spontan mengerutkan dahi membaca pesan Owi. Sudah lama tak chat eh sekali chat masih bahas mantan. Menyebalkan.
G
Hanya satu huruf tapi membuat Owi tersenyum. Ia pun video call pada Kya, mungkin gadis itu belum tidur juga.
"Kenapa?" tanya Kya saat menjawab panggilan video.
"Tahu gak aku tadi telepon Bagas. Dia cerita banyak tentang kamu, terutama soal investasi. Pikirku dia berada di ambang kebangkrutan karena tidak ada pemasukan, tapi ternyata dia menerapkan metode yang kamu berikan. Aku mendengarnya gak suka, dia masih begitu ingat dengan kamu. Ya khawatir saja kalian balikan!" ujar Owi jujur. Tentu saja membuat Kya tertawa ngakak, aneh saja Owi kenapa jadi tak suka. Bukannya kesan Owi naksir Kya hanya gimmick.
"Kenapa kamu gak suka?"
"Ya kan aku mau PDKT sama kamu, Kya."
"Wi, please deh. Aku mau masih menikmati kejombloan, lagian aku trauma sama atlet, maunya sama orang biasa saja. Kamu temannya Bagas, yakin kamu mau bekas Bagas?"
"Bekas? Sejauh apa kamu pacaran sama dia, sampai kamu menyebut bekas segala."
"Sejauh pemikiran kamu tentang aku dan Bagas saja."
"Tapi aku yakin kalian belum sejauh itu. Apalagi sampai free s*x."
"Astaghfirullah, ya enggak lah!"
"Nah, dari responmu saja. Gak pantas kamu dianggap bekasnya Bagas."
"Tapi bukan berarti aku mau menjalin hubungan selain berteman sama kamu, Wi. Dih kenapa sih tiba-tiba bahas perasaan, malas banget."
"Ya aku khawatir saja. Kalian balikan, Bagas sudah single kamu juga dan aku yakin cintanya dia buat kamu sangat besar."
"Sekali lagi aku bilang, Wi. Aku sudah pernah dikecewakan, gak mungkin aku memaafkan dia segampang itu, lalu balikan. Enggak ada dalam kamusku begitu."
"Ya udah sama aku aja ya?"
"Enggak."
"Iya lah. Kalau sampai tahun depan kamu belum punya pacar, maka akan aku lamar."
"Dih, maksa."
"Cewek sebaik kamu, gak baik dibiarkan lama-lama. Harus segera dimiliki."
"Dih, kayak sudah siap setia."
"Siap banget. Selama ini aku jomblo loh!"
"Masa'. Pacar gak ada tapi HTS banyak."
"Mulutnya, seenaknya tuduh. Tanya noh sama mamaku."
"Malas ah."
"Janji ya jomblo saja kalau bukan sama aku?" pinta Owi makin gencar PDKT.
"Enakan jomblo."
"Pret."