" Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali.
kisah Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriaki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak di cintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi yang juga majikan tempatnya bekerja. Namun kisah cinta Ana dan Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. bagaimana kisah mereka? Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Malam berakhir dengan gemerlap bintang-bintang dan bunga-bunga yang bermekaran mengantarkan pada mimpi yang menjanjikan sebuah harapan. Malam ini Ana lupa akan traumanya bunga di hatinya memaksa bersemi mesti tak pasti akankah tumbuh atau kembali layu dan mati.
ikuti terus kisah Ana dan jangan lupa dukungannya ....
terimakasih .. Update setiap hari, No libur kecuali mati lampu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IbuAnna30, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Keputusan Akhir
"Nduk ini papah, gimana kabar mu di situ, sehat ?" Suara berwibawa sang ayah mertua
Menyapa pelan.
Ana bergegas memasang headset nirkabelnya saat di dengar suara sang ayah mertua di Seberang sana. Entah mengapa firasat nya mengatakan ada hal serius yang terjadi di rumah. "Ini papah ?" Sahut Ana, sebelum menjawab pertanyaan sang mertua. "Papah ke Sumatra?' Lanjut nya.
"Iya papah sama mamah mu main ke Sumatera kangen sama cucu. "Kamu gimana kabar nya di situ nduk?'ulang sang ayah mertua.
"Baik pah, papah sama mamah sehatkan ?" Sahut Ana balik bertanya.
"Sehat, ini nduk papah mau ngomong, " ucap sang papah membuat hati Ana sedikit berdesir khawatir . "Kok kata Roy kamu ngajak pisahan, apa bener ?" Lanjut sang papah.
Ana menghela nafas pendek, "Ana tidak bilang ngajak pisah pah, Ana hanya bilang untuk sementara kami saling instropeksi dulu. Tapi mas Roy seperti nya tidak terima, dan menganggap nya Ana ngajak pisah. Tapi ya tidak apa-apa, sejujur nya Ana juga sudah lelah menghadapi sifat mas Roy." Jelas Ana .
"Apa tidak ada jalan lain nduk?" "Maksut papah, apa kamu bener-bener tidak bisa memberi kesempatan pada Roy." Ucap ayah mertua Ana, mencoba menengahi masalah yang terjadi.
"Untuk kali ini sudah tidak bisa pah, mas Roy sudah sangat keterlaluan. Ana sudah
Benar-benar lelah menghadapi nya." Sahut Ana tegas.
Samar Ana mendengar suara Roy yang tak terima dengan jawaban Ana.
"Itu papah denger sendiri kan gimana sombong nya dia, mentang-mentang sudah kerja !.
Ana mencoba menelaah kondisi di seberang sana, ada suara Roy, ada suara mertua nya dan juga mas Dwi dan Mbak Asih, itu berarti mereka sedang berkumpul.
"Apa hanya karena masalah ini mertua nya sampai datang jauh-jauh dari Surabaya" batin Ana.
"Kalau kamu tetap minta cerai, Aidar aku bawa pergi !. Suara keras Roy kemudian Mendominasi.
Ana tersenyum perih mesti tak terlihat, kenapa selalu Aidar yang jadi alat untuk mengancam" rutuk nya dalam hati. "Untuk Aidar terserah saja mas yang penting Aidar nyaman dan baik-baik saja." Jawab Ana mencoba setenang mungkin .
"Kamu urus Aidar semalam saja, Aidar sampai masuk UGD sok-sokan mau bawa Aidar."
Suara judes sang ibu mertua terdengar samar di telinga Ana,membuat nya sedikit terperanjat dari tempat nya duduk .
"Maksut nya apa mah !" Sela Ana.
Kembali suara sang Ayah mertua yang mendominasi panggilan,
"Ini Aidar di rawat di UGD nduk, karena salah minum susu makanya papah sama mamah cepet-cepet terbang ke Sumatera setelah di telepon bulek mu."
"Terus gimana keadaan Aidar, Pah?'' Sergah Ana dengan suara bergetar.
Jelas sekali kekhawatiran terdengar di sana .
''Sudah mendingan, ruam di badannya sudah berkurang tinggal sesak nafas sama muntah yang masih," jelas sang mertua. "Papah cuma mau tanya nduk perihal rumah tangga mu, kalau memang sudah tidak bisa di perbaiki ya papah nggak bisa bilang gimana-gimana, keputusan kan ada di kamu sama Roy. Tapi untuk Aidar, papah tetep titip ke mas Dwi sama mbak Asih, karena beliau yang sudah tau bagaimana merawat Aidar. '' Jelas sang papah.
Roy yang tidak terima dengan keputusan sepihak sang papah menyergah dengan penuh emosi, "nggak bisa lah pah, Aidar anak aku ya harus ikut aku!. "Mau di taruh mana harga diri ku kalau Aidar tetep di sini." Sergah nya.
"Kamu membiarkan istri mu kerja saja sudah tidak ada harga dirinya! Masih bicara harga diri setelah sekarang Aidar terancam nyawa nya!. Bentak sang papah.
"Biar Aidar di rawat bude nya, kamu ikut papah pulang ke Surabaya. Dari dulu nyusahin saja kamu itu." Pungkas sang papah.
Roy terdiam seketika, keputusan sang papah tidak bisa di ganggu gugat.
"Baik mas Dwi , mbak Asih. Ini saya minta maaf sebelum nya atas kelakuan Roy, untuk
Sementara saya titip Aidar, sama kalian. Saya tidak memaksa cuma kalau bisa tolong
Ajak bicara Ana, agar mempertimbangkan keputusan nya. Bagaimana pun juga ada
Aidar yang harus di pikirkan." Mohon ayah mertua Ana.
''Kalau kami ya hanya bisa menasehati pak, untuk keputusan tetap pada Ana." Jawab mas Dwi tegas. "Kalau untuk Aidar kami juga tidak rela Aidar di bawa Roy setelah ini terjadi, kalau cuma kangen mau ketemu silahkan, tapi untuk di bawa kami tidak mengijin kan. Mau Roy bilang ini haknya saya tidak peduli, toh nyata nya baru bawa beberapa jam saja Aidar sudah hampir meregang nyawa." Tekan mas Dwi.
''Iya kami mengerti." Tandas ayah mertua Ana, sembari menahan Roy yang masih ingin
Memprotes. "Hallo An, kamu masih mendengarkan," panggil Ayah mertua Ana.
"Masih Pah."jawab Ana pendek.
"Papah minta tolong An, kalau bisa kamu pikirkan lagi, papah tau kelakuan Roy memang keterlaluan, papah juga pernah ngomong kan sama kamu, waktu awal menikah, tentang kelakuan Roy?' Ujar sang papah.
Ana hanya menjawab "ya" dengan pelan, sedari awal papah mertua nya itu memang sudah mewanti-wanti Ana untuk selalu sabar dengan kelakuan Roy.
Mereka saja sebagai orang tua kandung Roy juga tidak sanggup menghadapi sifat Roy
Yang semaunya sendiri dan sulit di atur.
Awal nya mertua Ana senang Roy kenal dan menikah dengan Ana meski seorang janda, karena Di nilai Ana banyak merubah sifat buruk Roy, meski tak bertahan lama. Setelah kehadiran Aidar Roy kembali ke tabiat buruknya, yang membuat Ana muak dan menyerah.
"Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati kerja nya, fokus pada tujuan mu An.
Apapun keputusan mu nanti, papah percaya itu yang terbaik." Sambung papa mertua Ana sebelum menutup Panggilan.
Mas Dwi menghela nafas puas mendengar bagaimana adik nya membaut keputusan begitu tegas, pun mbak Asih yang sedang memangku Aidar.
"Kami minta keikhlasan mu Roy, untuk mengijinkan Aidar kami rawat." Ucap mas Dwi saat panggilan telefon sudah berakhir. "Aidar tetep anak kamu sampai kapan pun tidak akan berubah yaa tidak akan lupa, ibarat nya kamu ya tetep ayah nya. Hanya kami yang merawat.'' Lanjut mas Dwi.
Roy masih diam saja, rasa tak terima masih menyeruak di hati nya, namun di tak berdaya. Dia sendiri tidak punya apa-apa dan tawaran sang papa yang memintanya pulang ke Surabaya tentu angin segar untuk nya, setelah papah nya itu tak peduli pada nya, dan baru mau mengajak nya bicara setelah dia menikah dengan Ana.
"Roy ...!' Bentak sang papah seolah meminta nya memberikan jawaban.
"Terserah." Jawab Roy pendek sembari berjalan keluar meninggalkan ruang perawatan Aidar.
_________Bersambung.
Dapet mertua malaikat, suami nya yang laknat .
Nasip .......!
Tetep dukung Ana yee pemirsa .....
Salam Cinta
Ibu❤️