Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.
Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.
Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lari dari Oktavian
Ponsel Nowi bergetar berkali-kali sejak ia meninggalkan apartemen Oktavian hari Jumat lalu. Ia yakin hampir semua panggilan itu dari pria itu, namun tangannya tetap gatal ingin mengecek, berharap ada satu saja pesan dari Agnia atau tempat kerja yang dilamarnya.
Oktavian terus berusaha menghubunginya. Telepon dan pesannya makin memaksa serta tidak wajar, hingga akhirnya Nowi memblokir nomornya. Sekarang pria itu menelepon lewat berbagai nomor lain dan meninggalkan pesan suara.
Nowi mengambil ponselnya karena tidak tahan rasa penasaran. Di layar tertulis Panggilan Tidak Terjawab dari Nomor Tidak Dikenal.
Ponselnya bergetar lagi saat pesan masuk. Tertulis: Kamu milikku, Nowi.
"Aku gak bakal pernah jadi milikmu!" batinnya kesal.
Nowi tidak mengerti. Ia sudah menendang selangkangannya dan pergi begitu saja, namun itu belum cukup membuat Oktavian sadar. Jelas sekali pria itu sudah kehilangan akal sehatnya.
Untungnya Oktavian belum muncul di rumah Agnia. Jika sampai itu terjadi, ia tidak akan segan-segan memukul kepala pria itu dengan benda apa saja yang ada di dekatnya.
Setelah memblokir nomor baru itu, Nowi meletakkan ponsel dan kembali menatap layar laptop untuk melanjutkan pencarian kerja.
Ia sudah melamar ke hampir semua restoran di seluruh Surabaya, baik yang membuka lowongan maupun tidak. Sekarang ia mulai berpikir mencari di daerah yang lebih jauh karena sangat membutuhkan pekerjaan.
Sudah seminggu berlalu, namun belum ada satu pun panggilan.Selama ini ia bekerja keras dan sangat menyukai dunia memasak. Nowi tidak mau kembali bekerja sebagai pelayan, ia ingin memimpin dapur dan menjadi orang yang bertanggung jawab penuh di sana.
Karena lelah, ia membuka akun media sosial rahasia yang biasa dipakai untuk mencari informasi tentang orang lain. Akun itu bernama Savana, tanpa foto profil, terdaftar berusia tiga puluh tahun, dan berasal dari Jakarta.
Kursornya berhenti tepat di kolom pencarian. Ia ragu-ragu. Apakah benar-benar mau melakukan ini?
Selama ini ia pernah mencari tahu soal orang lain, biasanya untuk membantu Agnia sebelum kencan. Namun ia tidak pernah mencari siapa pun yang berasal dari kota Batu.
Meninggalkan tempat itu adalah keputusan tersulit yang pernah diambilnya. Rasa sakit karena dikhianati Vito, harus pergi, dan meninggalkan segala sesuatu yang dikenalnya. Ia sengaja tidak mau tahu apa yang terjadi di sana.
Sejak lulus SMA dan langsung pindah dari Batu, hidupnya berubah total. Semua rencana dan mimpi yang hancur waktu itu mengubah seluruh arah hidupnya, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Rasa sakit yang dirasakannya saat itu benar-benar menyiksa.
Selama dua minggu terakhir di Batu, ia selalu pulang cepat hanya untuk mengecek surat. Surat penerimaan kuliah mulai berdatangan, dan ia masih menunggu jawaban dari beberapa kampus yang diminatinya.
Vito sudah diterima di Universitas Negeri Surabaya, pilihan utama pria itu. Memang sudah diduga, karena itu adalah kampus andalan keluarga mereka. Wajah Vito bersinar penuh bahagia saat membuka surat itu. Namun tidak lama kemudian, perhatiannya langsung beralih ke Nowi.
“Aku yakin kamu juga bakal diterima. Tahun depan kita cari tempat kecil dekat kampus ya? Aku nggak sabar tinggal bareng kamu, bangun tiap hari lihat wajah kamu. Kita akhirnya bisa mulai hidup bareng-bareng,” kata Vito antusias.
“Aku juga berharap gitu. Tapi semuanya tergantung apakah aku diterima atau nggak,” jawab Nowi.
“Pasti diterima dong. Mereka malah untung banget kalau terima kamu, kan kamu udah kerja keras banget selama ini,” ujarnya meyakinkan.
“Aku cuma pengin terus ada di sisi kamu aja,” kata Nowi pelan.
Memang begitulah keadaannya.
Vito adalah segalanya baginya sejak ia berusia sebelas tahun. Selama bersamanya, ia merasa tidak ada hal lain di dunia ini yang penting. Vito adalah tujuan hidupnya, orang yang diyakininya akan menemaninya sampai tua.
Namun di hari itu, Nowi menerima dua surat penerimaan sekaligus. Satu dari Universitas Surabaya. Satu lagi dari Universitas Kuliner terbaik di Jogjakarta yang sudah lama diimpikannya. Kejadian itulah yang menjadi awal dari segalanya, yang akhirnya memaksanya meninggalkan kota Batu selamanya.
Kursor masih tergantung di atas kolom pencarian, sementara hatinya bimbang antara ingin tahu dan takut.
Bagaimana kalau Vito sudah menikah?
Bagaimana kalau ia sudah punya anak dan keluarga sendiri?
Dadanya terasa sesak, perutnya terasa mual seketika. Nowi segera menutup laptop dan mendorongnya menjauh. Ia menarik kedua lututnya ke dada lalu menyandarkan kepala di sofa dengan pasrah.
Ia tidak mau tahu apa-apa. Sebut saja ia pengecut, tidak masalah. Bertahan hidup mengajarkannya melakukan banyak hal yang tidak masuk akal. Sejak hari ia meninggalkan Lagoon, ia selalu hidup dalam mode bertahan.
Karena tidak tahan lagi berada di rumah, Nowi memutuskan berjalan-jalan ke pusat kota sekaligus membeli kopi.
Dulu, jam kerja yang panjang sebagai pelayan dan juru masak selalu membuat pikirannya kosong dan tenang. Kesibukan membuatnya terus bergerak tanpa sempat berpikir. Sekarang, karena tidak ada kegiatan, pikirannya malah dipenuhi hal-hal yang ingin dilupakannya.
Ia masuk ke kedai kopi yang ramai lalu mengantre di bagian belakang. Sudah enam tahun ia tinggal di Surabaya, namun kota ini masih terasa menyesakkan baginya.
Dibandingkan Batu yang memiliki pemandangan luas, jalan berbatu, dan udara segar pegunungan, Surabaya terasa seperti tumpukan beton. Memang kota ini memiliki banyak kelebihan. Selalu ada tempat makan yang buka sepanjang waktu, kedai kopi ada di setiap sudut, budayanya hidup, taman-tamannya indah, serta banyak gedung yang menarik.
Namun selama seminggu terakhir, semua itu malah terasa semakin bising dan mengganggu. Tanpa sadar, Nowi mulai merindukan suasana nyaman di rumah lamanya. Lamunannya terpecah saat sebuah tangan kuat melingkar di pinggangnya dan menariknya ke belakang.
“Jangan bikin ribut,” bisik suara Oktavian tepat di telinganya. Pria itu menundukkan kepala lalu mengusap wajahnya ke rambut Nowi.
Tubuh Nowi menegang seketika. Ia mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman di pinggangnya terlalu kuat dan kasar. Rasa takut langsung memenuhi pikirannya.
“Lepasin aku, Oktavian,” ujarnya pelan sambil menggertakkan gigi. Ia menyikut tubuh pria itu sekuat tenaga.
“Udah aku bilang, nggak akan. Sekarang kita pesan kopi terus pulang bareng,” jawabnya dingin.
“Aku nggak mau ikut sama kamu. Lepasin tangan kamu dari aku sekarang juga,” kata Nowi, menekankan setiap kata sambil terus berusaha melepaskan diri.
Usahanya malah membuat cengkeraman Oktavian makin erat. Kepanikan mulai muncul. Nowi melihat sekeliling kedai, namun semua orang sibuk dengan ponselnya masing-masing. Tidak ada yang sadar bahwa ia sedang dipaksa pergi oleh mantan pacarnya yang bertingkah aneh.
Haruskah ia berteriak?
Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Antrean bergerak maju, dan Oktavian mendorong tubuhnya agar ikut bergerak. Nowi memanfaatkan kesempatan itu. Ia langsung menginjak kaki Oktavian sekuat tenaga.
Cengkeraman itu sedikit mengendur, cukup bagi Nowi untuk melepaskan diri dan menabrak pelanggan yang ada di depannya. Keduanya tersandung beberapa langkah ke depan.