Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"Dan tolong antar makanan ini ke Lila" Pinta Bu Marni pada putranya.
"Apa ini Bu?"
"Pelet. Biar dia jadi mantu Ibu"
"Bu Lila masih muda Bu. Jangan dia Bu, yang lain saja"
"Yang lain? beneran? Kamu aja udah jadi demit kayak gitu,memang rela kalau Lila punya pacar?"
'Ck'
Danu berdecak, dia khilaf kemarin coy! Lagian siapa yang tahan tidur satu ranjang dengan gadis cantik dan seksi seperti Lila. Eh?
Kenapa dia jadi memuji anak bau kencur itu?
"Sudah sana! Bawa makanan itu ke calon mantu Ibu, langsung masuk saja. Tadi Lila bilang ke ibu kalau pintu rumahnya tidak di kunci"
Dengan setengah hati Danu pergi ke rumah sebelah, seperti yang di katakan ibunya, pintu Lila memang tidak di kunci, Danu masuk begitu saja ke dalam. Untuk menghindari Lila, Danu sengaja tidak memanggil gadis itu keluar dari kamarnya. Danu langsung menaruh makanan yang di masak Ibunya ke meja makan belakang.
"Beres"
Danu bergegas ingin kembali pulang, dia agak tergesa-gesa sebelum Lila keluar dari kamarnya.
Namun yang terjadi justru tidak sesuai harapan. Lila keluar bertepatan saat Danu melewati depan pintu kamarnya, Tabrakan tidak bisa terhindarkan. Lila jatuh di pelukan Danu. Keduanya saling menatap dalam.
Danu menelan salivanya sendiri saat melihat Lila hanya memakai handuk sebatas lutut. Bahunya terekspos begitu indah. Aliran darah Danu berdesir lebih cepat kala menatap tetesan air yang masih basah di bahu itu. Tubuh Lila nampak fresh dan segar.
Entah setan dari mana, Danu spontan mencium baju itu, Lila menahan nafas saat sapuan lembut bibir Danu menyentuh bahunya. Ciuman yang begitu lembut, Lila begitu menikmatinya. Lila benar-benar di buat gila dengan ciuman ini. Tubuhnya meremang, hasratnya begitu menggebu-gebu. Lila menelan kepala Danu agar ciuman itu makin dalam, Lila seakan memberikan sinyal agar Danu melakukan lebih.
Danu bahkan tidak sadar jika dia sudah mendorong Lila masuk ke dalam kamarnya. Lila menjatuhkan tubuhnya di ranjang, Danu masih menindihnya, dia kembali mencium bibir Lila tanpa henti.
Danu seakan kehilangan akal sehatnya, tangannya mulai aktif membuka simpul handuk yang melilit di tubuh Lila. Bak melihat surga dunia, matanya begitu berbinar melihat dua gunung indah milik Lila yang begitu merah menantang.
Danu mulai kalap, bibirnya begitu lincah bermain di sana membuat lenguhan itu keluar dari bibir Lila. Danu sangat menyukai suara itu.
"Munafik"
Suara Yuda yang selalu menyindirnya mendadak membuatnya berhenti dari aktivitas panas itu. Namun Danu menggeleng dan kembali melanjutkannya.
"Sudah begini masih mau bilang berikan Lila ke orang lain?"
Kini suara itu terdengar begitu nyata, Lila dan Danu langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata itu bukan suara Yuda, tapi siapa Ibunya yang berdiri di ambang pintu kamar Lila. Keduanya gede bukan sendiri, Lila langsung mencari selimut untuk menutupi tubuhnya yang separuh telanjang. Sedangkan Danu buru-buru bangun dari atas tubuh Lila.
"Perjaka tua ibuk ternyata hebat juga"
Danu benar-benar malu sudah terciduk di depan ibunya sendiri. Danu melihat tubuh Lila yang sudah setengah polos, rambutnya acak-acakan, dan makin banyak tanda merah di sana akibat ulahnya.
"Lil demit nya sudah ketangkap, enaknya di apain Lil?"
Lila hanya bisa ikut menunduk malu, maunya Lila sih mereka di nikahkan.
"Mama ngapain di sini?"
Danu mencoba mengusir rasa canggung nya.
"Tadi lauknya masih ada yang tertinggal, mama sengaja nyusul ke sini, eh ternyata oh ternyata...." Sindir Bu Marni.
"Kamu cepat pakai baju kamu Lila, Ibu tunggu kalian di ruang depan"
Bu Marni ingin segera ke depan, Danu mengikutinya.
"Kamu mau apa?" tanya Bu Marni pada putranya.
"Mau ke depan"
"Kamu yakin?"
"Kan ibu yang minta, memang ibu mau Danu tetap di kamar Lila? Ibu mau lihat Lila ganti baju begitu?"
Bu Marni langsung memukul kepala putranya dengan pelan. Pikiran putranya menang sudah menjurus ke ranah mesum terus, sepertinya sudah waktunya Danu menikah.
"Apa sih bu!" Kesal Danu.
"Otak itu jangan mesum terus! Lihat diri kamu, ambil dulu sana celana kamu, baru ke depan"
Danu menatap dirinya sendiri dan benar saja, dia hanya memakai boxer. Bahkan ulatnya yang tegak begitu nampak menantang ingin keluar. Danu buru-buru menutupinya dengan tangan.
"Kog bisa begini?"
Danu langsung melihat ke arah Lila, Lila nyengir tanpa dosa saat menunjukkan celana pandang Danu yang sudah ada di tangannya.
"Hehehe Lila juga tidak tahu kenapa celananya ada di sini pak"
Danu menepuk jidatnya sendiri, Mereka benar-benar sudah sejauh itu.
*****
Lila dan Danu sudah di depan, mereka duduk saling berjauhan. Bu Marni menatap keduanya sambil menghembuskan nafas berat.
"Cepat telfon mama kamu Lila"
Lila langsung menatap Bu Marni, kenapa harus telfon mama?
"Untuk apa Bu?"
"Kita akan bahas pernikahan kalian"
Lila langsung tersenyum mendengar itu, dia begitu bersemangat menekan tombol panggil di kontak mamanya. Namun Danu menghalangi, dia merebut ponsel itu dari Lila.
"Bu jangan sejauh itu"
"Kalian sudah sejauh itu, memang mau mengelak apa lagi? sudah berikan ponsel itu ke Lila"
Dengan berat hati Danu terpaksa mengembalikan ponsel itu ke Lila.
'Assalamu'alaikum ma...'
'Wa'alaikum salam sayang, tumben pagi-pagi telfon? Kamu nggak kuliah?"
' Lila ada kabar baik ma, mama bisa ke sini sekarang?'
Danu memijat kepalanya mendengar percakapan Lila, kabar baik apanya? Jika Angga dan mbak Tari sampai tahu apa yang mereka lakukan, habislah dia.
'Kabar baik? Kamu dapat peringkat pertama? atau dapat medali di kampus? Cerita ke mama'
'Lila nggak bisa cerita di telfon ma, mama ke sini ya? Lila tunggu'
'Oke oke mama segera ke sana'
Lila langsung menutup telfonnya, dia senang akhirnya hari ini terjadi juga. Dia sudah lama menantikan hari ini datang. Hari dimana dia akan segera di nikahkan dengan Mas Danu.
Lisa pun datang bersama Angga, Danu langsung bersembunyi di belakang tubuh Ibunya, dia tentu takut jika nanti Angga memarahinya.
"Lho ada Bu Marni? kapan ke sini?"
Lisa langsung mencium tangan Bu Marni dan memeluknya erat.
"Baru kemarin Lisa"
"Danu juga ada di sini? Nggak ngajar ya?"
Danu tidak menjawab.
Lisa memberi kode pada Bu Marni, seolah-olah berkata ada apa dengan Danu?
Bu Marni meminta Lisa dan Angga duduk dulu, baru dia akan bicara.
"Kamu kenapa Dan? kenapa kayak putri malu begitu?" Kekeh Angga.
Danu tetap diam tanpa suara.Dia terus menarik ujung baju ibunya agar ibunya tidak mengatakan apapun pada meraka.
"Dia kebelet nikah,pengen cepet-cepet di nikahkan,jadi begini" Sahut Bu Marni membuat Danu makin malu.
"Wah itu kabar bagus. Memang siapa wanita beruntung itu?" Tanya Lisa penasaran.
"Aku ma...." Lila berdiri sambil menepuk dadanya dengan bangga. Dia memberi tahu semua orang jika dialah wanita beruntung itu.
"Apa!"
Baik Lisa dan Angga terkejut bukan main. Apa Lila sedang bercanda? Jika iya, itu benar-benar tidak lucu.