Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Menghindar Pilihan Terbaik
Langit senja mulai hilang ke peraduan. Namun, jarak rumah masih jauh. Serta sepanjang jalan mata Dira sama sekali tidak melihat keberadaan bengkel sepeda.
“Tolong antarkan aku ke bengkel sepeda saja,” pinta Dira yang memang enggan diantar oleh Faza sampai rumah.
“Aku belum mengenal baik daerah ini. Jadi, jangan seenaknya menyuruhku.”
“Maksudku, kalau ada bengkel di sepanjang jalan yang kita lewati. Tolong mampir."
“Hem.”
Entah karena malas berkomunikasi panjang lebar Faza hanya berdehem saja. Jelas membuat Dira cemberut karena harus mengikuti Faza. Hingga Dira memutuskan untuk menajamkan indera penglihatan mengawasi sekitar mencari keberadaan bengkel sepeda.
“Itu sepertinya ada bengkel. Tolong menepi!” pinta Dira tanpa sedikitpun ditanggapi Faza.
“Tolong menepi, Faza,” pinta Dira yang lagi-lagi tidak ditanggapi oleh Faza.
Tentu saja Dira merasa kesal dengan laki-laki yang saat ini tengah memboncengnya.
Plak!
“Aduh!”
“Hei! Tolong menepi!” geram Dira setelah menepuk pundak Faza penuh tenaga karena tidak ada reaksi sama sekali atas permintaannya.
“Ada apa?”
“Tolong menepi di bengkel itu!” ucap Dira mengulangi kata-katanya hingga tiga kali, sambil menunjuk bengkel sepeda yang sudah mulai tutup.
Dira yang kekeh ingin pulang menggunakan sepedanya sendiri. Membuat Faza memutuskan untuk mampir ke bengkel sebentar.
“Bengkel itu sudah mau tutup.”
“Biarkan aku turun untuk memastikan.”
Huff!
Hanya hembusan nafas kasar yang bisa diberikan oleh Faza atas sikap keras kepala Dira. Faza memutuskan mengikuti permintaan Dira.
Dira cepat-cepat loncat dari motor Faza tanpa peduli keselamatannya. Lalu berlari menghampiri bapak pemilik bengkel, sambil membawa barang belanjaan di kedua tangannya.
Dira terlihat memohon-mohon ke bapak bengkel. Faza langsung menstandarkan motornya, lalu berjalan menyusul Dira sambil mendorong sepeda.
“Apakah bisa diselesaikan hari ini Pak?” tanya Dira kekeh meminta agar sepedanya cepat diperbaiki.
Meskipun Faza sudah menawarkan bantuan untuk mengantar sampai ke rumah. Namun, tidak diterima oleh Dira. Benar-benar sesuai dengan dugaan Faza jika Dira memang keras kepala.
“Sepeda Neng harus ganti rantai baru. Sebenarnya bisa diganti hari ini juga. Masalahnya istri saya sedang sakit,” jelas pemilik bengkel sambil mengawasi sepeda Dira.
“Saya minta...”
“Ganti aja, Pak. Besok sebelum jam 6 pagi bisa diambil?” tanya Faza memotong ucapan Dira.
“InsyaAllah bisa. Saya usahakan langsung diganti dengan rantai baru.”
“Baik, Pak. Sepedanya diambil esok pagi.” potong cepat Faza.
“Saya izin masukin sepeda Neng ke dalam.”
“Silakan, terima kasih banyak, Pak.”
“Iya, Mas.”
Setelah pemilik bengkel membawa masuk sepeda Dira. Faza yang memang tengah terburu-buru ingin pergi ke suatu tempat. Faza menepuk pelan lengan Dira.
“Ayo pulang sekarang! Aku buru-buru.”
“Memangnya kamu tahu tempat tinggalku?”
Faza terdiam sejenak mendengar penuturan Dira. Rasa kesal benar-benar menyelimuti pemuda tampan itu.
“Belum tahu. Bukankah ada kamu sebagai penunjuk arah? Kenapa hal seperti ini harus ditanyakan oleh seorang yang katanya juara kelas?”
“Kamu tahu darimana aku juara kelas?”
“Gak penting. Yang terpenting saat ini kamu cepat naik.”
“Iya, iya, lagipula aku tidak memintamu mengantarku pulang.”
Tanpa menanggapi ucapan Dira yang dianggap tidak penting. Faza langsung melajukan motornya ke rumah Dira. Tentu saja sesuai dengan petunjuk arah dari Dira.
Di sepanjang perjalanan tidak ada percakapan berarti diantara Faza dan Dira. Hanya kata belok kanan, belok kiri, putar balik, hingga akhirnya kata…
“Stop! Berhenti di sini saja!”
Hanya kerutan di kening yang diberikan Faza saat Dira meminta berhenti di gardu gang cukup sempit. Karena hanya sepeda maupun motor saja yang bisa masuk.
“Disini?” tanya Faza memastikan.
“Iya.”
“Kamu tinggal di gapura ini?”
Pertanyaan tidak masuk akal yang diucapkan oleh Faza. Membuat Dira menatap tajam kearah laki-laki tampan itu.
“Mulai sejak kapan gapura menjadi hunian?”
“Siapa tahu saja kamu tinggal di gapura sambil bergelantungan.”
“Emang kamu pikir aku ini monyet.”
“Sejak kapan monyet tinggal di gapura. Yang ada Mbak Kunti.”
Ssst.
“Bisa diam gak?”
Geram Dira saat menyadari dirinya dan Faza menjadi pusat perhatian para tetangga. Apalagi saat sudut matanya menangkap keberadaan Siti yang tengah berjalan mendekat. Tetangga samping rumah yang tadi pagi mencari keributan.
“Tempat tinggalku sudah dekat. Kamu bisa pulang sekarang,” ucap cepat Dira sambil berlari meninggalkan Faza begitu saja. Tanpa ada ucapan terima kasih.
Entah karena menghindari tatapan Siti atau memang enggan mengatakan terima kasih. Tapi yang jelas Faza menggelengkan kepalanya di balik helm full face sambil melihat perilaku Dira.
“Ternyata sikapnya benar-benar sangat buruk,” gumam Faza sambil membelokkan motornya.
Namun, saat berpapasan dengan Siti. Faza memutuskan untuk berhenti sejenak. Mencari tahu apa yang akan dikatakan perempuan paruh baya di hadapannya.
“Ibu dan juga putrinya sama-sama murahan. Pasti sebentar lagi ada kabar hamil diluar nikah. Aku sangat yakin sekali dengan pemikiran ini,” lanjut Siti sambil bergantian melihat kearah Faza dan juga punggung Dira yang mulai menjauh.
“Jual tubuhnya murah hanya untuk bisa dibonceng motor gede. Benar-benar sangat menjijikan,” ucap Siti sambil menatap tajam kembali ke arah Faza serta tatapan merendahkan.
Karena Faza menggunakan jaket kulit dan juga celana serta helm full face. Membuat Siti tidak bisa melihat wajah Faza yang dikira bandot tua.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Dasar bandot tua!” maki Siti kepada Faza.
“Dasar sakit ini orang,” sindir Faza tepat di hadapan Siti. Faza sama sekali gak habis pikir dengan sikap maupun perilaku Siti.
Sambil menggas motornya tepat di hadapan Siti. Faza pergi meninggalkan kampung tempat tinggal Dira sambil geleng-geleng kepala.
GREEEENG!
“Dasar tidak sopan kamu!” maki Siti ke Faza.
Sedangkan di tempat lain, Dira yang sudah masuk di teras rumahnya. Langsung buru-buru keluar pagar untuk menemui Faza kembali.
“Yaaah, dia sudah pergi. Aku lupa mengucapkan terima kasih padanya.”
“Nduk, kenapa kamu hanya berdiri di pagar saja? Kamu cari siapa?”
Suara Mbah Sekar dari arah dalam rumah membuat Dira gelagapan. Sebab, Faza laki-laki pertama yang mengantar pulang.
“Gak cari siapa-siapa, Mbah,” jawab Dira sambil berjalan mendekati Mbah Sekar sambil mencium punggung tangan.
Tangan orang tua yang merawatnya mulai bayi. Lebih tepatnya saat masih berada di dalam kandungan. Karena Nimas mengalami gangguan jiwa saat tengah mengandung Dira.
“Assalamualaikum, Mbah.”
“Wa'alaikumussalam,” balas Mbah Sekar.
Saat Dira tiba-tiba masuk ke rumah. Rasa penasaran menyelimuti Mbah Sekar. Karena merasa ada yang janggal.
“Nduk.”
“Iya, Mbah.”
“Sepedamu mana?”
“Di bengkel, tadi rantainya putus dan harus ganti baru.”
“Memang sudah waktunya diganti. Mbah dengar sebulan terakhir suaranya sangat nyaring,” ucap Mbah Sekar membenarkan keadaan rantai sepeda Dira yang menyedihkan.
“Yaudah sekarang kamu makan dulu. Takut keburu dingin.”
Saat mendengar ajakan makan dari Mbah Sekar. Dira tampak diam saja saat mengingat bekal miliknya belum habis.
“Nduk, kenapa diam saja? Ayo cepat makan lalu sholat. Keburu waktu Magrib habis.”
“Maaf Mbah, Dira gak habisin bekal tadi pagi.”
Hanya senyum tipis yang diberikan Mbah Sekar. Tapi, sudut matanya tampak terlihat lelah. Serta ada sendu yang menyelimuti.
“Gak usah dipikirin. Mbah sama sekali gak marah. Mungkin kamu sedang bosan ingin makan makanan berbeda. Maafkan Mbah yang belum bisa memberikan makanan enak untukmu.”
“Kenapa Mbah ngomong seperti itu? Justru nasi uduk bikinan Mbah banyak yang suka,” jawab cepat Dira.
“Jumlahnya pun minta ditambah lagi. Makanya tadi Dira beli beras dan bahan makanan lebih banyak dari sebelumnya.”
Wajah sendu yang sebelumnya tergambar jelas kini berubah menjadi senyuman cantik. Membuat hati Mbah Sekar semakin sakit melihat keadaan cucu satu-satunya.
“Ayo kita makan bareng, Mbah! Apakah ibu sudah makan?” tanya Dira mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah, barusan makan sendiri.”
“Benarkah?” tanya Dira dengan mata berbinar. Mengingat Nimas sebelumnya mengalami kesulitan saat makan sendiri. Biasanya makanan yang sudah disiapkan diberantakin.
“Benar, makannya sudah bisa pakai sendok.”
“Alhamdulillah, Dira seneng banget Ibu sudah banyak perkembangan.”
“Berarti jauh didalam lubuk hati ibumu memiliki keinginan cepat sembuh.”
“Benar ini kabar baik. Dira malam ini izin tidur bareng sama ibu ya, Mbah.”
“Iya, terserah kamu.”
Kabar perkembangan yang dialami oleh Nimas. Benar-benar membuat perasaan Dira hanya ada bahagia saja. Rasa kesal menyelimuti saat bersama Faza langsung hilang. Sebab, dari rasa bahagia itu akan menciptakan energi positif.
“Semoga semua ini awal yang baik.”
“Aamiin.”
Setelah makan, ibadah lalu dilanjutkan membersihkan diri. Kini Dira tengah sibuk membantu Mbah Sekar menyiapkan bahan maupun bumbu untuk esok hari.
“Berarti tadi kamu pulang jalan kaki?” tanya Mbah Sekar tiba-tiba disaat Dira melupakan kejadian tadi sore dengan Faza.
Jelas saja Dira langsung terdiam sejenak. Mencari tatanan bahasa untuk menjawab pertanyaan Mbah Sekar.
“Tidak,” jawab Dira dengan suara pelan. Hingga hampir tak terdengar.
“Naik ojek?”
“Tidak.”
“Naik angkot?”
“Tidak juga.”
Jawaban tidak yang diberikan oleh Dira sambil menggelengkan kepala. Tentu saja Mbah Sekar bingung.
“Jika tidak jalan kaki, naik ojek maupun angkot. Terus tadi pulang naik apa?”
“Diantar teman sekelas naik motor.”
Jawaban yang diberikan oleh Dira membuat Mbah Sekar tersenyum. Mengingat selama ini Dira tidak memiliki teman sebaya.
“Kenapa Mbah senyum?” tanya Dira sambil cemberut.
“Mbah sangat senang. Akhirnya kamu memiliki teman sepantaran. Karena seharusnya memang seperti itu sejak dulu.”
Hanya senyuman yang diberikan oleh Dira. Karena tidak ingin merusak kebahagiaan Mbah Sekar. Membuat Dira tidak lagi menanggapi pembahasan tentang sosok Faza.
‘Bukannya aku tidak ingin memiliki teman. Hanya saja bagiku, mereka sangat jauh dari jangkauan. Membuatku lebih memilih fokus saja ke pendidikan menjadi dokter spesialis kejiwaan untuk Ibu,’ batin Dira.
‘Dan untuk Faza, mungkin dia mengantarku untuk pertama dan terakhir. Karena aku tidak ingin bermasalah dengan Sisil,’ batin Dira kembali.
Tidak mencari masalah dengan Sisil adalah pilihan paling tepat. Mengingat keluarga Sisil memilih pengaruh yang dengan gampang menyingkirkan orang lain yang tidak disuka, termasuk Dira.
Ceritanya keren 👍