NovelToon NovelToon
My Cold Husband, Rafael

My Cold Husband, Rafael

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Noor.H.y

Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Fitting baju

Pagi hari menyapa dengan hangat. Sinar matahari yang perlahan meninggi mulai menyelinap masuk melalui celah tirai kamar, memantulkan cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas ranjang Kanaya.

Namun cahaya itu sama sekali tidak berhasil mengusik tidurnya.

Gadis itu justru semakin meringkuk di bawah selimut tebal, menariknya hingga menutupi sebagian wajah. Rambut panjangnya berantakan di atas bantal, sementara tubuhnya bergulung nyaman seperti kepompong.

Hari ini akhir pekan.

Tidak ada jadwal kuliah pagi yang harus dihadiri, tidak ada tugas yang harus segera dikumpulkan, dan yang terpenting, tidak ada alasan baginya untuk bangun lebih cepat.

Dengan pikiran itu, Kanaya kembali memejamkan mata rapat-rapat, menikmati empuknya kasur serta sejuknya udara kamar ber-AC. Sesekali ia menggerutu pelan saat sinar matahari semakin terang menerobos masuk, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi jendela.

Baginya, pagi ini terlalu nyaman untuk dilewatkan begitu saja.

Sayangnya, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar, diikuti suara sang ibu yang terdengar jelas.

"Kanaya, bangun. Ini sudah siang." seru Kirana.

Kanaya tak menyahut, ia hanya menarik selimut lebih tinggi.

Karena tak ada suara menyahut, Kirana pun langsung saja masuk ke dalam kamar putrinya. Dan beruntungnya tidak di kunci dari dalam.

Ia menghembuskan napasnya panjang, saat melihat Kanaya masih tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.

"Ya ampun.. Anak gadis kok jam segini belum bangun sih. Ayo bangun Nay, sudah pagi ini." seru Kirana, sembari menarik selimut Kanaya.

"Apa si Mom, ini kan weekend, jadi biarin biarin aja napa sih..." gumamnya serak tanpa membuka mata.

Kirana kembali menghela napasnya, "Sudah ayo bangun, Rafael sudah menunggumu di bawah. Cepat bangun, dan mandi. Kasian dia nungguin kamu di bawah loh."

Mata Kanaya yang tadinya masih terpejam, mendadak terbuka saat mendengar kata Rafael. "Rafael ? Ngapain dia pagi-pagi datang kesini. Emang dia nggak ada kerjaan apa." gumamnya dalam hati.

Namun tiba-tiba ia dengan cepat terduduk dan menepuk jidatnya saat mengingat sesuai, "Oh ya ampun, aku lupa lagi. Kalau hari ini aku harus ke butik buat fitting baju sama dia." gumamnya.

"Udah sana mandi dan siap-siap. Kasian Rafael kalau menunggu terlalu lama. Mommy ke bawah dulu," ucap Kirana mengusap pelan pucuk rambut putrinya sebelum melangkah keluar.

"Ternyata beneran dia sendiri yang jemput ke rumah ? Bisa-bisanya aku lupa lagi," gumamnya, lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi.

Flashback on :

Mobil Rafael akhirnya berhenti tepat di halaman rumah Kanaya. Mesin mobil masih menyala pelan, sementara suasana malam terasa tenang di antara keduanya.

Kanaya melepaskan sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Rafael yang masih duduk di balik kemudi.

"Terima kasih sudah mengantarku pulang Kak," ucapnya tulus sambil tersenyum kecil. "Dan... terima kasih juga karena sudah menolongku tadi."

Rafael mengalihkan pandangannya dari kaca depan, menatap Kanaya sekilas. Wajahnya tetap tenang seperti biasa.

"Hm..," jawabnya singkat. "Besok pagi saya jemput, jangan sampai telat." lanjutnya.

Kanaya yang sudah meraih gagang pintu berhenti untuk membukanya, ia kembali menoleh.

"Memangnya kita mau kemana ?" tanyanya.

"Pergi ke butik, untuk fitting baju. Tante Mauren meminta kita untuk kesana besok."

Kanaya mengangguk, "Okey." lalu membuka pintu mobil dan turun.

Flashback off.

Di bawah, Rafael duduk di ruang tamu ditemani Harun. Sambil menunggu Kanaya yang tak kunjung turun dari kamarnya, keduanya menghabiskan waktu dengan berbincang mengenai proyek yang tengah digarap Rafael saat ini.

Harun yang duduk di seberang Rafael membuka pembicaraan lebih dulu. Ia menanyakan perkembangan proyek properti yang beberapa waktu terakhir cukup menyita perhatian perusahaan.

"Bagaimana proyek yang di kawasan baru itu, Nak? Saya dengar tahap pembangunannya sudah mulai berjalan," tanya Harun.

Rafael mengangguk pelan. Tangannya meraih cangkir kopi di atas meja sebelum menjawab, "Sudah masuk tahap konstruksi utama. Sejauh ini semuanya masih sesuai jadwal Om."

"Syukurlah kalau begitu. Investor juga pasti lebih tenang mendengarnya."

"Yang penting kualitasnya tetap terjaga," sahut Rafael singkat. "Saya tidak ingin terburu-buru hanya demi mengejar target."

Harun menganggukkan kepala setuju. Sesekali ia melirik ke arah tangga, berharap Kanaya segera muncul. Namun hingga beberapa menit berlalu, belum ada tanda-tanda gadis itu akan turun.

Karena masih harus menunggu, percakapan mereka kembali berlanjut membahas perkembangan proyek, rencana ekspansi perusahaan, hingga beberapa kerja sama baru yang sedang dipertimbangkan Rafael. Suasana ruang tamu terasa santai namun tetap dipenuhi nuansa profesional khas pembicaraan dunia bisnis.

"Maaf ya Rafa, Kanaya itu memang butuh waktu yang lama untul bersiap-siap. Semoga kamu bisa memakluminya ya." lirih Kirana yang berjalan ke arah ruang tamu dengan membawa bolu pisang dengan topping keju yang baru saja selesai ia buat pagi tadi.

Rafael mengulas senyum tipis, "Tidak apa Tante." balasnya, padahal dalam hati ia sudah mengump4t Kanaya karena dirinya yang tidak on time sama sekali.

"Sambil nunggu Nay siap. Ini ayo cicipi, bolu buatan Tante, enak loh. Kanaya juga paling suka kue bikinan Tante." ucapnya, sembari menyodorkan bolu buatannya pada Rafael.

Namun belum sempat Rafael mencicipi bolu buatan Kirana. Suara langkah kaki dari arah tangga lebih dulu menarik perhatian semua orang di ruang tamu.

Kanaya akhirnya turun. Gadis itu terlihat sudah siap dengan setelan kasual yang dikenakannya hari ini. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai rapi, sementara wajahnya tampak segar meski baru bangun tidak lama sebelumnya.

Rafael yang semula hendak mengambil potongan bolu itu menghentikan gerakannya sejenak. Tatapannya tanpa sadar mengikuti langkah Kanaya yang berjalan menuruni anak tangga satu per satu.

"Maaf lama," ucap Kanaya sambil tersenyum kecil ketika sudah sampai di bawah.

"Mau sarapan dulu ?" tanya Rafael pelan, menatap Kanaya.

Sebenarnya Kanaya memang lapar, namun karena tak enak hati karena membuat Rafael menunggu terlalu lama. Ia pun menjawab tidak, "Tidak, kita langsung saja." lirihnya.

"Kalau begitu, kita pamit dulu Tante, Om." kata Rafael, tak memberi waktu untuk Kanaya sekedar untuk makan atau minum.

"Iya, kalian hati-hati di jalan." ucap Harun pelan.

Kirana menyodorkan kotak makan berisi bolu pisang kesukaan Kanaya yang dibuatnya tadi pagi lengkap dengan minumnya, "Ini buat kamu makan di mobil, jangan sampai kamu pingsan karena belum sarapan."

Kanaya mengembangkan senyumnya, lalu mencium pipi sang ibu. "Uh.. Mommy emang paling pengertian deh." ucapnya, lalu melangkah keluar menyusul Rafael.

* *

Di dalam mobil, Kanaya memakan bolu pisang buatan ibunya sambil menikmati perjalanan menuju butik keluarga Dirgantara. Dengan lahap ia menggigit demi gigitan kue lembut itu, sesekali menatap keluar jendela menikmati pemandangan yang berlalu.

Rafael yang sedang menyetir sesekali melirik ke samping. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya saat melihat pipi Kanaya yang mengembung penuh karena bolu pisang yang masih belum selesai dikunyah.

"Melihat kamu makan, saya ragu bajunya akan muat nanti," ucap Rafael datar, namun nada suaranya terdengar seperti sindiran.

Kanaya menoleh dengan mulut masih penuh. Keningnya sedikit berkerut seolah tidak terima diejek. Setelah berhasil menelan makanannya, ia mendengus pelan.

"Aku lapar, dari pada nanti pingsan. Mending makan bolu buatan Mommy."

"Itu alasan untuk menghabiskan setengah loyang sekaligus?"

Kanaya langsung melotot kecil. "Aku tidak makan sebanyak itu."

Rafael hanya mengangkat sebelah alisnya, melirik kotak bolu yang kini isinya tinggal separuh. Tatapan itu sudah cukup membuat Kanaya salah tingkah.

"Ini bukan salah satu cara kamu agar saya merasa ilfil, terus batalin penikahan kan ?" pertanyaan itu, membuat Kanaya memelototkan matanya tak percaya.

"Bahkan aku saja tidak sampai terfikirkan hal itu. Tapi, kalau itu bisa membuat kita batal menikah juga tidak masalah." balas Kanaya, kembali meneguk minumannya. Karena terasa seret di tenggorokan.

"Jangan harap," lirih Rafael. Membuat Kanaya hanya mendengus kesal.

Gadis itu segera memalingkan wajahnya ke arah jendela setelah menutup kotak berisikan bolu miliknya, karena tiba-tiba ia merasa kenyang. Sementara Rafael kembali memusatkan perhatian pada jalan.

* *

Setelah sampai di sebuah butik langganan keluarga Dirgantara, Kanaya dan Rafael turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam bangunan yang didominasi nuansa elegan dan hangat itu.

Belum sempat mereka berjalan lebih jauh, seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan dengan penampilan anggun dan senyum ramah sudah menyambut kedatangan mereka.

"Selamat datang, Tuan Rafael, Nona Kanaya," sapa wanita itu hangat.

Wanita tersebut adalah Sinta, seorang desainer ternama sekaligus pemilik butik yang diberi nama Sweet Boutique. Selama bertahun-tahun, Sinta menjadi sosok yang dipercaya keluarga Dirgantara untuk menangani berbagai kebutuhan busana, mulai dari acara resmi hingga perayaan penting keluarga.

"Saya sudah menyiapkan beberapa baju yang mungkin cocok untuk kalian berdua, berdasarkan desain yang dipilih oleh Nyonya Mauren." lanjutnya sambil mempersilakan mereka masuk.

Kanaya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Berbagai gaun dan setelan jas terpajang rapi di setiap sudut, membuat matanya berbinar penuh ketertarikan. Sementara itu, Rafael tetap berjalan tenang di sampingnya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

"Silakan duduk dulu. Saya akan ambilkan dulu bajunya," ujar Sinta dengan ramah.

Kanaya mengangguk antusias, sedangkan Rafael hanya memberikan anggukan singkat sebagai balasan sebelum keduanya mengikuti Sinta menuju ruang fitting yang telah disiapkan.

Kanaya mencoba satu per satu gaun pengantin yang telah disiapkan oleh Sinta. Setiap gaun yang dikenakannya membuat matanya berbinar kagum. Mulai dari gaun dengan detail renda yang anggun, gaun bergaya klasik dengan ekor panjang yang menjuntai indah, hingga gaun modern dengan sentuhan manik-manik berkilau. Hampir semuanya sesuai dengan wedding dream yang selama ini hanya ia simpan dalam angan.

Berdiri di depan cermin besar, Kanaya beberapa kali memutar tubuhnya perlahan, memperhatikan setiap detail gaun yang melekat sempurna di tubuhnya. Sesekali ia tersenyum sendiri, namun senyumnya kembali memudar karena di wedding dreamnya nanti pengantin lelaki di sampingnya bukanlah lelaki yang dia impikan.

Sementara itu, di ruang ganti pria, Rafael juga tengah mencoba beberapa setelan tuxedo pilihan. Berbeda dengan Kanaya yang begitu antusias menunjukkan ekspresinya, Rafael tetap terlihat tenang dan kalem seperti biasanya.

Tuxedo berwarna hitam klasik dengan potongan rapi membuat sosoknya terlihat semakin berwibawa. Setelah itu ia mencoba tuxedo berwarna navy gelap yang memberikan kesan elegan namun modern. Setiap setelan yang dikenakannya tampak pas, seolah memang dibuat khusus untuknya.

Sinta yang melihat keduanya tak bisa menyembunyikan senyumnya.

"Sepertinya saya tidak akan kesulitan memilihkan pakaian untuk kalian berdua," ujarnya sambil terkekeh pelan. "Gaun dan tuxedo apa pun yang kalian kenakan terlihat sangat cocok."

Tak lama kemudian, Kanaya keluar dari ruang ganti mengenakan salah satu gaun favoritnya. Langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja melihat Rafael yang baru saja keluar dari ruang ganti di sisi berlawanan.

Untuk beberapa detik, keduanya sama-sama terdiam.

Kanaya menatap Rafael dari ujung kepala hingga kaki. Tuxedo hitam yang dikenakan pria itu membuatnya terlihat jauh lebih tampan dan berkarisma dari biasanya.

Sedangkan Rafael, meski tidak menunjukkan ekspresi berlebihan, pandangannya tertahan cukup lama pada Kanaya yang berdiri anggun dalam balutan gaun putih.

Mereka saling memandang dalam diam.

Tak ada kata yang terucap, tak ada pula senyum lebar atau pujian yang dilontarkan. Namun, mata keduanya seolah berbicara menggantikan segala hal yang tidak mampu diungkapkan oleh bibir.

* * * *

1
Noey Aprilia
Ya suami kutub lh,apa lg.....🤣🤣🤣....
Noey Aprilia
Mskpn klkas,tp ttp prhtian....
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
Noey Aprilia
Rafael nih tipe2 kulkas,tp aslinya prhtian....dia ga tau msti brskap ky gmna,mkanya kya acuh gt....tp ykin bgt kl bntr lg dia bkln bucin parah....
Noey Aprilia
Kanaya....tau ga kl sbnrnya km yg nyosor dluan?????🤭🤭🤭....
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Noey Aprilia
Enth spa yg bkln bucin dluan....ga sbr aja nunggu mreka mesra,trs bkin sng mntan nangis guling2...
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣
Noey Aprilia: Sama2....smngttt...😘😘😘
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!