Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Kesepakatan dalam Debu
Pagi hari di Geladak Neraka tidak ditandai dengan terbitnya matahari, melainkan bunyi nyaring peluit uap yang menandakan dimulainya jam kerja shift pertama.
Bagi Lin Tian dan adik-adiknya, pagi ini seharusnya menjadi hari terakhir mereka hidup, mengingat perintah Kapten bermata satu semalam untuk membuang mereka ke langit terbuka.
Benar saja, tak lama setelah peluit berbunyi, Mandor Zhou datang bersama dua penjaga bayaran berwajah preman. Mandor gemuk itu membawa selembar daftar manifes pekerja.
"Hei, tikus-tikus penyakitan! Waktu kalian sudah habis!" bentak Mandor Zhou, menendang tumpukan karung goni. "Seret si tangan busuk dan adik perempuannya itu ke lubang pembuangan!"
Dua preman itu maju, bersiap menyeret Lin Tian yang masih berpura-pura lumpuh tak sadarkan diri, dan Lin Xue yang meringkuk ketakutan di balik punggung Lin Chen.
Namun, Lin Chen tidak mundur. Remaja itu maju selangkah, menahan dada salah satu preman itu dengan tangannya yang kini kotor oleh debu batu bara.
"Tunggu, Mandor!" ucap Lin Chen cepat, merogoh kantong di balik celana kumalnya. Ia menarik tangan Mandor Zhou dan secara diam-diam meletakkan sebuah kantong kecil yang berat ke telapak tangan pria gemuk tersebut.
Mandor Zhou mengerutkan kening, membuka sedikit isi kantong itu. Matanya seketika melebar. Sepuluh keping Batu Spiritual tingkat rendah! Bagi mandor geladak bawah, itu adalah gaji kotor selama enam bulan.
"Mereka memang sakit, tapi mereka tidak menular. Kakakku hanya terkena racun binatang buas biasa," bisik Lin Chen, menatap lurus ke arah mata rakus Mandor Zhou. "Coret saja nama kami dari manifes. Laporkan bahwa kami sudah dibuang. Saya akan mengerjakan kuota tiga orang sekaligus setiap hari, tanpa jatah makan dari kapal. Mandor bisa menyimpan semua sisa uang jatah makan kami, ditambah batu-batu ini."
Otak licik Mandor Zhou bekerja cepat. Mendapatkan uang suap, jatah makan ekstra untuk dikorupsi, dan tetap mendapatkan tenaga kerja gratis? Ini adalah keuntungan mutlak.
"Hmph!" Mandor Zhou berdehem keras, menyembunyikan kantong itu ke dalam jubahnya. Ia menoleh ke dua premannya. "Sepertinya budak ini salah diagnosa. Penyakitnya tidak menular. Biarkan mereka di sudut ini. Hei, kau anak muda! Pastikan kuota batu baramu penuh, atau aku sendiri yang akan melempar kalian bertiga!"
Mandor Zhou berbalik pergi, mencoret nama mereka bertiga dari daftar pekerja resmi kapal. Mulai saat itu, Lin Tian, Lin Chen, dan Lin Xue resmi menjadi "hantu" di atas Kapal Persekutuan Seratus Harta.
Tiga minggu berlalu dengan lambat di dalam perut besi yang membara.
Kapal terbang raksasa itu terus melesat membelah awan, melintasi ribuan mil lautan awan badai menuju Benua Tengah.
Kehidupan sebagai "hantu" di geladak bawah adalah neraka yang monoton. Lin Chen membuktikan kata-katanya. Ia bekerja seperti kuda gila, menyekop ratusan ton batu bara setiap hari. Otot-ototnya semakin padat dan keras, kulitnya terbakar hawa panas tungku. Latihan fisik paksa ini, dikombinasikan dengan bahaya konstan, secara perlahan mendorong kultivasi Lin Chen menembus batas Pengumpulan Qi Tingkat 4.
Lin Xue, yang telah sembuh total berkat Pil Naga Matahari, kini mengambil peran menyortir batu bara kecil. Wajah cantiknya sengaja diolesi debu hitam setiap pagi oleh Lin Chen agar tidak menarik perhatian predator di lambung kapal. Hawa es di tubuhnya telah tertidur lelap, membuatnya terlihat seperti gadis fana biasa.
Sementara itu, di sudut paling gelap, Lin Tian tidak pernah bergerak dari posisi meditasinya.
Ia seperti patung batu yang bernapas. Tiga minggu adalah waktu yang sangat krusial baginya. Di bawah tekanan ekstrem hawa panas tungku dan udara kotor, Seni Pedang Sembilan Kematian-nya bekerja tanpa lelah mencerna segel Kristal Tinta Tulang Naga di lengan kanannya.
Hasilnya mulai terlihat. Lengan kanannya yang tadinya membengkak ungu dan hitam, kini telah menyusut kembali ke ukuran normal. Retakan-retakan mengerikan di kulitnya telah menutup sempurna. Urat-urat menonjol seperti cacing itu telah masuk kembali ke bawah kulit, meninggalkan rona perak gelap yang samar setiap kali cahaya tungku menerpanya.
Lengan itu belum sepenuhnya pulih—Lin Tian baru bisa menggerakkan jari-jarinya secara perlahan—namun kepadatannya kini mencapai tingkat yang tidak masuk akal. Lengan kanannya kini seberat pedang baja raksasa, menyimpan potensi ledakan tenaga fisik yang cukup untuk menghancurkan sebuah bukit kecil dalam satu pukulan.
Satu minggu lagi sebelum kita berlabuh, batin Lin Tian, perlahan membuka matanya. Mata peraknya memancarkan ketenangan absolut. Retakan di Inti Terataiku sudah hampir sembuh. Tapi pelabuhan Benua Tengah pasti telah menyiapkan jaring penyambutan.
Tiba-tiba, telinga Lin Tian bergerak sedikit.
Di tengah gemuruh deru mesin tungku dan suara sekop ratusan pekerja, insting Niat Pedang-nya menangkap sebuah anomali. Ada langkah kaki yang tidak memiliki ritme kasar seorang budak. Langkah itu terlalu ringan, tidak menekan lantai besi sama sekali, seolah-olah orang itu berjalan melayang satu milimeter di atas tanah.
Dan ada aroma wangi. Sangat tipis, namun di tempat yang berbau belerang dan keringat busuk ini, aroma dupa cendana seperti setetes darah di lautan hiu.
Lin Tian tidak menoleh. Ia hanya menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik tudung karung yang kotor.
Langkah kaki itu berhenti tepat lima meter di depannya, tersembunyi di balik tumpukan karung goni bekas.
"Langkahmu terlalu halus untuk geladak kotor ini," suara Lin Tian terdengar serak dan rendah, meluncur menembus kebisingan mesin layaknya pisau yang membelah sutra. "Dan parfum cendanamu adalah sebuah kebodohan taktis."
Dari balik bayang-bayang tumpukan karung, sesosok tubuh ramping melangkah keluar.
Ia mengenakan jubah pelayan rendahan yang kotor, namun wajahnya tidak tertutup topeng. Kulitnya putih bersih layaknya pualam, matanya berwarna ungu tajam yang memancarkan kecerdasan dan arogansi seorang bangsawan. Itu adalah Mu Nianxue, sang pencuri dari Apotek Sembilan Tungku. Ia sengaja turun ke neraka lambung kapal ini menggunakan artefak penyembunyi aura hanya untuk memuaskan rasa penasarannya.
Mata ungu Nianxue menyipit saat menatap "pengemis" yang sedang duduk bersila di tanah kotor itu.
"Kau sadar aku ada di sini sejak aku menuruni tangga Geladak D," ucap Nianxue, suaranya tenang namun mengandung ketertarikan mendalam. Ia mengeluarkan sepotong besi dari saku jubahnya dan melemparnya ke pangkuan Lin Tian.
Itu adalah sisa gagang dari pedang tipis peraknya yang telah hancur menjadi debu.
"Sebuah pedang spiritual tingkat menengah hancur menjadi abu hanya dalam tiga detik karena dialiri Niat Pedang yang tidak masuk akal," lanjut Nianxue, menyilangkan lengannya di depan dada. "Dan kau meremukkan formasi penjara hanya dengan satu tebasan tanpa Qi. Tidak ada Dantian, tidak ada fluktuasi sihir... tapi memiliki kekuatan penghancur setingkat Inti Emas."
Nianxue membungkuk sedikit, menatap lurus ke mata Lin Tian yang tersembunyi di balik debu hitam.
"Dunia kultivasi sedang gempar. Tanah Suci Sekte Pedang Surgawi menaikkan harga buronan untuk seorang 'Iblis Tanpa Dantian' menjadi setengah juta Batu Spiritual. Mereka memblokir semua jalur masuk ke Benua Tengah untuk mencarinya." Senyum tipis mengembang di bibir merah Nianxue. "Siapa sangka, naga buas itu bersembunyi di geladak batu bara sambil memakan debu."
Lin Chen yang sedang menyekop batu bara tak jauh dari sana mendengar percakapan itu. Wajahnya pucat pasi. Ia segera membuang sekopnya, mencabut belati karatan dari pinggangnya, dan bersiap menerjang wanita itu dari belakang.
Lin Tian mengangkat tangan kirinya sedikit, memberi isyarat agar Lin Chen mundur. Lin Chen menurut dengan enggan, namun matanya menatap tajam ke arah Nianxue.
"Jika kau ingin menyerahkanku untuk hadiah setengah juta batu spiritual itu," ucap Lin Tian dengan nada datar, seolah mereka sedang membicarakan cuaca, "kau tidak akan datang kemari sendirian untuk mengobrol. Lagipula..."
ZIIINNGGG...
Udara di sekitar Nianxue mendadak membeku. Rasa dingin yang mengerikan merayap dari ujung kakinya hingga ke tengkuknya. Ia merasa seolah sebuah pedang tak kasat mata baru saja diletakkan tepat di urat lehernya. Jika ia berkedip, kepalanya akan terpisah dari bahunya.
"...kau tahu kau akan mati sebelum mulutmu sempat berteriak," pungkas Lin Tian.
Nianxue menelan ludah, sedikit mundur selangkah untuk keluar dari tekanan aura pembunuh fana tersebut. Wajah bangsawannya memucat sesaat, namun ia segera memaksakan tawanya.
"Hahaha... mengerikan sekali. Tenanglah, Tuan Iblis. Klan Mu tidak membutuhkan kepingan batu spiritual receh dari Sekte Pedang Surgawi. Aku justru sangat membenci anjing-anjing Tanah Suci yang sombong itu," kata Nianxue, menenangkan detak jantungnya.
Ia memandang Lin Tian dengan tatapan menilai. "Aku datang kemari murni karena kagum. Dan... untuk memberikan peringatan gratis sebagai rasa terima kasih karena kau secara tidak langsung telah mengalihkan perhatian penjaga Apotek, membiarkanku mengambil barang yang sebenarnya kuincar malam itu."
Lin Tian menarik kembali aura membunuhnya. "Peringatan apa?"
"Tiga hari lagi, kapal ini akan berlabuh di Pelabuhan Langit Naga, gerbang utama Benua Tengah," ekspresi Nianxue berubah serius. "Sekte Pedang Surgawi telah mengirimkan dua Tetua Inti Emas Menengah untuk menjaga gerbang pelabuhan tersebut. Mereka membawa artefak Cermin Timbangan Dosa."
Mendengar nama artefak itu, Inti Teratai Pedang Lin Tian berdenyut pelan.
"Cermin itu berbeda dengan pelacak aura biasa," jelas Nianxue. "Cermin itu mendeteksi karma pembunuhan yang melekat pada jiwa seseorang. Kau membantai ratusan murid mereka, aura darah sekte mereka sudah melekat di tulangmu. Penyamaran debu batu bara atau menyembunyikan Qi tidak akan berguna di depan cermin itu. Semua pekerja kapal, bahkan para budak, akan dipindai satu per satu saat turun dari kapal."
Situasinya kini jelas. Jalan keluar mereka telah dikunci dengan gembok kematian.
Lin Tian terdiam. Ia menatap lengan kanannya yang masih dalam proses pemulihan. Melawan dua Inti Emas Menengah sekaligus dalam kondisi puncaknya saja adalah pertaruhan nyawa; melakukannya saat lengannya sedang menyerap Kristal Tulang Naga adalah bunuh diri.
Nianxue merogoh saku jubahnya lagi dan melemparkan sebuah medali giok berwarna perak yang diukir dengan lambang burung gagak kepada Lin Tian.
"Kau menarik, Tuan Iblis," senyum Nianxue kembali muncul, kali ini lebih tulus. "Medali itu tidak akan bisa menyelamatkanmu dari Cermin Timbangan Dosa. Tapi jika kau entah bagaimana berhasil lolos dari jaring kematian di pelabuhan nanti dan tiba di Ibu Kota hidup-hidup... carilah Paviliun Bulan Hitam dan tunjukkan medali itu."
Wanita itu menarik kembali tudungnya, bersiap pergi. "Semoga beruntung. Jangan mati terlalu cepat. Dunia ini akan sangat membosankan tanpa monster sepertimu."
Bayangan Mu Nianxue memudar, berbaur dengan asap tebal lambung kapal, meninggalkan Lin Tian yang menggenggam medali giok dingin tersebut.
Lin Chen mendekat, napasnya terengah-engah karena tegang. "Kak... apa yang harus kita lakukan? Cermin Timbangan Dosa... kita tidak bisa turun dari kapal ini!"
Lin Tian meremas medali giok itu hingga retak sedikit. Matanya yang tajam mengunci tungku api raksasa yang menyala terang di tengah ruangan.
"Jika pintu depannya dijaga anjing penjaga," gumam Lin Tian dingin, "Maka kita tidak akan menggunakan pintu depan. Tiga hari lagi, saat malam sebelum kapal ini bersandar... kita akan membakar jalan keluar kita sendiri."