Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Suara mesin di 2 Tanah Suci dan Dilema Sang Sultan
13 November 700 Masehi — Dataran Tinggi Himalaya, Perbatasan Selatan
Aroma mesiu masih menggantung di udara tipis Himalaya, namun bagi Yudi Rahmad, kemenangan di perbatasan hanyalah awal dari pembersihan besar-besaran. Di pusat komando Lhasa, ia menatap peta hologram yang memancarkan dua titik cahaya merah di dataran rendah India: Lumbini di Timur Laut dan Varanasi di Selatan. Dua jantung spiritual yang menjadi pilar moral bagi Kekaisaran Pala dan Gurjara-Pratihara.
"Galuh," suara Yudi terdengar dingin dan presisi di tengah dengung perangkat elektronik.
"Siap, Tuan Kaisar!" Galuh memberi hormat dengan baret hitamnya yang tegak.
"Bagi pasukan kavaleri menjadi dua sayap. Sayap Kanan menuju Lumbini untuk memutus urat nadi spiritual Pala. Sayap Kiri, bersama 10 unit Tank MBT terbaru, bergerak menuju Varanasi untuk menghancurkan pusat pertahanan Gurjara. Aku ingin kedua kota ini jatuh sebelum fajar besok. Berikan mereka kehancuran yang tak pernah terbayangkan dalam kitab-kitab mereka."
Tanpa banyak bicara, Galuh segera mengoordinasikan pergerakan pasukan melalui sistem komunikasi satelit. Perintah telah turun, dan mesin pembantai Dinasti Rahmad mulai menderu turun dari langit Himalaya.
Sayap Kanan: Penaklukan Lumbini
Di wilayah Timur Laut, 1.350 kavaleri bermotor menderu melintasi hutan lebat menuju Lumbini. Pasukan Kekaisaran Pala yang melarikan diri dari perbatasan mencoba membangun benteng darurat di sekitar taman suci tempat kelahiran Buddha. Mereka berharap kesucian tempat itu akan membuat pasukan Yudi ragu untuk melepaskan tembakan.
Namun, harapan itu hancur saat suara raungan motor trail mulai terdengar dari balik kabut hutan. Kavaleri Rahmad tidak berhenti untuk bernegosiasi. Dengan kecepatan tinggi, mereka melakukan manuver melingkar, menghujani barisan pertahanan Pala dengan rentetan senapan otomatis.
Prajurit Pala yang bersenjata tombak dan panah tumbang berhampiran pilar-pilar batu kuno sebelum mereka sempat menyadari arah datangnya serangan. Efisiensi serangan kilat ini melumpuhkan mental musuh. Dalam hitungan jam, sisa-sisa pasukan Pala membuang senjata mereka dan melarikan diri ke arah pedalaman. Bendera emas Dinasti Rahmad dikibarkan di tengah kota, menandakan bahwa pusat spiritual Buddha kini berada di bawah kendali Yudi.
Sayap Kiri: Guncangan di Varanasi
Sementara itu, 1.350 kavaleri lainnya bersama 10 unit Tank MBT merayap menuju Varanasi. Suara gesekan rantai baja tank seberat 60 ton itu menciptakan getaran yang bisa dirasakan hingga ke dasar sungai Gangga. Bagi penduduk kota abadi tersebut, suara itu terdengar seperti geraman monster dari neraka.
Para ksatria Gurjara-Pratihara mencoba menghadang di gerbang kota dengan kavaleri kuda terbaik mereka. Namun, tank MBT Yudi tidak memberikan celah. Moncong meriam kaliber 120mm bergerak lincah, mengunci sasaran sebelum melepaskan tembakan.
BOOM!
Tembok benteng luar Varanasi yang telah berdiri berabad-abad runtuh menjadi debu dalam satu hantaman. Kavaleri India kocar-kacir saat mesin-mesin besi itu terus melaju meratakan barikade. Pasukan kavaleri bermotor Yudi segera merangsek masuk melalui celah tembok, melepaskan tembakan beruntun yang menyapu bersih setiap kantong perlawanan di jalanan kota. Suara tembakan yang tak kunjung henti menciptakan teror yang membuat pasukan Gurjara mengira mereka sedang dikepung oleh pasukan gaib.
Istana Luoyang — Ruang Pantau Maharani
Di Luoyang, layar monitor raksasa menampilkan dua palagan tempur tersebut secara berdampingan. Aula agung Zhou mendadak sunyi senyap, hanya suara napas berat para menteri yang terdengar. Maharani Wu Lin, Menteri Besar, dan Yue Qing menatap layar dengan perasaan campur aduk.
"Lumbini telah jatuh... dan Varanasi sedang dikepung," bisik Menteri Besar dengan suara bergetar. "Dia menyerang dua pusat peradaban sekaligus dalam satu hari. Ini bukan sekadar perang, ini adalah penghakiman."
Para penasihat spiritual Zhou mulai panik. Varanasi adalah kota suci Dewa Siwa yang juga sangat dihormati di Tiongkok. Menyerang Varanasi adalah tindakan yang melampaui batas politik tradisional.
"Yang Mulia Maharani," seru seorang biksu senior dengan wajah pucat. "Lumbini adalah tempat suci! Bagaimana bisa Kaisar Yudi menyerangnya dengan mesin-mesin mengerikan itu?"
Yue Qing berdiri tegak, matanya yang merah delima berkilat penuh pemujaan. Ia sama sekali tidak terganggu dengan kehancuran itu. "Cukup! Kaisar Yudi tidak sedang menyerang tuhan. Dia sedang menghancurkan raja-raja yang bersembunyi di balik kuil setelah gagal membantai kita di perbatasan! Jika Lumbini dan Varanasi adalah harga yang harus dibayar atas pengkhianatan India, maka biarlah kedua kota itu tunduk pada pemilik dunia yang baru!"
Wu Lin meremas pegangan singgasananya. Ia ngeri melihat kekuatan putranya yang kini telah melampaui segala aturan manusia, namun di sisi lain, ia tahu bahwa mulai hari ini, tidak ada lagi yang bisa meremehkan nama Rahmad.
Hasil Serangan Kilat
Di tepi sungai Gangga, debu dari tank Yudi mulai menutupi permukaan air suci. Para Brahmana dan peziarah menonton dengan ketakutan luar biasa saat moncong meriam tank mengarah tepat ke istana gubernur Gurjara di Varanasi.
Yudi memantau segalanya dari Lhasa melalui satelit. Ia melihat dua kemenangan besar di layar hologramnya. Lumbini telah diduduki, dan Varanasi tinggal menunggu waktu untuk menyerah total.
"Kabarkan ke seluruh penjuru India," perintah Yudi melalui sistem komunikasi. "Barang siapa yang meletakkan senjata, kotanya akan tetap berdiri. Barang siapa yang melawan, kuilnya pun tidak akan bisa melindunginya."
HUBUNGAN KARAKTER & KONDISI (BAB 21)
Yudi (17 Thn): Mengukuhkan diri sebagai penakluk tanpa ampun. Ia menggunakan Lumbini dan Varanasi sebagai pesan diplomatik berdarah untuk seluruh dunia.
Yue Qing (16 Thn): Obsesinya mencapai puncaknya. Ia melihat Yudi sebagai satu-satunya pria yang layak memiliki dirinya (G-cup) karena kekuatannya yang tak terbatas.
Maharani Wu Lin (36 Thn): Terjepit antara kebanggaan sebagai ibu dan dilema moral sebagai pemimpin yang menghormati tradisi lama.
Menteri Besar: Menyadari bahwa mulai hari ini, dunia hanya memiliki satu aturan: Kehendak Kaisar Rahmad.
STATISTIK OPERASI MILITER
Target 1: Lumbini (Berhasil Diduduki).
Target 2: Varanasi (Tembok runtuh, dalam proses pembersihan).
Unit: 2.700 Motor Trail & 10 Tank MBT.
Estimasi Korban India: 52.000 jiwa dalam serangan balasan 24 jam.
Langkah Yudi kini telah menyentuh batas suci. Besok, seluruh daratan India akan bersujud, atau terbakar dalam amarah yang sia-sia.